Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Fahri terbangun dan membuka mata perlahan.
"Siapa?" tanya Fahri dengan mata menyipit, sulit membuka mata lebar-lebar karena masih berat.
"Bik Yanti, Pak. Makan siang sudah siap," teriak Yanti dari luar sana.
"Ya, sebentar lagi kami keluar." sahut Fahri, dia mengucek mata pelan-pelan dan menoleh ke arah Bella yang masih tertidur pulas di dalam dekapannya.
Fahri menyibak rambut Bella yang berantakan ke belakang telinga dan mematut wajah polos itu. Bella terlihat begitu lelah usai pertempuran tadi, Fahri tidak tega membangunkannya.
Pelan-pelan, Fahri menarik tangannya yang menjadi bantalan kepala Bella dan menggantinya dengan bantal, lalu turun dari ranjang dengan tubuh yang masih polos. Keduanya tidak sempat mengenakan pakaian karena saking lelahnya hingga tertidur.
Setelah memakai semVak, Fahri memungut pakaian yang berserakan di lantai dan melemparnya ke keranjang baju kotor.
"Sayang..." gumam Bella sambil membuka mata perlahan.
Fahri yang tadinya hendak masuk ke kamar mandi, urung ketika mendengar suara Bella memanggilnya. Fahri mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Sudah bangun?" tanyanya sambil mengusap kepala Bella.
"Aku lapar," kata Bella dengan suara serak.
"Sama, aku juga lapar. Kalau begitu mandi bareng," Fahri menyibak selimut yang menutupi tubuh Bella dan mengangkatnya, membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa saat, Fahri kembali menggendong Bella dengan pinggang terlilit handuk. Membantu Bella mengenakan pakaian dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Setelah keduanya rapi, lagi-lagi Fahri menggendong Bella keluar kamar sampai ruang makan dan mendudukkannya di kursi.
"Cie...Cie... Habis ngapain sehingga harus digendong segala," celetuk Sari menyaksikan pemandangan itu. Sari dan Yanti senyum-senyum sendiri di dalam dapur.
"Apaan sih, Bik?" Bella tertunduk malu dengan pipi mendadak merah. Sedetik kemudian mengangkat kepala dan membelalakkan mata ke arah Fahri. "Kamu sih," geramnya dengan gigi bergemeletuk.
"Kenapa aku?" Fahri mengerutkan kening. Kenapa dia lagi yang disalahkan? Dia cuma berniat baik membantu Bella yang kesulitan berjalan.
"Sudah sudah, ayo makan dulu!" timpal Yanti membawakan nasi putih ke meja makan, beberapa macam masakan dan sambal sudah terhidang sebelumnya, saatnya mengisi perut.
"Bik Sari sama Bik Yanti makan sekalian saja sama kami!" ajak Fahri, keduanya mengangguk karena memang belum makan.
Begitulah Fahri, dia tidak pernah membeda-bedakan status seseorang. Asisten rumah tangga sudah dianggap keluarga, jadi makan satu meja tidak masalah baginya. Apalagi Sari dan Yanti sudah seperti orang tua baginya.
"Kalian berdua banyakin makan sayur biar sehat, biar kami berdua cepat dikasih cucu." celetuk Yanti sambil mendorong mangkok berisi tumis toge ke arah Bella.
Bella mengatup bibir sehingga sudut pipinya menggembung, lalu menatap Fahri yang duduk di kursi utama dengan alis bertaut.
"Kenapa lihatin aku? Benar loh yang dibilang Bik Yanti." Fahri justru mengindahkan ucapan Yanti, lagian satu tahun lagi umurnya sudah menginjak kepala tiga, jadi sudah saatnya dia memiliki anak.
"Hmm..." Bella hanya bergumam dan melanjutkan makan.
Usai makan siang, Yanti dan Sari membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Bella duduk di ruang tengah menonton televisi sedangkan Fahri masuk ke ruang kerja.
Di depan laptop yang terbuka dan menyala, tampak beberapa muka yang tengah asik membahas proyek kerjasama terbaru, satu diantaranya muka Reza yang saat ini berada di kantor.
Kebetulan ada perusahaan baru yang menawarkan kerja sama, proyeknya cukup menarik sehingga Fahri tertarik menyuntikkan dana ke perusahaan tersebut.
Tidak hanya itu, Fahri juga mendapat investor baru yang tertarik menanam modal di perusahaannya. Reza pun mengatur jadwal pertemuan mereka.
...****************...
Di sebuah cafe yang tak jauh dari perusahaan Ahmad Invest Internasional, Fahri menghampiri seorang wanita yang duduk di sofa nomor 10, Bella dan Reza berjalan sedikit di belakang mengikutinya.
"Fahri..." sapa wanita itu ketika melihat kedatangan Fahri, dia langsung berdiri dan terjadilah cipika-cipiki tanpa Fahri sadari. Fahri terpaku di tempat, dia bahkan tidak sempat mengelak karena wanita itu bergerak terlalu cepat.
Setengah meter di belakang Fahri berdiri, Bella mengatup bibir, sudut pipinya menggembung dengan mata menyipit menyaksikan pemandangan itu.
Bella kemudian melirik ke arah Reza yang berdiri di sampingnya. Reza tidak bereaksi, pemandangan barusan sudah membuatnya syok, bagaimana sanggup dia menoleh ke arah Bella yang pasti sedang marah.
"Ini investor baru yang kamu bilang itu," bisik Bella dengan gigi bergemeletuk sambil menyenggol lengan Reza.
Reza tertunduk, keningnya mengeluarkan keringat. Sudahlah, rasanya dia ingin kabur. Mana dia tau keduanya sudah saling mengenal.
"Silahkan duduk!" ucap wanita bernama Sinta itu.
Setelah mereka berempat duduk, Fahri mengenalkan Reza sebagai asistennya, kemudian mengenalkan Bella. "Ini ist..."
"Saya Bella, asisten pribadi Fahri." Bella langsung memotong karena sudah terlalu kesal menyaksikan kejadian tadi. Fahri meliriknya, Bella pun membuang muka. Terpaksa Fahri diam karena tidak mau berdebat di tempat umum.
Pembahasan tentang kerja sama dimulai, Bella tidak banyak bicara dan menyerahkan tugasnya kepada Reza.
"Permisi, saya ke toilet sebentar." Bella meninggalkan mereka bertiga dan berlama-lama di toilet, sengaja mengulur waktu karena malas melihat Sinta yang seperti sedang berusaha mendekati suaminya. Dari cara bicara dan tatapan Sinta ke Fahri, Bella bisa melihat ada perasaan khusus di mata Sinta.
Setelah keluar dari toilet, Bella berjalan dengan santai seperti orang kebingungan.
Bug...
Tanpa sengaja tubuhnya membentur seseorang hingga hampir terjatuh, beruntung orang itu menangkapnya.
"Bella...???"
"Dani...???"
Keduanya saling menyapa dengan posisi tangan Dani yang masih melingkar di pinggang Bella.
"Eh..."
Bella menjauhkan diri buru-buru dan merapikan pakaiannya, tidak mau terjadi kesalahpahaman.
"Kebetulan sekali bertemu di sini, bagaimana kabarmu?" tanya Dani, teman SMA Bella yang sudah beberapa tahun tidak bertemu.
"Seperti yang kamu lihat," Bella memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.
"Syukurlah," Dani menghela nafas lega. "Oh ya, kamu ngapain di sini?" tanya Dani penasaran.
"Ketemu klien, kamu sendiri?" jawab Bella dengan pertanyaan pula.
"Ini cafe aku," ucap Dani yang ternyata pemilik cafe itu.
"Udah sukses sekarang ya, besar cafenya." celetuk Bella sambil tersenyum mengedarkan pandangan ke segala penjuru cafe.
"Biasa saja," ucap Dani merendah.
Karena sudah lama tidak bertemu, obrolan mereka pun berlanjut. Keduanya duduk di mini bar sambil menyeruput kopi buatan Dani. Suara candaan dan gelak tawa tercipta saat kembali bercerita tentang perjalanan di SMA.
Dulu keduanya cukup dekat, Dani anak yang baik, dia selalu berdiri di garda terdepan ketika Bella dibully siswa lain. Memberi contekan pr ketika Bella tidak sempat mengerjakannya di rumah, sering juga mentraktir Bella ketika tidak memiliki uang untuk jajan.
"Ehem..."
Dehaman Fahri terdengar jelas ketika sudah berdiri di belakang Bella. Dengan tangan tersembunyi di dalam saku celana, Fahri melangkah ke sisi Bella.
"Fahri..." sapa Bella sesaat setelah menoleh. Tatapan Fahri terlihat aneh mematut dia dan Dani bergantian.
"Siapa, Bell?" tanya Dani melihat kedatangan Fahri.
Sebelum Bella memperkenalkan mereka berdua, Fahri sudah mengulurkan tangan ke arah Dani. "Fahri, suaminya Bella." ucap Fahri dingin.
"Oh, kamu suaminya Bella. Perkenalkan, aku Dani, teman SMA_nya Bella." Dani pun menjabat tangan Fahri.
Setelah berjabat tangan, Fahri mengajak Bella meninggalkan tempat itu. Bella turun dari kursi, "Kopinya enak, kapan-kapan aku mampir lagi." ucap Bella sambil berjalan mengikuti langkah Fahri yang menggenggam tangannya erat. Fahri marah, sepertinya dia cemburu, nampak dari raut wajahnya yang menyala dibakar api cemburu buta.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡