Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. AMSALIR
Zhen Yi melangkah dengan keanggunan. Di atas nampan perak yang dibawanya, mangkuk itu mengepulkan aroma harum yang menggoda selera.
Tak ada yang tahu bahwa di balik kelezatan itu, ia telah mencampurkan racun Lonceng Kematian.
Racun itu tidak akan membunuh seketika, namun akan menciptakan penyumbatan perlahan pada aliran darah jantung, hingga saat waktunya tiba, tabib istana sekalipun hanya akan mendiagnosisnya sebagai serangan jantung alami akibat kelelahan.
Saat ia tiba di depan ruang kerja kaisar, para pengawal membukakan pintu. Kaisar yang tengah memeriksa tumpukan gulungan naskah menoleh, wajahnya yang letih segera berubah cerah saat melihat sosok Zhen Yi.
"Ah, Selir Zhen. Aroma apa yang kamu bawa, aromanya sungguh menggugah selera?" tanya Kaisar sambil tertawa kecil, ia memberi isyarat agar Zhen Yi mendekat.
"Ini sup herbal khusus yang hamba racik sendiri untuk menjaga kebugaran Anda, Yang Mulia," jawab Zhen Yi dengan suara lembut yang memabukkan. Ia meletakkan mangkuk itu di hadapan sang penguasa. "Hamba ingin Yang Mulia selalu bugar di atas ranjang."
Kaisar mengambil sendok perak, hendak mencicipi. Namun, tepat sebelum sendok itu menyentuh bibirnya, pintu ruangan terbanting terbuka dengan keras.
"Hentikan, Yang Mulia!"
Permaisuri Zi-Wei melangkah masuk dengan marah. Di belakangnya, Xia Yue mengikuti dengan wajah yang masih membengkak, berusaha menahan tangis agar terlihat semakin menderita.
Kaisar mengernyitkan dahi, merasa terganggu. "Permaisuri? Apa maksud dari gangguan ini?"
Zi-Wei memberikan penghormatan formal yang singkat, namun matanya menatap tajam ke arah Zhen Yi. "Mohon maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Namun, istana ini memiliki aturan. Hamba datang untuk meminta keadilan atas kekejaman yang dilakukan oleh Selir Zhen Yi."
Ia menarik Xia Yue ke depan. "Lihatlah wajah pelayan hamba ini. Selir Zhen Yi dengan angkuh telah menamparnya dan menghina otoritas hamba di dapur istana. Jika seorang selir baru sudah berani bertindak semena-mena terhadap orang-orang di kediaman hamba, bagaimana ia bisa menghormati aturan kekaisaran?"
Zhen Yi tetap bersimpuh dengan tenang di samping meja Kaisar, tak ada raut ketakutan di wajahnya. Ia justru menunduk dalam-dalam.
"Yang Mulia," suara Zhen Yi terdengar bergetar.
"Hamba hanya ingin memastikan makanan Anda bersih dan tidak dicampuri hal-hal yang tidak perlu. Dayang Xia Yue mencoba menghalangi hamba dengan kata-kata yang sangat menghina Anda, seolah-olah hamba tidak layak melayani suami hamba sendiri. Hamba bertindak demi menjaga martabat Anda."
Kaisar menatap bergantian antara sup yang masih mengepul, wajah merah Xia Yue, dan ketegasan istrinya. Situasi di ruangan itu seketika menjadi medan tempur tanpa pedang.
"Cukup!" bentak Kaisar. Ia menoleh ke arah Zi-Wei. "Permaisuri, ini hanya urusan pelayan. Mengapa kamu harus merusak suasana makanku?"
"Ini bukan sekadar urusan pelayan, Yang Mulia!" balas Zi-Wei dengan nada meninggi. "Ini tentang siapa yang berhak mengatur urusan domestik istana. Jika Anda membiarkan ini, maka posisi hamba sebagai Permaisuri tidak lagi memiliki arti!"
Mata Permaisuri Zi-Wei menyipit, beralih dari wajah Xia Yue ke mangkuk sup yang masih mengepul di atas meja. Instingnya sebagai penguasa Hougong selama bertahun-tahun memberitahunya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan ketenangan Zhen Yi.
"Tunggu, Yang Mulia," sela Zi-Wei dengan suara yang tiba-tiba merendah namun tajam.
"Jika Selir Zhen sangat bersikeras masuk ke dapur khusus dan memasak sendiri, bukankah itu mencurigakan? Siapa yang bisa menjamin keamanan makanan ini jika bukan dari tangan dayang yang sudah resmi ditunjuk?"
Zi-Wei melirik mangkuk sup itu dengan jijik. "Jangan-jangan, alasan dia begitu berani menampar pelayanku adalah untuk menutupi sesuatu yang dia masukkan ke dalam makanan ini. Bisa saja ini adalah racun!"
Mendengar kata "racun", suasana di ruangan itu seketika membeku. Para pengawal tanpa sadar memegang hulu pedang mereka. Kaisar terdiam, matanya menatap mangkuk sup itu dengan ragu.
Zhen Yi, yang sebelumnya telah menelan pil penawar secara sembunyi-sembunyi, segera berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Ia menundukkan kepala hingga menyentuh lantai, bahunya naik turun seolah tengah terisak.
"Cukup ... Hamba mohon cukup, Yang Mulia!" tangis Zhen Yi pecah, terdengar begitu memilukan.
"Hamba masuk ke dapur dengan niat tulus, memasak dengan tangan hamba sendiri sebagai bentuk pengabdian. Namun di sini, hamba justru difitnah dengan keji. Jika memang keberadaan hamba hanya mendatangkan kecurigaan dan kebencian, untuk apa hamba tetap di sini?"
Zhen Yi mendongak, matanya merah dan basah oleh air mata. Dengan gerakan cepat yang mengejutkan semua orang, ia meraih sendok perak di meja.
"Jika Yang Mulia Permaisuri meragukan kesetiaan hamba, biarlah hamba membuktikannya dengan nyawa hamba sendiri!"
Tanpa ragu, Zhen Yi menyendok sup itu dan memakannya beberapa kali di hadapan mereka semua. Setelah beberapa saat, ia tetap berdiri tegak, tak menunjukkan gejala apa pun berkat penawar yang sudah bekerja di dalam tubuhnya.
"Apakah ini cukup, Yang Mulia?" tanya Zhen Yi lirih, suaranya parau karena sedih.
Ia merengek pelan sambil memegang ujung jubah Kaisar. "Hamba hanya seorang wanita yang ingin mencintai suaminya, tapi mengapa semua orang di istana ini begitu kejam meragukan hamba?"
Melihat selir kesayangannya menangis tersedu-sedu, amarah Kaisar memuncak. Ia menatap Zi-Wei dengan tatapan penuh murka.
"Permaisuri! Kau sudah keterlaluan!" bentak Kaisar hingga meja kayu di depannya bergetar. "Zhen Yi membuktikan cintanya, sementara pelayanmu hanya membawa fitnah dan kekacauan ke ruanganku!"
Kaisar menunjuk Xia Yue yang masih bersimpuh ketakutan. "Dan kau, pelayan rendahan! Beraninya kau menghina selirku dan meracuni pikiran Permaisuri dengan kebohonganmu!"
"Ampun, Yang Mulia! Hamba hanya—"
"Diam!" potong Kaisar telak. "Kasim! Seret Xia Yue ke lapangan eksekusi. Berikan dia dua puluh cambukan di depan umum agar seluruh pelayan tahu apa akibatnya jika berani tidak sopan kepada Selir Zhen Yi! Dan kau, Permaisuri, kembalilah ke istanamu. Jangan muncul di hadapanku sampai kau bisa mengatur pelayanmu dengan benar!"
Xia Yue menjerit histeris saat para pengawal menyeretnya keluar. Zi-Wei berdiri mematung, wajahnya pucat pasi menahan malu dan amarah. Ia terpaksa mundur dengan kehormatan yang tercoreng.
Setelah ruangan sepi, Kaisar menarik Zhen Yi ke dalam pelukannya, mencoba menenangkannya. Di balik bahu Kaisar, air mata Zhen Yi seketika kering. Sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya saat ia melihat Kaisar kembali meraih mangkuk sup itu untuk menghabiskannya.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏