NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8. melakukan inseminasi

Dua minggu kemudian.

Bella terbangun dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Hari ini adalah hari inseminasinya.

Sudah dua minggu berlalu sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kantor Dokter Tina. Dokter itu sangat membantu, membimbingnya dengan sabar melalui setiap tahapan yang harus ia lalui.

Bella telah menjalani serangkaian pemeriksaan, dan hasilnya semua bersih. Ia dinyatakan mampu mengandung. Meski begitu, pihak klinik menekankan bahwa sperma beku tidak seefektif sperma alami, sehingga selalu ada kemungkinan prosedur tersebut tidak berhasil. Namun, Bella memilih untuk tetap berpikir positif.

Setelah mandi, ia duduk di meja dapur sambil menyantap semangkuk salad buah. Ia ingin memulai hari ini dengan sesuatu yang sehat.

Sejak kejadian sebelumnya, Bella belum berbicara lagi dengan ibunya. Namun ayahnya justru menunjukkan dukungan penuh terhadap keputusannya.

Ruby dan Anne sebenarnya ingin menemaninya, tetapi keduanya harus bekerja. Atasan mereka terlalu kaku untuk memberi izin mendadak.

Selesai makan, Bella meletakkan mangkuk ke wastafel dan membilasnya bersih. Janji temu dijadwalkan pukul sepuluh pagi. Saat ini jam menunjukkan pukul sembilan. Ia harus segera berangkat.

Bella mengambil tas yang sudah dipersiapkan serta kunci-kuncinya. Ketika menutup pintu depan apartemennya, perasaannya seolah sedang menutup satu bab dalam hidupnya. Hidupnya tidak akan pernah sama setelah hari ini.

Ia mengunci pintu dan memasukkan kunci ke dalam tas, lalu berjalan perlahan menuju lift.

“Selamat pagi, Nak,” sapa Ny. Merry saat Bella masuk ke dalam lift.

“Selamat pagi,” jawab Bella singkat.

Ny. Merry adalah wanita lanjut usia, berusia sekitar enam puluhan. Ia dikenal sebagai tukang gosip di gedung itu. Meski para penghuni jarang berinteraksi satu sama lain, Ny. Merry selalu berhasil mengetahui hampir semua hal.

Bahkan tentang putusnya hubungan Bella dengan Leon, ia mengetahuinya dari petugas keamanan, bukan dari Bella sendiri.

“Apakah kamu pernah mendengar tentang Alina? Yang tinggal di kamar 31D?” tanya wanita itu lagi.

Bella menggeleng pelan. Ia tidak pernah menyukai gosip dan sama sekali tidak tertarik menjadi bagian darinya. Dalam hati, ia berpikir keras mencari cara untuk menghentikan percakapan itu tanpa harus mendengar omelan panjang Ny. Merry setelahnya.

“Kasihan sekali. Sekarang dia tinggal bersama pacarnya. Semua kebutuhan ditanggung olehnya, sementara pria itu hanya duduk menonton televisi. Mereka bahkan belum menikah,” ucap Ny. Merry penuh semangat.

Beruntung, pintu lift terbuka di lantai tujuan Bella sebelum ia sempat terseret lebih jauh ke dalam gosip itu.

“Sampai jumpa, Nyonya Merry,” ucap Bella sambil melambaikan tangan.

Dulu, Bella sering menanggapi dan bahkan terlibat dalam gosip wanita itu, sampai akhirnya ia menyadari betapa munafiknya sikap Ny. Merry.

Lift berhenti di lantai dasar. Bella melangkah keluar dan berjalan menuju mobilnya. Ia meletakkan tas di jok belakang sebelum berpindah ke kursi pengemudi.

Senyum tak lepas dari wajahnya sepanjang perjalanan. Tidak sekali pun keningnya berkerut, bahkan saat seorang pengemudi lain menyalipnya secara kasar di jalan.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di klinik dan memarkir mobil di area parkir depan. Ia datang sekitar dua puluh menit lebih awal.

Dr. Tina telah menjelaskan sebelumnya bahwa Bella harus menunggu di ruang tunggu hingga namanya dipanggil. Setelah itu, prosedur inseminasi akan dilakukan.

Bella memasuki gedung klinik sambil menyapa beberapa perawat yang ditemuinya di sepanjang lorong. Ia mengenal sebagian besar dari mereka dan sudah cukup akrab dengan beberapa di antaranya karena sering bertemu selama dua minggu terakhir.

Ia berbelok dan melangkah masuk ke ruang tunggu.

“Bukankah ini Nona Ceroboh?”

Sebuah suara menyapanya tepat saat Bella masuk ke ruangan. Ia langsung mengenali suara itu.

Dari sekian banyak tempat, Bella sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.

Pria itu adalah lelaki dari klub malam, Rafael. Ia mengingat namanya dengan jelas, karena setelah pertemuan itu, Bella langsung mencoret nama itu dari daftar nama yang tak akan pernah ia berikan pada anaknya. Padahal sebelumnya, ia sempat menyukai nama itu sampai perilaku kasar pria tersebut menghancurkan kesan baiknya.

Lagipula, Bella bukan tipe peminum yang mudah lupa.

Senyumnya memudar saat ia melangkah mendekat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa bangku sebelah yang diduduki Rafael adalah satu-satunya yang masih kosong.

Dengan sedikit kesal, Bella memutar bola mata sebelum akhirnya duduk di sebelah pria itu.

“Kau lagi,” ucapnya singkat. Bella menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan sarafnya yang mendadak tegang.

Pagi itu Bella bertekad tidak membiarkan apa pun merusak suasana hatinya. Namun tekad itu runtuh seketika saat ia bertemu pria itu.

“Kau masih berutang empat ratus dolar padaku,” ujar Rafael mengejek.

“Dan aku sudah bilang akan mengembalikan uangmu!” bentak Bella.

Sebenarnya, Bella berharap ia tak perlu melihat pria itu lagi seumur hidupnya. Beberapa orang di ruang tunggu mulai melirik ke arah mereka.

Dengan cepat, Bella meraih sebuah majalah dari rak kecil di samping kursinya. Ia menutup setengah wajahnya, berpura-pura membaca.

“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Rafael santai.

Bella memilih mengabaikannya dan tetap berpura-pura tenggelam dalam majalah itu.

“Di mana pacarmu? Aku tidak melihat cincin di jarimu,” lanjutnya.

“Aku tidak punya pacar,” bentak Bella. Ia menurunkan majalah itu dan menatap Rafael tajam. “Dengar, Rafael. Aku akan sangat menghargainya kalau kau meninggalkanku sendirian.”

“Jadi kau masih ingat namaku,” katanya sambil menyeringai. “Aku memang tak terlupakan,” gumamnya pada diri sendiri.

Kesombongan pria itu membuat Bella mendengus kesal. Ia memutar bola mata dan memalingkan wajah.

“Jadi, kau akan melahirkan sendirian?” ejek Rafael.

“Bukan berarti aku harus punya pacar untuk memiliki bayi,” jawab Bella dingin.

“Secara teknis, iya,” sahut Rafael santai. “Jangan bilang kau percaya semua benih selalu membawa keuntungan.”

Bella mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak satu pun kursi kosong tersedia. Rafael benar-benar mulai menguji kesabarannya.

“Aku sangat menghormati wanita dan kemampuan mereka untuk punya anak sendiri,” lanjut Rafael, suaranya sarat ejekan. “Tapi jujur saja, ini menyedihkan. Semoga saja sperma siapa pun yang kau pilih bukan berasal dari pria ceroboh dan gila. Bayangkan jika menggabungkannya dengan genetika milikmu.”

Bella mengepalkan tangan. “Sebenarnya, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya tajam.

“Aku dan istriku akhirnya siap punya anak,” jawab Rafael santai. Ia menunjuk wanita berambut pirang yang duduk di sebelahnya. “Dengan seorang ayah dan seorang ibu.”

Bella melirik wanita itu sekilas. Sungguh wanita yang tidak beruntung.

“Apakah dia tahu kamu pria yang suka bermalam?” ejek Bella. Kali ini justru ia yang menyeringai.

“Isabella Harper,” panggil seorang perawat dengan suara lantang.

“Itu aku,” jawab Bella sambil bangkit dari duduknya dengan wajah berbinar. Setidaknya, ia akhirnya bisa terbebas dari percakapan yang membuatnya kesal.

“Dan Nyonya Harper,” lanjut perawat tersebut membaca nama berikutnya.

Rafael dan wanita berambut pirang di sampingnya ikut berdiri. Jika wanita itu benar-benar bernama Nyonya Harper, berarti Rafael dan Bella memiliki nama belakang yang sama.

“Silakan ikut saya,” kata perawat itu.

Perawat tersebut lebih dulu mengantar Rafael dan istrinya ke ruangan mereka, lalu membawa Bella ke kamar lain yang letaknya tepat di sebelah.

“Silakan duduk di tempat tidur sambil menunggu dokter,” ujar perawat itu sebelum pergi.

Bella mengangguk dan berjalan menuju ranjang, lalu duduk dengan tangan saling menggenggam.

Ia menunggu. Beberapa menit kemudian, seorang dokter paruh baya masuk ke dalam ruangan. Pria itu mengenakan jas lab putih dan kacamata baca, setumpuk berkas ada di tangannya.

“Anda pasti Nyonya Harper,” katanya sambil melihat dokumen.

“Nona Harper,” Bella segera mengoreksi.

Dokter itu membetulkan posisi kacamatanya, lalu kembali menatap kertas-kertas tersebut.

“Oh. Sepertinya ada sedikit kesalahan pada dokumen ini.” Ia mengangkat pandangannya. “Apakah Anda siap untuk inseminasi?”

Bella mengangguk mantap. Ia sudah sangat siap.

“Silakan berbaring di tempat tidur,” kata dokter itu.

Proses inseminasi berlangsung jauh lebih singkat dari yang Bella bayangkan.

Tiga puluh lima menit kemudian, ia melangkah keluar dari klinik dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Akhirnya, ia berhasil melewati semua ini setelah berminggu-minggu persiapan dan ketegangan. Masih ada sisa pembayaran yang harus ia lunasi, tetapi itu bukan masalah besar.

Sekitar sembilan bulan lagi, ia akan bisa menggendong bayinya dengan rambut pirang kusam dan mungkin mata berwarna hijau. Masa depan terasa begitu nyata di hadapannya.

Langkah pertama yang perlu Bella lakukan adalah pulang dan mandi sebelum pergi ke kafenya untuk membereskan beberapa urusan. Ia hampir tidak pernah datang ke sana selama tiga minggu terakhir.

Ia masuk ke dalam mobilnya di area parkir.

Dari sudut matanya, Bella melihat Rafael dan istrinya keluar dari gedung klinik.

“Kau masih berutang padaku!” teriak Rafael memanggilnya.

Bella membanting pintu mobil dengan kesal. Jika ia membawa empat ratus dolar di dompetnya, uang itu sudah lama ia kembalikan.

“Tarik napas dalam-dalam, Bella,” gumamnya menenangkan diri.

Stres tidak baik untuknya. Terlebih sekarang itu bisa menurunkan peluang kehamilannya.

Ia memutar kunci kontak dan segera meninggalkan tempat itu.

Setelah berjuang melewati kemacetan, Bella akhirnya tiba di rumah. Ia menjatuhkan tasnya di lorong dan langsung bergegas menuju kamar mandi.

Baru saja ia melepaskan pakaiannya untuk mandi, suara bel pintu rumah bergema di seluruh ruangan. Bella mengenakan jubah mandinya sebelum melangkah ke pintu depan.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Siapa pula yang datang ke rumahnya di jam seperti ini? Biasanya, siapa pun yang ingin menemuinya pada jam kerja akan langsung datang ke kafenya.

Dengan perasaan heran, Bella membuka pintu. Wajah ibunya muncul di hadapannya.

“Ibu?” tanyanya, terkejut.

Apa yang ibunya lakukan di sini? Setahunya, wanita itu masih belum mau berbicara dengannya.

“Mengapa kamu mengenakan jubah mandi?” tanya sang ibu tajam.

Bella berdiri kaku sambil menggenggam daun pintu erat, seolah menghalangi ibunya masuk.

“Aku hendak mandi,” jawabnya singkat.

Keheningan canggung menyelimuti mereka di ambang pintu.

“Bolehkah Ibu masuk?”

Bella perlahan melepaskan pegangannya.

Ibunya melangkah masuk sambil mengamati isi rumah dengan pandangan menyelidik.

“Ibu tadi ke kafe. Bernard bilang kamu tidak masuk kerja hari ini, jadi Ibu pikir kamu ada di sini,” ucapnya.

Wanita itu duduk di sofa ruang tamu Bella. Seperti biasa, ia mengenakan rok pensil hitam dan blazer rapi dengan kemeja putih di dalamnya. Penampilannya selalu terlihat seperti seorang pegawai kantor yang sedang bekerja, meskipun sebenarnya ia sudah lama tidak bekerja.

Bella memilih duduk di ujung sofa, menjaga jarak. Dalam benaknya, ia sudah bersiap menerima ceramah panjang atau mungkin upaya terakhir sang ibu untuk membujuknya membatalkan inseminasi. Sayangnya, semua itu sudah terlambat.

“Terakhir kali kita berbicara, pembicaraan kita berakhir buruk,” ucap ibunya membuka percakapan.

Kalimat yang sama. Kalimat yang selalu digunakan ketika wanita itu ingin memperbaiki keadaan tanpa benar-benar mengakui kesalahannya.

“Seharusnya Ibu berusaha lebih memahami kamu,” lanjutnya.

Bella terdiam sejenak. Ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap akan mendengar kata maaf menyusul di akhir kalimat itu. Namun, harapan itu kembali pupus. Seperti biasa, itulah batas terbaik yang bisa ibunya berikan.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Bella.

Sang ibu bergeser mendekat dan duduk di sampingnya. Ia tampak ragu sejenak sebelum merangkul Bella, menariknya ke dalam pelukan. Tangannya bergerak perlahan, menyelipkan helai rambut Bella dengan gerakan lembut.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu kesepian?”

Jadi ini intinya. Pilihannya selalu sama, mengiyakan atau terjebak dalam perdebatan panjang yang melelahkan.

“Ibu bisa mencarikan pria yang baik untukmu. Ibu punya beberapa teman yang anak-anaknya sedang mencari pasangan,” katanya lagi.

Bella menahan diri agar tidak tersenyum miris. Siapa pula yang ingin masa depannya ditentukan oleh daftar kenalan orang tuanya?

“Aku tidak kesepian, Bu,” jawab Bella. Setidaknya, tidak lagi.

“Tidak apa-apa,” kata ibunya tidak benar-benar mendengar. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun.”

Hari itu, Bella akhirnya tidak masuk kerja. Ia dan ibunya menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, dan obrolan aman yang tidak menyentuh inti persoalan.

Bella memilih menyimpan rahasianya sendiri. Ia tidak mengatakan bahwa ia telah menjalani inseminasi. Setidaknya, belum. Tidak sampai ia benar-benar yakin bahwa semuanya berhasil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!