Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERTEMUAN FATAL
Malam yang ditunggu akhirnya tiba.
Matahari tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang perlahan memudar digantikan kegelapan. Istana Kekaisaran berubah wajah—lampu-lampu minyak dinyalakan di setiap sudut, menciptakan lautan cahaya yang berkelap-kelip. Tapi di balik keindahan itu, intrik menggeliat seperti ular di dalam sarang.
Namgung Jin berdiri di depan cermin perunggu di kamarnya, merapikan jubah hitamnya. Ini bukan jubah biasa—ini adalah pakaian formal yang diberikan istana untuk tamu penting, dengan sulaman naga perak di dada. Nyonya Hwa Ryun berdiri di belakangnya, membantu merapikan kerah.
"Kau tampak seperti bangsawan sejati."
"Penampilan bisa menipu."
"Itulah gunanya." Ia tersenyum tipis. "Miho sudah masuk ke kediaman Janda Permaisuri sejak sore. Ia akan mengawasi dari dalam."
"Dan kau?"
"Aku akan bersembunyi di taman belakang. Jika ada tanda bahaya, aku akan masuk."
"Jangan terburu-buru. Tunggu sinyalku."
Nyonya Hwa Ryun mengangguk, meskipun ragu. Ia meraih tangan Namgung Jin, menggenggamnya sebentar.
"Hati-hati."
"Aku selalu."
---
Putri Sohwa menunggu di depan paviliunnya dengan jubah biru gelap—warna yang membuatnya tampak lebih dewasa. Wajahnya tegang, tapi matanya menunjukkan tekad.
"Kau siap?" tanya Namgung Jin.
"Tidak. Tapi aku akan tetap pergi."
"Bagus. Ingat, biarkan aku yang bicara. Kau hanya perlu diam dan mengikuti."
Mereka berjalan berdua menuju kediaman Janda Permaisuri. Para pengawal memberi hormat, para dayang menunduk. Sepanjang jalan, Namgung Jin merasakan banyak mata mengawasi—mata-mata Janda Permaisuri, pasti.
---
Kediaman Janda Permaisuri malam ini tampak berbeda. Lampu-lampu lebih terang dari biasanya, dan aroma dupa yang lebih kuat menguar dari dalam. Di pintu utama, Nyonya Go menyambut mereka dengan senyum tipis.
"Selamat datang, Putri Sohwa, Tuan Namgung. Paduka sudah menunggu."
Mereka dipersilakan masuk.
Ruangan dalam itu hangat, diterangi puluhan lilin. Di kursi utamanya, Janda Permaisuri duduk dengan anggun, ditemani dua dayang di sampingnya—salah satunya Miho, yang menunduk sopan.
Di sudut ruangan, berdiri dua pria bersenjata—pengawal pribadi Janda Permaisuri. Mereka bukan prajurit biasa; dari auranya, Namgung Jin bisa merasakan mereka adalah kultivator level tinggi.
"Duduklah."
Mereka duduk di kursi yang disediakan. Seorang dayang menuangkan teh, lalu mundur.
Janda Permaisuri menatap Putri Sohwa dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang palsu dan perhitungan dingin.
"Sohwa-ya, sudah lama kita tidak bicara berdua."
"Aku jarang diundang, Paduka." Jawaban Putri Sohwa sopan, tapi ada nada dingin di dalamnya.
"Maafkan aku. Istana ini begitu sibuk." Janda Permaisuri menyesap tehnya. "Tapi malam ini khusus. Aku ingin bicara tentang masa depanmu."
"Masa depanku?"
"Ya. Kau sudah dewasa. Saatnya memikirkan pernikahan."
Putri Sohwa terkejut. Ini di luar dugaannya.
"Pernikahan dengan siapa, Paduka?"
"Dengan keponakanku, Go Jung." Janda Permaisuri tersenyum. "Ia putra dari adikku, seorang bangsawan kaya di utara. Pernikahan ini akan menguntungkan kita semua."
Namgung Jin mengamati percakapan itu dengan saksama. Ini taktik baru—mengalihkan perhatian dengan topik pernikahan, lalu menyelipkan agenda lain.
"Aku... aku belum siap menikah, Paduka."
"Belum siap? Kau sudah tujuh belas. Di usiamu, aku sudah melahirkan Putra Mahkota." Mata Janda Permaisuri berkilat. "Atau jangan-jangan kau sudah punya pilihan sendiri?"
*"Tidak, Paduka. Aku hanya—"
"Sudah, sudah." Janda Permaisuri mengangkat tangan. "Kita bicarakan nanti. Malam ini, aku punya urusan lain dengan Tuan Namgung."
Ia menoleh ke arah Namgung Jin. Senyumnya kembali—senyum ular.
"Kau sudah memutuskan?"
"Aku sudah, Paduka."
"Bagus. Apa jawabanmu?"
"Aku setuju bekerja sama. Tapi dengan satu syarat tambahan."
"Syarat tambahan? Bukankah kemarin kau sudah minta pengurangan korban?"
"Itu syarat pertama. Ini syarat kedua."
Janda Permaisuri mengerutkan kening. "Kau berani sekali."
"Aku hanya realis, Paduka. Teknik Hwasin sangat berharga. Tentu saja aku minta imbalan yang setimpal."
"Apa maumu?"
"Putri Sohwa."
Udara di ruangan itu tiba-tiba membeku.
Putri Sohwa menatap Namgung Jin tidak percaya. Miho hampir menjatuhkan teko teh di tangannya. Bahkan Nyonya Go terkesiap.
Janda Permaisuri terdiam beberapa detik. Lalu ia tertawa—tawa keras yang menggema di ruangan.
"Kau ingin menikahi Putri Sohwa?"
"Bukan menikah. Aku ingin ia menjadi... asistenku. Pendampingku selama di istana."
"Untuk apa?"
"Aku butuh seseorang yang tahu seluk-beluk istana. Seseorang yang bisa dipercaya." Ia menatap Putri Sohwa. "Dan Putri Sohwa adalah pilihan yang tepat."
Putri Sohwa masih terpaku. Ia tidak tahu apakah ini bagian dari rencana atau Namgung Jin benar-benar gila.
Janda Permaisuri mengamatinya dengan mata tajam. Pikirannya bekerja cepat.
"Kau tahu, bocah, meminta anggota keluarga kerajaan sebagai asisten itu... kurang ajar."
· "Aku tahu. Tapi aku juga tahu, Paduka butuh teknik Hwasin lebih dari Paduka butuh Putri Sohwa."*
Serangan langsung. Tapi benar.
Janda Permaisuri diam. Ia memang tidak terlalu peduli pada Putri Sohwa—anak selir yang tidak penting. Tapi memberikannya pada orang asing bisa menimbulkan pertanyaan.
"Apa jaminannya kau tidak akan menyakitinya?"
"Aku tidak punya alasan untuk menyakiti. Aku butuh ia hidup dan sehat."
"Dan jika aku menolak?"
"Maka tidak ada teknik Hwasin."
Keheningan panjang.
Nyonya Go berbisik di telinga Janda Permaisuri. Wajah wanita tua itu berubah beberapa kali—marah, ragu, lalu pasrah.
Akhirnya, Janda Permaisuri menghela napas.
*"Baik. Kau boleh membawa Putri Sohwa sebagai asistenmu. Tapi ingat, ia masih anggota keluarga kerajaan. Jika sesuatu terjadi padanya—"
"Aku tanggung jawab."
"Bagus." Ia menatap Putri Sohwa. "Kau setuju, Sohwa-ya?"
Putri Sohwa menunduk, menyembunyikan ekspresinya.
"Aku... aku ikut perintah Paduka."
"Bagus. Sekarang, tentang ritual." Janda Permaisuri kembali fokus. "Kapan kau bisa memberiku teknik Hwasin?"
"Aku tidak bisa memberikannya begitu saja. Teknik ini harus diajarkan langsung, bukan ditulis."
"Maksudmu?"
"Aku harus mengajarkannya pada seseorang. Pada orang yang akan melakukan ritual."
Janda Permaisuri mengerutkan kening. "Itu merepotkan."
"Tapi itu satu-satunya cara. Hwasin bukan sekadar mantra; ia melibatkan aliran energi yang rumit. Jika salah, bisa berakibat fatal."
"Lalu, siapa yang harus kau ajar?"
"Paduka sendiri."
Janda Permaisuri terkejut. "Aku?"
"Atau orang kepercayaan Paduka. Tapi harus orang yang bisa dipercaya sepenuhnya."
Nyonya Go melangkah maju. "Aku bisa belajar, Paduka."
Janda Permaisuri mengangguk. "Baik. Nyonya Go akan menjadi muridmu."
---
Satu jam kemudian, pertemuan itu berakhir.
Namgung Jin dan Putri Sohwa keluar dari kediaman Janda Permaisuri. Begitu mereka cukup jauh, Putri Sohwa berbisik,
"Apa yang kau lakukan? Kau hampir membuatku mati jantung!"
"Tenang. Ini bagian dari rencana."
"Rencana apa? Kau menjadikanku asistenmu!"
"Dengan begitu, kau aman. Janda Permaisuri tidak akan berani menyentuhmu karena kau di bawah perlindunganku."
Putri Sohwa terdiam. Ia tidak memikirkan itu.
"Tapi... kenapa kau repot-repot melindungiku?"
"Karena kau berguna."
Jawaban dingin. Tapi Putri Sohwa bisa merasakan ada yang lebih dari itu.
---
Kembali di paviliunnya, Namgung Jin menemui Nyonya Hwa Ryun yang sudah kembali dari posnya.
"Aku lihat kau selamat."
"Tentu."
"Dan Putri Sohwa?"
"Menjadi asistenku."
Nyonya Hwa Ryun terkejut. "Apa?"
Namgung Jin menjelaskan semuanya. Nyonya Hwa Ryun menggeleng, setengah kagum.
"Kau benar-benar berani. Memainkan Janda Permaisuri di sarangnya sendiri."
"Dia hanya wanita tua yang putus asa. Orang putus asa mudah dimanipulasi."
"Tapi hati-hati. Wanita putus asa juga yang paling berbahaya."
---
Keesokan harinya, Miho datang dengan laporan.
"Tuan, setelah pertemuan semalam, Janda Permaisuri mengadakan rapat tertutup dengan Nyonya Go dan Jenderal Baek Woong."
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Tidak detail. Tapi aku dengar kata-kata 'pengganti' dan 'darah segar'."
Namgung Jin mengerutkan kening. "Mereka masih mencari korban?"
"Sepertinya begitu. Mungkin karena Tuan melarang korban desa, mereka mencari sumber lain."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku curiga..." Miho ragu. "...mungkin para tahanan di penjara bawah tanah."
Penjara bawah tanah. Tempat para musuh politik dan penjahat ditahan.
"Kau bisa masuk ke sana?"
"Sulit. Penjagaan ketat. Tapi aku bisa mencoba."
"Lakukan. Tapi hati-hati."
---
Dua hari kemudian, Miho kembali dengan kabar buruk.
"Tuan, aku berhasil menyusup ke penjara. Dan apa yang kulihat..." Wajahnya pucat. "...mengerikan."
"Apa?"
"Ada dua puluh tahanan yang dipisahkan. Mereka semua wanita muda. Dan mereka..." Ia gemetar. "...mereka diberi makan darah setiap hari."
"Darah?"
"Konon, untuk memurnikan tubuh mereka. Agar layak menjadi korban ritual."
Namgung Jin diam. Janda Permaisuri benar-benar kejam.
"Kau tahu kapan ritual itu akan dilakukan?"
"Tiga hari lagi. Saat bulan purnama."
Tiga hari. Waktu yang sangat singkat.
---
Malam itu, Namgung Jin mengadakan pertemuan dengan semua sekutunya: Nyonya Hwa Ryun, Putri Sohwa, dan Miho.
"Kita punya tiga hari untuk menyelamatkan para tahanan itu."
"Tapi bagaimana?" tanya Putri Sohwa. "Penjara bawah tanah dijaga ketat."
"Kita tidak perlu masuk ke penjara. Kita cukup menghentikan ritualnya."
"Menghentikan ritual?"
"Jika Janda Permaisuri tidak punya korban, ritual batal."
Nyonya Hwa Ryun mengerutkan kening. "Tapi ia bisa cari korban lain."
"Maka kita harus memastikan tidak ada korban lain." Mata Namgung Jin berkilat. "Kita harus menculik Nyonya Go."
"Apa?!"
"Nyonya Go adalah otak di balik semua ini. Tanpanya, Janda Permaisuri akan kebingungan. Kita bisa tawar-menawar."
"Tapi menculik kepala dayang di dalam istana? Itu mustahil!"
"Tidak mustahil. Hanya sulit."
Miho angkat bicara. "Aku bisa membantu. Aku tahu jadwal Nyonya Go. Setiap malam, ia sendirian di kamarnya selama satu jam, setelah mandi."
"Sempurna."
Putri Sohwa masih ragu. *"Tapi jika kita gagal—"
"Kita tidak akan gagal."
---
Malam penculikan tiba.
Namgung Jin dan Miho menyelinap di antara bayangan, menuju kediaman Nyonya Go. Bangunan itu kecil, di belakang paviliun Janda Permaisuri. Tidak dijaga—siapa yang berani mengganggu kepala dayang?
Miho membuka jendela belakang dengan hati-hati. Mereka masuk.
Di dalam, Nyonya Go sedang duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya yang panjang. Ia tidak menyadari kehadiran mereka.
Namgung Jin memberi isyarat pada Miho untuk diam. Ia mendekat perlahan, seperti bayangan.
Tepat saat ia mencapai belakang Nyonya Go, wanita itu menoleh.
"Kau—!"
Tapi sebelum ia bisa berteriak, tangan Namgung Jin sudah menutup mulutnya. Jarum tipis di tangannya menusuk leher Nyonya Go—bukan untuk membunuh, tapi untuk melumpuhkan.
Nyonya Go terkulai lemas.
"Cepat. Bawa dia."
Mereka membawa Nyonya Go keluar melalui jendela, menghilang dalam kegelapan.
---
Di paviliun Namgung Jin, Nyonya Go diikat di kursi. Ia sudah sadar, tapi masih lemas.
"Kau... kau gila!" bisiknya dengan suara serak. "Janda Permaisuri akan membunuhmu!"
"Dia harus menemukanku dulu." Namgung Jin duduk di hadapannya. "Sekarang, kau akan bicara."
"Aku tidak akan bicara!"
"Oh, kau akan bicara." Ia mengeluarkan pisau kecil. "Kau tahu, aku belajar banyak tentang rasa sakit selama hidup. Aku tahu persis di mana menusuk agar sakitnya luar biasa, tapi tidak membunuh."
Nyonya Go gemetar. Tapi ia tetap diam.
"Pilihanmu." Pisau itu menyentuh lengannya. "Bicara, atau kau akan merasakan sakit yang tidak pernah kau bayangkan."
"A-Apa yang kau mau?"
"Di mana ritual akan dilakukan?"
"Di... di kuil bawah tanah, di bawah istana."
"Kapan?"
"Lusa malam, saat bulan purnama."
"Siapa yang akan menjadi korban utama?"
Nyonya Go diam. Pisau itu menekan sedikit.
"Putri... Putri Sohwa."
Miho terkesiap. Putri Sohwa yang mendengar dari balik tirai memucat.
"Jadi rencana pernikahan itu hanya tipuan?"
"Ya... Paduka ingin Putri Sohwa dekat, agar mudah... dikorbankan."
Namgung Jin mengangguk. Semua masuk akal.
"Siapa lagi yang terlibat?"
"Jenderal Baek Woong. Ia yang menyiapkan pengamanan."
"Dan Kaisar?"
"Tidak tahu. Ia hanya boneka."
Cukup.
Namgung Jin menusukkan jarum lain ke leher Nyonya Go. Wanita itu pingsan.
"Kita punya waktu sampai lusa."
---