NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan yang Datang

Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan warna abu-abu yang muram. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan di balkon apartemen, memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi yang tampak seperti raksasa yang sedang mengintai. Di dalam kesunyian fajar itu, Helen Kusuma telah mengambil keputusan.

Ia tidak bisa lagi berada di sini. Kamar mewah ini, selimut sutra ini, dan aroma kayu cendana yang memenuhi ruangan—semuanya terasa seperti jeratan yang perlahan mencekik lehernya. Sikap dingin Ario semalam adalah tamparan keras yang menyadarkannya: ia hanyalah bidak. Seorang pengungsi yang tidak punya tempat di papan catur pria misterius itu.

Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, Helen mengganti gaun merah mahalnya dengan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari—sebuah sweater hitam longgar dan celana kain. Ia tidak membawa apa pun, kecuali sebuah tas kecil berisi ponsel yang baterainya hampir mati dan kalung emas peninggalan ibunya yang sempat ia selamatkan dari kardus yang dibuang Beatrix.

Helen menatap pintu ruang kerja Ario yang masih tertutup rapat. Ada keinginan besar dalam hatinya untuk mengetuk, untuk bertanya sekali lagi mengapa pria itu berubah menjadi es dalam semalam. Namun, harga dirinya yang telah hancur lebur kini mencoba bangkit kembali.

"Terima kasih untuk tumpangannya, Tuan Diangga," bisiknya pedih pada udara kosong.

Ia melangkah keluar, menutup pintu apartemen dengan klik yang sangat halus. Saat ia berdiri di lorong lift yang dingin, Helen baru menyadari satu kenyataan pahit: ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak punya uang tunai, kartu kreditnya pasti sudah diblokir oleh Beatrix, dan teman-teman sosialitanya? Mereka adalah sekumpulan burung merak yang akan terbang menjauh begitu melihat sayapnya patah.

Namun, berjalan tanpa arah di trotoar yang mulai ramai oleh penjual bubur ayam terasa lebih terhormat daripada tinggal di sana sebagai beban bagi pria yang jelas-jelas menganggapnya sebagai "kepentingan".

****

Di dalam apartemen, matahari mulai merangkak masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Ario Diangga. Ia terbangun dengan kepala yang berat. Mimpi semalam terasa begitu nyata—mimpi tentang ayahnya dan Aditya Kusuma, tentang api yang membakar pabrik tekstil lama milik keluarganya.

Ario mengusap wajahnya, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk dan rasa bersalah yang masih menggelayuti dadanya. Ia segera bangkit, berniat untuk meminta maaf pada Helen. Sikapnya semalam memang keterlaluan, namun itu adalah mekanisme pertahanan diri yang ia tahu harus ia lakukan untuk melindungi hatinya sendiri.

"Helen?" panggilnya sambil berjalan menuju dapur.

Sepi. Tidak ada aroma roti panggang. Tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi.

Ario mengerutkan kening. Ia berjalan menuju kamar tamu. Pintu terbuka lebar. Tempat tidur itu sudah dirapikan dengan sempurna, namun dingin. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Helen di sana. Di atas meja rias, gaun merah yang semalam Helen kenakan tergeletak rapi, seolah-olah sang pemilik telah menanggalkan identitas lamanya di sana.

"Sial!" umpat Ario. Ia berlari menuju lobi apartemen, bertanya pada petugas keamanan dengan napas memburu.

"Nona yang tinggi itu? Dia sudah pergi sekitar satu jam yang lalu, Pak. Dia menolak saat kami tawarkan taksi," jawab petugas itu bingung.

Ario memukul pilar marmer di lobi. "Satu jam yang lalu... dia sendirian, tanpa uang, tanpa perlindungan."

Rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menjalari pembuluh darahnya. Ia tahu seberapa bahayanya Jakarta bagi seorang wanita seperti Helen, terutama saat Beatrix sedang mengirimkan antek-anteknya untuk menyapu bersih sisa-sisa keluarga Kusuma.

****

Sementara itu, di lantai teratas gedung Kusuma Group, perubahan besar sedang terjadi. Bukan perubahan yang membawa kemajuan, melainkan penghapusan identitas.

Beatrix van Amgard berdiri di tengah aula utama, memandangi para pekerja yang sedang menurunkan lukisan besar Aditya Kusuma. Lukisan itu menunjukkan Aditya yang bersahaja, mengenakan batik tulis, berdiri di depan pabrik pertamanya.

"Hati-hati, kau bodoh!" bentak Beatrix pada seorang pekerja yang hampir menjatuhkan bingkai itu. "Bawa itu ke gudang bawah tanah atau bakar saja sekalian. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di sini."

Ia memutar tubuhnya, menghadap jajaran direksi yang kini didominasi oleh wajah-wajah baru—pria-pria Belanda dan Jerman yang ia datangkan langsung dari Eropa.

"Mulai hari ini," suara Beatrix bergema, keras dan penuh otoritas, "Kusuma Group secara resmi berganti nama menjadi Van Amgard International. Kita tidak lagi menggunakan batik sebagai seragam. Kita tidak lagi memberikan tunjangan hari raya yang berlebihan. Budaya 'kekeluargaan' yang dibawa Aditya adalah kanker bagi keuntungan perusahaan. Kita akan bekerja secara efisien, dingin, dan menguntungkan."

Seorang direktur lama, Pak Gunawan, mencoba interupsi. "Tapi Nyonya, ini adalah warisan Tuan Aditya. Kultur perusahaan ini adalah apa yang membuat karyawan setia selama tiga puluh tahun—"

"Zwijg!" (Diam!) Beatrix membentak dalam bahasa Belanda sebelum beralih ke bahasa Indonesia dengan nada meremehkan. "Warisan adalah untuk orang mati, Pak Gunawan. Dan Aditya sudah mati. Jika Anda tidak suka dengan cara Van Amgard memimpin, pintu keluar selalu terbuka. Oh, dan jangan harap Anda mendapatkan pesangon penuh."

Beatrix berjalan menuju meja kerjanya yang baru, sebuah meja minimalis modern dari kaca dan baja, menggantikan meja kayu jati ukir milik Aditya. Di atas meja itu, ia meletakkan sebuah map hitam berisi daftar orang-orang yang harus "dilenyapkan" secara profesional—secara finansial maupun reputasi.

Nama Helen Kusuma berada di urutan teratas. Disusul oleh Ario Diangga.

"Ario... kau pikir kau bisa memainkanku?" gumam Beatrix sambil menyalakan rokok putih panjangnya. "Kau hanyalah anak dari pria yang gagal melindungi asetnya sendiri. Dan sekarang kau menggunakan Helen? Betapa klise."

Ia mengambil telepon dan menghubungi seseorang di kepolisian. "Halo, Komisaris? Saya ingin melaporkan kehilangan beberapa perhiasan berharga senilai miliaran rupiah. Dan saya punya dugaan kuat pelakunya adalah putri tiri saya sendiri, Helen Kusuma. Ya, dia sedang tidak stabil mentalnya. Tolong sebarkan fotonya. Tangkap dia, tapi pastikan dia menderita sebelum sampai ke tangan saya."

Beatrix menutup telepon dengan senyum kemenangan. Ia tidak hanya mengusir Helen dari rumah dan perusahaan, ia akan menjadikan Helen seorang buronan. Sebuah kehinaan total bagi nama Kusuma.

****

Helen berjalan menyusuri trotoar di kawasan Sudirman. Kakinya mulai lecet karena sepatu yang ia gunakan tidak cocok untuk berjalan jauh. Perutnya mulai melilit karena lapar, namun ia bahkan tidak punya uang untuk membeli sebotol air mineral.

Ia berhenti di bawah sebuah jembatan layang yang bising oleh suara klakson. Ia duduk di sebuah bangku semen yang kotor, menatap kerumunan orang yang berlalu lalang. Tak ada satu pun dari mereka yang mengenalnya. Bagi dunia, Helen Kusuma sudah menghilang sejak tanah merah menutupi peti ayahnya.

Ia mencoba menyalakan ponselnya. Layar berkedip sebentar, memperlihatkan notifikasi berita terkini: “Dugaan Pencurian Perhiasan: Polisi Mencari Helen Kusuma, Putri Mendiang Raja Tekstil.”

Ponsel itu kemudian mati total.

Helen merasa dunianya berputar. Air mata yang sejak pagi ia tahan kini tumpah tak terbendung. "Pencuri? Aku mencuri di rumahku sendiri?"

Ia tertawa getir di tengah isak tangisnya. Beatrix benar-benar tidak menyisakan ruang baginya untuk bernapas. Wanita itu ingin melihatnya hancur sampai ke titik paling rendah.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan bangku tempatnya duduk. Jantung Helen berdegup kencang. Polisi? Atau orang-orang Beatrix?

Pintu mobil terbuka. Seorang pria keluar dengan tergesa-gesa. Bukan polisi. Bukan Bambang.

Itu Ario.

Wajahnya tampak berantakan, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat Helen yang sedang meringkuk ketakutan, dan seketika itu pula kemarahan di wajah Ario lumat menjadi rasa iba yang mendalam.

Ario melangkah mendekat, namun Helen mundur hingga punggungnya menabrak tiang jembatan yang dingin.

"Jangan mendekat!" teriak Helen histeris. "Pergi! Kau juga menginginkan sesuatu dariku, bukan? Kau ingin menggunakanku untuk balas dendammu! Pergi!"

Ario berhenti. Ia mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata. "Helen, dengarkan aku. Berita tentangmu sudah menyebar. Beatrix menjebakmu dengan tuduhan pencurian. Polisi sedang mencarimu ke seluruh penjuru kota."

"Aku tidak peduli!" tangis Helen pecah. "Aku lebih baik dipenjara daripada harus menjadi boneka kalian semua! Papa sudah meninggal, Ario! Aku tidak punya siapa-siapa lagi!"

Ario tidak memedulikan teriakan Helen. Ia maju satu langkah besar dan menarik Helen ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, membiarkan tangisan Helen membasahi kemeja mahalnya.

"Kau punya aku," bisik Ario di telinga Helen, suaranya kini tidak lagi dingin, melainkan bergetar penuh emosi. "Aku melakukan kesalahan semalam, Helen. Aku pengecut karena takut pada perasaanku sendiri. Tapi aku tidak akan membiarkan wanita itu menyentuhmu seujung kuku pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!