Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sepanjang perjalanan, Freya kembali melihat Steven memejamkan mata di kursi belakang. Wajah pria itu tampak tenang, namun garis tegang di rahangnya seolah tidak pernah benar-benar hilang.
Baru sehari bersamanya, Freya sudah mulai memahami banyak hal, bukan hanya tentang pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan besar yang dikelilingi ancaman, tetapi juga tentang masa lalu yang menekan dan luka yang belum sembuh sepenuhnya.
"Siapa sebenarnya yang ingin mencelakainya? Dan, tujuannya?" Pikiran Freya. "Apa benar pelakunya adalah ibu tirinya?"
Ia mengembuskan napas panjang, menatap keluar jendela, mencoba menenangkan diri. Namun sedetik kemudian, keningnya berkerut.
"Ini sepertinya bukan jalan menuju perusahaan," gumamnya pelan.
Tidak lama setelah itu, mobil berbelok. Freya langsung menegakkan tubuhnya, mata terbelalak saat bangunan tinggi yang begitu familiar muncul di hadapannya, gedung tempat ia dulu bekerja.
"Kenapa ke sini?" batinnya bergetar.
"Kita sudah sampai, Tuan," ujar Miko dari kursi depan.
Steven membuka mata, lalu turun setelah Miko membukakan pintu mobil. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melirik ke dalam, mendapati Freya masih terpaku di kursinya.
Ia mendengus kasar, lalu melangkah pergi tanpa menunggu. "Kau urus dia," ucapnya dingin.
Miko menunduk cepat. "B-baik, Tuan."
Sementara itu, Freya masih membeku di tempatnya, dada berdebar keras, seolah masa lalunya baru saja menyergapnya tanpa aba-aba.
"Astaga, anak ini!" Miko berdecak kesal. Ia buru-buru membuka pintu mobil dan menarik Freya keluar. "Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa malah melamun? Lihat! Tuan sampai marah karena kau tidak sigap!"
"A-aku..." Freya terbata, tidak sempat mencari alasan.
"Sudah, sudah. Ayo, kita susul Tuan," potong Miko tegas.
"Ta-tapi—"
Miko langsung menarik Freya, tanpa memberinya kesempatan berbicara.
Begitu memasuki lobby gedung, Freya refleks menundukkan kepala, tangannya menutupi sebagian wajahnya. Langkahnya menjadi kaku, jantungnya berdegup semakin cepat.
"Gawat! Bagaimana kalau ada yang mengenaliku?" batinnya panik.
Miko terus berbicara sambil berjalan cepat. "Kau harus ingat, Boy. Kau ini bodyguard pribadi Tuan Steven. Kau harus selalu sigap, selalu berada di sisinya. Jangan sampai ceroboh seperti—"
"T-Tuan Miko!" Freya memotong dengan suara gugup, "Aku... aku ke toilet sebentar, oke?" Freya langsung berbalik, mengambil langkah seribu tanpa memperdulikan Miko yang memanggilnya.
"H-hei, Boy! Aish... dasar anak itu!" gumam Miko kesal, melihat Freya menghilang begitu saja.
Di sisi lain, Freya berjalan cepat sambil terus menunduk. Pandangannya waspada, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada satu pun wajah familiar yang mengenalinya.
"Tenang! Tenang! Jangan panik!" batinnya. Namun, karena terlalu fokus menghindari orang, ia tidak memperhatikan arah di depannya dan—
BRAK!
"Akh!"
Freya menabrak seseorang sampai tersungkur di lantai.
"M-maaf! Aku tidak sengaja. Aku—"
"Kau ini bagaimana, sih? Kalau jalan itu pakai mata! Kau tidak—" Wanita itu mendongak. Tatapannya membeku.
"Kau... "
Freya ikut tertegun. Darahnya serasa berhenti mengalir saat bertemu dengan sahabatnya, Risa.
"Kau ini—"
"Ma-maaf, Nona! Aku tidak sengaja!" Freya memotong panik. Ia buru-buru berbalik, hendak pergi. Namun, Risa langsung meraih lengannya.
"Tunggu!"
Langkah Freya terhenti. Tubuhnya kaku seketika.
"Apa begitu sikap seorang pria saat melihat wanita jatuh, hah? Ini semua salahmu, dan kau malah pergi tanpa membantuku berdiri?"
Freya melongo. Perlahan ia berbalik, menunjuk dirinya sendiri. "A-aku?"
"Kalau bukan kau, siapa lagi?" dengus Risa. "Dasar menyebalkan."
"Aku tidak salah dengar, kan? Dia mengira aku pria?" batin Freya.
"Kenapa kau masih diam? Cepat bantu aku!" bentak Risa.
"I-iya!" Freya mengulurkan tangannya, membantu Risa berdiri.
"Aku benar-benar minta maaf, Nona. Aku tidak sengaja," ucapnya menunduk sopan, menirukan suara berat pria.
"Lihat ini!" Risa menunjuk bajunya yang kotor. "Kau harus tanggung jawab!"
"T-tanggung jawab?" ulang Freya gugup.
"Ya. Kau harus—"
"Nona!" Freya menyela hati-hati, "A-apa... kau tidak mengenaliku?"
Risa menatapnya aneh. "Apa itu penting?"
Freya hampir lemas karena lega. "Syukurlah, dia tidak mengenaliku," batinnya.
"Kenapa melamun lagi?" sentak Risa.
"O-oh, itu... maaf. Aku baru mulai bekerja sebagai bodyguard Tuan Steven, jadi masih agak gugup."
"Oh?" alis Risa terangkat, menatapnya dari atas sampai bawah. "Jadi kau bodyguard-nya?"
"I-iya," jawab Freya.
"Siapa namamu?"
Freya menelan ludahnya. "B-Boy."
"Boy... " Risa mengangguk kecil. "Baiklah, akan aku ingat." Ia lalu merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah kartu nama.
"Hubungi aku kalau nanti kau sudah punya uang untuk mengganti bajuku yang kotor."
Freya menerima kartu itu dengan tangan gemetar. "I-iya, Nona."
Risa berbalik, mengibaskan rambutnya perlahan lalu pergi, meninggalkan Freya yang menghela nafas lega.
"Aku selamat," gumamnya.
...****************...
Setelah pertemuannya dengan Risa, kini langkah Freya jauh lebih mantap. Ia tidak lagi menunduk, atau menutupi wajahnya saat berpapasan dengan staff perusahaan. Bahkan, ia sempat melempar senyuman dan anggukan sopan untuk menyapa mereka.
"Hah... senangnya," gumam Freya lega.
Ia berhenti di depan sebuah pintu yang sangat dikenalnya, ruangan mantan bosnya. Tanpa ragu, ia mengetuk singkat lalu masuk.
"Permisi, Tuan."
Steven yang berdiri di dekat meja menoleh. "Ah, kebetulan kau datang. Ambilkan dokumen di mobil," perintahnya singkat, tanpa basa-basi.
Freya mengedipkan mata, sedikit terkejut. "B-baik, Tuan." Ia kembali menutup pintu, lalu berjalan menjauh sambil menggerutu pelan.
"Ck... baru juga sampai, sudah disuruh bolak-balik. Benar-benar majikan menyebalkan."
Meski menggerutu kesal, Freya tetap menjalankan tugasnya. Ia kembali ke area parkir untuk mengambil dokumen di dalam mobil Steven. Namun, langkahnya mendadak terhenti, saat melihat di balik pagar gerbang perusahaan, berdiri sosok yang sangat ia kenal.
"William?" gumam Freya. "Apa yang dia lakukan di sini?"
Matanya menyipit curiga, mengamati pria itu yang tampak mondar-mandir sambil sesekali mengintip ke dalam area perusahaan.
"Jangan-jangan... " bibir Freya melengkung tipis. Sebuah ide jahil langsung terlintas di kepalanya. Ia berbalik, melangkah cepat kembali ke gedung perusahaan, lalu berhenti di depan satpam.
"Pak, sepertinya ada orang mencurigakan di depan sana," lapornya.
"Orang mencurigakan?" tanya satpam itu, waspada.
"Iya. Dia sejak tadi mengintai perusahaan ini. Bapak sebaiknya mengeceknya."
"Terima kasih laporannya, Tuan."
"Sama-sama, Pak." Freya pun melenggang masuk kembali ke gedung dengan hati puas.
Tidak lama kemudian, satpam menghampiri William. "Hei! Apa yang kau lakukan di sini?" hardiknya.
"A-aku cuma—"
"Kalau tidak ada keperluan, silakan pergi. Atau saya laporkan ke polisi."
"P-polisi?!" William tersentak pucat. "J-jangan, Pak! Saya hanya ingin menemui seseorang. Saya—"
"Tidak ada alasan, Kalau mau menemui orang, masuk dengan benar. Bukan mengintip seperti pencuri. Cepat pergi!" Satpam itu mendorong William menjauh dari gerbang.
"H-hei, tunggu —" William hendak protes, namun terdiam saat melihat satpam memberi isyarat dengan tajam.
"Sial!" William mengumpat pelan, mengepalkan tangan. "Aku sudah datang sejak pagi hanya untuk bertemu Freya. Tapi, bukan hanya gagal, aku justru diusir. Aku akan kembali lagi nanti." Ia berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering.
Dengan wajah kesal, ia menjawab panggilan tersebut.
"Apa lagi?" tanyanya dingin.
"Cepat pulang!" bentak seseorang dari seberang.
"Ma, aku tidak—"
"Kami sudah tahu kau dipecat," potong suara itu tajam. "Kalau tidak mau papa murka, pulang sekarang dan, bawa wanita itu."
William memejamkan mata, menarik napas panjang.
"Baiklah."