NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma Yang Menghantui Dan Hati Yang Mati Rasa

Sikap teman-teman yang menjauh dan memandangku dengan jijik itu seolah menjadi tombol yang menekan ingatanku ke masa lalu. Semenjak kejadian itu, ketenangan yang baru saja aku bangun perlahan mulai goyah. Trauma-trauma lama yang kurasa sudah terkubur, tiba-tiba muncul kembali begitu saja, bertebaran di kepalaku tanpa bisa aku cegah.

Saat aku duduk sendirian di kelas, atau saat aku sedang mengerjakan kerajinan tanganku di rumah, bayangan-bayangan itu datang menghantuiku.

Aku kembali mendengar suara ayah yang berteriak keras, melontarkan cacian dan makian yang menyakitkan. "Beban! Kau cuma beban yang tidak berguna! Kenapa kau tidak mati saja?" Suara itu terdengar begitu jelas di telingaku, seolah-olah ayah sedang berdiri tepat di depanku saat ini. Lalu, aku juga mendengar suara ibu yang seharusnya melindungi ku, tapi justru ikut menyakitiku dengan kata-kata tajamnya, atau bahkan hanya diam saat aku dipukul dan disakiti.

Rasa sakit itu... rasa sakit fisik saat ayah memukulku dengan sabuk atau benda apa saja yang ada di tangannya, rasa sakit saat aku dipukul dan ditendang hingga terjatuh, rasanya seakan-akan masih ada di tubuhku. Kulitku terasa perih, tulang-tulang ku terasa ngilu, dan hatiku terasa remuk kembali, persis seperti saat kejadian itu terjadi bertahun-tahun lalu.

Mereka—orang tuaku—adalah orang pertama yang seharusnya menyayangiku, tapi justru merekalah yang pertama kali menghancurkan ku. Dan sekarang, teman-teman di sekolah melakukan hal yang sama. Mereka juga menilai ku sampah, mereka juga menjauhiku, mereka juga merasa jijik padaku.

Perlahan tapi pasti, sebuah kesimpulan pahit mulai terbentuk kuat di dalam benakku.

Apakah ini semua sudah takdir ku? Mengapa semua orang sama saja. Orang tua bisa berubah menjadi monster, teman bisa berubah menjadi penjahat yang menikmati rasa sakit orang lain.

Aku mulai merasa bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa dipercaya. Tidak ada yang tulus menyayangi aku apa adanya. Semua orang hanya melihat apa yang bisa mereka dapatkan, atau menilai dari apa yang mereka lihat di permukaan saja. Jika kamu berguna, mereka akan mendekat. Jika kamu tidak berguna, atau bahkan dianggap membawa "kesialan", mereka akan menjauh atau bahkan menyakiti.

Dari dasar hatiku yang paling dalam, timbul sebuah keyakinan yang bulat dan tegas: Aku tidak akan pernah lagi mempercayai orang lain. Seratus persen. Tidak ada pengecualian.

Aku memutuskan untuk menutup pintu hatiku rapat-rapat. Tidak akan ada lagi ruang untuk rasa sayang, tidak akan ada lagi ruang untuk cinta, dan tidak akan ada lagi ruang untuk harapan bahwa seseorang akan datang dan menjadi teman yang tulus. Biarlah aku sendirian. Biarlah aku hanya berurusan dengan kerajinan tanganku, dengan uang hasil kerjaku sendiri, dan dengan dinding kamarku yang reyot tapi setia.

Lebih baik sendirian daripada harus merasakan sakit lagi karena dikecewakan oleh manusia. Lebih baik tidak mencintai dan tidak mempercayai siapa pun daripada harus merasakan pedihnya dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita percaya.

Dan yang paling parah, aku mulai merasa mati rasa.

Senyumku yang dulu tulus, kini hanya menjadi gerakan bibir tanpa perasaan. Rasa sedih, rasa marah, rasa bahagia—semuanya perlahan menghilang, tertimbun oleh tembok tebal yang aku bangun sendiri. Aku berjalan di antara orang-orang, tapi rasanya aku tidak ada di sana. Aku melakukan pekerjaanku, aku berbicara seperlunya, tapi hatiku terasa dingin dan kosong. Tidak ada lagi yang bisa menyentuhku, baik untuk menyakiti maupun untuk membahagiakan. Aku menjadi seperti robot yang berjalan, atau lebih tepatnya, seperti patung yang memiliki mata tapi tidak melihat, memiliki telinga tapi tidak mendengar, dan memiliki hati tapi tidak lagi merasakan apa-apa.

Mulai hari ini, aku akan melanjutkan hidupku, berjuang untuk masa depanku, tapi aku akan melakukannya dengan hati yang beku dan perasaan yang sudah mati. Cukup sampai di sini rasa sakit ini. Tidak ada lagi yang bisa masuk, dan tidak ada lagi yang bisa keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!