Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5:Boneka di Panggung Sandiwara
Udara di koridor SMA Nusantara pagi ini terasa lebih dingin, atau mungkin hanya perasaan Lulu saja. Gadis itu berjalan dengan langkah yang sedikit lebih ringan, sesekali menyentuh jepit rambut bunga matahari yang masih setia bertengger di rambutnya. Ia merasa seperti memiliki rahasia paling indah di dunia. Namun, kebahagiaan itu terusik saat ia melihat kerumunan di depan mading sekolah.
Di tengah kerumunan itu, Arlan berdiri dengan gaya angkuhnya, dikelilingi oleh Reno dan Gani. Arlan tampak sedang menceritakan sesuatu yang lucu, karena semua orang tertawa terbahak-bahak. Begitu Arlan melihat Lulu, ia segera mengubah ekspresinya menjadi sangat manis—sebuah transisi yang sangat cepat, seperti seorang aktor profesional.
"Eh, ratu aku datang!" seru Arlan cukup keras agar semua orang menoleh.
Lulu menunduk, wajahnya memerah karena malu jadi pusat perhatian. Arlan berjalan menghampirinya, lalu tanpa ragu merangkul bahu Lulu di depan semua siswa. Ia bisa merasakan tubuh Lulu yang kaku, namun ia justru semakin mempererat rangkulannya.
"Lu, nanti malam ada pesta ulang tahun di rumah Shinta. Kamu harus datang ya?" ucap Arlan sambil membelai pipi Lulu dengan ibu jarinya.
Lulu mendongak ragu. "Pesta? Tapi... aku nggak punya baju yang bagus buat ke sana, Arlan. Lagipula aku nggak terbiasa di tempat ramai."
Arlan terkekeh, suara tawanya terdengar merdu namun mengandung ejekan yang terselubung. "Makanya, itu tugas aku sebagai pacar kamu. Kita bakal belanja sore ini. Aku bakal rombak kamu jadi cewek paling cantik, biar semua orang tahu kalau selera Arlan itu nggak main-main."
Arlan menekankan kata "selera" dengan nada yang sombong. Di kepalanya, ia sudah membayangkan rencana jahat bersama Reno: mereka akan membelikan Lulu baju yang sangat tidak pantas atau mencolok, hanya agar Lulu menjadi bahan tertawaan di pesta nanti.
Sore harinya, Arlan membawa Lulu ke sebuah mall mewah. Ini adalah tempat yang biasanya Lulu hindari karena harga satu kaos di sana bisa membiayai makan keluarganya selama sebulan. Lulu merasa sangat asing. Ia hanya mengekor di belakang Arlan, sementara Arlan berjalan dengan dagu terangkat, menyapa beberapa kenalannya dengan nada angkuh.
"Masuk ke sini," perintah Arlan, menunjuk sebuah butik mahal.
Di dalam butik, Arlan mulai memilihkan baju untuk Lulu dengan asal-asalan, namun ia berakting seolah sedang memilihkan mahakarya. Ia mengambil sebuah gaun berwarna merah menyala yang sangat ketat dan memiliki potongan yang sangat terbuka di bagian belakang. Gaun itu jelas-jelas bukan gaya Lulu, dan Lulu akan terlihat sangat tidak nyaman memakainya.
"Coba yang ini. Aku yakin kamu bakal kelihatan... berbeda," ujar Arlan sambil tersenyum licik.
Lulu menerima gaun itu dengan tangan gemetar. "Tapi ini... ini agak terbuka ya, Arlan?"
"Kamu nggak percaya sama selera aku? Kamu mau bikin aku malu di depan temen-temen aku karena pacar aku penampilannya kayak orang mau ke sawah terus?" Suara Arlan tiba-tiba meninggi, memperlihatkan sifat narsistiknya yang tidak mau dibantah.
Lulu tersentak. Ia merasa bersalah. "Maaf, Arlan. Aku... aku bakal coba."
Saat Lulu masuk ke ruang ganti, Arlan langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke grup WhatsApp gengnya.
Arlan: Siapkan kamera kalian malam ini. Boneka cupu kita bakal pake baju 'badut' merah. Sumpah, gue nggak sabar liat dia dipermalukan di depan Shinta dkk.
Reno membalas dengan emoji tertawa sampai menangis. Arlan merasa sangat puas. Baginya, melihat Lulu yang polos mencoba menyenangkan hatinya adalah sebuah hiburan kelas atas.
Sepuluh menit kemudian, Lulu keluar dari ruang ganti. Ia tampak sangat tersiksa. Gaun merah itu memang cantik, tapi di tubuh Lulu yang mungil dan kacamata tebalnya, penampilannya terlihat sangat tidak serasi. Lulu terus menarik-narik bagian bawah gaunnya yang terlalu pendek.
"Gimana... Arlan?" tanya Lulu lirih, suaranya hampir hilang karena malu.
Arlan menahan tawa sekuat tenaga. Sumpah, dia kelihatan kayak lampion berjalan, batin Arlan. Tapi mulutnya justru berkata, "Sempurna. Kamu cantik banget, Lu. Percaya deh sama aku."
Untuk menambah dosis "greget", Arlan kemudian membawa Lulu ke konter make-up. Ia meminta pelayan di sana untuk memberikan make-up yang sangat tebal pada Lulu.
"Mas, tolong kasih warna yang paling ngejreng ya. Biar kelihatan wah!" perintah Arlan.
Lulu hanya diam pasrah. Ia memejamkan mata saat kuas-kuas itu menyapu wajahnya. Dalam hati, Lulu merasa sangat sedih karena ia tidak mengenali dirinya sendiri, tapi ia terus meyakinkan dirinya: Arlan ngelakuin ini karena dia sayang aku. Dia pengen aku kelihatan hebat di depan temen-temennya.
Setelah selesai, Arlan membawa Lulu ke depan cermin besar. Wajah Lulu kini tertutup bedak tebal dengan lipstik merah menyala yang berlebihan. Ia tampak seperti karikatur.
"Gila... kamu cantik banget, Lu," bohong Arlan tanpa berkedip. Ia kemudian mengambil foto Lulu diam-diam dan mengirimnya ke Reno.
"Makasih ya, Arlan. Makasih udah repot-repot buat aku," ucap Lulu tulus, matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata itu tampak berkaca-kaca karena terharu—sebuah ketulusan yang seharusnya bikin orang normal merasa berdosa, tapi tidak bagi Arlan.
Malam harinya, di depan rumah Shinta yang mewah, musik dentuman keras sudah terdengar sampai ke jalanan. Arlan turun dari mobil dengan gaya cool, lalu membukakan pintu untuk Lulu. Begitu Lulu turun dengan gaun merah mencolok dan riasan tebal itu, beberapa orang di depan gerbang langsung berhenti bicara dan mulai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk.
Lulu merasa ingin menghilang saat itu juga. Ia bisa merasakan pandangan menghina dari orang-orang.
"Arlan, kok mereka liatin aku kayak gitu ya?" bisik Lulu sambil menggenggam erat lengan Arlan.
Arlan justru memamerkan Lulu dengan bangga, seolah sedang memamerkan barang antik yang aneh. "Mereka cuma iri, Lu. Udah, ayo masuk. Ini malam kita."
Begitu mereka masuk ke area pesta, Reno dan Gani langsung menyambut dengan tawa tertahan.
"Wah, wah! Liat siapa yang dateng! Berani banget ya selera lu, Lan!" teriak Reno sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Lulu.
Lulu semakin menunduk. Ia merasa ada yang salah. Tiba-tiba, Shinta datang menghampiri dengan segelas minuman di tangannya. Ia menatap Lulu dari atas ke bawah, lalu tertawa keras di depan wajah Lulu.
"Ya ampun Arlan! Kamu bawa apa ini ke pesta aku? Ini pesta ulang tahun, bukan karnaval tujuh belasan!" ejek Shinta.
Semua orang di sana tertawa. Lulu merasakan hatinya seperti diremas. Ia menatap Arlan, berharap "pahlawannya" itu akan membelanya seperti kemarin. Namun, Arlan hanya berdiri di sana dengan senyum miring, membiarkan Lulu menjadi bahan tertawaan.
"Jangan gitu dong, Shin. Lulu udah berusaha keras lho buat kelihatan cantik demi gue," ucap Arlan dengan nada yang terdengar seperti membela, tapi sebenarnya adalah sindiran halus yang memperparah keadaan.
Lulu sadar, sangat sadar, bahwa semua orang sedang menertawakannya. Air mata mulai mengumpul di sudut matanya, merusak riasan tebal yang Arlan minta. Ia merasa sangat bodoh. Namun, kepolosannya justru membuatnya berpikir: Mungkin aku yang nggak pantes buat Arlan. Mungkin aku yang bikin Arlan malu.
"Aku... aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Lulu pelan, lalu ia berlari meninggalkan kerumunan itu dengan air mata yang mulai luruh.
Arlan menatap kepergian Lulu dengan perasaan puas yang meluap-luap. "Gimana? Lucu kan tontonan malam ini?" tanya Arlan ke teman-temannya sambil menenggak minumannya.
Reno menepuk bahu Arlan. "Gila lu, Lan. Lu bener-bener nggak punya hati. Tapi jujur, itu tadi komedi terbaik tahun ini!"
Arlan tertawa, namun saat ia melihat ke arah koridor tempat Lulu menghilang, ia teringat bagaimana Lulu tadi menatapnya dengan penuh harap sebelum pergi. Untuk sesaat, gelas di tangan Arlan terasa sangat berat. Tapi tentu saja, narsistiknya menang lagi. Ia kembali tertawa bersama teman-temannya, merayakan keberhasilannya menghancurkan harga diri seorang gadis yang hanya ingin mencintainya dengan tulus.