transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan panas
Malam _honeymoon_ yang gagal bikin ibu hamil gak _mood_ dari awal bangun tidur.
Padahal tadi malam suasananya pas banget. Lampu temaram, ranjang _king size_, gaun udah melorot, bibir udah ketemu bibir. Tapi gara-gara pengganggu—petugas lobi ketok pintu bawa vitamin—semuanya buyar. _Climax_ ditunda.
Dari kejadian tadi malam, Eric berhenti bicara. Tak ada 1 pun kata yang keluar dari mulutnya sejak masuk balkon. Kayak kena _mute_.
Sementara Vivian manyun ngambek, bibirnya udah maju 7 senti dari subuh. Tapi batinnya berisik: _Awas ya lu, Pak Lobi. Gue catet namalu._
Eric duduk di sofa _single_, kaki nyilang, sambil baca berita dari HP-nya. Liburan di Puncak gak bikin dia libur lihat saham, libur lihat kerjaan. Grup WA kantor udah 99+ _chat_. Candlestick merah hijau lebih menarik daripada istrinya yang ngambek di kasur.
Sementara Vivian masih gulung diri dalam selimut, kayak kepompong gagal jadi kupu-kupu. Nyesel malah tinggal di hotel. Kenapa gak di vila aja? Yang lebih privasi, gak mungkin ada pelayan lobi yang ngetok pas nanggung. Hotel bintang 4, rasa nyesek bintang 5.
Tapi bayinya gak bisa diajak kompromi. Dia gak diem ngambek kayak ibu bapaknya. Malah demo minta makan. _Krucuk... krucuk..._
"Sayang," panggil Vivian lembut. Kata pertama yang keluar dari bangun tidur tadi. Suaranya sengaja dibikin serak-serak manja.
Wajahnya memelas, sambil megangin perut yang keroncongan. Mata masih ngantuk, rambut acak-acakan, tapi _effort_ pasang muka kasihan.
Eric cuman menggumam kecil sebagai sahutan. "Hm." Matanya masih di layar HP. IHSG turun.
Tak terasa, tapi sekarang panggilan "Sayang" terdengar biasa. Gak aneh lagi. Dulu geli, sekarang kayak _default setting_.
"Bayinya lapar," rengek Vivian. Dia duduk, selimut melorot sampai pinggang. Gaun _dusty blue_ semalam masih nempel, tapi udah kusut. "Temani aku turun cari makanan. Laper banget. Pengen bubur ayam pake ati ampela 2."
Eric tak menjawab. Tapi sebagai suami siaga dia patuh ucapan istri. HP dikantongin. Berdiri. Ngambil _cardigan_ rajut dari koper, dilempar ke arah Vivian. "Pake. Dingin."
...
Tadi malam memang nanggung. Tapi suara napas mereka yang kejar-kejaran tadi malam tak bisa dielakkan. Napas Eric yang berat, suara Vivian yang ketahan, gesekan selimut, bunyi ranjang _king size_ yang... ah sudahlah.
Biarpun hotel mewah, sayangnya kurang kedap suara. Dindingnya tebal, kokoh, tapi tukang bohong. Kedapnya cuma _gimmick_ brosur.
Pagi ini satu hotel rame berkat gosip panas dari petugas lobi. Pak Agus, yang tadi malam nganter vitamin.
Pertarungan yang cuman setengah, tapi tuntas di tangan petugas lobi. Diceritain ulang pas _shift_ pagi sambil ngopi. Sampai ada adegan, "pelan-pelan, Sayang," lanjut sampe _climax_ seolah dia tahu sampai akhir. Padahal aslinya kejeda ketokan. Tapi bumbu, Bang. Bumbu.
Vivian ditemani Eric turun ke lantai 2. Restoran hotel, _view_-nya langsung danau. Masih pakai gaun tidur selutut, _cardigan_ rajut kebesaran, sandal hotel, dengan wajah yang acak-acakan khas orang kurang tidur.
Bukan kurang tidur karena bertarung di ranjang. Tapi Vivian beneran gak tidur tadi malam. Dongkol. Kecewa. _Horny_ yang gak tersalurkan. Nyampur jadi satu, bikin mata panda.
Baru juga masuk restoran, tatapan semua orang tertuju pada 2 manusia itu. Bisik-bisik langsung jadi orkestra.
"Eh itu yang semalem..."
"Suara dari kamar 701, kan?"
"Gila, kirain CEO dingin, ternyata..."
"Mereka dingin di luar, padahal panas di dalam," ucap salah satu tamu ibu-ibu arisan, bisik-bisik tapi kencengnya sejagat.
Eric muka datar, tapi kupingnya merah. Langkahnya lebih cepat, narik Vivian.
Vivian langsung tertuju pada meja di tengah, paling besar. Sudah ada Bu Ratna, Cika, dan Chindy. Sarapan keluarga.
"Kak Vivian dan Kak Eric, tadi malam panas ya?" Cika menyambut keduanya. Gak pake saring. Langsung bikin adegan ciuman dengan kedua tangan, _muah-muah_, sambil kedip-kedip. "Satu hotel denger lho. Keren!"
Eric dan Vivian tersentak. _Kok tau?_ Pikir mereka bebarengan. Vivian lirik Eric sekilas, wajah suaminya masih datar. _Stone face_. Tapi urat di rahangnya keliatan.
"Gak tahu malu," Chindy menyela. Nyendok _scrambled egg_ tanpa nengok. "Sampai didengar orang se-hotel. Untung hotel punya Papa. Kalau punya orang, udah diusir."
Wajah Vivian bersemu. Merah. Malu? Gengsi? Campur. Tapi otaknya jalan. _Speed_ 100km/jam. _Oke, gosip udah nyebar. Daripada dibully, mending gue yang pegang narasi._
Vivian langsung narik suaminya, senderin kepalanya ke dada Eric. Manja. Posesif. Pemenang. "Tentu saja," sahut Vivian puas, suaranya nyaring sengaja biar satu restoran denger. "Kita kan suami istri. Halal. Sah. Ada buku nikah. Mau liat?"
Statusnya jelas. Gak ada yang bisa bantah. Gak ada yang bisa nyelip.
"Duduk. Makan. Jangan banyak tingkah," ucap Eric. Suara datar. Tapi tangannya mendorong kepala istrinya pelan, benerin biar gak jatoh. Terus narik kursi buat Vivian.
Keduanya pun segera duduk, bersebelahan. Dunia serasa milik berdua biarpun seluruh mata natap ke arahnya. Kayak _spotlight_. Eric langsung tuang teh anget ke cangkir Vivian. Kebiasaan.
"Nyonya Vivian," tiba-tiba Alea datang. Dari arah _buffet_. Masih pakai seragam dokter di balik _coat_, rapi. Wajahnya profesional. Datar. "Selamat pagi. Boleh saya bicara sebentar?"
Satu meja langsung hening. Bu Ratna berhenti nyendok. Chindy ngangkat alis. Cika berhenti ngunyah.
Vivian mendelikkan matanya. _Datang lagi malaikat pencatat amal_. "Iya, kami kan suami istri," ucapnya duluan, sambil rangkul lengan Eric lagi. Klaim wilayah. "Kenapa, Dok?"
"Maksud saya," sahut Alea. Nadanya hati-hati, beneran khawatir. Buku catatan kecil udah di tangan. "Soal kandungan Nyonya. Tadi malam... saya dengar... Nyonya dan Tuan Eric berhubungan?"
_JLEB_.
Satu restoran mendadak pengen jadi patung. Sendok garpu berhenti di udara.
Vivian senyum. Senyum _Joker_. "Kandunganku belum stabil, belum boleh. Begitu?" Dia nebak.
Alea ngangguk pelan. "Iya, Nyonya. Usia 4 bulan masih rawan. Fleksinya masih ada minggu lalu. Sebaiknya hindari dulu sampai..."
"Alasan," potong Vivian. Cepet. Kalem. Tapi nusuk jantung. "Sebelum main, kami konsultasi ke Dokter Hendra, SPOG senior. Katanya aman, asal Eric gak goyang berlebihan. Aku yang di atas. Aku yang atur tempo."
_Prang!_ Sendok Chindy jatoh ke piring. Cika batuk. Bu Ratna keselek teh. Eric... Eric masih datar, tapi tangannya yang megang cangkir menegang.
"Tapi Nyonya..." Belum selesai Alea bicara, mukanya udah merah. Panik. Sebagai dokter, dia wajib ingetin. Sebagai Alea, dia... gak tau harus gimana.
"Lagipula," lanjut Vivian. Dia lepas rangkulan, terus pegang dagu Eric, nengadahin wajah suaminya ke semua orang. "Suamiku sentuh aku itu wajar. Halal. Kami nikah. Kalau selama hamil dia gak sentuh aku, mau sentuh siapa? Kamu?"
Tanyanya sambil menatap Alea. Lurus. Dalem. Senyumnya gak hilang. Tapi matanya dingin.
Alea kaget. Mundur selangkah. Mukanya pucat. "Sa-saya... saya cuma... tugas saya, Nyonya. Demi kesehatan..."
"Oh," Vivian angguk-angguk. "Makasih ya, Dok. Perhatiannya. Tapi urusan ranjang kami, biar kami yang urus. Aku percaya Eric. Dia tau batas. Dia gak akan nyakitin anaknya sendiri."
_Skak mat._
Eric akhirnya buka suara. Naruh cangkirnya pelan. "Cukup, Vivian," katanya. Gak marah ke Vivian. Matanya ke Alea. "Makasih, Dok Alea. Kami paham risikonya. Selanjutnya biar saya sama Dokter Hendra yang _handle_."
Kalimatnya. _Saya sama_. Gak _kami_. Ngebedain. Ngebatasin.
Alea nunduk. "Ba... baik, Pak Eric. Permisi." Dia balik badan, jalan cepat ke mejanya. Tangannya gemeter.
Meja Wijaya hening lagi. Sampai Cika nyeletuk, "Kak Vivian galak, tapi keren!"
Bu Ratna cuma geleng-geleng sambil senyum tipis. _Akhirnya ada yang bisa ngadepin menantu._
Chindy? Chindy ngacungin jempol kecil ke Vivian di bawah meja.
Dan Vivian? Dia balik nyendok bubur ayamnya. Santai. Kayak abis debat kusir soal harga cabe. Cuma telinganya masih merah.
Eric ngelirik istrinya. "Puas?"
Vivian nyuap bubur. "Laper."
Di luar jendela, danau tenang. Di dalam, hati Eric... gak tenang. Karena istrinya barusan ngaku "aku yang di atas" di depan se-hotel.
kalo suka like biar Vivian makin buas next bab😘
kalo mau adegan malam kedua yang gak diganggu lobi, komen "mau" jangan lupa kasih gift biar pintunya aku kunciin dari dalem.