Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Setelah kami menyelesaikan makanan yang dihidangkan ibuku, kami berpamitan, meninggalkan rumah yang berisi aroma daging perut babi berkecap dan tumis telur tomat. Aku mengenakan jersey hijau Zhejiang di dalam kemejaku.
Aku bersendawa karena perut sudah terisi, matahari menggantung sempurna di atas kepala, kaki menyusuri jalan lurus menuju halte bus terdekat dari rumahku, rasanya nyeri, dengan alat penopang di kaki kananku, jalan tertatih rasanya nyeri sekali.
Shen Yuexi, mengenakan cardigan krem dan topi bucket berwarna seragam, berjalan di sisiku, dia seperti mengimbangi derap lambat kakiku yang kuanggap sebagai cacat.
“Apa kamu kuat? Berjalan seperti itu?” kata Shen Yuexi, suaranya hampir tak terdengar, karena ramainya pedagang di kompleks tempatku tinggal menemani di setiap helaan napas panjang diriku.
“Tentu saja, patah kaki bukan alasan untuk terus berdiam diri.” Aku terus menapak ke depan jalan, Shen Yuexi tetap mengikuti irama gerak badanku yang masih sulit untuk berpindah dari satu pijak ke pijakan berikutnya.
Sesekali irisku melirik pada teman masa kecilku, atau saling menyapa pandang, dari dulu dirinya tak pernah berjalan lebih memimpin di depan tubuh ini.
“Distrik Xiaoshan ... baru kali aku merasa kalau rumahku terasa jauh ke SMA Hangzhou no. 9,“ keluhku.
Rumah makan kami lalui, bersama lalu-lalang orang-orang, aroma baozi dan mie menyeruak di udara, masuk ke hidung, walaupun aku sudah kenyang akan masakan ibu, pedagang yang menghidangkan pelanggan dari tokonya selalu menggugah selera bagi siapapun yang menciumnya.
“Jalan santai saja, pertandingan masih lama.” Shen Yuexi menggandeng tanganku, seperti ingin membantu langkah yang menggerus bumi.
“Yue ... aku bisa jalan sendiri.” wajahku terasa panas, Shen Yuexi terlalu dekat, parfum musk creamy vanillanya sangat menusuk, tapi aku suka harumnya.
“Jangan malu-malu begitu, kenapa sih?” katanya sinis. “Kau waktu kecil sering menggandeng tanganku ke manapun kita bermain.”
Aku hanya senyap, menahan malu.
Dulu aku paling semangat menggandeng tangannya ke manapun kami melangkah.
Setiap kali angin tipis menyentuh perjalanan kami, wangi itu ikut bergerak bersama rambut pirang panjangnya yang terkipas lembut, membuatku merasa hangat.
Hangatnya bercampur dengan aroma yang nyaris tak terlihat, vanilla yang halus, getarannya seperti ... susu manis yang dipanaskan perlahan, berpadu dengan jejak musk yang bersih dan dekat. Seakan dunia ditelan oleh parfumnya.
Tapak demi tapak menyisir jalan setapak, melewati gang sempit, menuju lokasi yang lebih melapangkan napas.
Bahkan, kaki yang pincang ini terasa bukan lagi masalah besar, aku masih di tahap harus banyak beristirahat. Tapi Shen Yuexi selalu tahu caranya membujuk ibuku.
Jarak dari rumahku menuju sekolah berkisar 15 km, tapi jauh bukan lagi halangan untuk pemuda yang cacat sepertiku, laga itu, stadion Huanglong harus kuhadiri. Misi sistem tak boleh kuabaikan.
Kami melewati rumah-rumah merapat sederhana di distrik Xiaoshan. Waktu pun terasa cepat, detiknya seperti detak jantungku, berdebar-debar dalam dekapan Shen Yuexi.
Jauh ditempuh, tapi jarak seakan dekat di waktu, tubuh gadis ini dengan gandengannya, menggesek tanganku di dada besarnya dari yang aku kenal.
Aku tak mengerti, seberapa cepat waktu berlalu, wajahnya kini lebih tenang dibanding kami di masa kecil.
Setidaknya itu yang aku rasa pada Shen Yuexi.
Irama langkah kami hampir kepada sunyi, sampai ketika suara, “Eughhh ...” diriku yang tersandung karena jalan mulai berbatu.
Tapi tubuhku tidak terjatuh, rangkulan Shen Yuexi semakin erat. “Santai saja,” katanya, memastikan aku tetap aman.
Laki-laki macam apa aku ini? Selalu ditolong oleh perempuan.
Hingga halte itu mulai nampak di antara lalu-lalang kendaraan jalan raya, ada beberapa orang di sana berdiri, sebagian duduk di bangku, menunggu bus datang.
“Ahh, akhirnya sampai.” Shen Yuexi menunjuk halte itu.
Mataku mengikuti telunjuk Shen Yuexi, di antara banyak orang di halte bus. Kulihat remaja, 12 tahun kira-kira, memakai jersey kandang Zhejiang Profesional Sport, dan menyandang ransel di pundaknya.
Mengingatkanku saat masa SMP dulu.
Saat sepak bola masih berada di pihak diriku.
Aku adalah anak yang dulu dikatakan paling berbakat sebagai gelandang.
“Han, duduk di kursi prioritas, jangan malu,” ucap Shen Yuexi ketika kami sampai dan menunggu di halte.
“Iya-iya.”
Kini remaja laki-laki itu dengan rambut hitam belah tengahnya, ada di hadapanku.
Aku penasaran, apa dia berbakat dalam sepak bola? Hingga akhirnya kuputuskan menggunakan Talent Eye, sembari menunggu bus datang.
Ding!
...\=~\=~\=~\=~\=...
...Nama: Wei Ying...
...Posisi: CM, CDM, AMF...
...Rating: S...
...Talent: Playmaker, Gelandang Serba-Bisa, Akurasi Passing Tinggi, Player Visioner...
...Speed: 89...
...Shooting: 80...
...Dribbling: 88...
...Stamina: 90...
...Teamwork: 94...
...Potential: S...
...Growth Rate: B...
...\=~\=~\=~\=~\=...
“Eugh!” Aku membelalak.
“Hmm? Kenapa Han?” Shen Yuexi langsung menatapku.
Data Statistik itu membuatku terkejut.
“A-Ahh tidak, kakiku hanya tiba-tiba sakit.”
“Apa baik-baik saja?”
“Iya.”
Aku mematung sejenak, hingga Shen Yuexi beralih pandang, irisku menetap pada si remaja bernama Wei Ying.
Anak ini ... lebih berbakat dari diriku saat seusianya. Siapa dia? Apa dia juga pemain bola?
Dia ... aset masa depan Tim Nasional China yang berharga.