Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diskusi
Malam itu, setelah Alfino pulang, suasana rumah Rania berubah. Bukan berubah jadi horor kayak film hantu. Tapi berubah jadi tegang kayak ruang sidang pengadilan, sementara Rania jadi terdakwa yang gak tahu salahnya apa.
Rania udah siap-siap mau kabur ke kamar. Udah satu kaki masuk pintu lorong. Udah jari-jarinya nyaris nyentuh gagang pintu kamar tapi suara Ibu menggelegar dari ruang tamu.
"RANIA! SINI DULU! BELUM SELESAI!"
Suara Ibu kali ini bukan suara biasa. Ini suara Ibu yang menandakan bahwa tidak ada kata "tidak". Ini suara Ibu yang sama persis saat beliau tahu nilai raporku anjlok di kelas 3 SD. Ini suara Ibu yang bikin lutut Rania lemas kayak tahu gejrot kelewat lama direndam.
Rania berbalik perlahan. Langkah kakinya gontai kayak terpidana yang diantar ke ruang eksekusi.
Bapak duduk di sofa. Ibu di sampingnya Naufal di bangku plastik dekat pintu, muka tegang, tapi matanya masih berusaha celingukan mungkin mencari celah buat kabur.
Rania duduk di kursi kayu di seberang mereka. Tangan dan kakinya gemetar kecil.
"Nah, sekarang," Ibu memulai.
Matanya menyipit kayak detektif di film kriminal. "Rania, jelaskan Mas Alfino itu siapa? Jangan bilang cuma temannya Naufal".
Rania nelen ludah pahit kayak minum obat nyamuk.
"Bu, serius, gue cuma tahu dia temennya Naufal. Itu aja."
"BUKAN ITU!" potong Ibu.
"Yang Ibu liat dia ngelirik ke arah kamu. Bukan sekali, berkali-kali kaya lagi hack data!"
Rinia mau protes, tapi Bapak ikut nimbrung.
"Rania, Bapak dengar dari Pak RT, Mas Alfino itu pengusaha, baru pindah ke komplek kita. Tapi kenapa dia langsung main ke rumah kita? Wajarnya kan silaturahmi ke Pak RT dulu, baru ke tetangga Ilini kok langsung ke rumah?"
Naufal, si biang kekacauan, nyengir dari pojokan.
"Pa, itu karena gue yang undang."
Bapak menoleh "Kamu kenal dia dari mana?"
"Dari grup WA, Pa Dia join grup komplek minggu lalu. Terus gue chat. Gebetan— eh, maksudnya kenalan. Ya udah gue undang buat main ke rumah."
Ibu langsung mencolok Naufal dengan jarinya. Tajamnya kayak jarum pentul.
"KAMU MEMANG DASAR ADIK YANG RESE! TIDAK BISA DIAM! URUSAN KAKAKMU SAJA KAMU IKUT CAMPUR!"
"Bu, ini bukan ikut campur ini bantu Mbak kan minta duda 18 cm..."
"NAUFAL!" Rania teriak suaranya pecah kayak kaca jatoh.
JANGAN SEBUT DI SINI!"
Naufal ngakak kecil. "Maaf, Maaf."
Bapak menghela napas. "Jadi, Mas Alfin itu tahu soal kriteria Rania?"
Sunyi.
Naufal menundu, Rania juga.
Ibu yang menjawab. "Pak, gosip udah nyebar ke mana-mana. Selinting, satu komplek, satu RW, bahkan sampai ke kampung sebelah paling juga sudah tahu jadi kemungkinan besar dia tahu."
Rania memejam rasanya ingin lenyap jadi debu.
Bapak bicara lagi, suaranya tegas tapi tetap dingin kayak hakim yang baca vonis.
"Naufal, Bapak tanya. Apa Mas Alfino datang karena iseng? Atau karena dia tertarik sama kakakmu?"
Naufal berpikir sejenak jari telunjuknya menggoyang-goyang bibir bawah gayanya setengah serius, setengah gaya.
"Menurut gue, Pa, kombinasi, awalnya mungkin iseng. Soalnya kan gue share di grup komplek. Tapi pas dia tanya-tanya detail soal Mbak Rania, gue curiga dia penasaran."
Rania gelagapan.
"LO DETAIL APA, NAUF?"
"Alamat, kerjaan, hobi, apakah masih suka nonton drakor sampai nangis, dsb."
"DSB ITU APA LAGI?"
"Lain-lain, Mbak."
Rania ingin melempar sandal tapi sandalnya jauh di teras.
Ibu menyela. "Jadi, Mas Alfino tahu Mbak Rania cari duda 18 cm lalu dia datang ke rumah kita. Itu artinya... dia bermaksud?"
Naufal mengangkat bahu. "Bisa jadi, Bu. Atau bisa jadi dia cuma pengen mengenal dulu. Setahu gue, dia orangnya pelan-pelan, gak agresif. Gak kayak cowok-cowok lain yang kalau suka langsung ngancem kawin."
Bapak manggut-manggut. "Hmm. Saya lihat tadi sopan, santun wajar ngobrolnya."
Ibu menambah. "Dan ganteng jujur, Ibu suka."
Rania mau protes. "Bu, jangan!"
Rania cemberut.
Setelah obrolan panjang dan tegang itu, mereka membubarkan diri. Pukul sepuluh malam. Rania masuk kamar dalam keadaan kepala penuh, kayak tas belanja abis dari pasar, semua isinya campur aduk, gak jelas.
Baru aja dia mau buka ponsel, scroll sosial media, mencari hiburan di tengah kegalauan...
BRREEET!
Ponsel getar layar menyala nada dering khusus WA.
"Ada pesan baru dari nomor tak dikenal."
Rania balikkan ponsel tatapannya kosong. Jantungnya mulai berdebar kayak mau lewat tenggorokan.
"Siapa ini jam segini? Ibu? Sudah tidur. Mila? Mila biasanya chat pagi. Naufal? Ah, paling Naufal yang ngirim meme norak."
Dia buka.
Tapi begitu layar menampilkan isi pesan, tangan Rania beku. Matanya membelalak. Mulutnya langsung kering kayak habis makan kerupuk tanpa minum.
"Halo, Mbak Rania. Ini Alfino. Naufal yang kasih nomor. Maaf mengganggu malam-malam".
Hanya itu tdak ada tambahan. Tidak ada "aku suka sama kamu". Tidak ada "apa kabar". Tidak ada simbol-simbol mencurigakan. Cuma salam yang sopan.
Tapi bagi Rania, salam itu terasa seperti bom waktu.
"NAUFAL! KOK KASIH NOMOR GUE!"
Rania mau langsung telepon Naufal dan teriak-teriak. Tapi jarinya tidak bergerak. Matanya masih tertuju ke layar.
Pesan itu pendek. Lucunya, pendeknya membuat bingung. Kenapa tidak ada lanjutan? Kenapa tidak ada "aku mau kenalan"? Kenapa cuma "halo, maaf mengganggu"?
Rania membaca ulang.
Tiga kali.
Empat kali.
Lima kali.
"Ini dia? Ini pria yang duduk di teras? Ini pria yang matanya kayak langit teduh? Ini pria yang suaranya bikin bulu kuduk merinding? Ini pria duda 18 cm? Ngirim WA cuma bilang halo?"
Rania hampir pusing. Dia lemparkan ponsel ke ujung kasur. Lalu dia berdiri, mondar-mandir bolak-balik kayak orang kesurupan.
"Balas atau tidak? Kalau tidak balas, dia akan menganggap gue sombong. Kalau balas, gue takut salah ketik. Kalau salah ketik, bisa jadi malapetaka jilid 2. Kalau malapetaka jilid 2, gue harus pindah ke luar negeri dan ganti identitas."
Dia menggigit kuku.
Dia memandang ponsel yang tergeletak.
Dia berjalan ke ponsel, lalu berbalik.
Dia berjalan lagi ke ponsel, lalu berbalik lagi.
Kayak tari saman versi galau.
"Ok, ok, Rania, tenang. Kamu orang profesional. Kamu marketing kamu biasa terima pesan dari klien, dari atasan, dari teman. Ini cuma pesan biasa dari seseorang yang kebetulan duduk di teras rumahmu kemarin tidak ada yang aneh."
Dia ambil nafas.
"Sekarang, balaslah dengan sopan jangan kurang, jangan lebih."
Rania mengangkat ponsel. Jari jemarinya bergerak lamban. Mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi. Butuh lima menit sampai dia berhasil mengirim satu kalimat.
Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?
"Gila, Rania, ngapain sih nanya ada yang bisa dibantu? Lo ini lagi WA sama temen atau lagi ngebalas email kantor?"
Tapi pesan itu udah terlambat ditarik.
Ria memelototi layar. Berharap balasan dari Alfino cepat datang supaya dia tidak perlu menunggu lama.
BREEET!
Balasan! Cepatnya kayak kilat.
Hanya ingin menyapa. Maaf jika mengganggu. Besok sore saya mampir ke rumah Naufal lagi. Mungkin bisa ngobrol lebih banyak. Selamat malam, Mbak Rania.
Rania membaca berulang.
"Dia pengen ngobrol lebih banyak? BABI! GUE KAN BELUM SIAP! GUE LAGI PATAH HATI! GUE LAGI KONDISI DARURAT MENTAL!"
Tapi jarinya bergerak sendiri.
Oh, iya, Mas. Sama-sama selamat malam juga.
Setelah itu, Rania mematikan ponsel. Tidak mau lihat lagi, tidak mau dengar notifikasi. Dia berguling-guling di kasur, memeluk guling menendang bantal.
Di kamar sebelah, Naufal tertawa dalam hati. Dia memandang HP-nya. Percakapan antara Alfino dan Rania sudah dia intip. Bukan, dia tidak ikut dalam grup. Tapi Alfino memintanya "Konfirmasi, Rania marah nggak?"
Naufal membalas Alfino.
"Mas, Mbak gue pasti lagi guling-guling sekarang. Itu tanda dia galau. Tanda bagus. Dari galau ke suka itu cuma masalah waktu"
Alfino membalas "Haha terima kasih, Naufal.
Naufal memberikan pesan lagi "sama-sama, Mas. Saya support terus. Tapi pelan-pelan ya, jangan sampe kebablasan.
Alfino merespon "saya tidak akan memaksakan. Besok sore saya ke rumah saja. Bisa ketemu langsung tanpa harus WA-an terus menerus. Biar tidak canggung.
Naufal membalas "Oke, Mas. Jangan lupa bawa durian lagi. Biar Mbak gue semakin gelap hati.
Alfino bertanya " Maksudnya gelap hati?"
Naufal menjawan "Gak sadar kalau dia udah suka"
Sementara itu, Rania masih berguling di kasur.
Tapi sekarang dia sudah berhenti dia diam menatap kosong.
Batinnya bertanya, "Kenapa sih lo harus resah, Rania? Dia cuma bilang besok sore mampir dan mau ngobrol lebih banyak. Tidak ada yang spesial jangan ge-er."
Tapi hatinya yang lain menjawab, "Dia tahu kriterianya. Dia datang sendiri ke rumah. Dia ngobrol sama Bapak. Dia manis. Dia wangi. Dia..."
"STOP!"
Rania memukul dahi sendiri. Dia tidak tahu bahwa Alfino akan datang lagi. Tapi dia tahu, besok sore, rumahnya perlu dibersihkan, dia perlu siap mental.