NovelToon NovelToon
WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.

Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Meniti Tali Tipis

Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Kediaman Ardiansyah tampak lebih lengang dari biasanya, menciptakan atmosfer sunyi yang justru terasa mencekam bagi Alisha. Elena telah berangkat sejak pagi buta untuk agenda rutinnya, mengunjungi panti asuhan di pinggiran kota demi menjaga citra "Ibu Pertiwi" yang ia bangun di mata publik.

Clarissa tidak terlihat sejak semalam, sepertinya gadis itu sedang berpesta di luar bersama teman-temannya. Sementara itu, Julian dan Gathan sudah berada di kantor untuk rapat pemegang saham tahunan. Ini adalah jendela waktu paling sempurna yang pernah mereka miliki.

Alisha berdiri di depan pintu kamar utama yang megah. Di ujung jarinya, selembar lapisan tipis berisi sidik jari Elena yang telah diproses Aruna terpasang dengan rapi.

"Alisha, fokus. Aku sudah mematikan loop CCTV di koridor sayap kiri dan kamar Elena. Kamu punya waktu maksimal lima menit sebelum sistem melakukan reboot otomatis," suara Aruna terdengar jernih melalui earpiece transparan di telinga Alisha.

"Aku masuk," bisik Alisha.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia menempelkan jarinya ke pemindai biometrik di pintu ruang kerja pribadi Elena yang menyatu dengan kamar.

Pip

Lampu indikator berubah hijau. Pintu terbuka dengan desisan halus. Alisha segera melangkah masuk, aroma parfum mawar yang tajam milik Elena langsung menyambut indra penciumannya. Ruangan itu begitu rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang tidak menyembunyikan sesuatu.

"Laptop ada di dalam laci meja rias, di balik kompartemen rahasia," instruksi Aruna.

Alisha bergerak gesit. Ia menemukan laptop tipis berwarna perak itu dan segera memasangkan flashdisk khusus yang sudah disiapkan. Di sisi lain, di rumah jahit, jemari Aruna menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa.

"Proses penyalinan dimulai... 30 persen... 60 persen..." gumam Aruna.

Alisha berdiri mematung sembari terus melirik ke arah pintu. Setiap detak jarum jam di dinding terasa seperti dentuman godam di dadanya.

"Selesai! Cabut flashdisk-nya dan keluar sekarang juga!" perintah Aruna tegas.

Alisha menyambar benda kecil itu, memasukkannya ke dalam saku daster mewahnya, lalu bergegas keluar. Namun, rasa panik mulai mengaburkan kewaspadaannya. Saat ia baru saja menutup pintu kamar Elena dan berbelok di lorong menuju kamarnya, sebuah sosok tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Brak!

Alisha menabrak bahu seseorang dengan keras hingga ia terhuyung.

"Aww... jalan pakai mata, dong!" racau sebuah suara yang tidak asing.

Alisha membelalak. Itu Clarissa. Gadis itu tampak berantakan, riasannya luntur, rambutnya acak-acakan, dan aroma alkohol yang menyengat langsung tercium dari napasnya. Clarissa hampir jatuh jika tidak berpegangan pada dinding.

Di saat yang bersamaan, Alisha merasakan sakunya terasa ringan. Flashdisk itu terlempar ke atas karpet bulu di dekat kaki Clarissa. Jantung Alisha seolah berhenti berdetak. Jika Clarissa melihatnya, habislah semuanya.

"Maaf, Clarissa... aku tidak sengaja," ucap Alisha sembari berusaha menutupi benda kecil di lantai itu dengan ujung kakinya.

Clarissa hanya mengerang, matanya sayu dan kepalanya terkulai lemas.

"Aruna? Kamu... kenapa ada dua? Hahaha... kamu lucu sekali," racau Clarissa yang ternyata tengah mabuk berat. Ia bahkan tidak sadar ada benda asing yang jatuh di dekatnya.

Tiba-tiba, Mbak Sari muncul dari balik belokan lorong dengan wajah pucat. Melihat situasi itu, Sari langsung paham. Dengan gerakan yang sangat halus seolah sedang merapikan karpet, Sari membungkuk dan menyambar flashdisk itu dalam sekejap, menyembunyikannya di balik telapak tangannya.

"Nona Clarissa mabuk lagi? Mari, Nona Aruna, bantu saya memapahnya ke kamarnya sebelum Tuan Gathan pulang dan melihat ini," Sari memberi kode dengan kerlingan mata.

Alisha menarik napas lega yang luar biasa. Ia merangkul bahu Clarissa yang terkulai lemas dan membantunya masuk ke kamar gadis itu yang berada tak jauh dari sana. Setelah merebahkan Clarissa yang langsung jatuh tertidur sambil meracau, Alisha segera keluar dan menghampiri Sari di lorong.

Sari membuka telapak tangannya, memperlihatkan benda kecil berwarna hitam itu.

"Syukurlah... benda ini aman, Nona," bisik Sari dengan suara bergetar karena tegang.

Alisha menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, kakinya terasa seperti jeli.

"Terima kasih, Mbak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Mbak tidak datang tepat waktu."

"Sekarang masuk ke kamar, Nona. Biar saya yang urus pengiriman benda ini ke Nona Aruna. Jangan biarkan siapa pun melihat Anda gemetar seperti ini," Sari mengingatkan dengan nada keibuan.

Alisha mengangguk, ia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam kegelapan kamar, ia menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang. Mereka baru saja berhasil mencuri rahasia terbesar Elena, dan kini perang yang sesungguhnya akan segera dimulai.

***

Keesokan paginya, sebuah rencana cadangan harus segera disusun. Elena tiba-tiba memanggil Mbak Sari dan memberikan daftar belanja bulanan yang sangat panjang. Ini adalah rutinitas yang tidak bisa ditolak, dan Elena tipe orang yang akan memeriksa struk belanja hingga detail terkecil. Artinya, Sari tidak bisa menyelinap ke rumah jahit untuk mengantarkan flashdisk itu.

"Nona, saya tidak bisa pergi ke tempat Nona Aruna hari ini. Nyonya besar meminta saya ke supermarket pusat," bisik Sari dengan wajah cemas di dapur.

Alisha menelan ludah. Itu berarti tugas ini jatuh sepenuhnya ke tangannya. Ia harus menyerahkan flashdisk berisi rahasia Elena itu langsung kepada Aruna.

Dengan keberanian yang dikumpulkan, Alisha menghampiri Gathan yang sedang bersiap di ruang kerja rumahnya.

"Kak... bolehkah aku keluar sebentar hari ini? Aku... aku merasa sangat bosan dan sesak jika terus di rumah. Aku ingin melihat suasana kota, mungkin itu bisa memancing ingatanku," ucap Alisha dengan nada memohon yang dibuat sealami mungkin.

Gathan menghentikan aktivitasnya, menatap Alisha dengan kening berkerut.

"Keluar sendiri? Tidak, Na. Terlalu berbahaya. Luka di kepalamu baru saja pulih, dan aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi."

"Hanya sebentar, Kak. Aku janji tidak akan lama," bujuk Alisha lagi.

Gathan menghela napas panjang. Ia sebenarnya ingin menemani, namun tumpukan berkas di mejanya, dampak dari data Julian yang mulai ia selidiki secara internal membuatnya tak berkutik.

"Baiklah. Tapi kamu tidak boleh menyetir sendiri. Pak Maman akan mengantarmu. Dia akan menunggumu sampai urusanmu selesai."

Alisha mengangguk kaku.

"Terima kasih, Kak."

Kini, Alisha duduk di kursi belakang mobil mewah yang dikemudikan oleh Pak Maman, supir senior kepercayaan keluarga Ardiansyah. Pak Maman adalah tipe orang yang pendiam namun sangat jeli. Alisha meremas tas pink barunya, di mana di dalamnya tersimpan flashdisk yang terasa seperti bom waktu.

Sepanjang perjalanan, otak Alisha berputar hebat. Bagaimana caranya aku bisa masuk ke rumah jahit tanpa Pak Maman curiga? pikirnya panik. Jika Pak Maman melihat ada dua orang dengan wajah yang persis sama di dalam satu ruangan, maka permainan ini akan berakhir dalam hitungan detik.

Ia harus mencari alasan untuk memisahkan diri dari sang supir, atau setidaknya membuat Pak Maman menunggunya di tempat yang cukup jauh dari jangkauan pandangan ke arah toko. Alisha menatap spion tengah, menangkap sorot mata Pak Maman yang sesekali memperhatikannya. Tantangan ini baru saja dimulai, dan kali ini, Alisha tidak punya Mbak Sari sebagai pelindungnya.

1
Anisa Muliana
🔥🔥
Anisa Muliana
seru banget thor🔥🔥
Ai_Li: Terima kasih kak
Semoga betah bacanya yaa hehehe
total 1 replies
Rania Venus Aurora
Hallo..👋🏻
Ai_Li: Mohon saran dan kritikannya ya kak
Supaya bisa jadi lebih baik
total 3 replies
Anisa Muliana
domisili Jember kak..😊
Ai_Li: Masya Allah jauh ya
Salam dari Medan ya😇
total 1 replies
Ai_Li
Yukk komen para daerah asal kalian dimana 🤭🥰
Anisa Muliana
seruuuuu banget ceritanya thor😍
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊
Ai_Li: Oiya kak, terima kasih sarannya 🥰
total 3 replies
Ai_Li
Jangan lupa like yaa dan tinggalkan komentar
Ai_Li
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!