Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Shen Yu melangkah keluar.Hari ini tugasnya selesai, uang bertambah Dia tidak langsung pulang. Ia memutar arah menuju pusat pasar yang selalu ramai pengunjung sepanjang hari.
Di sepanjang jalan, ia sudah melepas topeng rubah misteriusnya dan menyimpannya rapi di dalam ruang penyimpanan.
Pakaiannya yang agak mewah juga sudah diganti dengan baju katun abu-abu sederhana, sama seperti yang dipakai warga biasa. Tidak ada lagi yang bisa mengenali dia sebagai orang kaya atau pedagang barang langka.
Perutnya sudah mulai berbunyi, dan satu menu yang sudah terbayang jelas di pikirannya adalah bebek merah—masakan favoritnya yang rasanya gurih, manis, dan berempah, membuat air liur menetes hanya dengan mengingatnya.
Dengan semangat yang tidak biasa terlihat dari orang yang biasanya malas bergerak, ia berjalan cepat sambil memandang ke kiri dan kanan, mencari toko daging yang menjual hidangan itu.
Bau-bau masakan yang bertebaran di pasar semakin membuatnya tidak sabar.
"Aduh, dimana okonya... kemarin masih ada di sini," gumamnya sambil menggaruk kepala ringan.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, akhirnya matanya menangkap papan tulisan kayu yang bertuliskan "TOKO DAGING AYAM & BEBEK - MASAKAN SEGAR SETIAP HARI". Dari dalam toko itu keluar asap panas yang disertai aroma harum yang langsung menusuk hidung.
Shen Yu mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam toko yang tidak terlalu besar tapi bersih dan ramai pelanggan itu. Begitu duduk di bangku kayu, ia langsung memanggil pelayan dengan suara ceria.
"Saudara, pesan satu porsi bebek merah! Nasi putihnya dua porsi, dan segelas air jahe hangat!"
"Baik Tuan, sebentar!" jawab pelayan pria dengan ramah.
Sambil menunggu pesanan datang, Shen Yu duduk santai, mengayunkan kakinya dengan riang.
Uang baru saja masuk, perut akan segera terisi makanan enak, dan setelah ini ia bisa tidur nyenyak di rumah—hari ini benar-benar sempurna menurut standar hidup santainya.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat dengan tergesa namun tetap hati-hati. Pelayan yang tadi menerima pesanan datang sambil membawa nampan kayu besar yang diisi rapi.
Ting!
Satu per satu piring dan mangkuk diletakkan di meja Shen Yu dengan suara lembut.
Pertama, dua piring nasi putih yang mengepul panas, butirannya terlihat pulen dan wangi. Lalu di tengahnya, diletakkan sebuah piring keramik besar berwarna putih polos—dan di sanalah bintang utamanya: Bebek Merah.
Daging bebek itu dipotong rapi menjadi beberapa bagian, kulitnya mengkilap terkena cahaya lampu, berwarna merah kecokelatan yang menggugah selera.
Kuah kental berwarna merah tua menyelimuti setiap potongan daging, terlihat lengket dan kaya rempah.
Uap panas mengepul naik, membawa aroma campuran kecap manis, kayu manis, cengkeh, jahe, dan bumbu rahasia lainnya yang langsung menyergap hidung Shen Yu.
Ada juga taburan bawang goreng renyah di atasnya, serta irisan daun bawang yang memberikan sentuhan warna segar. Di sampingnya, tersaji semangkuk air jahe hangat yang berwarna bening kekuningan, masih mengepulkan asap tipis.
"Ini pesanan Tuan, bebek merah spesial dengan kuah ekstra, dua porsi nasi, dan air jahe hangat. Silakan dinikmati!" kata pelayan sambil tersenyum, lalu mundur perlahan meninggalkannya.
Shen Yu menatap hidangan di hadapannya dengan mata berbinar, senyum lebar terukir di bibirnya. Tangannya langsung mengambil sumpit, tanpa menunggu lebih lama lagi.
"Wah, wanginya benar-benar bikin orang lupa segalanya!" gumamnya antusias.
Ia mengambil sepotong daging paha, mencelupkannya sebentar ke kuah kental, lalu menggigitnya perlahan.
Kulitnya lembut dan manis, dagingnya empuk sampai ke tulang, rasa gurih dan rempahnya meresap sempurna sampai ke dalam. Ditambah lagi nasi putih hangat yang menyerap sisa kuah di piring, setiap suapan terasa seperti surga dunia baginya.
Dengan semangat yang membara, Shen Yu makan dengan lahap, sama sekali tidak mempedulikan penampilan.
Baginya, ini adalah momen paling bahagia hari ini—lebih menyenangkan daripada saat menerima 2.500 tael tadi pagi.
Shen Yu sedang asyik mengunyah daging bebek yang empuk, matanya terpejam menikmati setiap rasa yang menyebar di mulutnya.
Di sekelilingnya, restoran ini memang sedang penuh sesak—seperti biasa, tempat ini selalu ramai karena masakannya terkenal enak dan berkualitas. Suara orang mengobrol, tertawa, dan dentingan peralatan makan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan.
Namun ketenangan itu tiba-tiba terpecah.
Dari lantai atas terdengar suara teriakan yang semakin keras, disertai benturan-benturan benda. Suara pertengkaran itu terdengar jelas, meskipun kata-katanya tidak terlalu jelas dipahami.
"Kau berani?! Coba katakan sekali lagi!"
"Hahaha! Memang benar apa yang kukatakan! Kau hanya sampah!"
"Kamu..."
Belum sempat kalimat itu selesai, terdengar suara benturan keras yang menggelegar.
BANG!
Suara itu disusul dengan teriakan seseorang yang jatuh dengan kecepatan tinggi.
DUG!
KRAK!!
Sosok pria bertubuh besar jatuh menimpa tepat di meja makan di sebelah meja Shen Yu.
Kayu meja yang tebal itu langsung hancur berkeping-keping, makanan dan minuman berserakan ke mana-mana. Tubuh pria itu tergeletak di atas reruntuhan meja, darah mulai mengalir dari kepalanya, dan dia tidak bergerak sama sekali.
"AAAAAA!!"
Seluruh pengunjung menjerit ketakutan. Wanita-wanita menutup mulut dan mata, anak-anak menangis histeris. Tanpa berpikir panjang, semua orang bergegas berlari keluar dari restoran, saling berdesakan di pintu keluar.
Dalam hitungan detik, tempat yang tadinya penuh sesak itu kini hampir kosong melompong.
Hanya tersisa beberapa orang yang masih tertegun di tempat, termasuk Shen Yu yang masih memegang sumpit di tangan, mulutnya masih penuh dengan makanan.
Dia menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi datar, tidak ada rasa takut sedikit pun. Hanya ada sedikit kekecewaan di matanya.
"Baru saja mau makan dengan nikmat, malah ada yang bikin keributan lagi..." gumamnya dalam hati sambil menelan makanan perlahan."Ini sudah jadi kebiasaan? Setiap kali aku sedang bersenang-senang, pasti ada orang yang datang merusak suasana."
Dia melirik sekilas ke arah pria yang tergeletak tidak sadarkan diri itu, lalu menoleh ke atas tangga yang menuju lantai dua. Dari sana masih terdengar suara teriakan dan benturan yang berlanjut.
Shen Yu meletakkan sumpitnya perlahan di tepi piring, napasnya terhela pendek karena merasa suasana hatinya benar-benar rusak. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati pria yang tergeletak di atas tumpukan kayu dan makanan yang berserakan.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia memeriksa denyut nadi dan luka di kepala serta tubuh pria itu. Darah terus mengalir deras dari bagian dahinya, membasahi lantai kayu.
"Masih ada napas, tapi kondisinya kritis," batinnya. "Kalau lukanya tidak segera ditangani dalam waktu setengah jam, dia pasti mati kehabisan darah."
Ia menoleh ke sekeliling. Koki, pelayan, dan pemilik kedai masih berdiri terpaku di sudut ruangan, wajah mereka pucat pasi dan seluruh tubuh gemetar hebat.
Mereka sama sekali tidak berani bergerak atau mendekat, ketakutan akan terlibat masalah hukum atau menjadi sasaran kemarahan pihak yang berkelahi.
"Hei, semuanya!" panggil Shen Yu dengan suara tegas yang memecah keheningan mencekam itu.
Mereka semua menoleh serentak, matanya masih penuh ketakutan.
"Lihat pria ini, dia masih hidup. Tapi kalau dibiarkan begini saja, dia pasti mati di sini. Kalau sampai ada mayat tergeletak di kedai kalian, apa kalian pikir ada orang yang berani makan di sini lagi? Bisnis kalian hancur total, dan kalian juga bisa terseret ke masalah pengadilan karena ditemukan ada mayat di tempat usaha!"
Mendengar peringatan itu, wajah mereka yang tadinya hanya dipenuhi rasa takut kini berubah menjadi panik karena memikirkan nasib usaha mereka sendiri.
Benar juga kata orang itu, kalau sampai ada orang mati di sini, nama kedai ini akan hancur selamanya.
"Ba... baik Tuan! Kami akan bawa dia sekarang juga!" seru pemilik kedai yang akhirnya sadar.
Beberapa orang pelayan dan koki segera berlari mendekat, mengambil kain bersih untuk menekan luka agar darah berhenti mengalir, lalu mengangkat tubuh pria itu dengan hati-hati.
Mereka tergopoh-gopoh berlari keluar kedai menuju tempat tabib yang tidak jauh dari sana, wajah mereka masih dipenuhi kekhawatiran.
Setelah memastikan pria itu sudah dibawa pergi dengan selamat, Shen Yu menoleh menatap tangga kayu yang menuju lantai dua. Dari sana masih terdengar suara teriakan, benturan benda keras, dan umpatan kasar yang terus berlanjut.
"Berani-benar sekali berkelahi sampai membunuh orang di tempat umum. Seolah hukum tidak berlaku buat mereka," gumamnya dingin.
Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan, tapi rasa penasaran membuat kakinya melangkah naik ke atas. Lagipula, kalau masalah ini sampai merembet ke bawah dan merusak makanannya lagi, ia tidak akan tinggal diam. Ia bergerak cepat dan senyap, sampai tiba di pintu ruangan tempat asal keributan itu.
Tanpa ragu, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, dan pemandangan di dalam langsung terlihat jelas oleh matanya.
Begitu pintu terbuka, pemandangan yang terlihat membuat dahi Shen Yu berkerut kuat.
Di tengah ruangan yang berantakan—meja dan kursi terbalik, piring-piring pecah berceceran, dan noda darah mengotori lantai—terlihat tiga orang pria bertubuh besar dengan wajah garang.
Mereka memakai pakaian mewah dengan lambang keluarga bangsawan di lengan baju, jelas-jelas orang yang memiliki kekuasaan dan berani berbuat semena-mena.
Di bawah kaki mereka, tergeletak seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun. Pakaiannya sudah compang-camping, wajahnya babak belur dipenuhi darah, dan tubuhnya penuh memar.
Ia sudah tidak berdaya lagi, hanya bisa meringis kesakitan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Namun ketiga pria itu sama sekali tidak berhenti, mereka terus menendang dan memukulnya dengan tongkat kayu seolah ingin membunuhnya sampai mati.
"Dasar anak kampung kurang ajar! Berani melawan kami! Rasakan ini!" teriak salah satu dari mereka sambil mengayunkan tongkat dengan keras.
"Matikan saja dia! Biar jadi pelajaran buat orang-orang rendahan yang berani melawan kami!" tambah yang lain dengan tawa kejam.
Melihat kezaliman yang terjadi tepat di depan matanya, rasa malas dan ketenangan yang ada di hati Shen Yu langsung lenyap digantikan rasa kesal yang memuncak.
Ia tidak peduli siapa mereka atau berapa tinggi jabatan mereka—baginya, berbuat kejam kepada orang yang sudah tidak berdaya adalah hal yang paling menjijikkan.