"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Benci Itu ...
Malam itu kondisi Ginah yang sempat membaik kembali kritis. Sastro menelpon Laras dan meminta sang anak untuk kembali ke Rumah Sakit.
"Emang ada apa Pak, aku baru aja sampe rumah," kata Laras tak mengerti.
"Ibumu mendadak kritis Nak. Cepat lah kemari sebelum terlambat," sahut Sastro dengan suara bergetar.
Laras pun menjerit tertahan. Suaranya terdengar oleh Azam dan Harsa yang saat itu masih berada di halaman rumah setelah mengantarnya tadi. Keduanya segera berbalik lalu menggedor pintu dengan keras.
"Buka pintunya Mbak. Kamu kenapa menjerit?. Kamu denger aku kan Mbak. Mbak Laras ...!" panggil Azam.
Pintu terbuka perlahan dan menampilkan wajah Laras yang kacau.
"Bapak nyuruh aku balik ke Rumah Sakit Zam. Ibuku kritis lagi," kata Laras sambil menangis.
Mendengar ucapan Laras membuat Azam dan Harsa terkejut. Beruntung mereka bisa menguasai keadaan. Tanpa membuang waktu mereka segera mengantar Laras ke Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Suasana di kamar rawat inap Ginah menjadi tegang setelah dokter menyatakan peluang hidup Ginah yang tinggal sedikit lagi.
Yudha, anak kedua Sastro dan Ginah nampak terpukul. Saking shocknya Yudha pun menangis di samping sang ibu. Istri Yudha yang bernama Yanti nampak mengamati dalam diam sambil menggendong anak mereka yang berusia empat tahun.
Wajah Yanti terlihat gelisah. Alih-alih mendekat dan menghibur sang suami, Yanti justru bergeser menjauh. Bukan karena tak peduli pada sakit sang mertua, tapi dia tak sanggup menatap wajah wanita yang telah menyakiti hatinya dulu.
Ya, Yanti adalah salah satu 'korban' mulut tajam Ginah. Kini dia berhasil pulih setelah tinggal jauh dari Ginah.
Yanti dan Yudha menjalin hubungan sejak mereka duduk di bangku SMA. Sayangnya Ginah tak merestui hubungan mereka karena pekerjaan orangtua Yanti yang cuma buruh pabrik.
Berbagai cara dilakukan Ginah untuk menjauhkan Yanti dari anak laki-lakinya itu termasuk mengintimidasinya dengan kalimat-kalimat yang menyakitkan. Dia berharap Yanti mundur dan meninggalkan Yudha.
Yanti memang akhirnya menyerah dan mundur, tapi justru Yudha yang tak rela. Pria itu bahkan nyaris mengakhiri hidup mengetahui Yanti meninggalkannya karena tak direstui sang ibu.
Melihat derita sang anak, Ginah pun mengalah lalu merestui pernikahan Yudha dan Yanti.
Karena tahu sang mertua tak benar-benar tulus menerima kehadirannya, Yanti mengajak Yudha tinggal terpisah dengan alasan ingin mandiri. Yudha pun setuju dan membeli rumah di luar desa yang cukup jauh dari rumah orangtuanya. Di sana lah dia dan Yanti membina rumah tangga yang sehat hingga lahir lah anak pertama mereka.
Meski telah memberinya seorang cucu perempuan, tapi sikap Ginah pada menantunya masih belum berubah. Bahkan Ginah menjadikan kehadiran sang cucu sebagai alasan untuk meminta Yudha berpoligami.
"Kamu itu anak laki-laki yang bakal mewarisi usaha bapakmu. Makanya kamu juga harus punya anak laki-laki Yud," kata Ginah kala itu.
"Anak laki-laki atau perempuan kan sama aja Bu. Punya anak laki-laki juga ga menjamin bakal bisa membawa keluarga ke taraf hidup yang lebih baik. Kita tau, di luar sana banyak perempuan yang bahkan bisa lebih hebat dari laki-laki," sahut Yudha ringan.
"Ga bisa. Pokoknya kamu harus punya anak laki-laki. Itu kan kesepakatan kita dulu," kata Ginah mengingatkan.
"Iya iya. Tapi tunggu Yanti pulih dulu ya Bu. Setelah itu kami bakal ikut program kehamilan supaya dapat anak laki-laki," sahut Yudha.
"Kalo nunggu dia pulih lama dong," kata Ginah.
"Paling dua tahun Bu. Karena itu waktu yang memungkinkan untuk Yanti hamil lagi. Saat itu rahimnya udah sehat, mentalnya juga siap. Kan ga gampang punya anak kecil sekaligus," sahut Yudha.
Ginah nampak berdecak kesal mendengar jawaban sang anak.
"Tapi biar ikut promil, kalo Allah ga berkenan ngasih kami anak laki-laki, ya kami kan ga bisa apa-apa Bu," kata Yudha kemudian.
"Kalo gitu lebih baik kamu nikah lagi Yud. Siapa tau sama yang lain bibitnya lebih bagus jadi kamu bisa cepet dapat anak laki-laki nanti," saran Ginah.
Belum sempat Yudha merespon ucapan sang ibu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam kamar. Yudha segera mengecek ke kamar dan terkejut melihat istrinya terduduk di lantai sambil meringis menahan sakit. Rupanya karena terkejut dengan ucapan sang mertua, Yanti pun terpeleset lalu jatuh saat keluar dari kamar mandi.
Yanti menatap Yudha dengan tatapan sedih. Dia tak menyangka, di saat rahimnya masih terluka usai melahirkan, dia masih harus mendengar ucapan tak mengenakkan dari Ginah.
"Kok ke kamar mandi ga bilang sama aku sih. Kamu gapapa kan Sayang?" tanya Yudha.
"Jadi kamu bakal ngikutin permintaan ibu Mas?" tanya Yanti.
"Kamu salah paham Sayang. Aku ... " ucapan Yudha terputus karena Yanti memotong cepat.
"Sekarang atau nanti sama aja. Kalo ujungnya bakal terluka karena kamu mendua, lebih baik kamu tinggalin aku sekarang Mas," kata Yanti.
Tentu saja Yudha terkejut mendengar ucapan sang istri.
Di sisi lain Ginah nampak tersenyum diam-diam. Alih-alih menengahi anak dan menantunya, Ginah justru meninggalkan mereka dalam kesalah pahaman yang menimbulkan pertengkaran. Beruntung Yudha berhasil meyakinkan Yanti bahwa dirinya tak pernah berniat mendua. Setelahnya wanita itu bisa tenang dan kembali fokus untuk memulihkan diri pasca melahirkan.
Lamunan Yanti pun buyar saat dia mendengar rintihan dari mulut Ginah. Dia menoleh dan mendapati sang mertua sedang menatap kearahnya.
Bukannya mendekat, Yanti malah melengos. Rupanya dia masih kesal dengan sikap dan ucapan Ginah dulu.
"Yan ... ti ...," panggil Ginah sambil mengulurkan tangannya.
Yudha menoleh kearah Yanti lalu memberi isyarat agar sang istri mau mendekat.
"Ga Mas. Aku di sini aja," kata Yanti.
"Jangan begitu dong Sayang. Apa kamu ga bisa lupain kemarahanmu itu sebentar?" tanya Yudha dengan suara tertahan.
"Aku ga marah, aku justru lagi menjaga perasaan ibumu Mas. Ibu pernah bilang, sampe kapan pun ga bakal nganggap aku dan anak kita bagian dari keluarganya. Beliau juga minta, apa pun yang terjadi, aku dan anakku ga boleh memperlihatkan diri di depannya. Daripada bikin penyakitnya tambah parah, lebih baik aku di sini aja. Aku janji ga bakal bikin ribut kok," sahut Yanti sambil memeluk anaknya dengan erat.
Jawaban Yanti membuat semua orang terkejut. Mereka tak menyangka Ginah tega menyakiti Yanti bahkan setelah wanita itu melahirkan cucu untuknya.
"Yanti ...," panggil Laras sambil melangkah mendekati Yanti.
Yanti menoleh dan menunggu apa yang akan Laras ucapkan.
"Aku tau sakit hatimu ga bakal hilang begitu aja. Tapi aku tau kamu orang yang baik, itu salah satu sebab kenapa Yudha jatuh cinta sama kamu dulu. Di sini aku mewakili ibuku untuk minta maaf atas semua kesalahan yang beliau lakukan sama kamu. Bisa kan kamu maafin ibu?" tanya Laras.
Yanti menghela nafas panjang sebelum menjawab.
"Aku udah maafin ibu kok Mbak," sahut Yanti cepat hingga membuat Laras tersenyum.
"Alhamdulillah. Jadi bisa kan kamu bawa anakmu mendekat?. Kalo kamu ga mau, biar aku aja yang gendong. Keliatannya ibu mau meluk anakmu sebentar. Mungkin ibu merasa ini bakal jadi kesempatan terakhirnya," kata Laras dengan suara tercekat.
Dalam hati Laras berharap Yanti mengerti dan mengijinkan Ginah untuk memeluk cucunya itu. Tapi alih-alih memberikan anaknya, Yanti justru mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.
"Maaf Mbak, kalo itu aku belum bisa. Selama ini ibu benci banget sama anakku. Aku ga percaya tiba-tiba ibu mau ngeliat dan memeluk anakku. Jujur aku takut beliau justru akan melukai anakku nanti," sahut Yanti sambil mendekap anaknya lebih erat.
"Tapi Yan ... " ucapan Laras terputus karena Yanti lebih dulu keluar dari ruangan.
Saat Laras dan Yudha ingin mengejar Yanti, Sastro segera bertindak.
"Ga usah ganggu Yanti. Hormati keputusannya karena dia cuma ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya. Dia punya alasan melakukan itu dan kita semua tau sebabnya," kata Sastro sambil melirik kearah istrinya yang terbaring di tempat tidur.
Laras dan Yudha mengangguk. Jika Laras kembali ke tempat semula, Yudha justru memilih menyusul istrinya.
Sementara itu Ginah terlihat kacau. Nampaknya dia menyesali tindakannya di masa lalu yang membuat Yanti berbalik membencinya.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya