NovelToon NovelToon
MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

MAFIA’S REBIRTH: CINTA & DENDAM SI CUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tubuh Lemah yang Menyedihkan

Vittorio Genovese pernah selamat dari ledakan granat di sebuah gudang senjata di Palermo. Ia pernah merangkak keluar dari puing-puing dengan tiga tulang rusuk patah dan peluru bersarang di bahu kirinya, namun ia tetap mampu menghabisi dua pembunuh bayaran sebelum akhirnya pingsan. Dia tahu apa itu rasa sakit. Dia tahu apa itu penderitaan fisik. Namun, tidak ada yang bisa mempersiapkannya untuk penderitaan yang ia rasakan saat mencoba melakukan satu kali saja gerakan push-up di lantai kamar kostnya yang berdebu.

​"Satu..." gumam Vittorio.

​Tangannya gemetar hebat. Otot bisepnya yang kecil terasa seperti ditarik oleh ribuan jarum panas. Paru-parunya seolah terbakar, berjuang mencari oksigen dalam ruangan yang pengap itu. Hanya dalam satu hitungan, tubuh Arjuna ambruk. Wajahnya terjerembab ke lantai yang dingin, mencium bau debu dan sisa-sisa kegagalan hidup pemilik tubuh ini sebelumnya.

​"Sialan!" Vittorio memukul lantai dengan tinju yang lemah. "Bagaimana bisa seseorang membiarkan mesin perang yang Tuhan berikan hancur menjadi seonggok sampah seperti ini?"

​Bagi Vittorio, tubuh adalah aset. Tubuh adalah senjata. Di Italia, ia menghabiskan dua jam setiap pagi untuk latihan fisik yang ekstrem sebelum memulai hari dengan urusan politik darah. Namun sekarang, ia terjebak dalam raga seorang pemuda yang bahkan mungkin akan kalah bertarung melawan seekor kucing jalanan yang kelaparan.

​Ia kembali merangkak ke cermin retak itu. Ia melepas kaus usangnya, menatap pantulan dirinya dengan rasa jijik yang mendalam. Tulang rusuknya menonjol, kulitnya pucat karena kurang sinar matahari, dan perutnya benar-benar rata tanpa otot sama sekali. Lebih parah lagi, punggungnya penuh dengan bekas luka memar berwarna keunguan dan hijau—jejak kaki Rico dan kawan-kawannya dari malam sebelumnya.

​"Arjuna... kau bukan hanya lemah secara fisik, kau membiarkan jiwamu hancur bahkan sebelum mereka membunuhmu," bisik Vittorio pada bayangannya sendiri.

​Tiba-tiba, memori Arjuna berkelebat lagi. Ia melihat Arjuna yang duduk di pojokan kantin, memakan nasi putih dengan sisa kerupuk karena uang kiriman dari desanya tidak cukup untuk membeli lauk. Ia melihat Arjuna yang menunduk dalam-dalam saat dilempar bola basket tepat di wajahnya oleh geng 'The Vultures' sambil tertawa terbahak-bahak. Kemarahan Vittorio membuncah. Ia bukan marah pada para pembully itu—karena bagi seorang predator, memang sudah hukum alam untuk memangsa yang lemah. Ia marah pada Arjuna yang hanya menerima semua itu sebagai "nasib".

​"Di duniaku, nasib adalah sesuatu yang kau cekik sampai dia memohon ampun padamu," desis Vittorio.

​Ia mencoba mencari sesuatu yang berguna di kamar sempit itu. Ia membuka tas ransel Arjuna yang sudah robek di beberapa bagian. Isinya hanya buku-buku teks tebal tentang hukum dan politik, beberapa pulpen yang tintanya hampir habis, dan sebuah dompet lusuh. Vittorio membuka dompet itu. Isinya hanya dua lembar uang sepuluh ribu dan beberapa koin.

​"Total dua puluh tiga ribu rupiah," Vittorio menghitung dengan dahi berkerut. "Bahkan untuk membeli sebotol anggur kelas bawah di Roma pun tidak cukup."

​Kehinaan ini terasa lebih menyakitkan daripada ledakan bom yang menewaskannya di Italia. Sang penguasa perdagangan gelap Mediterania kini jatuh miskin secara absolut. Namun, otak jeniusnya mulai bekerja. Ia tidak bisa melakukan balas dendam jika tubuh ini pingsan karena kelaparan. Ia membutuhkan protein. Ia membutuhkan lemak. Ia membutuhkan energi untuk membangun kembali otot-otot ini.

​Vittorio memutuskan untuk keluar. Ia mengenakan jaket hoodie kumal untuk menutupi lebam di wajah dan lengannya. Ia memakai kacamata retaknya kembali—setidaknya itu membantunya melihat musuh dari kejauhan sebelum mereka melihatnya.

​Baru saja ia membuka pintu, sesosok makhluk mengerikan sudah berdiri di depannya. Bukan pembunuh bayaran, melainkan Karin dengan daster bunga matahari yang berbeda warna dari tadi pagi—kali ini motifnya bunga mawar merah yang sudah pudar.

​"Wih, si Cupu sudah bangun! Mau ke mana lu? Mau cari mati lagi?" Karin sedang memegang sapu, tampak sedang membersihkan koridor kost yang sempit itu.

​Vittorio menarik napas panjang, mencoba menekan insting membunuhnya. "Bukan urusanmu, wanita semprul."

​"Idih, mulutnya makin pedes ya. Pasti gara-gara jamu gue tadi, makanya nyawa lu balik," Karin tertawa, lalu matanya menyipit melihat cara jalan Vittorio yang masih sedikit pincang. "Lu mau cari makan? Lu kan nggak punya duit. Tadi pagi gue liat dompet lu jatuh di depan kamar, kosong melompong kayak otak lu kalau lagi ujian."

​Vittorio terhenti. Gadis ini terlalu banyak tahu. "Aku punya rencana."

​"Rencana apaan? Mau mungut sisa gorengan di kantin?" Karin mendekat, lalu dengan seenaknya merangkul bahu Vittorio. "Udah, ikut gue aja. Gue mau ke pasar bawah. Gue butuh kuli buat bawain belanjaan emak gue. Upahnya, gue traktir makan nasi padang. Gimana? Deal?"

​Vittorio menatap tangan Karin di bahunya dengan pandangan horor. Seorang raja mafia dijadikan kuli angkut pasar? Kehormatan keluarga Genovese pasti sedang menangis di alam kubur. Namun, kata 'nasi padang' memicu memori Arjuna tentang rasa rendang yang gurih dan berlemak. Perutnya berbunyi keras secara spontan.

​"Pfft! Perut lu lebih jujur daripada mulut lu, Juna," Karin terpingkal-pingkal. "Ayo buruan! Sebelum rendangnya abis!"

​Vittorio tidak punya pilihan. Untuk membangun kerajaannya, ia butuh fondasi. Dan fondasi itu dimulai dengan sepiring nasi.

​Sepanjang perjalanan menuju pasar dengan angkot yang penuh sesak dan panas, Vittorio merasa seperti sedang berada di neraka lapis ketiga. Orang-orang berdesakan, aroma keringat bercampur asap knalpot, dan suara berisik radio angkot yang memutar lagu dangdut dengan volume maksimal. Karin, di sisi lain, tampak sangat menikmati suasana itu. Ia menyapa hampir semua orang di dalam angkot, dari ibu-ibu pedagang sayur sampai supir angkotnya.

​"Lu harusnya lebih sering senyum, Juna. Muka lu kalau ditekuk gitu makin mirip pantat panci yang gosong," celetuk Karin sambil menyikut rusuk Vittorio.

​Vittorio hanya diam. Ia sedang mengamati sekeliling dengan mata elangnya. Meskipun tubuhnya lemah, insting pengamatannya tidak hilang. Ia memperhatikan pola lalu lintas, letak cctv yang sangat sedikit di area itu, dan orang-orang yang tampak mencurigakan di pojok jalan. Di dunianya, pengamatan seperti ini adalah pembeda antara hidup dan mati.

​Sampai di pasar, penderitaan Vittorio semakin menjadi-jadi. Karin benar-benar menjadikannya kuli. Ia membawa dua plastik besar berisi beras, telur, dan tumpukan sayuran. Lengan Arjuna yang kurus terasa seperti akan copot dari sendinya. Keringat membanjiri kausnya, dan kacamatanya terus melorot karena hidungnya yang berminyak.

​"Ayolah, Juna! Masa gitu aja udah mau pingsan? Lemah banget lu jadi cowok!" teriak Karin dari depan sambil menawar harga jengkol dengan sengit.

​Vittorio menggertakkan gigi. Jika aku masih di Italia, aku akan menyuruh anak buahku membakar seluruh pasar ini karena telah menghina namaku, batinnya. Namun, setiap langkah yang ia ambil dengan beban berat itu sebenarnya adalah latihan fisik pertama bagi tubuh Arjuna. Ia mengatur napasnya, menggunakan teknik pernapasan para tentara bayaran elit untuk meminimalkan kelelahan.

​Setelah dua jam "penyiksaan" di pasar, Karin akhirnya menepati janjinya. Mereka duduk di sebuah kedai nasi padang kecil di pinggir jalan.

​Saat piring nasi dengan lauk rendang, perkedel, dan siraman kuah gulai diletakkan di depannya, Vittorio merasa seolah ia sedang melihat harta karun paling berharga di dunia. Ia makan dengan lahap, namun tetap dengan keanggunan yang tidak bisa disembunyikan—caranya memegang sendok dan mengunyah tetap terlihat seperti seorang bangsawan, yang membuat Karin menatapnya dengan aneh.

​"Cara makan lu kok... beda ya? Kayak orang kaya yang lagi nyamar jadi gembel," komentar Karin sambil mengunyah kerupuk.

​Vittorio berhenti sejenak. "Aku hanya menghargai apa yang masuk ke tubuhku."

​"Gaya bener bahasa lu," Karin mencibir. "Eh, denger ya. Besok lu harus masuk kampus. Gue denger Rico lagi nyariin lu. Katanya dia belum puas 'main' sama lu semalem gara-gara lu pingsan kecepetan. Lu jangan bolos, beasiswa lu taruhannya."

​Vittorio perlahan meletakkan sendoknya. Ia menyeka mulutnya dengan tisu murah yang kasar. "Rico... ya? Dia ingin bermain?"

​"Iya. Tapi mending lu lari aja sih kalau liat dia. Gue nggak mau repot-repot nyeret mayat lu dari kampus," kata Karin dengan nada bercanda, namun ada kilat kekhawatiran di matanya yang coba ia sembunyikan.

​Vittorio menyeringai. Kali ini, seringai itu benar-benar terlihat di wajah Arjuna. Seringai yang dingin dan penuh perhitungan. "Terima kasih atas makanannya, Karin. Dan jangan khawatir... besok, aku yang akan bermain dengan mereka."

​Karin tersedak kerupuknya. Ia menatap Arjuna dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang salah. Arjuna yang ia kenal biasanya akan gemetar hebat hanya dengan mendengar nama Rico. Tapi pemuda di depannya ini sekarang tampak seperti seekor serigala yang sedang merencanakan cara terbaik untuk mengoyak leher mangsanya.

​"Juna... lu nggak beneran gila kan?" tanya Karin pelan.

​Vittorio berdiri, mengangkat beban belanjaan Karin kembali dengan satu gerakan yang lebih mantap dari sebelumnya. Kalori dari nasi padang itu mulai bekerja. "Gila? Tidak. Aku hanya baru saja menyadari bahwa tubuh yang lemah ini... memiliki cara tersendiri untuk membunuh."

​Malam itu, di kamar kostnya yang sempit, Vittorio tidak tidur. Ia menghabiskan waktu berjam-jam melakukan gerakan latihan fisik ringan namun intens yang ia pelajari dari pasukan komando di Eropa. Ia melatih refleksnya dengan melemparkan pulpen ke udara dan menangkapnya dalam gelap. Ia melatih kekuatan genggamannya dengan meremas-remas botol plastik bekas sampai hancur.

​Tubuh ini memang lemah dan menyedihkan, tapi jiwa di dalamnya adalah sang penguasa kematian. Vittorio tahu, kekerasan fisik hanyalah sebagian kecil dari peperangan. Bagian terbesarnya adalah mentalitas.

​"Besok," bisik Vittorio sambil menatap kacamata retaknya yang tergeletak di meja. "Besok, dunia akan tahu bahwa Arjuna yang lama sudah mati di gang itu. Dan yang tersisa hanyalah seekor monster yang memakai kulitnya."

​Vittorio Genovese bersiap untuk hari pertamanya di "medan perang" baru bernama kampus. Dan ia tidak sabar untuk melihat wajah Rico saat menyadari bahwa samsak tinjunya kini telah berubah menjadi malaikat maut.

1
Riska Baelah
emg sih seharus ny vittrio sebagai cwok harus ny jelas nyatakan cinta ke karin biar hubungan kalian jelas pacaran, bukn hany bos sama asisten doang🤭
Riska Baelah
sumpah kk sepanjang aq baca eps ini
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
Riska Baelah
karin ini ya ad aja tingkah ny, segala ibu kantin d curigai,,, ngurangin porsi ayam ny😄🤣😄🤣😄🤭
kocak bnget,,,,👍
Riska Baelah
ikut dong liburan ke bali /CoolGuy/
Riska Baelah
harus berakhir bhagia ya kk,, minimal vittrio nikah sama karin, puny ank satu cwek yg muka ny mirip vittrio sifat ny karin, biar hidup ny vittrio berwarn kya pelangi😄🤣😄🤣🤣😄🤭👍
Riska Baelah
lagian jg si vittrio udh tau modelan karin kya gitu ,semprul sok2 an, mau d ajk kencan romantis, yaaa mna ngaruh😄🤣😄🤣🤣🤭
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
Riska Baelah
kk kok adegan romantis ny tipis bnget kya tisu d bagi 10 😄🤣🤭, kan udh jelas vittrio suka sama karin gitu jg karin, gak bisa ap ad momen yg lebih manisss gitu🤭
Riska Baelah
karin takut , klu2 vittrio berubah, mka ny d tany trus msih mau tinggal d kost ap engga, tenang karin klu pun vittrio pindah kmu past d ajak🤭
Riska Baelah
uhhhhh so sweet ny😍🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
Riska Baelah
kpan sih vittrio nyatain cint ke karin, gemes deh, masa sebagai teman trus, naek jd asisten,, jd pacar lah👍🤭
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
mau jg dong ditraktir martabak ny 🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣😄🤭 karin ad2 tingkah ny🤭
Riska Baelah
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Riska Baelah
karin2 d kira lg maen mafia mafia ap, segala mau ikut,, jng dong entr vittrio gak konsen, harus ny vittrio mint cwek rambut pendek buat lindungi karin👍
Riska Baelah
semangat vittrio💪💪💪💪💪
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 karin2 mau daster sutra , jng lupa vittrio d beliin yaa,
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
😄🤣😄🤣🤭 agen rahasia, si karin,malh d ladeni lg sama Vittoria🤭
Riska Baelah
coba juna minta uang buat perbaiki kost an ny,, sama beliin karin bju bgus , jng pke daster truss🤭
Riska Baelah
kya ny aq komen sendri dech, ini pembaca yg laen kya ny blum tau, klu ad cerita baru yg seru👍
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍
Farida 18: xixi jangan lupa mampir disebelah judulnya the Don & the distater, sama hari ini aku up novel baru judulnya Love, Bullets, and Bakwan: Mahkota sang Cassanova & Ratu Typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!