Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 31
Pintu kayu jati itu tertutup dengan bunyi klik yang halus saat Lina melangkah keluar dari kamar.
meninggalkan Ilwa dalam keheningan yang mendadak terasa begitu menyesakkan. Ilwa tidak segera bangkit.
Ia membiarkan tubuh kecilnya jatuh perlahan ke atas kasur yang empuk, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran khas klan Eldersheath yang kini tampak begitu asing di matanya.
Pikirannya berputar liar, mengulang setiap kata yang diucapkan Lina seperti kaset rusak. "High Magician, Sword Master, Grand Sword Magic..."
dan pilar keempat yang membuat jantungnya berdegup tidak keruan Mana Architect.
"Arsitek Mana..." bisik Ilwa, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi.
Ia memejamkan mata, dan seketika memori dari lima puluh tahun yang lalu—saat ia masih menyandang nama Albus—menyeruak masuk seperti air bah.
Di masa jayanya dulu, Albus adalah puncak dari segala pencapaian manusia. Dengan *Trinity Jobdesk* yang ia miliki, ia dianggap sebagai dewa di medan perang.
Namun, ada satu noda hitam dalam sejarah panjang kemenangannya, satu memori yang selalu ia simpan di sudut tergelap ingatannya: pertemuannya dengan seorang pengguna *Mana Architect* sejati.
Ilwa masih bisa merasakan sensasi dingin yang merayap di punggungnya saat teringat pertarungan itu.
Saat itu, ia berhadapan dengan seorang pria tua yang tampak rapuh, namun memiliki kendali mutlak atas realitas di sekitarnya.
Albus telah melancarkan serangan sihir tingkat tinggi yang mampu menghancurkan sebuah gunung, namun sang Arsitek Mana hanya mengangkat satu tangannya.
Dengan satu jentikan jari, sang Arsitek menggunakan teknik **"Molecular Mana Deconstruction"**.
Ilwa ingat betapa ngerinya melihat sihir penghancur miliknya mendadak berhenti di udara.
Mana yang menyusun sihir tersebut tidak meledak, melainkan "diurai" kembali menjadi partikel mentah yang tidak berbahaya. Sang Arsitek tidak menangkis sihirnya; ia mengubah struktur dasar sihir tersebut menjadi udara kosong.
Dan yang lebih mengerikan, pria itu kemudian menyentuh tanah di bawah kaki Albus, mengubah struktur mineral tanah tersebut menjadi ribuan jarum mana yang mencoba menembus pertahanan mutlaknya dari dalam sirkuit sihirnya sendiri.
"Saat itu... aku tidak punya pilihan selain mundur," gumam Ilwa sambil mengepalkan tangannya di atas seprai.
"Seorang *Mana Architect* tidak bertarung dengan kekuatan kasar. Mereka bertarung dengan mengubah hukum dunia itu sendiri. Melawan mereka seperti mencoba memukul air dengan pedang; setiap seranganmu hanya akan diubah menjadi sesuatu yang menguntungkan mereka."
Bagi Albus yang dulu, menghindari seorang Arsitek Mana adalah keputusan taktis yang paling bijaksana.
Kekuatan mereka terlalu tidak terduga, terlalu melampaui logika ksatria dan penyihir konvensional.
Mereka adalah seniman yang melukis ulang dunia menggunakan tinta mana.
Namun kini, takdir sedang mempermainkannya dengan cara yang paling ironis.
aga mungil yang ia tempati sekarang, Ilwa Eldersheath, telah divonis melalui upacara kemarin sebagai pemegang *Jobdesk* yang dulu sangat ia hindari.
Dan bukan hanya itu, ia memiliki tiga *Jobdesk* lainnya yang melengkapi kekuatan sang Arsitek.
"Dulu aku melarikan diri dari kekuatan ini karena aku tidak memahaminya," Ilwa membuka matanya, kilatan abu-abu di pupilnya kini tampak lebih tajam dan dalam. "Tapi sekarang, kekuatan ini mengalir di dalam sumsum tulangku."
Ia merentangkan tangan kanannya ke udara, mencoba merasakan aliran mana yang kini mulai stabil di dalam sirkuitnya.
Jika ia mampu menguasai *Mana Architect*, maka hal tersebut sangatlah menguntungkan untuknya.
"Paman Marc, klan Eldersheath, bahkan organisasi Nightshade sekalipun..." Ilwa menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang tampak sangat mengerikan pada wajah seorang anak kecil.
-----
Ilwa masih berbaring di atas kasur empuknya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar bagaikan pusaran air. Istilah *Mana Architect* atau Arsitek Mana
terus bergema di dalam kepalanya. Sebuah kilatan harapan sempat melintas; jika ia adalah seorang Arsitek Mana, bukankah ia bisa "menyusun ulang" struktur molekuler di dalam tubuhnya sendiri? Bukankah ia bisa membongkar simpul-simpul *Aura-Lock* yang mengikat sirkuit mananya seolah-olah itu hanyalah rangkaian benang yang kusut?
Namun, sedetik kemudian, Ilwa menghela napas panjang. Realitas menghantamnya dengan keras.
"Sial... aku hampir melupakan hukum dasarnya," gumam Ilwa sambil menatap telapak tangannya.
Menjadi seorang Arsitek Mana bukan hanya soal kecerdasan atau teknik.
Untuk memanipulasi struktur fundamental materi—untuk membongkar dan menyusun kembali molekul—dibutuhkan dua hal yang saat ini masih menjadi kelemahannya: pasokan mana yang nyaris tak terbatas dan kekuatan jiwa yang luar biasa kokoh.
Memanipulasi realitas pada tingkat atomik membutuhkan konsentrasi yang bisa menghancurkan kewarasan orang biasa. Tanpa jiwa yang sekeras baja, sang Arsitek justru akan hancur oleh beban informasi dari struktur yang ia coba manipulasi.
"Wadahku saat ini masih terlalu kecil," bisiknya getir.
"Jiwa Albus memang ada di sini, tapi tubuh bocah delapan tahun ini belum siap menjadi tungku pembakaran energi sebesar itu. Untuk saat ini, *Mana Architect* hanyalah permata di dalam kotak yang terkunci rapat. Aku harus membiarkannya dulu."
Baru saja ia ingin menutup mata untuk mengistirahatkan pikirannya yang lelah, suara ketukan pintu yang lembut namun tegas memecah keheningan.
*Tok! Tok! Tok!*
"Tuan Muda Ilwa? Apakah Anda sudah bangun?"
Ilwa segera memperbaiki posisi duduknya. "Masuklah, Martha."
Pintu terbuka, dan Martha melangkah masuk dengan senyum hangat yang menenangkan. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan pakaian formal yang tampak sangat rapi—setelan jas kecil berwarna putih dengan bordir emas klan Eldersheath di bagian kerah.
"Ada apa, Martha? Kenapa kau membawakanku pakaian itu?" tanya Ilwa, alisnya bertaut penuh kecurigaan.
Martha meletakkan nampan di atas meja samping tempat tidur dan menatap Ilwa dengan lembut. "Tuan Muda, apakah Anda lupa? Hari ini adalah hari ibadah klan. Kita harus pergi ke Gereja Agung di pusat kota untuk memberikan penghormatan."
Ilwa mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Hari ibadah? Hari ini?"
"Tentu saja, Tuan Muda. Anda tidak lupa, bukan? Kita harus berdoa kepada Dewa perang untuk memohon berkah bagi kesehatan Anda," ucap Martha dengan nada yang tulus, seolah doa adalah satu-satunya obat yang tersisa di dunia ini.
"Dulu, saat Anda masih berusia satu atau dua tahun, saya selalu menggendong Anda ke sana. Anda dulu sangat tenang saat mendengar nyanyian himne gereja."
Ilwa terdiam. Memori samar muncul di benaknya; ingatan tentang aroma kemenyan yang menyengat, suara lonceng yang berdenting nyaring, dan seorang wanita tua yang menggendongnya sambil berlutut di depan patung batu yang dingin. Saat itu, ia masih terlalu kecil untuk memprotes, namun sekarang...
Jika ia menolak, Martha yang sangat taat pasti akan merasa heran.
Pelayan setia itu mungkin akan mulai mempertanyakan keimanannya atau, lebih buruk lagi, menganggap Ilwa sedang dalam pengaruh roh jahat.
"Ah... benar. Aku hanya sedikit pusing tadi, jadi aku agak lupa," jawab Ilwa, memaksakan sebuah senyum kecil yang tampak kaku. "Jadi, kita harus berangkat sekarang?"
Martha tampak lega, wajahnya berseri-seri. "Iya, Tuan Muda. Kereta kuda sudah disiapkan. Silakan bersiap-siap dulu. Saya akan menunggu di bawah untuk memastikan semua persembahan sudah siap."
Setelah Martha membungkuk dan meninggalkan ruangan, Ilwa kembali menjatuhkan bahunya. Ia menatap jas putih di atas meja dengan pandangan penuh rasa muak.
"Beribadah pada dewa?" Ilwa mendengus dingin, suaranya sarat akan sinisme. "Sejak kehidupan pertamaku sebagai Albus, aku tidak pernah percaya pada entitas yang bersembunyi di balik awan itu. Bagiku, dewa hanyalah dongeng yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membenarkan ketidakberdayaan mereka."
Ia teringat betapa banyak ksatria yang mati di medan perang sambil meneriakkan nama dewa, namun tak satu pun dari mereka yang selamat.
Baginya, satu-satunya 'dewa' di dunia ini adalah kekuatan murni yang ada di tangan sendiri.
Berlutut di depan patung batu terasa seperti penghinaan bagi harga dirinya.
Ia melangkah menuju cermin, menatap pantulan dirinya yang mengenakan pakaian suci tersebut. Wajahnya yang pucat dan mata abu-abunya yang tajam tampak sangat kontras dengan putihnya kain yang ia kenakan.
"Mari kita lihat, apakah gereja itu masih membosankan seperti ribuan tahun yang lalu," gumamnya sambil merapikan kerah jasnya.
Dengan langkah yang berat dan hati yang penuh dengan skeptisisme, Ilwa berjalan keluar kamar. Ia harus bersiap menghadapi ritual yang menurutnya sia-sia, sementara di dalam kepalanya.
Bersambung....