Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
Koper besar Arga sudah berdiri tegak di depan pintu utama. Suasana pagi itu terasa sangat kontras. Arga tampak seperti pria yang hendak berangkat ke medan perang dengan hati berat, sementara Aneska—dengan daster Bali-nya—tampak begitu ceria, bahkan sesekali bersenandung kecil saat membantu merapikan dasi suaminya.
"Seminggu doang kan, Mas? Pesawatnya jam berapa? Biar nggak telat, buruan ganti sepatu gih!" ucap Aneska dengan nada yang terlalu bersemangat.
Arga menahan tangan Aneska di dadanya, matanya menatap tajam namun penuh kegelisahan. "Nes, lo seneng banget ya gue tinggal?"
"Bukannya seneng, Mas. Tapi kan ini tuntutan kerjaan. Gue sebagai istri yang baik harus mendukung karier suami, kan?" jawab Aneska sambil nyengir lebar. Padahal di otaknya sudah tersusun daftar rencana: Mabar ML sampai subuh, marathon drakor sambil makan seblak level 10, dan belanja di mal seharian sama Miska.
Arga menarik pinggang Aneska hingga menempel erat padanya. Ia mencium kening istrinya lama sekali. "Inget ya. Jangan telat makan. Jangan main HP sampe pagi. Dan yang paling penting... jangan berani-berani deket sama cowok lain. Gue punya mata di mana-mana."
"Iya, Tuan Besar! Bawel banget sih!" Aneska mendorong pelan dada Arga. "Udah sana, nanti telat!"
Begitu mobil Arga keluar dari gerbang, Aneska langsung melompat kegirangan. "MERDEKA! BI SUMI! Masakin aku seblak yang pedes banget ya buat nanti siang! Aku mau pesta!"
......................
Hari Pertama: Pesta Pora
Siang hari, Aneska benar-benar mewujudkan mimpinya. Ia menjemput Miska dengan mobil yang diberikan Arga. Mereka berputar-putar dari restoran Korea untuk makan Tteokbokki, lanjut ke restoran Jepang untuk Sashimi, dan berakhir di pinggir jalan demi seblak langganan Aneska.
"Gila, Nes! Lo kayak burung lepas dari sangkar!" seru Miska sambil mengunyah kerupuk basah.
"Lo nggak tahu gimana rasanya dipantau 24 jam sama om-om posesif, Mis! Sekarang gue mau mabar sampe mata gue juling!" sahut Aneska puas.
Malamnya, Aneska tidur melintang di ranjang King Size-nya. Ia menyalakan TV besar di kamar dengan volume kencang, menonton drama China terbaru. "Hahaha! Ganteng banget sih aktornya! Nggak ada yang sita HP gue sekarang!"
......................
Hari Ketiga: Sepi yang Menyelinap
Memasuki hari ketiga, suasana mulai berubah. Aneska terbangun di tengah malam karena merasa kedinginan. Biasanya, ada tubuh hangat Arga yang memeluknya secara posesif sampai ia sulit bergerak. Sekarang, sisi tempat tidur Arga terasa kosong dan dingin.
Ia mencoba menyalakan ponselnya. Tidak ada pesan masuk yang menanyakan "Sudah makan?" atau "Sedang apa, Sayang?" tiap jam karena Arga sedang sibuk rapat dengan perbedaan waktu yang jauh.
"Kok sepi ya?" gumam Aneska. Ia mencoba memutar drakor lagi, tapi tiba-tiba aktor tampan di layar itu terlihat membosankan. "Nggak sekeren Arga kalau lagi marah ternyata."
......................
Hari Kelima: Puncak Kerinduan
Aneska pulang dari kantor dengan bahu merosot. Ia masuk ke rumah besar itu dan tidak ada suara bariton yang menyambutnya dengan kalimat dominan, "Kenapa telat lima menit?"
Ia berjalan menuju ruang kerja Arga. Kamar yang biasanya harum aroma kopi dan parfum maskulin suaminya itu kini sunyi. Aneska duduk di kursi kebesaran Arga, menghirup aroma yang masih tertinggal di sana. Tiba-tiba, dadanya terasa sesak.
Sisi bar-barnya runtuh total. Ia menyembunyikan wajahnya di atas meja kerja Arga, tepat di samping bingkai foto mereka saat di Bali.
"Mas Arga... gue kangen..." bisik Aneska lirih. Air matanya mulai jatuh membasahi meja jati itu. Ia baru sadar, kemandirian yang ia banggakan ternyata tidak ada artinya tanpa gangguan dari suaminya yang hyper perhatian itu.
Karena terlalu lelah menangis, Aneska akhirnya tertidur di kursi kerja Arga dengan wajah sembab dan tangan masih memeluk salah satu kemeja Arga yang tertinggal.
Bi Sumi yang masuk untuk mengantarkan minum, tertegun melihat pemandangan itu. Dengan hati-hati, ia menyelimuti Aneska dan segera keluar untuk menelepon tuannya di luar negeri.
"Halo, Tuan Arga? Maaf mengganggu waktunya."
"Ada apa, Bi? Aneska kenapa? Dia sakit?!" suara Arga di seberang sana terdengar sangat panik.
"Nona Aneska tidak sakit, Tuan. Tapi sepertinya Nona sangat merindukan Tuan. Beliau baru saja menangis di bantal Tuan dan sekarang ketiduran di meja kerja Tuan sambil memeluk kemeja Tuan. Wajahnya sembab sekali."
Hening sejenak di ujung telepon. Arga menghela napas panjang, ada nada haru sekaligus rasa ingin pulang yang menggebu dalam suaranya. "Jagain dia, Bi. Jangan biarkan dia kedinginan. Saya akan usahakan pulang lebih cepat."
......................
Di London: Posesif Tingkat Dewa
Arga menutup teleponnya dengan tangan gemetar. Ia menatap layar laptopnya yang menampilkan laporan dari seseorang.
"Gimana laporannya?" tanya Arga pada pria berjas hitam di depannya—seorang detektif swasta yang ia sewa khusus untuk membuntuti Aneska 24 jam selama ia pergi.
"Nyonya Aneska pergi ke mall bersama temannya, Miska. Makan di tiga tempat berbeda dalam satu hari. Tidak ada kontak fisik dengan pria lain, kecuali saat membayar parkir. Namun, semalam Nyonya terlihat termenung di balkon kamar selama dua jam sambil memandangi bintang," lapor si detektif.
Arga mengetuk meja dengan pulpennya. "Cuma dua jam? Pastikan besok dia nggak telat makan lagi. Dan kalau ada pria yang berani menatapnya lebih dari tiga detik di kantor, lapor ke saya namanya. Saya akan beli perusahaannya kalau perlu."
"Baik, Tuan."
Arga bersandar di kursinya, menatap langit London yang kelabu. "Bocah nakal... ternyata lo bisa nangis juga gara-gara gue. Tunggu gue, Anes. Gue bakal bikin lo nggak bisa lepas dari pelukan gue lagi pas gue balik nanti."
Arga meraih ponselnya, mengetik pesan singkat yang sangat dominan namun penuh kerinduan.
[Arga]: Gue tahu lo nangis di meja kerja gue. Jangan cengeng. Besok gue pulang. Siapin tenaga lo, karena gue nggak bakal kasih lo tidur selama dua hari sebagai ganti waktu seminggu ini.
Di Jakarta, Aneska yang terbangun karena getaran ponsel, langsung tersenyum lebar dengan air mata yang masih tersisa. "Dasar om-om mesum! Tau aja gue lagi nangis!"
Aneska memeluk ponselnya erat. Ternyata, kebebasan yang ia inginkan itu hambar, jika tidak ada Arga yang mengaturnya dengan penuh cinta.