NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan Tanpa Rasa

...Chapter 5...

“Kau pikir aku percaya padamu?” ucap Ling Xu dingin, sambil berdiri meski tubuhnya goyah. 

“Aku adalah putri dari Dewi yang digilir dan dicincang. Aku tidak akan pernah sepercaya itu pada manusia.” 

Ia menjentikkan jari, dan di dalam tubuh Huan Zheng, racun itu aktif. 

Bukan seperti racun sebelumnya yang membakar—melainkan seperti ribuan semut kecil yang menggigit dari dalam, menusuk setiap meridian yang baru saja pulih. 

Huan Zheng menjerit. 

Jeritannya lebih parah dari sebelumnya, lebih parah dari racun Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan, karena kali ini ia tidak sedang sekarat—ia sedang dihukum dalam keadaan sadar. 

“Berhenti... berhenti!” teriaknya, tubuhnya berguling di tanah, tangannya mencakar-cakar debu. 

Ling Xu berjalan mendekat perlahan, diam-diam, seperti bayangan yang tidak bisa diusir.

“Maaf... maafkan aku!” pekik Huan Zheng, suaranya berubah menjadi nada menjilat yang memuakkan.

“Aku tidak akan mengulanginya! Aku bersumpah demi langit dan bumi—aku akan menjadi bawahanku! Aku akan menjadi budakmu!” 

Ling Xu berhenti, menatapnya dengan mata yang tidak bisa dibaca. 

Di dalam benaknya, Kesadaran Lintang Kemanusiaan berbisik.

“Dia berbohong. Atau mungkin tidak. Tapi kau butuh dia, ingat?”

Ling Xu menghela napas panjang, lalu berlutut di hadapan Huan Zheng yang terus mengerang kesakitan. 

“Dengar, manusia,” ucapnya, suaranya setajam pisau bedah, “aku tidak butuh budak. Aku butuh alat. Dan kau akan menjadi alatku sampai aku mencapai tingkatan kultivasi Bujur Surgawi. Setelah itu, kau bebas—bisa pergi, bisa balik menyerangku, bisa mati di jalan, aku tidak peduli.” 

Huan Zheng, yang masih berguling-guling menahan sakit, mendongak dengan mata berkaca.

Bukan karena haru, tapi karena sakit dan malu dan marah yang bercampur jadi satu. 

“Bujur... Bujur Surgawi? Itu butuh waktu puluhan tahun!” 

Ling Xu tersenyum tipis. 

“Maka kau akan bersamaku selama puluhan tahun. Atau kau bisa mati di sini, sekarang, karena racun buatanku tidak memiliki penawar—kecuali aku yang menghentikannya.” 

Huan Zheng terdiam. 

Ia ingin mencaci, ingin berteriak bahwa Ling Xu adalah keturunan Dewi yang layak dimutilasi, bahwa semua Dewi pantas mendapatkan nasib ibunya—tapi racun itu terus menggigit, dan kematian terasa begitu dekat. 

“Baiklah,” bisiknya akhirnya, suaranya hancur, “aku... menerima.”

Ling Xu menghentikan racun itu. 

Tidak sekaligus, melainkan perlahan, seperti seseorang yang mengendurkan tali dari leher korbannya satu per satu simpul. 

Huan Zheng terduduk lemas, napasnya tersengal, dan untuk pertama kalinya ia menatap Ling Xu bukan sebagai dewi rendahan—tapi sebagai tuannya. 

“Tapi ingat,” ucap Huan Zheng, matanya masih menyisakan api kecil pemberontakan, “aku akan bebas tepat setelah kau mencapai Bujur Surgawi. Tidak sehari lebih lambat.” 

Ling Xu mengangguk, lalu berdiri, merapikan rambut putih bercorak warnanya yang kusut. 

“Setuju. Dan selama masa itu, kau akan melayaniku, melindungiku, dan mengantarku ke dalang di balik pergiliran ibuku. Jika kau mengkhianatiku sekali lagi—” 

Ia menjentikkan jari, dan di tubuh Huan Zheng, racun itu berdenyut pelan sebagai peringatan. 

“... Aku tidak akan menghentikannya lain kali. Aku hanya akan menonton.” 

Perbatasan Perkemahan Xuelan tampak seperti luka di ujung dunia—pagar-pagar kayu yang setengah rubuh, ilalang kering yang bergoyang seperti jari-jari mayat, dan langit senja yang merahnya terlalu pekat untuk disebut jingga. 

Ling Xu tiba lebih dulu, dengan sengaja, dengan sadis, dengan senyum kecil yang tak pernah lepas dari bibirnya sejak ia memutuskan untuk mempermainkan Roda Kultivasi nomor dua. 

“Dia pasti akan marah,” gumamnya sambil merapikan rambut putihnya yang kusut karena angin, “tapi biarlah. Biar dia tahu rasanya menjadi alat.” 

Di belakangnya, sekitar seribu meter di timur, Huan Zheng melesat seperti panah yang dilepaskan dari busur kemarahan murni—wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan di dalam dadanya, racun yang Ling Xu aktifkan tiba-tiba kembali menggigit, meremas setiap nadi kehidupannya seperti tangan raksasa yang tak terlihat. 

“Kau—!” teriak Huan Zheng dari kejauhan, suaranya terpotong oleh rasa sakit, “kutu dewi sialan—kau mengaktifkan racun itu lagi?!” 

Ling Xu hanya tertawa, lalu terbang lebih cepat, meninggalkan jejak cahaya putih di udara seperti cibiran yang tak bisa dikejar.

Uuuhh!!

Beberapa jam sebelumnya, tepat setelah kesepakatan budak itu tercapai, Ling Xu tanpa peringatan melesat terbang meninggalkan Huan Zheng yang masih terduduk lemas. 

“Hei—tunggu!” teriak Huan Zheng, tapi Ling Xu tak menoleh. 

Sebaliknya, ia menjentikkan jari, dan di tubuh Huan Zheng, racun yang bersemayam di 49 keping Lintang Kemanusiaan itu aktif.

Bukan untuk membunuh, tapi untuk menyiksa. 

“Apa—!” 

Huan Zheng menjerit, tubuhnya menggulung, merasakan setiap nadinya seperti diremukkan berulang kali, seperti ada yang memilin ususnya dengan tangan dingin. 

“Ikuti aku,” ucap Ling Xu dari kejauhan, suaranya terdengar seperti bisikan iblis di telinga, “atau biarkan racun ini meremukkanmu perlahan. Pilihan ada di tanganmu.” 

Huan Zheng, dengan air mata yang keluar bukan karena sedih tapi karena marah yang tak tertampung, memaksakan diri terbang. 

Dan di situlah kejar-kejaran paling gila dalam sejarah kultivasi dimulai.

Seorang mantan Roda Kultivasi nomor dua yang baru saja selamat dari kematian mengejar seorang gadis dewi tingkat Lintang Bawah yang sengaja mempermainkannya seperti anjing yang dikejar tulang.

Kembali ke masa kini, di perbatasan Perkemahan Xuelan, Huan Zheng akhirnya tiba.

Terlambat, napasnya tersengal-sengal, dan tenaga kultivasi Pondasi Lintang Bawah miliknya terkuras habis hingga 15 kali lipat dalam perjalanan. 

Tapi anehnya, tepat ketika ia hendak jatuh kehabisan energi, sesuatu terjadi.

Cadangan terakhir di dasar dadanya meledak, mengisi penuh seluruh meridiannya dalam sekejap, seperti sumur kering yang tiba-tiba mendidih oleh mata air bawah tanah. 

“Ini... ini dia saatnya,” desis Huan Zheng, matanya menyala api kebencian murni. 

Ia mengumpulkan seluruh energi yang baru pulih itu ke tangan kanannya, lalu—tanpa ampun, tanpa peringatan—menerjang ke arah wajah Ling Xu. 

Tinjunya melesat, cepat, lebih cepat dari kilat, dan untuk sesaat Ling Xu yang percaya diri berganti menjadi raut ngeri karena ia bisa melihat di mata Huan Zheng bahwa pria ini serius ingin membunuhnya. 

Bukan main-main, bukan sekadar memarahi—tapi sungguh-sungguh ingin menghancurkan wajahnya menjadi bubur. 

“Kau—!” pekik Ling Xu, terlalu terlambat untuk menghindar. 

Tinju itu tinggal satu inci lagi dari pangkal hidungnya, satu inci dari kematian yang terasa begitu nyata.

Namun tinju itu hanya mengenai angin. 

Bukan karena Huan Zheng mengurungkan niatnya, bukan pula karena Ling Xu tiba-tiba bisa menghindar—melainkan karena sesuatu menarik Ling Xu ke belakang. 

Sebuah tangan, besar dan kokoh, berbalut jubah layaknya anggota kerajaan—warna ungu tua dengan sulur-sulur emas, seperti yang hanya dikenakan oleh bangsawan dari istana-istana tua yang bahkan para dewa segan menyebut namanya. 

“Hati-hati, nona,” ucap pria itu, suaranya dalam dan tenang, seperti gemuruh yang tertahan di balik gunung. 

Wajahnya teduh, tidak muda tidak tua, dengan mata yang tampak seperti telah melihat seribu tahun sejarah. 

Huan Zheng menarik tinjunya yang hanya mengenai angin, matanya menyipit tajam ke arah pria berjubah ungu dengan sulur-sulur emas itu—seseorang yang berani mencampuri urusannya, seseorang yang berani menyentuh buruannya. 

“Lepaskan dia,” ucap Huan Zheng, suaranya dingin tapi bergetar di ujung-ujung kata, seperti belati yang baru saja diasah dan masih menyimpan panas gesekan. 

Pria itu—yang kemudian diketahui bernama Pangeran Whou Ming—tersenyum tipis, tidak terintimidasi, lalu melepaskan Ling Xu dengan gerakan tangan yang anggun seperti sedang menuang teh. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!