NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Menghina

Bian tak habis pikir. Saga pasti diberitahukan oleh supirnya bahwa Bian tidak pulang ke rumah dan malah meminta diantar ke sini. Apa yang pria nekat ini pikirkan sehingga ia datang untuk menjemputnya seperti ini setelah apa yang dilakukannya tadi?

"Ngapain lo ke sini? Gue emang mau pulang, tapi bukan bareng lo," ketus Bian.

"Kakak udah janji sama daddy kamu bakal bawa kamu pulang 'kan?" Saga membukakan pintu mobil penumpang mobilnya untuk Bian. "Ayo, ini udah malem, Bi. Kamu harus pulang. Kalau enggak daddy sama mommy kamu pasti khawatir."

"Gue bakal pulang sama cowok gue. Bukan sama lo!" tegas Bian.

Theo bingung sendiri dengan sikap Bian yang tidak bersahabat kepada Saga, yang adalah calon kakak sambungnya sendiri. Selain itu Bian juga tahu bahwa Saga adalah guru mereka di sekolah, tapi kenapa Bian bersikap tidak sopan kepada Saga? Padahal yang Theo ketahui Bian bukan cewek yang kasar.

Di sisi lain, Theo juga merasa sedikit aneh dengan sikap Saga yang tiba-tiba sok perhatian pada sang pacar. Entah kenapa ia jadi tidak suka pada pria ini.

"Saya yang bakal anter Bian pulang, Pak," ujar Theo masuk ke dalam obrolan antara Bian dan Saga. "Bapak gak usah khawatir. Saya pasti antar Bian dengan selamat ke rumahnya."

Theo berbicara dengan begitu sopannya pada Saga. Mau bagaimana pun juga Saga adalah gurunya. Saga memang sempat masuk ke kelas Theo sehingga Theo merasa harus berbicara sopan kepada Saga selayaknya berbicara kepada gurunya yang lain.

"Kamu siapa?" tanya Saga pura-pura tidak tahu. Padahal Saga sangat tahu Theo adalah pacar dari Bian. Bahkan ia memiliki 'kartu AS' Theo dan Bian di ponselnya.

"Saya Theo, Pak. Saya siswa SMK Seni Manohara juga, saya jurusan musik. Bapak pernah masuk ke kelas saya. Selain itu, saya juga pacarnya Bian."

"Kamu mau bawa adik saya pakai motor itu?" Dagu Saga mengarah ke motor biru milik Theo yang masih terparkir. "Malam-malam begini juga? Kamu gak mikirin keselamatan Bian? Kamu gak mikir Bian akan kedinginan pakai motor di malam hari kayak gini? Terus memangnya kamu udah punya SIM?"

"Sudah, Pak. Saya sudah 17 tahun dan saya sudah punya SIM," jawab Theo mencoba meredam emosinya yang sedikit tercubit.

Ia sedikit kesal karena pertanyaan Saga malah membuat Theo seperti kurang bertanggung jawab karena akan membawa Bian menggunakan motor yang pastinya lebih berbahaya dibanding dengan mobil di malam hari seperti ini, juga angin malam akan terasa lebih dingin dibandingkan siang hari. Bian bisa terkena flu, ditambah ia tidak membawa jaket yang tebal. Theo sendiri tidak menggunakan jaket saat datang ke rumah Luis.

"Kamu tahu, motor itu berbahaya. Belum lagi cuaca malam hari bisa tiba-tiba hujan, atau angin berhembus kencang saat kalian pakai motor. Saya tidak akan membiarkan Bian sakit karena kamu. Bian akan pulang bersama saya," tegas Saga. Bahkan ia tidak meminta persetujuan Bian untuk bisa membawanya pulang.

Bian yang tidak terima sang pacar dinasehati oleh pria seperti Saga pun segera menautkan tangannya pada tangan Theo. "Gue gak akan pulang ke rumah kalau gak bareng cowok gue. Lagian Daddy kenal kok sama dia. Jadi lo mending pergi sekarang. Gak usah sok perhatian!"

"Bian, ayo. Kakak gak mau sampai harus paksa kamu. Pakai motor itu bahaya, kamu gak pakai jaket, dia juga gak punya jaket. Jadi ikut sama Kakak sekarang, ya," bujuk Saga dengan menyiratkan nada mengancam dalam kata-katanya.

"Gak mau!" tegas Bian tak gentar. "Pulang gak lo sekarang?!" Bahkan Bian berteriak cukup keras sekarang.

"Yang, gini deh, aku pinjem mobil Luis aja ya. Biar aku bisa anterin kamu pakai mobil. Bener kata Pak Saga, ini udah malem, bahaya dan kamu gak pakai jaket juga."

Theo merendahkan egonya dan lebih memprioritaskan keamanan dan kenyamanan Bian. Namun segera setelah Theo mengatakan itu, Saga berdecih meremehkan.

"Kamu berani sekali pacaran sama Bian dengan hanya bermodal motor itu? Sekarang kamu malah mau minjem mobil temen kamu? Apa kamu gak tahu malu? Jangan sok keren dan berani banget kamu macarin cewek kayak calon adik tiri saya kalau cuma segitu kemampuan kamu," ejek Saga. "Bian, lebih baik kamu pulang sama Kakak sekarang. Ayo cepet, ini udah malem. Nanti mommy dan daddy kamu khawatir."

Seketika Theo merasa tersinggung, Bian apalagi. Keduanya tercengang dengan kata-kata Saga.

Theo bukan tidak mampu, dia memiliki mobil yang sering ia bawa ke sekolah. Mobilnya bahkan tak jauh berbeda dengan mobil sport yang dimiliki Saga. Hanya saja Theo memang lebih banyak menggunakan motor karena ia tergabung ke dalam klub motor yang diketuai oleh Luis.

"Lo gak tahu..." Baru saja Bian akan meluapkan emosinya, tangannya sudah ditarik oleh Saga. "Lepas!"

Segera Theo menarik tangan Bian yang satunya lagi dengan cukup keras sampai tangan Saga terlepas dari tangan Bian.

"Jaga sikap Bapak!" tegur Theo mulai terbawa emosi. "Anda gak berhak bawa Bian. Itu namanya pemaksaan."

Saga menyeringai melihat situasi ini. Ia tak bisa keras kepala sekarang. Rupanya Bian belum paham seburuk apa keadaannya jika Saga tak menjaga mulutnya. Bian perlu diperingatkan lagi rupanya, pikir Saga.

Namun kali ini ia akan mengalah. "Fine, kamu pulang bareng cowok kamu sekarang. Kita ketemu lagi nanti ya." Lalu tatapannya tertuju pada Theo. "Jangan sok jagoan. Ingat, kamu gak pantas menjadi pacar Bian."

Kemudian Saga pun pergi dengan mobilnya menyisakan kekesalan yang luar biasa besar dalam hati Bian. Bisa-bisanya ia menghina Theo, tidak tahu saja kalau Theo juga adalah putra dari salah satu konglomerat sama seperti Saga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!