NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Billiard Club

Aku menguap usai meregangkan otot-ototku di pagi hari ini, kemarin malam aku mendapat pesan singkat dari Arianne, didalam pesan ia mengatakan jika ia ingin mengajakku ke sebuah club billiard di hari ini. Pikirku untuk apa pergi jauh-jauh ke club billiard kalau nyatanya di mansion Pradipta itu ada, mansion Pradipta itu sangat lengkap, bahkan sirkuit untuk balapan ada, semua serba lengkap tanpa melupakan danau buatan yang memang sengaja papa bangun.

Aku beranjak dari ranjang menuju balkon kamarku dalam posisi masih telanjang dada hanya menyisakan boxer saja, kulihat perutku cukup mengesankan karena aku memiliki sixpack, hah dasar diriku ini membanggakan diri sendiri.

“Kaisar, segera mandi nak, apa kamu mau terlambat ke kampus?”. Tutur bunda dari halaman mansion, aku hanya tersenyum tipis sembari menyugar rambutku ke belakang.

“Hari ini tidak ada kelas bun”. Bohong, hari ini bukan hanya kelas perkuliahan, bahkan ada rapat penting BEM, hanya saja aku malas untuk berangkat ke kampus. Ada apa dengan diriku?, sejak beberapa hari yang lalu aku masih mengingat gadis itu, dan juga kejadian di koridor kampus kala itu.

Aku masih dilema oleh pikiranku yang terus berkecamuk, tiba-tiba belakang kepalaku terasa nyeri akibat dipukul, tentunya hal itu membuatku mengerang dengan keras.

“Bangsat beraninya...”. Belum tuntas perkataanku, saat aku menoleh melihat siapa pelaku yang memukulku, seketika itu juga hilang keberanianku untuk melawannya. “Hm”. Dia memiringkan kepalanya menunggu aku meneruskan ucapanku, tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi diriku sendiri kesal bercampur takut.

“Lawan saja bos”. Sahutnya diiringi gelak tawa seraya mendorong tubuhku. Bogang, orang itu adalah Bogang, seorang teman karib papa yang sangat pandai bergulat meski di jalanan, lereng gunung, atau bahkan jantung rimba sekalian, dia terlalu tua untuk menjadi sesangar itu, entah atas dasar apa dia memanggilku bos, sedari dulu aku selalu mangatakan kepadanya untuk memanggilku ‘Kai’, nyatanya hanya bertahan selama satu hari saja.

“Guru, mengapa bisa rambutmu tidak memutih di umur sekarang?”. Sontak pertanyaanku membuatnya tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan sedikit air mata.

“Pertanyaan yang konyol bos”. Lagi-lagi ia menertawakanku, apa salahnya aku bertanya, siapa tahu jawaban guru bisa menjadi tips untukku saat tua nanti. Aku sempat heran dengan Bogang, kerap kali aku membandingkannya dengan papa, papa saja yang umurnya lebih muda tiga tahun darinya sudah ada sedikit warna putih, sangat sedikit. “Guru”. Panggilku. Ia menatap padaku sembari menghisap sebatang rokok yang ia racik sendiri.

“Ada anak baru di camp pelatihan”. Ucapku, kemudian aku menceritakan sosok Arianne.

“Apa kau suka padanya?”. Tanya Bogang tiba-tiba yang mampu membuatku terdiam, aku terdiam bukan karena mnyetujui ucapan Bogang, akan tetapi tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Bogang, aku masih melongo mencerna.

“HA!!”. Tiba-tiba aku berteriak sembari memukul Bogang tanpa sengaja, tentu Bogang terperanjat bukan main sampai sebatang rokok racikannya itu jatuh kebawah.

“Dasar bocah nakal!!”. Geram Bogang, ia memutar telingaku seraya membawaku ke kamar mandi.

‘BUGH’

Bogang melempar tubuhku ke dalam bathtub, aku hanya meringis kesakitan, kemudian ia menghidupkan air dingin.

“Guru dingin”. Celotehku, namun ia tak menggubris sama sekali malahan menekan kepalaku agar tetap berada didalam bathtub.

“Sudah besar, pagi tidak segera mandi, kau tahu bau badanmu”. Ledeknya sebelum meninggalkan diriku yang berendam pasrah di bathtub. Aku membuang nafas pasrah sembari menatap langit-langit kamar mandi, kupikir cukup berwarna hidupku saat menjadi murid Bogang.

***

“Kamu mau mengajakku kemana?”. Tanyaku kepada Arianne yang baru saja masuk ke dalam mobil.

“Kemarin aku bilang apa, dasar pikun”. Jawaban yang cukup kurang ajar.

“Di mansion ada billiard”. Sahutku, Arianne terkekeh ia mengabaikan ucapanku sembari menanggalkan kacamata hitam di pangkal hidungnya. Kemudian Arianne melajukan mobil dengan merek Mclaren produksi Britania raya dengan model Mclaren f1, kuperhatikan Arianne dari samping ternyata tampak cantik dengan rambut sebahunya. “Jaga matamu”. Tukasnya, percaya diri sekali dia, aku hanya menganggapnya cantik, lagipula aku tidak menyukainya, cih dasar wanita.

Satu jam lebih lima belas menit perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai di club billiard yang dimaksud, kalau di pikir papa memang sengaja membangun mansion Pradipta jauh dari kawasan yang mana tidak menutup kemungkinan sering dikunjungi orang-orang kalangan atas, sebab setelah empat puluh lima menit lalu perjalanan bisa kulihat sangat jelas bar, area golf, resto kelas atas dan sebagainya, tak heran papa membangun apa yang ada di kawasan ini pada mansion Pradipta. Apa mungkin papa melarangku ke tempat seperti ini, ah, tidak mungkin. Meski aku tidak pernah mengunjungi tempat-tempat ini di Indonesia, akan tetapi saat aku masih melakukan studi di Negeri Kincir Angin itu, seringkali aku mengunjungi tempat berbau seperti itu.

“Ayo”. Ajak Arianne yang sudah keluar dari mobil terlebih dahulu, tak banyak kata aku pun mengikuti Arianne memasuki club billiard ini, dilihat dari bangunan saja mudah sekali ditebak. “Kalau ini hanya kalangan atas saja”. Batinku.

“Aria”. Sapa seorang pria pendek dengan tubuh dempal.

“Hello, how are you?”. Sapa balik Arianne, menurutku pertemuan Arianne dengan pria pendek dempal ini seperti sahabat yang sudah lama belum bertemu.

“Siapa dia?”. Tunjuk seorang gadis berambut merah diatas bahu, sungguh hampir saja aku mengiranya seorang pria. Tapi, kemudian Arianne membisikkan sesuatu kepada Si Pria Pendek Dempal itu.

“Woah, suatu kehormatan club ini kedatangan putra tunggal keluarga Pradipta”. Seru pria itu, sontak aku menatap tajam Arianne.

“Apa salahnya”. Dengan enteng ia berkata seperti itu.

Pria dempal itu berusaha membujukku agar aku di kursi VIP, meski aku sudah menolak berkali-kali tawaran itu.

“Aku mau bermain saja”. Akhirnya pria pede (pendek dempal) itu tidak memaksaku lagi usai aku memutuskan untuk bermain saja. Tidak sampai membutuhkan waktu hingga berjam-jam lima pemain sudah kukalahkan.

“Kau sangat keren kak”. Ucap gadis berambut merah tersebut, tapi berada diluar dugaan, tiba-tiba dia menarik bajuku, aku panik, mau melakukan apa gadis tomboy ini.

“I know, kamu adalah mahasiswa Maldiv’s yang paling kaya itu kan”. Bisiknya, asalnya terkejut hanya saja ku sembunyikan. Gadis tomboy itu mengulurkan tangan kepadaku, melihat niatnya aku tersenyum.

“Kaisar”. Ucapku seraya membalas uluran tangannya.

“Neil”. Balasnya. Aku mengenal banyak orang di club ini. “Thanks”. Ucapku kepada Arianne seraya turun dari mobil.

“Kubilang apa, lebih seru diluar kan”. Ucap Arianne dengan nada khasnya yang bar-bar itu, aku menggidikkan bahu meresponnya.

“Sepertinya aku akan sering mengunjungi club tersebut”. Monologku.

Aku membanting tubuhku di ranjang, ternyata cukup melelahkan, kulihat ponselku yang tergeletak dari tadi di atas nakas, memang sengaja aku tidak membawanya. Toh, tidak digunakan. Kemudian kuraih ponsel di nakas, kulihat ada banyak notifikasi yang datang, salah satunya dari Kenny.

‘KENNY IN ROOM CHAT’

Kenny : Woi

Kenny : bisa-bisanya kamu tidak datang di rapat utama

Kenny : kamu mendapat tugas membuat aplikasi zoom meet untuk mahasiswa miu

Kenny : selamat bertempur dengan coding dan algoritma

Aku : hm

Lagi-lagi Kenny membebani aku dengan tugas seperti itu.

‘+62...... IN ROOM CHAT’

+62... : kak file aspirasinya dimana

“siapa ini?”. Tanyaku dalam hati melihat nomor tak dikenal mengirim pesan kepadaku.

‘GAVIN IN ROOM CHAT’

Gavin : ada yang ingin join club invesment

Aku : siapa

Gavin : Elisia, fakultas hukum prodi hukum negara

Aku : oh

Siapa gadis bernama Elisia ini, apa untungnyadia mengikuti club invesment. Aku melempar asal ponsel dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa kusadari sejak aku memasuki kamar mandi ternyata ada sepasang mata yang mengawasiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!