para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Semua penderitaanku lengkaplah sudah, rasa malu, hancur, sudah menyatu hingga menyurutkan semangat hidupku. Aku sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi tapi tidak dengan dedi, mendapati orang yang merusak kesenangannya, dedi dengan cepat menyembunyikan tubuhku dalam kungkungannya.
Wajah dedi yang sedari awal sudah sangat mengerikan kini seolah siap untuk membunuh siapapun. dia memancarkan aura gelap lalu berteriak dengan keras dan berkata
"Pergi kau sialan, aku akan membunuhmu nanti" jeritnya keras dan kalimat itu sukses membuat orang itu berlari terbirit-birit.
Dedi terlihat sedikit lenggah hingga Kejadian itu ku jadiakan kesempatan untuk mendorongnya dan benar adanya dedi sedikit bergerak lalu bangkit begitu saja dari atas tubuhku.
Aku sadar Keadaanku masih sangat mengenaskan tapi aku tetap berlari menuju pintu keluar dengan terbirit-birit. Tidak kupedulikan kondisi rambutku yang jelas dalam benakku kini adalah kabur dan menjauh sejauh mungkin dari iblis yang bisa saja menggejar lalu membunuhku sekarang juga jika aku tidak segera bergerak dan pergi.
Aku sadar kini kakiku tak beralas lagi. Tapi aku terus berlari melewati kabinel-kabinel sekertaris yang lain bahkan tak dia khiraukan kala seseorang menabrak tubuhku hingga membuatku jatuh terduduk.
Dengan cepat aku lalu bangkit dan berlari menuju arah lift, aku berdiri dengan panik namun pintu lift tak kunjung terbuka. lift belum juga tiba dihadapanmu malah wajah yang kuhindari datang dan semakin mendekat.
Rasanya sangat lucu ketika pernikahanku dulu, aku ingat jika aku juga berlari seperti saat ini tetapi saat itu aku berlari untuk mencarinya namun kini malah sebaliknya.
Aku masih menekan tombol lift berkali - kali namun memang nasib baik tidak pernah berpihak padaku, sehingga dengan rasa takut dan panic berlebih, aku memilih berlari menuju tangga darurat yang letaknya tidak jauh dari lelaki iblis itu.
kakiku kupaksa menapaki setiap anak tangga tanpa alas untuk melewati satu persatu anak tangga hingga terdengar suara
''Tak... ''
''tak... ''
''tak... ''
''tak... '' Hanya suara itu terdengar sangat keras disaat hanya ada aku tempat itu, aku tetap memaksa melangkah menuruni begitu banyak anak tangga dari satu lantai hingga lantai lainnya.
Tidak terhitung sudah berapa pijakan dan sudah berapa lantai yang telah dia lalui namun aku tidak berhenti melangkah dan menyeret kakiku untuk turun, yang aku tahu jika aku harus meninggalkan kantor ini bagaimana pun caranya agar dia tidak bertemu lagi dengan ******** itu.
melangkah dan melangkah, aku telah melaluinya, tapi tetap saja dari belakangku terdengar suara lelaki itu. dia berkata
"dewi jangan gila berhenti dan kemarilah" ujarnya dengan suara keras hingga menggema di ruangan sepi.
Suara dedi terus terdengar menggintrupsi namun tak di hiraukan olehku, aku terus memasuk semangatnya untuk melangkah. Tubuhku sudah lelah, kakiku bahkan sudah terluka karena beberapa kali terjatuh, aku tidak bisa menggalihkan pikiranku dari pada lelaki itu.
ternyata memang benar permainan takdir itu lucu, saking lucunya semua serasa hingga menggelitik perut, ketika dulu aku dengan berani menantang sibajingan itu untuk menemuiku lalu menggakhiri kesialannya tapi menggapa saat orang yang kuacari-cari ada dihadapanku, aku malah berlari dan berharap tidak ada lagi pertemuaan diantara kami.
Pikiran itu terus membayanggi hingga aku telah berada dilantai dasar. nafasku mulai yang terengah - engah aku merasa teramat lelah tanpa sadar sudah menemukan pintu penghubung yang terakhir. cukup sulit ternyata membuka pintu terakhir itu karena tenagaku sudah terkuras habis.
Aku tidak menyerah begitu saja, aku terus mendorong dan mendorong tapi tak kunjung jua terbuka. Aku hampir menyerah namun dengan nafas terputus-putus aku memilih duduk berharap nanti dia memiliki kekuatan lain. belum lama aku terduduk ternyata pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Menydari itu, dengan spontan aku berdiri dan tak menghiraukan orang yang ada di balik pintu itu. langkah pelan dan layakknya orang mabuk aku tetap melangkah meninggalkan ruangan tangga darurat.
Terseok – seok kakiku diatas lantai marmer yang tadinya begitu indah namun kini sedikit menggerikan karena ada tetesan darah yang menggotorinya.
Banyak suara yang terdengar namun tetap kuacuhkan. aku tetap memaksakan diri untuk bergerak meninggalkan tempatku hingga kaki bergetar kuat, maka saat itu aku tidak lagi bisa menjaga keseimbangan tubuhku.
Aku sudah tidak bisa lagi menahan beban tubuhku hingga kembali terjatuh. air mataku terus menetes dan tangisan tak dapat kuhentikan rasanya sangat sakit kenyataan yang harus aku terima saat aku akan meninggalkan penderitaannya menggapa derita itu melengket lekat diwajahku.
Ada sebuah tangan yang memaksaku berdiri namun aku terus bertahan, hingga aku masih terduduk dan menunduk tidak lupa meneteskan air mata walau darah dikakiku ikut menggalir terus menerus.
aku merutuki hidupku yang penuh dengan kesialan, aku sadar bahwa banyak mata mengawasiku sehingga aku terlihat semakin menyedihkan saja. semua telah hilang, harga diri bahkan tidak hanya itu kesucianku pun hampir saja hilang oleh suaminya sendiri tapi aku tidak sudi hal itu terjadi.
sang pencipta seakan tidak pernah adil untuk hidupku, aku terlalu sibuk merutuki nasib hingga tidak menghiraukan nafas yang semakin sesak.aku terlalu lama menanggis hingga masih dengan posisi yang sama aku tidak menyadari jika mataku tiba-tiba tertutup dan dia tak sadarkan diri begitu saja.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??