Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tekanan dari Atas
Bab 17 (Revisi)
Kafe Sentral di Kuningan terasa seperti tempat yang salah untuk pertemuan semacam ini.
Ardi duduk di pojok, menghadap pintu masuk. Kopi hitam di depannya sudah lama kehilangan uap. Jari-jarinya mengetuk meja—ritme yang sama, berulang. Matanya mengawasi setiap orang yang masuk. Wanita dengan keranjang belanja. Pria berdasi. Mahasiswa dengan laptop.
Semua terlihat biasa.
Tapi dia tahu, di antara mereka ada yang memegang foto-foto yang bisa menghancurkan Maya. Menghancurkan dirinya. Menghancurkan Bram.
Di kepalanya, bayangan Sari masih utuh. Wajahnya yang basah, suaranya yang patah: Aku berharap kamu bahagia. Ardi hampir membalikkan mobil tadi, hampir kembali ke apartemen itu. Tapi dia tidak punya hak untuk menghibur. Dia hanya punya hak untuk pergi.
Ponselnya bergetar.
Duduk di pojok kiri dekat jendela. Aku sudah di sini.
Ardi mengangkat kepala. Pojok kiri—meja yang kosong tiba-tiba terisi.
Pria muda. Kemeja putih lengan panjang.
Senyum kecil yang membuat darah Ardi membeku.
Rudy.
Asisten pribadi Bram.
Ardi berjalan ke meja itu, langkahnya dibuat tenang. Jantungnya berdebar terlalu cepat. Tangannya gemetar.
Rudy tersenyum ramah. Seperti tidak ada yang salah.
“Pak Ardi. Duduk, duduk. Kopi sudah saya pesankan.”
Ardi duduk di seberangnya. “Kamu.”
“Saya.” Rudy menyesap kopinya. “Maaf mengganggu waktu Bapak. Tapi ini penting.”
“Foto-foto itu—”
“Diambil oleh Yuni.” Rudy meletakkan cangkir. “ART baru Ibu Maya. Dia datang ke kantor beberapa hari lalu, bilang ada sesuatu yang harus saya lihat. Ternyata lebih dari itu.”
Ardi mengepalkan tangan di bawah meja. Yuni. Wanita yang bilang tidak akan ikut campur. Ternyata diamnya bukan karena tidak mau terlibat—tapi karena sudah punya rencana lain.
“Kamu bilang kalau tidak bicara, foto-foto ini akan sampai ke Bram,” kata Ardi. Suaranya datar meski amarah menggerogoti. “Sekarang kita bicara. Apa yang kamu mau?”
Rudy tertawa kecil. Membuka tas, mengeluarkan amplop coklat, meletakkannya di atas meja. “Dua belas foto, dari berbagai hari. Yuni memang rajin.”
Ardi tidak menyentuh amplop itu. “Apa yang kamu mau?”
“Saya hanya ingin Bapak ingat, saya sudah membantu Bapak.” Senyum Rudy memudar. “Selama ini saya yang menutupi jadwal Bapak dari Pak Bram. Saya yang bilang Bapak rapat ketika Bapak ada di rumah. Saya yang mengatur hotel untuk Bapak dan Ibu Maya.”
Ardi terdiam. Selama ini dia pikir kerahasiaannya sempurna. Ternyata Rudy tahu dari awal. Dan diam. Menunggu saat yang tepat.
“Jadi?”
“Saya dengar nama saya masuk daftar PHK tahun depan.” Rudy menyandarkan tubuh. “Saya hanya minta—coret nama saya dari daftar itu.”
“Kamu memerasku hanya karena takut di-PHK?”
“Memeras?” Rudy tertawa, tawa yang tidak ramah. “Ini negosiasi, Pak. Saya punya sesuatu yang Bapak butuh—diam. Bapak punya sesuatu yang saya butuh—pekerjaan.”
“Kamu tahu ini ilegal?”
“Saya tahu.” Rudy mencondongkan tubuh, suaranya berbisik. “Tapi hubungan Bapak dengan ibu tiri Bapak juga ilegal. Di mata hukum, di mata agama, di mata masyarakat. Kita sama-sama melakukan hal yang salah, Pak. Saya hanya lebih jujur tentang konsekuensinya.”
Ardi mengepalkan tangan. Ingin membanting meja. Ingin menerkam Rudy. Tapi dia tidak punya kuasa di sini.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kau dapat pekerjaanmu. Tapi foto-foto ini—”
“Semuanya akan saya serahkan.” Rudy mendorong amplop. “Ini salinan fisik. Satu lagi di ponsel, akan saya hapus sekarang.”
Dia membuka galeri, menunjukkan folder berisi foto-foto itu. Dua belas gambar. Ardi dan Maya di dapur, di lorong, di taman, di kamar. Jarak mereka terlalu dekat. Senyum mereka terlalu intim.
Rudy menghapus folder itu. Lalu menyandarkan tubuh, tersenyum tipis. “Sebenarnya saya juga simpan satu salinan di cloud, Pak. Tapi jangan khawatir—itu cuma untuk jaga-jaga kalau Bapak lupa janji.”
Darah Ardi membeku.
“Tapi saya orang yang berpegang pada kesepakatan,” Rudy menambahkan cepat. “Kalau Bapak tepati janji, tidak akan pernah muncul. Saya hanya ingin rasa aman.”
Ardi menatapnya lama. “Kau…”
“Saya bukan penjahat, Pak.” Rudy berdiri, merapikan kemeja. “Saya hanya karyawan yang tidak mau kehilangan pekerjaan.”
Dia mengulurkan tangan. “Terima kasih, Pak Ardi.”
Ardi tidak menjabat. “Kita tidak punya hubungan kerja, Rudy. Kau hanya orang yang memeras bosnya.”
Rudy menarik tangannya, tersenyum lagi. “Terserah Bapak. Tapi ingat, saya yang menyimpan banyak rahasia Bapak. Bukan hanya soal Ibu Maya. Ada juga soal penggelapan dana perusahaan yang Bapak tutupi dari Pak Bram. Ada juga hubungan Bapak dengan investor asing yang tidak resmi. Saya bisa saja menggunakan semua itu, tapi saya tidak. Saya hanya minta satu hal.”
Ia membungkuk sedikit, lalu berbalik. Di ambang pintu, ia berhenti. “Oh ya, Pak. Yuni sekarang masih di rumah. Saya rasa Bapak harus lebih berhati-hati. Orang seperti dia—kalau sudah punya inisiatif, biasanya tidak berhenti di satu laporan.”
Rudy pergi dengan langkah tenang.
Ardi duduk di kursi itu, menatap pintu yang baru saja ditutup. Di tangannya, amplop coklat terasa berat. Di luar sana, satu salinan masih mengendap di awan. Dan Yuni masih ada di rumah.
Ini baru permulaan.
---
Ardi tidak langsung pulang. Dia duduk di mobil, menatap amplop di kursi penumpang. Jari-jarinya masih gemetar. Bukan karena takut—tapi karena marah yang tidak bisa disalurkan.
Di kepalanya, Sari kembali muncul. Wajahnya yang basah. Aku berharap kamu bahagia. Seandainya dia tidak membuka ponsel itu. Seandainya dia sempat bicara sebelum Rudy mengirim pesan.
Tapi tidak ada seandainya.
Ponselnya bergetar. Maya: Di mana? Aku khawatir.
Aman. Nanti aku pulang.
Ada apa? Sari?
Bukan. Nanti aku cerita.
Dia mematikan ponsel, menyalakan mesin. Tapi tidak langsung pulang ke Menteng. Dia butuh udara yang tidak dipenuhi rahasia dan ancaman. Mobilnya meliuk di antara kemacetan Jakarta, tanpa tujuan. Hanya berusaha menjauh.
Ponselnya bergetar lagi. Nomor kantor.
“Pak Ardi, Bapak Bram minta Bapak ke kantor. Sekarang.”
Ardi membalikkan mobil.
---
Hartono Group, gedung kaca empat puluh lantai. Ardi parkir di basement, naik lift eksekutif ke lantai 38.
Di luar ruangan Bram, sekretaris lama menyambutnya dengan senyum tipis. “Pak Bram menunggu.”
Ardi masuk.
Bram berdiri di depan jendela kaca, punggung menghadap pintu. Di luar, langit mulai gelap. Awan mendung menggantung rendah.
“Ayah panggil aku?”
Bram berbalik. Wajahnya datar, tapi matanya tajam. “Aku dengar kau sering pulang cepat akhir-akhir ini.”
Ardi menegang. “Kerjaanku selesai.”
“Kerjaanmu?” Bram meletakkan beberapa lembar kertas di depan Ardi. “Laporan penjualan kuartal ini turun delapan persen. Proyek dengan investor asing molor dua minggu. Dewan komisaris mulai bertanya.”
Ardi membaca sekilas. Angka-angka yang selama ini dia coba abaikan.
“Aku akan perbaiki.”
“Kapan?” Bram duduk, menatapnya tanpa berkedip. “Kau bilang akan perbaiki bulan lalu. Dua bulan lalu. Yang ada, kau sering absen, pulang lebih cepat, dan asistenmu harus berbohong tentang jadwalmu.”
Ardi mengepalkan tangan. Rudy.
“Aku minta maaf. Aku akan fokus.”
Bram berdiri, berjalan ke jendela lagi. “Aku dengar kau dan Sari putus.” Suaranya berubah. “Sari bilang karena kau punya orang lain.”
Ruangan terasa sesak.
“Siapa?” Bram menoleh. “Siapa wanita itu?”
Ardi tidak menjawab. Matanya menatap lantai.
Bram berjalan mendekat. “Kau tahu, Ardi. Aku tidak pernah ikut campur urusan pribadimu. Tapi kalau urusan pribadi mulai mengganggu perusahaan—itu urusanku.”
“Aku akan perbaiki.”
“Kau selalu bilang itu.” Bram kembali ke meja. “Dewan komisaris minta laporan perbaikan minggu depan. Kalau tidak ada perubahan—aku akan tarik kau dari posisi CEO sementara.”
Ardi menegang. “Ayah tidak bisa.”
“Aku bisa.” Bram membuka laptop. “Sekarang, kembali bekerja.”
Ardi berdiri diam. Menatap ayahnya yang sudah sibuk dengan layar. Bram tidak menatapnya. Tidak peduli.
Sama seperti dulu. Ketika Ardi kecil menunggu ayahnya pulang.
“Ayah,” katanya.
Bram mengangkat kepala.
“Ayah pernah—” Ardi berhenti. Kata-kata itu menggantung di tenggorokan. Terlalu berat. Ayah pernah merasa sendiri? Ayah pernah merasa tidak pernah cukup?
Dia tidak mengucapkannya. Karena dia tahu jawabannya.
“Tidak ada. Aku kembali bekerja.”
Dia berbalik, meninggalkan ruangan dengan dinding kaca dan ayah yang tidak pernah benar-benar melihatnya.
---
Di lift, Ardi menekan tombol lantai 37. Tapi ketika pintu terbuka, dia tidak keluar. Dia menekan basement. Turun ke mobil. Duduk di kursi pengemudi dengan tangan yang masih gemetar.
Ponsel bergetar. Maya: Kamu di mana? Aku sudah masak makan malam.
Ardi menatap pesan itu. Aku sudah masak makan malam. Kalimat sederhana yang terasa seperti jangkar.
Aku pulang.
Di luar, hujan mulai turun. Wiper bekerja bolak-balik, membersihkan air yang terus datang. Seperti hidupnya—selalu ada yang baru, selalu ada yang harus dibersihkan.
Di perjalanan, dia membuka amplop. Dua belas foto. Ardi dan Maya di dapur. Di lorong. Di taman. Bahu bersentuhan. Senyum terlalu intim.
Dia merobek foto-foto itu satu per satu. Potongan kertas jatuh di kursi penumpang. Wajah Maya terpotong. Senyumnya terbelah.
Tapi di kepalanya, foto-foto itu tetap utuh. Tidak bisa dirobek. Tidak bisa dilupakan.
---
Ardi tiba pukul delapan malam. Hujan masih deras.
Lampu dapur menyala. Ardi masuk lewat pintu belakang, melepas jaket basah.
Maya duduk di meja dapur. Menghadap dua piring dengan makanan yang sudah mulai dingin. Wajahnya tenang—terlalu tenang. Tapi matanya, ketika menatap Ardi, ada kelegaan di sana.
“Kamu pulang.”
“Aku pulang.”
Ardi duduk di seberangnya. Nasi dingin, sayur hambar. Tapi dia tidak peduli. Setelah hari yang berat, duduk di sini, makan bersama Maya, terasa seperti satu-satunya hal yang benar.
Maya makan diam-diam. Tidak bertanya tentang Sari. Tidak bertanya tentang hari ini. Hanya diam yang penuh.
Yuni muncul dari dapur, membawa teko teh. Matanya menatap Ardi sekilas—bukan tatapan hormat, bukan juga marah. Hanya tatapan orang yang sedang menghitung. Ia meletakkan teko di meja, tersenyum tipis, lalu kembali ke dapur. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Setelah selesai, Maya mengumpulkan piring. Ardi menatap punggungnya di depan wastafel.
“Yuni,” katanya.
Maya berhenti.
“Dia yang mengambil foto kita. Dan memberikannya pada Rudy, asisten Bram.”
Perlahan Maya menutup keran, mengeringkan tangan, berbalik. Wajahnya pucat. “Apa?”
“Rudy memeras aku. Minta aku mempertahankannya di perusahaan.” Ardi menarik napas. “Aku setuju. Foto-fotonya sudah aku robek. Tapi dia masih punya satu salinan di cloud. Katanya untuk jaga-jaga.”
Maya berdiri diam. “Jadi—”
“Aman. Untuk sekarang. Selama aku tepati janji.”
Maya menghela napas, tapi tidak lega. Matanya kosong, menghitung risiko yang tersisa. Matanya beralih ke pintu dapur, tempat Yuni menghilang.
“Yuni bilang tidak akan lapor. Tapi dia memberikan foto itu pada Rudy.”
“Rudy yang menyuruh, mungkin. Atau Yuni yang punya inisiatif sendiri.” Ardi berdiri, mendekat. “Yang penting, foto-foto itu sudah tidak ada di tangan mereka. Tapi Yuni masih di sini.”
Maya menunduk. Tangannya menggenggam lap piring sampai buku-buku jarinya memutih. “Aku takut, Ardi. Hari ini—ketika kau tidak pulang—aku membayangkan semuanya sudah terbuka.”
Ardi meraih tangannya. “Belum.”
“Tapi suatu hari—”
“Suatu hari kita hadapi bersama.”
Maya mengangkat wajah. Matanya basah. “Kau bilang begitu. Tapi hari ini kau pergi ke apartemen Sari, dan kau tidak memberitahuku apa yang terjadi.”
Ardi terdiam.
“Sari dan aku—kami sudah selesai.”
Maya menatapnya. Mencari kebohongan.
“Kamu bicara dengannya?”
“Tidak. Dia sudah tahu. Sebelum aku sempat bicara.”
Maya melepaskan genggamannya, mundur selangkah. Wajahnya kosong. “Jadi dia tahu. Tentang kita.”
“Ya.”
“Dan dia—” Maya berhenti. “Dia akan bilang pada Bram?”
“Aku tidak tahu. Tapi dia bilang—” Ardi mengingat kata-kata Sari. Masih perih. “Dia bilang dia berharap aku bahagia.”
Maya tertawa pahit. “Dia baik. Terlalu baik.” Tangannya gemetar. “Dan kita—kita menghancurkannya.”
Ardi mendekat, meraih tangannya lagi. “Aku tahu.”
“Aku monster,” bisik Maya. Matanya merah. “Tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Dan itu membuatku lebih monster lagi.”
Ardi menariknya ke dalam pelukan. Merasakan tubuhnya gemetar, air matanya membasahi kemeja.
Di luar, hujan masih deras. Membasahi taman yang dulu ditanam Maya. Membasahi bunga-bunga yang mulai layu.
Dari sela pelukan, Ardi menangkap gerakan di ambang pintu dapur. Yuni berdiri di sana, diam, memegang lap tangan. Tatapannya netral. Lalu ia berbalik pergi tanpa suara.
“Malam ini,” bisik Ardi di rambut Maya. “Malam ini kita tidak bicara tentang besok.”
Maya mengangguk. Wajahnya bersandar di dadanya.
Ardi melepaskan pelukan, menggenggam tangannya. “Ayo ke atas.”
Maya menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum lelah. Senyum yang tidak lagi berusaha kuat. Senyum yang membuat Ardi lupa bahwa dunia di luar sedang runtuh.
Mereka berjalan ke lantai dua. Meninggalkan dapur dengan lampu yang masih menyala. Meninggalkan piring yang belum dicuci. Meninggalkan amplop berisi foto robek di mobil.
Malam ini, mereka memilih untuk tidak sendirian.
Tapi Ardi tahu, besok akan ada yang baru. Tekanan dari Bram. Ancaman dari Rudy—yang masih menyimpan salinan. Luka dari Sari. Dan Yuni, yang masih bekerja di rumah ini. Diam-diam mengawasi. Menghitung. Belum selesai.
Tapi malam ini, dengan Maya di sampingnya, dengan tangan yang saling menggenggam, Ardi memilih untuk melupakan semua itu.
Setidaknya untuk satu malam.