NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian aneh dimalam hari

Nomor itu begitu asing bagi Indira, bahkan mereka sama sekali tidak pernah catingan sebelumnya dan entah itu nomor siapa yang tengah mengirimkan sebuah pesan kepada Indira. Dari gaya bicaranya, Indira dapat mengetahui bahwa orang itu sudah kenal dengannya, dan rasanya mereka sangat akrab namun entah siapa.

*Sudah berangkat belom Dira? Kamu jadi berangkat kemari kan? Atau ada kendala diperjalanan?*

*Ini siap siap mau berangkat, sebentar lagi aku berangkat kok,* Balas Indira.

*Oke, segera datang. Sudah banyak yang nunggu,*

*Iya aku otw.*

*Segera ya, soalnya sudah banyak anak anak yang datang juga. Semuanya lagi nungguin kamu,*

*Siap.*

*Kuncinya jangan lupa dibawa juga,*

*Oke.*

Indira tidak peduli lagi siapa yang tengah mengiriminya pesan itu, dan dia langsung memasukkan ponselnya kedalam tas yang ia bawa. Setelahnya dirinya pun melesat jauh dari tempat tinggalnya menuju ke suatu tempat, dan detik berikutnya bayangannya telah hilang ditelan bangunan.

******

Indira terlihat sangat lelah saat ini, begitu banyak hal yang harus dirinya kerjakan sendiri karena ia tidak percaya dengan orang lain atas tugasnya itu. Indira pulang ke tempat tinggalnya dengan penuh kelelahan. Dirinya pun langsung masuk kedalam rumah, dan berganti pakaian serta membersihkan wajahnya.

"Untung ada Meng dan Mo," Ucap Indira sambil melihat kearah kucing itu yang tengah menjilati bulu bulu tangannya.

Mendengar kedatangan dari Indira, kedua kucing itu langsung berlarian untuk mendekat namun keduanya sama sekali tidak mau disentuh oleh Indira. Indira pun langsung duduk disebelah keduanya dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh keduanya, ia melihat kearah wadah makanan kucingnya dan ternyata itu sudah kosong.

"Dih tadi pura pura sok nggak mau, ditinggal aja langsung kosong wadahnya. Lapar apa lapar kalian hemm? Sudah jangan pura pura didepan ku, kalo lapar ya tinggal minta aja nanti aku kasih kok,"

Karena Indira yang terlalu bersemangat atas adanya kucing baru dirumahnya, dirinya pun kembali menuangkan makanan kucing ke wadah tersebut untuk mengisinya kembali agar terlihat penuh. Melihat makanan itu dituang oleh Indira hal itu langsung membuat keduanya bersemangat untuk mendekat kearah Indira, Indira sendiri langsung terkekeh geli melihatnya.

"Giliran ada makanan aja langsung mendekat, kalo nggak ada makanan dipegang aja nggak mau."

Mengg...

Mengg...

Rasanya mereka sudah tidak sabar untuk diberi makanan, bahkan sudah dipastikan mereka akan makan namun mereka masih saja berteriak teriak minta makan. Hal itu langsung membuat Indira merasa panik karena rasanya seperti ia harus bergerak cepat, padahal meskipun santai pun tidak akan berpengaruh apapun.

"Sabarlah, makan makan habis ini, kalo begini nanti yang ada makanannya tumpah semua," Guman Indira.

Ia lalu menuangkan makanan itu pada wadah yang telah ia siapkan untuk makanan mereka, dan mereka pun langsung memakannya tanpa membutuhkan waktu yang lama akhirnya makanan itu habis. Setelah merasa kenyang, mereka pun akhirnya tertidur dengan pulas, sementara Indira langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang merasa lelah.

Tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya pun terlelap juga dalam tidurnya yang nyenyak, semenjak dirinya tinggal sendirian ditempat itu rasanya tidak ada yang menganggu tidurnya sama sekali. Sehingga ia bisa merasa nyaman berada disana tanpa harus mendengarkan ucapan ucapan yang menyakitkan, mungkin ini kehidupan yang dirinya inginkan selama ini.

Tepat pukul 12 malam Indira terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara kedua kucingnya yang tengah menggeram seakan akan tengah bertemu dengan sesuatu yang sangat menakutkan. Indira berpikir bahwa ada kucing lain yang telah masuk kedalam rumah itu, sehingga kedua kucingnya tengah menggeram seakan akan tengah bertarung saat ini.

"Meng," Ucap Indira memanggil kucingnya itu, namun kucing tersebut masih menggeram.

Indira sendiri takut ketika mendengar suara kucingnya seperti itu, apalagi sosok kucing mampu melihat alam yang tak kasat mata dan mereka paling peka soal alam gaib daripada manusia. Entah mengapa dirinya merasa merinding sendiri didalam rumah, apalagi tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai pertolongan sekarang.

*Ran, apa kucingmu tiap malam selalu menggeram seperti ini?* Indira lalu mengirim pesan kepada Rania untuk menanyakan soal kucingnya itu.

Sama sekali tidak ada balasan dari wanita itu, mungkin saja dirinya sudah terlelap dalam tidurnya sehingga tidak tau bahwa ada pesan masuk kedalam ponselnya. Indira sendiri pun tidak bisa berbuat apa apa, apalagi suara kucingnya itu nampak begitu sangat menakutkan baginya dan ditambah lagi suasana tengah malam kini ia berada.

Indira mengumpulkan keberaniannya untuk melihat apa yang terjadi diluar kamarnya itu, kucing kucingnya itu ia taruh didapur rumah tersebut sehingga suaranya terasa sangat jelas bagi Indira. Apalagi ditambah dengan suasana malam, sehingga suara kecil saja sudah mampu terdengar dengan sangat jelasnya.

Indira lalu keluar dari kamarnya menuju ke dapur setelah meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja, Indira berjalan secara mengendap endap sambil terus memanjatkan doa doa karena sangking takutnya dirinya. Bulu kuduknya seakan akan tengah berdiri seraya memberi isyarat bahwa disana banyak mahluk halus yang tengah berkumpul, yang Indira takutkan hanyalah ketika mereka menampakkan wujud aslinya.

"Meng," Panggil Indira lirih.

Meong...

Tiba tiba Mo muncul didekat Indira dan langsung membuat Indira sontak sangat terkejut hingga jantungnya berdetak sangat keras. Setelah memastikan bahwa itu bukanlah hal yang menakutkan untuk dilihat, Indira lalu mencoba untuk menghela nafasnya agar detak jantungnya bisa kembali normal seperti awal.

"Kamu nakutin aja, Mo."

Meong...

"Mana Meng?"

Meong...

Indira kembali mendengar suara erangan dari Meng, dirinya pun langsung bergegas untuk melihat apa yang tengah terjadi saat ini, dan didapur itu ia melihat hanya ada kekosongan yang ada. Indira tidak melihat adanya Meng ditempat itu, namun ia masih mendengar suaranya yang mengaung didalam ruangan itu.

"Meng... Kamu dimana?"

Indira lalu menyalakan lampu senter ponselnya untuk melihat tempat gelap demi mencari kucingnya itu, namun ia tak kunjung mendapati dimana keberadaan dari kucing miliknya tersebut. Ia hampir frustasi mencarinya namun tak kunjung ia temukan juga, entah dimana keberadaan dari kucing miliknya itu.

Ia melihat sebuah lubang kecil yang ada dibawah meja rias milik Budenya disana, ia pun mendekatkan telinganya kearah meja rias itu, nampak terdengar dengan jelas suara Meng berasal dari sana. Nampak lubang itu cukup kecil, namun masih muat jika kucing miliknya bisa masuk kedalamnya, dan entah kenapa kucing itu berada didalam sana sambil mengaung.

"Meng ada apa?" Tanya Indira yang sudah pasti dirinya tau bahwa Meng tidak akan menjawab pertanyaan itu.

Indira merasa ketakutan karena Meng terus saja mengeong seolah olah ada yang tengah menantangnya bertarung, namun Indira sama sekali tidak melihat adanya kucing lain ditempat itu ataupun hal hal yang menakutkan lainnya. Ia lalu mengarahkan senter ponselnya kearah Meng yang ada didalam lubang tersebut, nampak Meng tengah duduk bersimpuh didalam sambil mengeong ketakutan.

"Meng kenapa? Apa yang Meng lihat? Udah nggak papa, nggak ada apa apa kok," Ucap Indira seraya menenangkan kucing miliknya.

Aneh kenapa kucing itu tiba tiba seperti itu diwaktu tengah malam, padahal sebelumnya kucing itu tidak kenapa kenapa bahkan sama sekali tidak terluka sedikitpun. Ia pun mencoba untuk meraih kakinya agar ia bisa mengeluarkan kucing itu dari dalam lubang tersebut, namun kucing itu menolak uluran tangannya dengan cara berpindah tempat.

Hal yang dikira oleh Indira sebuah ruangan kecil, namun ruangan itu masih bisa dikatakan cukup lebar bagi seekor kucing seperti Meng. Sehingga Meng masih bisa bergerak dengan bebas didalam lubang tersebut, dan sama sekali tidak merasa engap didalamnya.

"Sudah malam Meng, tidak ada apa apa kok, kamu yang tenang ya. Jangan bikin aku juga ikut takut ya, udah Meng tenang dulu,"

Indira berusaha untuk menenangkan kucingnya itu agar ia sendiri bisa mengurangi rasa takutnya, meskipun itu hanya suara seekor kucing namun hal itu sudah mampu membuat Indira merinding ngeri. Andai saja didalam rumah itu dirinya tidak sendirian, mungkin dirinya tidak akan ketakutan seperti sekarang ini.

Indira pun menemani kucingnya hingga kucing itu merasa tenang atas kehadiran Indira, setelah dirasa bahwa kucing itu sudah tenang akhirnya Indira bisa istirahat juga. Indira lalu balik kedalam kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, dan sepersekian detik kemudian Indira akhirnya terlelap dalam tidurnya.

Rasanya baru saja dirinya terlelap namun alarm sudah berbunyi saat ini, Indira masih sangat mengantuk untuk memulai sebuah aktifitas, namun karena dirinya yang butuh uang membuatnya harus bangkit dengan terpaksa. Beberapa kali ia harus menguap karena rasa kantuknya, sehingga membuatnya merasa tidak nyaman apabila meninggalkan kasur dan bantal gulingnya itu.

******

Ketika ia telah sampai dipabrik tersebut, ia bertemu dengan Rania, Rania berangkat lebih awal daripada Indira. Indira pun langsung memarkirkan motornya didekat Rania seperti biasanya, dan parkiran itu tidak pernah berubah posisinya.

"Sorry ya Dir, pesan mu kemaren lupa belom aku bales, nih aja baru buka hp," Ucap Rania.

"Oh nggak papa kok, cuma tanya doang. Emang kucingmu biasanya begitu apa kalo malem? Aku jadi ngeri ngeri sendiri tau dirumah,"

"Biasanya nggak pernah begitu sih, kecuali kalo emang dia ngelihat sesuatu yang menyeramkan pasti begitu. Apakah kamu pernah merasa takut kayak gimana gitu dirumah itu? Biasanya mereka melihatnya jadi kayak tarung gitu,"

"Iya sih, belakangan ini aku juga ngerasa merinding gitu dirumah, jadi ngeri sendiri kalo ngebayangin itu."

"Udah nggak papa, siapa tau kan emang mereka ngelindungi dirimu jadi tarung sama mahluk gaib itu untukmu. Berdoa saja semoga tidak kejadian lagi,"

"Iya semoga saja."

Indira sendiri tidak bisa tenang jika kejadian seperti sebelumnya terulang kembali, entah sampai kapan dirinya akan betah tinggal ditempat itu sendirian apalagi tidak ada yang menemaninya. Rasanya ia ingin buru buru menikah agar memiliki teman dirumah, namun ia sendiri juga takut jika diajak menikah.

Begitu banyak hal yang pernah dirinya lihat didalam pernikahan orang lain, banyak sekali yang mengeluhkan soal perselingkuhan, materi, ataupun bahkan keegoisannya masing masing. Kebanyakan dari mereka juga nasibnya tidak baik baik saja, ada yang memiliki suami perhitungan, pelit, dan bahkan terkadang adanya kekerasan didalam sebuah rumah tangga.

Indira tidak bisa membayangkan nantinya kehidupannya akan seperti apa setelah menikah, ia hanya takut salah pilih pasangan sehingga akan membuat kehidupannya semakin hancur nantinya. Namun jika tidak menikah, ia akan tinggal sendirian dan tidak memiliki teman untuk bercerita didalam rumah.

Ibunya sudah memiliki kehidupannya sendiri dan jarang sekali bisa bertemu dengan Indira, apalagi ketika Ibunya berkunjung hanya beberapa jam saja datangnya namun membutuhkan waktu berminggu minggu untuk bisa datang. Seperti kata pepatah "suwe ora ketemu, ketemu pisan ora suwe" nah seperti itulah.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!