Mungkin ada typo di dalamnya,mohon bantu dikoreksi ya Kakak-kaka.🙏😊
Menjalani sebuah pernikahan kontrak??
Jane Alexander sama sekali tidak cemas.Apa itu suami dingin? Keluarga dan Ipar iblis?
Dengan satu kali lambaian tangan,semua menyingkir.
Jane Alexander yang tengah memenangkan pertengkaran, : " Persetan dengan keluarga mu...beri aku uang."
Semua orang, : "...."
Cerita ini menggambarkan cinta dan benci antara Jane Alexander dan Carlos Benjamin.Bagaimana keseruannya...?
Ikuti terus ya.
Like,vote,dan comment.
😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma mossely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Kesepakatan.
Carlos masih sama.
Tetap diam.
Melihat keponakan yang dia lihat tumbuh didepannya.Martine akhirnya menghela nafas dengan pelan.
"Lakukan apa yang menurut mu baik.Hanya saja,jangan izinkan mereka menemukan kelemahan mu.Dan status mu sebagai Kepala Keluarga berikutnya akan dipertimbangkan kembali." Ucap Martine.
"Terimakasih Paman." Jawab Carlos singkat.
"Kalau begitu ,aku akan keluar terlebih dahulu,Paman!" Katanya hendak pamit.
"Tunggu!"
Carlos menghentikan langkahnya.Tangan yang sudah berada diknop pintu berhenti bergerak.
"Jangan mengikuti jejak Ayah mu,Carlos." Setelah mengatakan hal itu,Martine tidak mengatakan apa-apa lagi.
Carlos pun tidak terlalu memikirkannya.Dia memutar knop pintu dan berlalu begitu saja meninggalkan Martine.
"Anak itu..Kakak ,aku harap bisa menyelamatkan putra mu,supaya tidak mengikuti jejak mu kelak." Gumam Martine yang tampak menua dalam semalam.
....
Carlos melangkah menyusuri lorong kediaman yang begitu dingin.Awalnya dia hendak pergi langsung ke kamarnya yang berada dilantai dua.Namun ditengah perjalanan dia seolah-olah teringat akan sesuatu,yang akhirnya membawanya ke lantai tiga.Tempat yang paling jarang dia kunjungi.
Sesampainya didepan pintu kamar yang bercat putih itu.Langkah kaki Carlos berhenti.Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu,namun seketika ragu.Akhirnya dia lebih memilih untuk mundur kembali.
Apa yang perpu dibahas telah dibahas dan disepakati bersama.Sehingga tidak perlu lagi ada penjelasan yang bertele-tele.
Carlos menuruni tangga dengan langkah seanggun biasanya.Tidak terlihat emosi apapun diwajahnya yang memar akibat tamparan dari sang paman.
Ketika Carlos hendak masuk kedalam kamarnya,sebuah suara lembut menginterupsi langkahnya.
"Kak.."
Carlos memutar tubuhnya dan melihat Camelia tengah memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Sedetik kemudian,Camelia tampak berlari kecil kearahnya dan hendak menyentuh wajah Carlos yang membiru.Akan tetapi,tangan yang lembut dan rapuh itu menggantung karena Carlos tanpa sadar mundur satu langkah darinya.Yang cukup memberi jarak diantara mereka.
Kesedihan terpancar sejenak dimata Camelia,namun hanya sesaat.Didetik kemudian, dia kembali tersenyum yang jika dilihat jauh lebih jelek dari menangis.
"Aku hanya terkejut wajah mu terluka seperti itu." Katanya dengan canggung.
Ternyata setelah bertahun-tahun pun,sikap dan perilaku Carlos masih sama saja.Terukur dan menjaga jarak.
"Tidak masalah.Kenapa kau belum tidur?" Carlos tidak ingin memperpanjang masalah yang menurutnya sama sekali tidak penting.
Dia mengalihkan topik pembicaraan dengan lihai.
Camelia juga menyadari hal tersebut,sehingga dia tidak mengambil hati sikap Carlos barusaja.Selama hubungan mereka baik,maka itu sudah cukup.Adapun yang lainnya....hehe!
"Ah, aku hanya belum mengantuk saja.Sekarang,karena Kakak sudah kembali,aku akan tidur dulu." Camelia selalu menjadi gadis yang lembut.
Carlos mengangguk.
Dengan begitu,Camelia masuk kembali kedalam kamarnya.
....
"Bagaimana...? " Flowy bertanya dengan nada penuh kepuasan.
Sementara Jane yang berdiri disebelahnya hanya menatap kebawah dengan pandangan datar.
Tadinya ,dia hanya ingin terlelap setelah selesai mandi.Namun,tiba-tiba suara ketukan di pintu menggagalkan rencananya.
Akhirnya Jane kembali bangkit dari tidurnya dan membukakan pintu.Ternyata ada Flowy yang berdiri didepan pintu.
"Ada apa?" Tanya Jane dengan nada yang tidak ramah sama sekali.
"Tidak ada yang penting,hanya saja aku ingin memperlihatkan sesuatu kepada mu." Kata Flowy dengan wajah penuh rahasia.
Jane langsung menolak karena dia sudah sangat kelelahan.Namun Flowy tidak akan melepaskannya begitu saja.
Flowy menarik tangan Jane dengan paksa dan membawanya ke pembatas pagar antara lantai tiga dan dua.
"Lihat itu.Carlos tidak pernah melirik wanita manapun selama ini,kecuali wanita itu." Bisik Flowy dengan penuh provokasi.
Jane menatap pemandangan yang ada dilantai dua itu dengan dingin.
Dia sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan asmara Carlos.Yang dia inginkan sekarang adalah menyiapkan rencana untuk masa depannya.Jane tidak akan cukup bodoh untuk bertahan disini sampai akhir.
"Kau mengganggu waktu tidur ku demi ini?" Tanya Jane dengan suara yang datar.
Flowy segera menoleh kearahnya dengan kaget.
Kedua matanya melebar kearah Jane,yang masih dapat berdiri dengan tenang disisinya.
"Kau benar-benar wanita yang baru saja menikah,kan? Kalian seharusnya menghabiskan malam pertama dengan bersemangat,sekarang.Tetapi..." Flowy tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan hanya menatap Jane dengan mulut menganga.
"Menurut mu pernikahan apa yang aku jalani sekarang? Sepupu mu dan aku bahkan telah menandatangani surat perjanjian perceraian hari ini.Jadi...."
Jane menatap wajah Flowy dengan tenang.
Flowy benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.Dia menatap Jane dengan bodoh.
"Jadi..nona Flowy.Berhenti membahas hal-hal yang tidak penting dengan ku.Karena itu hanya akan membuang-buang waktu." Usai melemparkan kata-kata yang lembut namun penuh dengan ketidakpedulian itu,Jane berlalu pergi meninggalkan Flowy sendirian.
Flowy berdiri lama dengan bodoh.Dia terlalu dipenuhi dengan kejutan demi kejutan hari ini.
....
Pagi-pagi sekali,Jane telah menghilang dari kediaman keluarga Benjamin.
Ketika para pelayan mencarinya,sudah satu jam yang lalu sejak dia pergi.
Jane saat ini tengah duduk dengan tenang dihadapan Boni,di ruang kerjanya.
"Ini adalah apa yang ditinggalkan oleh Ibu mu." Boni menunjukan tumpukan kardus usang yang tergeletak dilantai.
"Dan ini adalah alamat pemakaman Ibu mu." Boni juga mengulurkan secarik kertas yang berisi sebuah alamat kepada Jane.
Jane menerima kertas itu dan menatapnya sebentar.Lalu memasukkan kertas tersebut kedalam sakunya.
"Sesuai kesepakatan kita sebelumnya." Tambah Boni.
"Tidak! Kau meminta ku menikah demi saham sialan itu.Sebagai imbalannya kau memberikan barang-barang peninggalan Ibu ku kepada ku.Tapi, kau tidak pernah menyinggung tentang kompensasi kepada ku." Kata Jane dengan datar.
Boni yang awalnya sudah merasa bahagia karena telah menyingkirkan sepenuhnya 'beban' ini dari hidupnya,seketika menjadi muram.
"Apa maksud mu?" Tanya Boni dengan nada tajam.
Jane sama sekali tidak goyah dibawah tatapan intimidasi Boni.
Jane menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang ada dibalik punggungnya,dan menyilangkan kedua tangannya didada.
"Kau membakar seluruh ladang dan rumah Nenek ku,yang membuat Ku tidak memiliki tempat untuk kembali.Menurut mu,berapa kerugian yang aku miliki sekarang?.Belum lagi,didalam pernikahan ini aku juga memiliki andil besar untuk saham lima persen itu..? Jadi,menurut mu berapa banyak yang harus aku terima sekarang...?" Jelas Jane dengan tenang.
Seolah-olah dia hanya membahas tentang cuaca saja.
"Apa maksud mu.."
"Jangan lupa,pernikahan ini tergantung kepada ku.Jika aku ingin membatalkan semua kesepakatan ini sekarang,maka kau tidak akan bisa menikmati keuntungan yang kau raih hari ini,lebih lama lagi."
Ingin sekali Boni rasanya mengumpat keras-keras saat ini.Dia sama sekali tidak mempertimbangkan celah ini.
Tatapannya semakin dipenuhi dengan ketidakpuasan terhadap Jane.
Tetapi apa gunanya...?
Jane tidak akan pernah membiarkan kerugian menimpa dirinya.