NovelToon NovelToon
Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.

Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.

Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Guntur baru saja menyandarkan punggungnya, mencoba mengurai sesak di dada pasca-percakapan telepon dengan Bundanya. Namun, keheningan ruangan itu mendadak pecah oleh suara langkah sepatu hak tinggi yang berirama cepat di koridor.

Pintu ruangan terbuka. Guntur tersentak berdiri.

Afisa berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu. Di belakangnya, tampak seorang wanita modis dengan kacamata yang bertengger di kepala—Citra, sahabat sekaligus partner kerja Afisa sejak masa kuliah mereka di UI.

"Ketinggalan di mana, Fis? Map marun atau yang hitam?" tanya Citra sambil menyapu pandangan ke sekeliling meja, seolah tak memedulikan keberadaan Guntur.

"Yang marun, Cit. Flashdisk data sidang besok ada di situ. Aku ceroboh sekali membiarkannya tertinggal," jawab Afisa cepat, suaranya terdengar gusar pada diri sendiri.

Mata Afisa kemudian beralih pada Guntur yang masih mematung. "Maaf, Guntur. Saya harus mengambil berkas yang tertinggal di meja ini."

Guntur segera meraih map marun yang sejak tadi memang sudah ia rapikan di sudut meja. "Ini, Bu. Tadi saya sisihkan agar tidak tertumpuk dengan berkas staf lain."

Guntur menyerahkan map itu dengan tangan yang sedikit kaku. Saat jari mereka nyaris bersentuhan, Afisa dengan sigap menarik map itu, menciptakan jarak aman yang sangat kentara.

Citra, yang sedari tadi memperhatikan interaksi itu, melangkah maju. Ia menatap Guntur dengan dahi berkerut, mencoba mencocokkan wajah pria di depannya dengan cerita-cerita yang pernah ia dengar dari Afisa bertahun-tahun lalu.

"Oh... jadi ini 'staf baru' itu, Fis?" suara Citra terdengar menyelidik. Ia hanya pernah melihat sosok Guntur dari kejauhan atau melalui foto lama yang buram. Melihat aslinya sekarang—dalam balutan kemeja kantor yang sederhana dan raut wajah yang jauh dari kesan 'bintang'—membuat Citra menarik napas pendek.

Afisa mengangguk singkat sambil memeriksa isi map. "Iya. Guntur, perkenalkan, ini Citra. Partner saya di firma ini. Dia yang akan ikut meninjau hasil kerjamu sebelum kita naik ke persidangan."

Guntur menundukkan kepala sedikit, memberi hormat. "Selamat malam, Bu Citra. Mohon bimbingannya."

Citra tidak langsung menjawab. Ia melipat tangan di dada, matanya masih mengunci Guntur. Sebagai sahabat yang menemani masa-masa terpuruk Afisa saat kuliah dulu, ada rasa tidak suka yang sulit ia sembunyikan.

"Dunia memang sempit ya, Guntur?" sindir Citra halus. "Dulu saya cuma dengar ceritamu sebagai orang yang 'terlalu sibuk' untuk sekadar memberi kabar. Sekarang, malah kamu yang harus menunggu instruksi dari sahabat saya."

"Citra, cukup," potong Afisa tenang namun tegas. Ia tidak ingin suasana profesional ini berubah menjadi drama masa lalu.

"Aku cuma mengingatkan dia, Fis. Standar kita di sini tinggi," balas Citra santai, lalu kembali menatap Guntur. "Besok jam delapan tepat. Siapkan draf argumen hukumnya. Jangan ada salah ketik, Afisa benci ketidaktelitian."

"Siap, Bu. Akan saya pastikan semuanya sempurna," sahut Guntur mantap.

Afisa merapatkan mantelnya. "Ayo, Cit. Kasihan sopir taksi onlinenya menunggu di bawah. Ban mobilku biar diurus montir besok pagi saja."

Kedua wanita itu berbalik. Guntur memperhatikan punggung mereka yang menjauh. Ia sempat menangkap bisikan pelan Citra kepada Afisa sebelum mereka menghilang di balik lift.

"Kamu yakin dia orangnya, Fis? Mempekerjakan mantan itu risikonya besar."

Guntur tertegun. Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan rasa pahit yang familiar. Ia kembali duduk di kursinya, menatap layar laptop yang masih menyala. Di sana tertera nama Afisa Anjani, S.H.—pemilik otoritas yang kini memegang kendali atas masa depannya.

Guntur menarik napas panjang, jemarinya kembali menari di atas papan ketik. Ia harus membuktikan pada Citra, dan terutama pada Afisa, bahwa ia bukan lagi Guntur yang ceroboh dan dingin. Ia akan menjadi prajurit yang paling bisa diandalkan, meskipun ia tahu, hatinya tetap akan tertinggal di masa lalu.

Apartemen Afisa menyambutnya dengan sunyi yang dingin. Setelah menutup pintu rapat-rapat, ia melempar tas dan map marunnya ke atas meja makan tanpa minat untuk merapikannya. Dengan langkah lunglai, ia menuju kamar dan langsung merebahkan diri di atas kasur empuknya, bahkan tanpa sempat melepas mantel yang masih melekat.

Ponsel di dalam tasnya bergetar berulang kali, menimbulkan bunyi dengung yang teredam namun gigih. Afisa tahu itu pasti pesan atau telepon dari Bintang yang mencemaskannya karena mobilnya mogok tadi, atau mungkin koordinasi lanjutan dari Citra. Namun, ia mengabaikannya. Ia merasa seluruh energinya telah terkuras habis, bukan oleh tumpukan berkas di kantor, melainkan oleh pertemuan tak terduga dengan sosok dari masa lalunya.

"Guntur..." gumamnya pelan pada langit-langit kamar yang temaram.

Langit-langit itu seolah berubah menjadi layar lebar yang memutar kembali memori sembilan tahun lalu. Wajah Guntur yang dulu selalu bersinar di lapangan, senyumnya yang langka namun memabukkan, dan cara pria itu pergi meninggalkannya dalam kedinginan tanpa satu kata pun penjelasan.

Dulu, Afisa merasa dunianya berakhir. Ia menghabiskan malam-malam di kamar apartemennya saat kuliah di UI dengan air mata yang hampir mengering, berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun meruntuhkan harga dirinya lagi.

Ia memiringkan badannya, memeluk bantal dengan erat. Kehadiran Guntur di kantor tadi sebagai bawahannya adalah sebuah ironi yang menyesakkan. Ada kepuasan kecil di sudut hatinya melihat Guntur yang dulu sombong kini harus menunduk hormat padanya. Namun, ada pula bagian lain dari hatinya yang merasa perih. Ia melihat Guntur yang sekarang tampak jauh lebih dewasa, lebih tenang, tapi juga menyimpan gurat kesedihan yang dalam di matanya.

"Kenapa harus sekarang, Guntur? Kenapa di saat aku sudah membangun semuanya dengan rapi?" bisiknya lirih.

Ponselnya kembali bergetar. Satu notifikasi muncul di layar yang menyala di kegelapan: “Fis, sudah sampai apartemen? Kabari aku ya. Love you more istriku,🤍”

Afisa menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Bintang adalah pria yang sempurna—hangat, stabil, dan selalu ada. Ia tidak boleh goyah hanya karena kemunculan seorang hantu masa lalu yang kini menjadi staf di kantornya.

Ia menarik napas panjang, memaksakan diri untuk bangun dan menuju kamar mandi. Ia harus membasuh semua sisa "Guntur" dari pikirannya. Besok adalah hari besar, dan ia tidak boleh terlihat lemah di depan Citra, apalagi di depan pria yang pernah menghancurkan hatinya itu.

"Ini hanya profesionalitas, Afisa. Tidak lebih," tegasnya pada bayangan dirinya di cermin wastafel.

1
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
lama nya upp nua
byyyycaaaa: up siangan ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa sama bintang nikah sirih tor. yok tor bikin pesta nikahan Afisa semeriah mungkin bikin fita datang nikahan Afisa tor
byyyycaaaa
nanti ada saatnya,si Afisanya takut hamil,🌚
byyyycaaaa: updetnya besok lagi ya guys🙏🤗
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin hamil tor
byyyycaaaa
Guntur cocoknya sama authornya 🌚
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin jadian guntur sama citra ator
byyyycaaaa: ada fotonya afisa dan juga Bintang 🤭
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
trus bikin fita nyesal. dan citra nikah sama guntur dong biar guntur bahagia sama citra
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: no tor citra sama guntur
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
alhamdulilah udah pecah telorr dongg. bikin anak junior bintang🤣🤣🤣
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin Afisa pecah telor sama bintang Thor. eh Thor tentang fita gi mana tor
byyyycaaaa: nanti di ceritain sama Guntur ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kapan Afisa pergi nikahan kaila
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: ayo Thor bikin malam pertama Afisa sama bintang gk sabar. pengen liat nanti Afisa sukses muka fita gi mana yah hehe
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
nikah nikah nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!