Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lendir sialan
Satu demi satu siswa mengambil giliran. Lapangan kini dipenuhi suara debum padatan energi yang pecah, geraman menahan sakit, dan sesekali gumam kagum tipis saat seseorang berhasil menghindar dengan elok.
Vivi baru saja menyelesaikan gilirannya. Dengan langkah gontai, ia menyeret kaki menuju bayangan pohon tempat Ursha’el dan Kenny beristirahat.
"Ah, lendir biru sialan itu! Dia benar-benar menertawakanku saat berhasil memukul perutku. Brengsek!" gerutu Vivi.
Wajahnya merah padam, perpaduan antara kelelahan dan harga diri yang terluka. Ia duduk menyandar di batang pohon tepat di samping Ursha’el, tangannya mendekap perut yang masih terasa nyut-nyutan. Cahaya kuning samar mulai berpendar dari telapak tangannya, mantra penyembuh tingkat dasar untuk meredam lebam di balik singletnya.
Ursha’el hanya melepaskan tawa tipis, suara yang jarang terdengar namun muncul karena keluhan jujur temannya itu.
"Setidaknya kau cuma kena satu kali, Vi. Aku dua kali!" sahut Kenny. Ia menegakkan sandarannya ke pohon dengan ekspresi yang tak kalah kecut. Rambutnya tampak sedikit berantakan akibat terjangan energi tadi.
Vivi menoleh, menatap Kenny dengan mata menyipit tajam. "Bukan masalah sakitnya, Kenny! Masalahnya dia menertawakanku! Makhluk biru sialan itu... aku bersumpah bisa mendengar suara cekikikan menjijikkan dari dalam tiang itu saat aku tersungkur."
Ursha’el memperbaiki posisi duduknya, matanya kembali menatap ke tengah lapangan di mana rune Spirora masih berpendar mangancam. "Mereka tampaknya memakan rasa frustrasi kita. Semakin kau kesal, mereka semakin senang."
"Kalau begitu, mereka pasti akan menertawakan Luce habis-habisan," gumam Kenny sambil menyeka keringat di dahinya, tersirat kekhawatiran samar dalam getar suaranya.
Pandangan mereka bertiga serempak beralih ke barisan yang tersisa. Di sana, tersisa Rota dan Luce yang berdiri dengan wajah tegang, menunggu gilirannya yang semakin dekat.
"Cukup, Vanessa! Bagus sekali. Tujuh bersih, seluruhnya berhasil kau hindari. Ketangkasanmu luar biasa. Nilai tujuh puluh, istirahatlah." ucap Dornus.
Seorang siswi manusia dengan rambut hitam sepunggung dan mata sehitam jelaga melangkah keluar dari rune persegi. Ia hanya mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, lalu berjalan menuju keteduhan pohon. Langkahnya disambut tepuk tangan dan pujian ringan dari murid-murid lain.
"Ah, sial!" gerutu Vivi pelan, membuat Kenny dan Ursha’el menoleh serempak.
"Vanessa dapat nilai sempurna lagi! Gak adil," lanjut Vivi dengan bibir mengerucut. "Dia sudah jadi saingan terberatku di pelajaran mantra, sekarang dia malah lebih jago dariku di pelajaran ini."
Ursha’el tertawa ringan melihat tingkah temannya itu. "Oh, ayolah, Vivi. Tidak semuanya dalam hidup ini tentang nilai... hahaha."
"Benar tuh, lagipula kau masih bertahan di 3 peringkat atas," Kenny menimpali dengan nada santai.
Vivi hanya mendengus, mencoba membuang kekesalannya sambil membenarkan sandarannya pada batang pohon. Mereka kembali memusatkan fokus ke tengah lapangan.
"Selanjutnya, Rota! Giliranmu!" panggil Dornus tegas.
Rota melangkah maju memasuki rune, meninggalkan Luce yang kini berdiri seorang diri di tengah lapangan yang luas.
"Mulai!"
Rota segera memasang kuda-kuda. BRAK! Padatan energi pertama yang menerjang ia pecahkan dengan hantaman tangan kosong. Enam serangan berikutnya datang bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi, namun Rota tak bergeming. Alih-alih menghindar, ia menghancurkan setiap padatan energi yang mendekat dengan presisi yang mengerikan. Gumam kagum terdengar dari balik bayangan pohon.
"Sempurna, Rota! Seperti biasanya. Tujuh bersih, tujuh puluh poin. Istirahatlah," ujar Dornus datar, meski ada nada puas yang tersirat.
Rota mengangguk pelan, berjalan tenang menuju pepohonan. "Mantap, Rota," sambut Vanessa sambil menepuk pundak pemuda bertelinga kucing itu.
Kini, suasana lapangan mendadak senyap. Dornus menoleh ke arah barisan yang tersisa, yang kini hanya menyisakan satu orang.
Luce.
Mereka saling pandang dalam keheningan sejenak.
"Ayo cepat kemari! Ngapain malah bengong di situ, bodoh!" bentak Dornus, suaranya menggelegar memecah kesunyian.
Beberapa murid tak tahan untuk tidak tertawa kecil melihat ekspresi Luce yang tampak linglung.
"Oh? Sudah giliranku, Instruktur?" sahut Luce, berlagak bodoh dengan senyum yang dipaksakan. Menyembunyikan jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia mulai melangkah menuju Spirora, lalu berhenti tepat di tepi rune.
Dornus menyilangkan tangan di dada, menatapnya datar. "Kau pilih segera masuk, atau langsung kunilai nol?" Ujarnya dingin.
"O-oke Instruktur, sebentar..." Luce menarik napas panjang. Ia berbalik menghadap teman-temannya yang sedang berteduh, lalu merentangkan kedua tangan dengan gaya teatrikal.
"Hadirin! Saksikanlah! Pertunjukan memukau dari Luce, sang Master Alkimia!" serunya lantang. Senyum lebar menghiasi wajahnya, sebuah kepercayaan diri yang dipaksakan sedemikian rupa seolah ia tak punya beban sedikit pun. Beberapa siswa tertawa mengejek. Luce tidak peduli. Dengan langkah yang dibuat-buat mantap, ia memasuki rune persegi.
Luce berdiri tepat di tengah area ujian. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, mengalir turun melewati senyumnya yang masih dipaksakan lebar. Di sekelilingnya, lendir biru pada tiang batu beriak. Anehnya, kali ini mereka tidak mengeluarkan suara tawa mengejek, melainkan desisan heran, seolah bingung menghadapi mangsa yang justru tersenyum.
"Siap?" tanya Dornus. "Kau tahu, tadi aku serius saat menawarkan nilai nol. Aku tahu betul kau sangat tertinggal dalam pelajaranku."
"Siap, Instruktur!" jawab Luce mantap. Ia memasang kuda-kuda, meski lututnya tak bisa menyembunyikan getaran hebat.
"Baiklah... Mulai!"
WUSH!
Serangan pertama melesat dari depan. Luce mencoba melompat ke samping.
Namun ia kurang cepat.
BUGHH!
Padatan energi biru menghantam telak lambungnya. Luce terjerembap, roboh menghantam rumput lapangan dengan keras. Tawa terbahak-bahak seketika pecah dari arah pepohonan.
Dornus menghela napas panjang. "Sudah kuduga..." Ia baru saja hendak melangkah untuk menarik Luce keluar dari rune ketika melihat tubuh itu bergerak. Langkah Dornus terhenti. Luce perlahan bangkit kembali.
"Belum... Instruktur," ujar Luce. Suaranya pelan dan bergetar, menyembunyikan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang menonton, lalu kembali memamerkan senyum lebar yang terlihat aneh di tengah luka. "Hei! Jangan tertawa dulu! Master Alkimia ini terlalu tangguh untuk tumbang secepat itu!"
Sorakan dan tawa ejekan semakin ramai, namun Luce tetap berdiri di posisinya.
WUSS!
Serangan kedua datang dari kiri. Dengan tubuh yang sudah didera nyeri, Luce tak mampu menghindar. BUGG!! Serangan itu menghantam pundaknya. Tubuhnya terhuyung, tapi kali ini ia tidak jatuh. Senyum itu masih menempel di wajahnya yang mulai pucat.
"Lagi!" tantangnya lantang, menatap tajam ke arah Spirora dan mereka yang menertawakannya.
Serangan berikutnya terjadi dengan cepat dan brutal. Serangan ketiga menghantam perut, keempat di dada, kelima di punggung, dan keenam di lengan. Setiap dentuman diiringi rasa nyeri yang menusuk dan tawa ejek yang semakin keras. Namun, Luce tetap berdiri. Tubuhnya bergetar hebat di dalam rune, seperti daun yang dipukul badai namun menolak untuk lepas dari tangkainya.
Hingga akhirnya...
WUSSH!!
BRAKK!!!