Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Xavier akhirnya berhasil keluar kamar. Pikirannya masih kacau. Bagaimana tidak? Ia baru saja membuat kesepakatan paling gila dalam sejarah hidupnya. Ia berjanji membiarkan seorang gadis aneh menyentuh miliknya hanya agar gadis itu melepaskan pelukan di kakinya.
"Kau benar-benar sudah tidak waras, Vier! Kau menyembunyikan seorang gadis di kamarmu, dan gadis itu terlihat seperti tidak pernah sekolah!" gumam Xavier sembari mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. Keringat tipis masih membasahi lehernya, bukan karena olahraga, melainkan karena pertempuran mental melawan Luna.
Di ruang utama, Xander sudah duduk dengan gaya angkuh. Ia melirik jam tangannya sebelum beralih menatap adiknya dengan tatapan meremehkan.
"Wow, tuan muda sudah muncul. Apa kau sedang sibuk gym di kamar sampai berkeringat begitu? Atau kau sedang belajar cara berjalan lagi setelah tersesat di hutan?" ejek Xander, menyilangkan kaki sembari memainkan ponsel mahalnya.
"Xander," desis Xavier. Tatapan matanya tajam dan menusuk, seolah ingin melubangi kepala kakaknya saat itu juga.
"Sudah lama, ya, kita tidak bertemu, Adik Kecil?" Xander menyeringai tipis, sebuah seringai yang selalu berhasil memancing emosi Xavier.
"Hampir seminggu hilang, aku pikir aku harus memesan karangan bunga duka cita."
Xavier mengepalkan tangannya di samping tubuh. Pertemuan ini adalah hal terakhir yang ia inginkan setelah seminggu penuh penderitaan. "Sayang sekali, doamu tidak terkabul. Aku masih hidup untuk mengacaukan harimu."
"Apa ini sambutan untuk kakakmu? Ayolah, Vier, berikan aku pelukan hangatmu sebagai tanda rindu," ucap Xander bangkit berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
"Hanya dalam mimpimu! Kau tahu bukan kalau aku alergi—"
"Bersentuhan?" potong Xander cepat. Ia mendekat, mengintimidasi ruang gerak adiknya. "Apa itu juga berlaku untuk kakakmu sendiri? Kau takut kulit sucimu terkontaminasi olehku?"
"Ya! Terutama jika orang itu adalah kau," jawab Xavier dingin.
Xander tertawa hambar, lalu dengan gerakan tiba-tiba ia memukul pelan lengan Xavier, sebuah provokasi fisik yang sengaja dilakukan. Xavier yang tak terima, secara refleks menangkis dan balik melayangkan pukulan cepat ke arah bahu Xander.
Dalam sekejap, terjadi adegan saling serang pendek. Pukulan dan tangkisan terjadi begitu cepat, namun anehnya, mereka tetap menjaga jarak agar kulit mereka tidak benar-benar bersentuhan secara langsung.
Ya, kebiasaan aneh dua bersaudara yang sama-sama kaku.
"Cukup! Mau sampai kapan kau bertingkah seperti anak-anak begini, hah!" maki Xander sembari mundur selangkah, merapikan jas yang sedikit berantakan.
Xavier hanya mendengus, bersikap acuh seolah perkelahian singkat tadi hanyalah angin lalu. "Kau yang memulai."
"Kau tahu, aku sudah satu jam lebih menunggu di sini? Apa kau sengaja menguji kesabaranku?!" Xander menatap Xavier dengan kemarahan yang mulai meluap.
"Mungkin," jawab Xavier. Ia malas sekali berdebat. Baginya, Xander adalah gangguan yang lebih besar daripada krisis ekonomi dunia. Hubungan mereka memang lebih mirip anjing dan kucing dibandingkan keluarga hangat pada umumnya.
"Meong... meong!"
Tiba-tiba, suasana tegang itu pecah. Luna, yang entah sejak kapan kembali ke bentuk kucing putih, berjalan santai menghampiri Xavier. Ia dengan manja menduselkan kepalanya di kaki Xavier, mengabaikan kehadiran Xander yang membeku di tempat.
"Hei, kau kembali?!" seru Xavier. Ia membungkuk, menggendong Luna ke dalam pelukannya dan mengusap halus kepala kucing itu.
Mata Xander melebar. Ia menatap lekat kucing putih di pelukan adiknya itu dengan binar yang tak biasa. "My sweety?" gumam Xander pelan.
"Siapa yang kau panggil sweety?" sahut Xavier kesal, ia memeluk Luna lebih erat. "Jangan coba-coba, Xander. Aku tahu kau gila kucing, tapi yang satu ini adalah milikku."
Xavier tidak mau kucing ini direbut. Sudah cukup kedua orang tuanya selalu memihak Xander karena kepintarannya. Urusan kucing, Xavier tidak akan mengalah.
"Bukan siapa-siapa," jawab Xander cepat, namun matanya tetap tak lepas mengamati setiap inci tubuh kucing putih itu. Ada kilat pengenalan di matanya yang dalam.
Xavier kemudian duduk di sofa, menidurkan Luna di pangkuannya dan mulai menggelitik perut kucing itu dengan gemas.
"Meong! Meong!" Luna menggeliat.
Astaga, perut Luna lama-lama bisa kaku karena ulah Sapir. Dia pikir Luna ini mainan? batin Luna dalam hati sembari berusaha menggigit jari Xavier dengan manja.
"Sepertinya dia tidak nyaman denganmu, Vier. Kau terlalu kasar," ucap Xander. "Boleh tidak aku menggendongnya?" tanyanya tiba-tiba.
"Tidak boleh!" seru Xavier tegas.
Xander tampak sangat kecewa. Ia hanya bisa pasrah melihat interaksi intim adiknya dengan kucing itu. Padahal, Xander adalah pecinta kucing garis keras, sedangkan Xavier? Seingatnya, Xavier adalah orang yang akan bersin-bersin jika melihat bulu hewan.
"Sejak kapan kau mulai menyukai kucing? Kau dulu selalu bilang mereka makhluk yang menjijikkan," tanya Xander curiga.
"Apa pertanyaanmu penting untuk aku jawab?" balas Xavier tanpa menoleh.
"Kau alergi kucing dan bahkan membencinya! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu saat hilang di hutan kemarin?!" Xander mulai meninggikan suara, emosinya terpancing karena rasa iri.
"Apa alergiku terlihat kambuh? Aku justru merasa sangat baik dari sebelumnya," balas Xavier tak kalah sengit. Ia menatap Xander dengan senyum kemenangan.
Xander mengepalkan tangannya erat. Ada sesuatu yang janggal dari kucing itu, dan ia bersumpah akan mencari tahu.
Aku pasti akan mendapatkan mu, my sweety. Xander menyeringai dingin penuh dengan ambisi. Matanya terus menatap Luna yang sedang menjilat tangan Xavier.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂