Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang angker
Akibat begadang semalaman ngomongin soal silsilah keluarga Mafia Alexander, Selena dan Rora sukses bangun kesiangan. Alarm HP Selena yang bunyinya suara ledakan robot pun nggak mempan. Alhasil, mereka sampai di gerbang sekolah pas Pak Satpam baru saja menggembok pagar dengan rapat.
"Ini semua gara-gara lo, Ror! Katanya mau bangunin jam enam!" omel Selena sambil lari-lari kecil menuju lapangan upacara tempat guru piket sudah menunggu dengan penggaris kayu panjang.
"Gue udah bangunin lo ya! Tapi lo malah nendang gue sambil teriak 'Serang, Optimus Prime!', ya gue takutlah!" balas Rora nggak mau kalah.
Hukuman mereka pun nggak main-main. Pak Bambang, guru olahraga yang kumisnya setebal sapu ijuk, menunjuk ke arah ujung koridor paling belakang sekolah—sebuah bangunan tua yang catnya sudah mengelupas dan ditutupi tanaman rambat.
"Selena, Rora! Kalian ambil 20 bola basket di gudang lama. Semuanya harus dipompa dan dibawa ke lapangan basket dalam 15 menit. Cepat!"
Selena dan Rora berjalan gontai menuju koridor belakang yang makin lama makin gelap dan sepi. Begitu sampai di depan pintu kayu besar yang berderit, langkah Rora mendadak berhenti. Bulu kuduknya berdiri.
"Sel... gue nggak mau masuk," bisik Rora sambil mencengkeram seragam Selena.
"Kenapa sih? Cuma gudang doang, Ror. Paling cuma ada kecoa sama debu," ucap Selena sok berani, padahal hatinya juga agak dug-dug-ser.
Rora menggeleng cepat, wajahnya pucat. "Lo nggak tau gosipnya? Gudang ini tuh gudang angker, Sel! Katanya dulu ada siswi yang hobi main petak umpet terus kejebak di dalem dan nggak pernah keluar lagi. Tiap jam segini, sering kedengeran suara orang lagi drible bola tapi nggak ada orangnya!"
"Aduh, hari gini masih percaya hantu? Kita itu udah telat, Ror! Kalau nggak bawa bolanya, Pak Bambang bisa suruh kita lari keliling lapangan 50 kali!" Selena mencoba menarik gagang pintu.
KREEEEKKKK...
Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan suara gesekan kayu yang bikin ngilu. Di dalam sana gelap gulita, cuma ada cahaya tipis dari ventilasi yang berdebu. Aroma apek dan besi berkarat langsung menyeruak.
"Tuh kan, gelap banget! Gue tunggu di luar aja ya, gue jagain pintu! Sumpah gue nggak mau masuk!" Rora langsung melepas pegangannya dan mundur tiga langkah.
"Cemen lo! Ya udah, jagain pintunya! Kalau ada apa-apa teriak!" seru Selena.
Selena memberanikan diri melangkah masuk. Dia menyalakan senter HP-nya. Cahaya senter itu menyorot ke tumpukan matras tua, meja-meja patah, dan jaring gawang yang sudah sobek. Di pojok ruangan, dia melihat keranjang besar berisi bola basket.
Baru saja Selena mau melangkah ke arah keranjang itu...
BRAAAKKK!
Suara GKEYBORD alias pintu gudang yang tertutup keras dari luar membuat Selena melonjak kaget.
"RORA! JANGAN DI TUTUP!" teriak Selena panik. Dia lari ke pintu dan mencoba membukanya, tapi pintunya macet. "Ror! Buka! Nggak lucu tau!"
Tapi nggak ada jawaban dari Rora. Suasana jadi hening mencekam. Tiba-tiba, dari balik tumpukan matras di sudut paling gelap, terdengar suara langkah kaki yang berat.
DUG... DUG... DUG...
Bukan suara drible bola hantu, tapi suara sepatu bot yang menginjak lantai kayu. Selena mematung, jantungnya terasa mau copot. Saat dia mengarahkan senter HP-nya ke arah suara itu, sepasang mata tajam menyorot balik ke arahnya dari kegelapan.
"Ngapain lo di sini, Anak Kecil?"
Selena hampir saja melempar HP-nya. Itu bukan hantu. Itu suara yang sangat dia kenal. Suara berat yang bikin merinding sekaligus kesal.
"Zeus?!"
"IBLIS KULKAS! LO MAU BIKIN GUE MATI MUDA?!" teriak Selena histeris. Dia memegang dadanya yang masih berdegup kencang, menatap Zeus yang muncul dari balik tumpukan meja kursi tua dengan wajah tanpa dosa.
Zeus berjalan mendekat, cahaya senter HP Selena menyorot wajahnya yang makin mirip karakter manhwa kalau di tempat gelap begini. "Berisik. Ternyata lo penakut juga ya? Katanya bar-bar, tapi dikagetin dikit langsung kayak mau pingsan."
"Ya siapa yang nggak kaget?! Lo ngapain di gudang angker begini pagi-pagi? Mau setor nyawa sama hantu?" semprot Selena sambil berkacak pinggang, berusaha menutupi rasa gemetarnya.
Zeus hanya mengangkat bahu santai. Dia memegang sebuah bola basket yang tampak masih baru di tangannya. "Gue cuma nyari ketenangan. Di kelas terlalu banyak lalat yang cari muka."
Selena mendengus. "Lalat kata lo? Itu fans lo semua! Eh, tapi tunggu..." Selena teringat sesuatu dan langsung berlari ke arah pintu kayu besar itu. Dia menarik gagangnya sekuat tenaga.
TEK! TEK!
Pintunya nggak bergerak sama sekali. "Sial! Kekunci! Zeus, bantuin dong! Ini pintunya macet!"
Zeus berjalan santai ke arah pintu, dia menarik gagangnya dengan satu tangan yang kuat, tapi pintu itu tetap diam. "Pintu ini kena senggol temen lo yang penakut itu tadi. Pas dia lari, dia nggak sengaja banting pintu ini sampe kuncinya yang udah karatan itu nyangkut."
"Hah?! Rora nyenggol?! Terus kita kejebak di sini?" Selena mulai panik. Bayangan dia harus berduaan di gudang debu sama pangeran mafia selama berjam-jam bikin dia makin stres.
"Jangan lebay. Paling bentar lagi ada yang buka," ucap Zeus tenang. Dia malah duduk di atas tumpukan matras, menyandarkan punggungnya dengan santai seolah gudang itu adalah sofa di rumah mewahnya.
"Gimana nggak lebay! Kita itu lagi dihukum! Kalau Pak Bambang tau gue nggak balik-balik bawa bola, bisa mati gue!"
Tiba-tiba, dari balik pintu terdengar suara langkah kaki banyak orang dan suara cempreng yang sangat dikenal Selena.
"PAK GURU! CEPETAN PAK! TEMEN SAYA SELENA KEBAWA HANTU GUDANG! TADI PINTUNYA TIBA-TIBA NUTUP SENDIRI PAS SAYA LAGI JAGA!" teriak Rora histeris dari luar.
"Tenang, Rora! Mana ada hantu pagi-pagi begini. Pintunya cuma macet ini!" Suara berat Pak Bambang terdengar, disusul dengan bunyi kunci yang diputar paksa.
BRAAAKKK!
Pintu terbuka lebar. Cahaya matahari langsung masuk ke dalam gudang yang gelap. Rora langsung lari masuk dan memeluk Selena.
"Selena! Lo nggak apa-apa? Lo nggak diculik kuntilanak kan?!" tangis Rora dramatis.
"Gak diculik kuntilanak, Ror. Tapi hampir mati kena serangan jantung gara-gara si kulkas ini!" Selena menunjuk ke arah Zeus yang sedang berdiri perlahan sambil membersihkan debu di seragamnya.
Pak Bambang melongo melihat Zeus ada di sana. "Loh, Zeus? Kamu ngapain di gudang ini? Jam pelajaran saya kan belum mulai buat kelas kamu."
Zeus cuma menatap Pak Bambang dengan tatapan datarnya yang legendaris. "Nolongin siswi Bapak yang kejebak. Dia ceroboh, Pak."
Selena melotot. "Heh! Siapa yang ceroboh?! Lo yang tiba-tiba muncul kayak setan!"
"Sudah, sudah! Selena, Rora, bawa bolanya ke lapangan sekarang! Zeus, kamu kembali ke kelas!" perintah Pak Bambang.
Selena menyambar keranjang bola dengan dongkol. Sambil jalan melewati Zeus, dia sempat berbisik, "Awas lo ya, urusan kita belum selesai!"
Zeus hanya menyeringai tipis, sangat tipis. "Gue tunggu, Babu."
Rora yang melihat interaksi itu cuma bisa narik tangan Selena. "Sel, ayo cepetan! Gila ya, lo kejebak sama anak Alexander di tempat angker? Lo itu beneran punya nyawa sembilan!"
Saat jam olahraga...
Sinar matahari makin terik di lapangan basket, tapi suasana di sana jauh lebih panas gara-gara Selena. Selena, yang memang dasarnya lebih suka baca komik robot daripada lari-lari mengejar bola, memegang bola basket itu seperti memegang bom waktu.
"Aduh, berat banget sih ini bola! Mana ringnya tinggi banget lagi," gerutu Selena.
Rora yang sedang melakukan pemanasan di sampingnya memperingatkan, "Sel, fokus! Lo liat nggak di lapangan sebelah? Anak kelas 3 lagi gabung latihan. Ada anak-anak Thunder juga di sana."
Selena melirik. Benar saja, di sana ada Zeus yang lagi asyik minum air mineral di pinggir lapangan dengan gaya santai seolah dia pemilik stadion. Di tengah lapangan, Damon—si atlet tinju yang badannya kayak tembok beton—sedang asyik dribble bola dengan kekuatan penuh.
"Bodo amat! Gue mau cepet selesai!" seru Selena.
Selena mengambil ancang-ancang. Dia melempar bola basket itu dengan sekuat tenaga. Niatnya sih mau masuk ke ring kelasnya, tapi karena emang dasarnya "bar-bar" dan nggak punya teknik, bola itu melesat jauh ke arah samping... meluncur bebas menuju lapangan kelas 3.
DUAK!!
Bola itu menghantam telak bagian belakang kepala Damon sampai cowok besar itu terhuyung ke depan.
Suasana lapangan mendadak senyap. Saking senyapnya, suara kicauan burung pun kedengeran. Axel yang lagi main basket langsung berhenti, Nathan menoleh, dan Zeus... Zeus cuma menurunkan botol minumnya sambil mengangkat sebelah alis.
Damon berbalik perlahan. Wajahnya yang emang sudah garang, sekarang berubah jadi merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol. Dia menoleh ke arah asal bola, dan matanya langsung terkunci pada Selena yang masih mematung dengan tangan masih terangkat ke atas.
"SIAPA. YANG. LEMPAR?!" raung Damon, suaranya menggelegar sampai burung-burung di pohon beterbangan.
"Mampus gue..." bisik Selena pucat.
"KABUR, SEL! KABURRR!" teriak Rora panik.
Tanpa pikir panjang, Selena langsung balik badan dan lari secepat kilat. Damon yang emosinya sudah di ubun-ubun langsung mengejar. Bayangkan, atlet tinju berbadan gede mengejar cewek mungil di tengah lapangan.
"DAMON! MAAF! SUMPAH GUE NGGAK SENGAJA! RINGNYA YANG PINDAH TEMPAT!" teriak Selena sambil lari zig-zag menghindari kejaran Damon.
"SINI LO! BERANI-BERANINYA NYARI MASALAH SAMA GUE!" teriak Damon makin emosi.
Selena terus lari memutari lapangan. "MAAF DAMON! AMPUN! GUE GANTI PAKE SIOMAY DEH BESOK!"
Di pinggir lapangan, Zeus tetap duduk santai. Dia bukannya menolong Selena atau menenangkan Damon, malah asyik menonton aksi kejar-kejaran itu sambil memutar-mutar botol minumnya.
"Lumayan, hiburan pagi," gumam Zeus pelan, hampir tersenyum melihat Selena yang lari pontang-panting kayak dikejar zombie.
"Woy, zeus! Itu babu lo mau mati dimakan Damon, nggak lo bantuin?" tanya Axel sambil tertawa.
Zeus melirik Selena yang sudah mulai kehabisan napas. "Biarin aja. Biar kakinya kuat, besok-besok biar nggak telat lagi kalau gue suruh."
Selena yang lewat di depan Zeus langsung berteriak, "ZEUS! TOLONGIN GUE, WOY! INI TEMEN LO MAU BUNUH GUE!"
Zeus cuma mengangkat botol minumnya ke arah Selena. "Lari yang bener, Sel. Damon udah makin deket tuh."
"DASAR KULKAS JAHAT!" jerit Selena sambil terus lari menghindari terkaman Damon yang tinggal satu meter di belakangnya.
Bersambung...