Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Morning, Class!" sapa Dawai pada murid-murid kelas X-9 pagi itu.
"Morning, Miss!" jawab anak-anak X-9 serempak.
"Wow! Glad to see you all in a good mood today! Today, we're going..."
"Gimana, Miss, rasanya ditembak Kak Rendra?" tanya Rinda, seorang siswi X-9, sambil tersenyum. Seluruh kelas terlihat penasaran dengan jawaban Dawai. Dawai mengangkat kedua alisnya.
"I won't answer your question," jawab Dawai sambil tersenyum.
"Ah, ngga asik!" komentar Rinda sebal. Dawai tersenyum.
"If you were me..." kata Dawai.
"How would you feel about that?" lanjut Dawai, melempar pertanyaan pada Rinda.
"Very happy, of course!" jawab Rinda diikuti sorakan riuh seluruh siswa di kelas X-9.
"Yeee... Ngarep lu, Rin," celetuk Maya, siswi kelas X-9 yang duduk di belakang Rinda. Dawai tersenyum.
"Okay. Did you, everyone in this class, ever like or even fall in love with your teacher before?" tanya Dawai kemudian.
"I did," jawab Doni, siswa X-9 yang duduk di sudut belakang sebelah kiri. Semua menoleh ke arahnya. Dawai mengangkat alisnya.
"Did you confess to her?" tanya Dawai pada Doni. Semua mata menatap Doni. Doni menggeleng.
"Why?" tanya Dawai.
"She would reject me, of course," jawab Doni. Dawai mengangguk.
"So, if you really like your teacher, I don't think you will confess your feeling as easy as your senior did to me," kata Dawai. Semua terdiam. Mencoba berpikir logis.
"I won't take that confession seriously. I don't care, actually. So, let's begin our lesson," kata Dawai sambil tersenyum. Lalu memulai sesi pelajarannya.
Dawai mendapat pertanyaan yang sama di setiap kelas yang dia ajar hari itu. Menyebalkan. Namun, Dawai berusaha menjawab dengan tenang. Rasanya, Dawai ingin sekali berteriak "AKU NGGAK PEDULI!!!" di tengah lapangan sekolah agar semuanya tahu bahwa dirinya marah karena itu, bukan senang.
Waktu istirahat kedua akhirnya tiba. Setelah jam istirahat kedua, Dawai tak mengajar di kelas manapun. Dawai memutuskan beristirahat di perpustakaan sekolah. Dawai segera menuju meja baca yang panjang lalu meletakkan kepalanya di atas meja sambil menghela nafas panjang.
"You look so tired, Miss?" tanya sebuah suara yang otomatis mengejutkan Dawai. Ryan, entah sejak kapan, berdiri di hadapan meja tempat Dawai beristirahat.
Dawai mengangkat kepala malas. Dia tahu benar suara siapa yang menyapanya. Dawai mencoba tersenyum, meski berat.
"Absolutely," jawab Dawai sambil tersenyum.
"Could I sit here?" tanya Ryan, meminta ijin untuk duduk di hadapan Dawai. Dawai mengulurkan tangannya tanda mempersilakan Ryan duduk.
"Tentang Rendra..."
"Wait. I don't care about what he said. So, please don't talk about it," kata Dawai memutus kalimat Ryan.
Ryan tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Dawai mengerjapkan matanya. Entah mengapa, seketika aura siswa di hadapannya itu berubah.
"Ops... Sorry, Miss," kata Ryan melihat ekspresi Dawai yang terkejut.
"Eh?" Dawai bingung.
"Maaf udah nertawain Miss Dawai," kata Ryan dengan sedikit tawa kecil masih tersisa di bibirnya.
"Oh..."
Dawai menatap Ryan. Ryan yang mengenakan baju biasa saat di mall tempo hari sangat berbeda dengan Ryan yang kini ada di hadapannya. Baju yang dikenakan benar-benar memberi efek yang cukup signifikan.
"Kenapa, Miss?" tanya Ryan yang mendapati guru imut di hadapannya tengah menatapnya sambil melamun.
"Eh? Oh... Ngga apa-apa," kata Dawai sambil mengerjapkan dan memijit matanya perlahan mengusir pikiran aneh dalam otaknya.
Ponsel Dawai yang berada di atas meja bergetar. Sebuah telepon. Disa!
"Sebentar ya," kata Dawai sambil meraih ponselnya dan beranjak dari kursi tempat dia duduk.
Ryan memperhatikan Dawai yang berdiri, menerima panggilan telepon.
"Gue otw ke sana ya? Lu udah selesai kan?" tanya Disa seketika saat Dawai menerima panggilannya.
"Iya," jawab Dawai lirih.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Disa khawatir mendengar suara Dawai yang seperti berbisik.
"Aku di perpus," jawab Dawai singkat.
Ryan masih memperhatikan Dawai yang sesekali melihat ke arahnya. Ryan tersenyum simpul.
"Oh, oke. Gue otw," kata Disa lalu menutup teleponnya.
Dawai menatap layar ponselnya sesaat. Dia berpikir untuk langsung kembali ke kantor guru dan berberes.
"You need to go?" tanya Ryan pada Dawai. Dawai menoleh pada Ryan yang masih duduk.
"Ya. Saya balik ke kantor dulu," kata Dawai pada Ryan, lalu pergi.
Ryan tersenyum. Entah mengapa dia jadi lebih banyak tersenyum saat bersama Dawai. Menurutnya, Dawai begitu menggemaskan. Ryan berpikir, Rendra akan benar-benar jatuh hati pada guru imut incarannya itu.
Ryan berjalan keluar dari perpustakaan. Dilihatnya punggung Dawai sudah menjauh dan akan berbelok ke arah kantor guru. Ryan kembali ke kelas. Jam istirahat akan segera berakhir.
"Darimana aja lu?" tanya Reno pada Ryan ketika melihat Ryan memasuki kelas.
"PDKT," jawab Ryan singkat. Rendra seketika menoleh ke arah Ryan. Reno dan Rafa saling tatap. Cemas.
"Lo apain dia?" tanya Rendra pada Ryan. Ryan hanya mengangkat kedua bahunya.
"Ngobrol," lagi-lagi, Ryan menjawab singkat.
Rendra diam. Rahangnya mengeras.
"Kalo lo pikir dengan nembak dia secara terang-terangan bakal bikin dia suka sama lo, lo salah," kata Ryan sambil membuka buku pelajaran untuk jam pelajaran selanjutnya.
"Dia bukan cewek yang sama seperti mereka yang pernah jadi korban lo," lanjut Ryan. Rahang Rendra semakin mengeras.
"Gue cuma kasih saran aja sih. Mending lo ganti metode lo," tutup Ryan.
Rendra menggebrak mejanya. Kesal. Lalu beranjak dari tempat duduknya, pergi keluar kelas.
"Sial!" umpat Rendra sambil berjalan menyusuri koridor. Cewek-cewek yang masih di luar kelas histeris melihat Rendra berjalan sendirian.
'Bukan cewek yang sama? Semua cewek sama aja!' batin Rendra kesal.
Saat akan berjalan ke arah perpustakaan, mata Rendra menangkap sosok yang menjadi pusat kemarahannya saat itu. Dawai terlihat menenteng tas dan berjalan dari perpustakaan ke arah kantor guru.
Rendra mengikuti Dawai dari belakang. Beruntung tak ada guru yang sedang diluar kantor. Rendra dapat leluasa mengikuti Dawai yang berjalan menuju gerbang sekolah.
'Dia mau pulang? Jam segini?' pikir Rendra.
Rendra terus mengkuti Dawai sampai dia melihat Dawai berhenti di samping sebuah mobil jeep. Seorang pria keluar dari mobil, mengacak rambut Dawai. Wajah Dawai terlihat sebal, tapi lalu tersenyum. Keduanya kini memasuki mobil dan berlalu.
Rahang Rendra yang mengawasi dari lobi lagi-lagi mengeras. Tanpa sadar dia meninjukan kepalan tangannya ke tembok di sampingnya. Entah mengapa, dia begitu marah melihat Dawai bersama pria itu.
'Gue bakal bikin lo tergila-gila sama gue. Liat aja!'
***
semngaatt ya thorrr