Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh sakit
Dalam salah satu ruangan di dalam kediaman khusus anak-anak Kaisar, ada seorang gadis sedang duduk di lantai dingin dekat pembatas jendela, menatap halaman yang semakin sepi dengan lemah.
Sudah dua hari ia makan dengan sedikit, minum dan kadang tidur tidak teratur. Bibirnya terus mengunakan ingin bertemu ibu.
Pelayan-pelayan yang bergantian keluar masuk dari dalam kamar untuk melayaninya beberapa kali menyadari masih banyak sisa makanan yang tidak di habiskan Ruoling dan mereka dengan rasa enggan sekaligus segan serta iba dengan terpaksa memohon bahkan sedikit memaksanya memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi.
Tapi Ruoling menggeleng, menolak dan sering mengatakan, "aku ingin bertemu Ibu. Kalau Ibu tidak melihatku, aku tidak akan makan apapun."
Saat ini Ruoling sudah memutuskan untuk berhenti menuruti bujukan orang dewasa di sekitarnya. Terhitung sudah delapan bulan ia tidak bertemu ibu karna baik Permaisuri bahkan Kaisar mengatakan kalau ia menjadi anak yang baik maka dirinya akan diizinkan bertemu dengan ibu, tapi nyatanya sampai hari ini mereka tidak pernah melakukannya.
Sejak hari itu Ruoling belum pernah melihat ibu dengan harapan akan bertemu. Ia hanya anak yang baru berusia lima belas tahun, tetapi dunia memaksanya untuk tumbuh lebih cepat dari pada usianya.
Ruoling tahu yang di lakukannya salah bahkan merugikannya serta tidak dalam saat yang tepat karna kesehatan Kaisar kembali memburuk, hingga permaisuri yang sibuk menata ulang istana yang kacau semakin sibuk lagi.
Semua orang di sekitarnya pun tidak seperti dulu lagi, mereka berubah hingga membuat gadis muda itu tidak miliki tempat untuk menumpahkan keresahannya.
Baru satu hari kemudian, Ruoling benar-benar menghentikan makan dan minum hingga tubuhnya semakin lemah bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya.
Hal itu membuat semua pelayan atau pengawal di sekitarnya sili berganti memasuki kediamannya untuk setengah memaksanya makan dengan raut terlihat khawatir, tapi Ruoling terus menolak.
"Tuan–"
"Ibu, aku mau ibu!"
Ruoling menatap pintu yang tertutup oleh pelayan yang lagi-lagi menyerah membujuknya. Satu tangannya menyentuh perutnya yang terus berbunyi, pertanda sangat lapar, tapi ia menahannya.
"Aku harus kuat!" Kata Ruoling meyakinkan dirinya dengan mata berkaca-kaca. "Ibu... bagiamana keadaan ibu sekarang? Aku sangat merindukan ibu, tapi mereka malah membohongiku. Mereka tidak pernah mempertemukan kita."
Ruoling tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Kaisar, Permaisuri bahkan Putra mahkota yang terus saja menyemangatinya serta berjanji akan mempertemukan dirinya dengan ibu.
Hal itu sudah di rasakan Ruoling selama berbulan-bulan hingga dirinya muak dan mengunakan berbagai cara agar bisa bertemu ibu.
Sampai tiba-tiba saja suara pelayan yang meminta izin masuk terdengar membuat Ruoling terpaksa mengizinkannya. "Paduka mengizinkan anda bertemu dengan Selir Hua, Tuan Putri." Kata pelayan itu, membuat Ruoling menatapnya dengan binar bahagia yang tidak bisa di sembunyikan dari sorotnya.
"Benarkan?" Tanya Ruoling yang mulai cemas karna sering di bohongi. "Aku harap tidak ada syarat seperti sebelum-sebelumnya."
"Tuan Putri harus makan walau hanya sedikit sebelum menemui Selir Hua," ungkap Pelayan itu dengan senyum ramah yang terlihat sangat terpaksa. "Anda juga harus memakai pakaian cantik supaya Selir Hua tidak khawatir."
"Jadi... saat ini juga aku boleh ketemu ibu? Kalau begitu kau bawakan aku makanan serta pakaian yang paling cantik ke sini!" Perintahnya dengan semangat.