NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur

Angin mendesir pelan, menyapu kulit halus Alana. Rambut yang tergerai indah semakin terlihat cantik ketika diterpa oleh angin sore itu.

Alana, ia berdiri di balkon kamar, melihat ke bawah. Taman yang di penuhi oleh bodyguard yang bersenjata lengkap.

Ia mendengus perlahan lalu membalikkan badannya kembali.

"Kayaknya memang nggak ada celah deh, buat kabur. Setiap penjuru ada aja yang jagain, mana badannya pada kekar-kekar semua lagi." Alana bergumam pelan. Ia menggigit jari telunjuknya, mencoba memikirkan cara apa yang bisa ia coba agar bisa keluar dari kediaman milik Luciano.

"Mustahil kalo aku bisa keluar. Keluar juga pasti ketangkep juga, secara dia punya anak buah sebanyak kerikil di sungai."

Alana memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Nggak ada salahnya kan, kalo di coba. Lagi pula, kalo misalnya aku ketahuan, Luciano juga nggak akan hukum aku." Alana terdiam sejenak. "Kalo pun dia hukum aku, akting melas sedikit juga nggak masalah deh, kayaknya!"

Alana menimbang-nimbang kembali rencananya untuk kabur. Ia mencoba menelisik ke halaman depan, disana ada sepuluh orang penjaga.

Tapi ada satu celah yang menurut Alana sangat sayang jika tidak di pergunakan walau hanya sekali saja.

Pintu kecil di sudut taman menjadi sasaran Alana saat ini. Setelah memastikan semuanya, ia pun bergegas untuk keluar dari kamar dan rumah itu.

Satu hal yang Alana lupakan, jika di rumah dan di setiap sudut, itu di penuhi oleh cctv. Mustahil untuk dapat menghindari.

Alana sampai di halaman, ia berdiri sambil berkacak pinggang, menatap sekali lagi sekeliling tempat itu. Langkahnya mengayun perlahan.

"Nyonya mau kemana? Biar saya temani!" kata sang bodyguard dengan name tag Altair, ia mempersilahkan Alana berjalan terlebih dahulu.

"Oh, siapa nama kamu? Altair?"

Bodyguard itu mengangguk hormat.

"Aku cuma mau jalan-jalan, bukan mau ziarah. Jadi nggak perlu kamu temenin aku kayak baby sitter gitu. Mending kamu ngopi atau main seluncuran sama temen-temen kamu." Alana mengusir Altair dengan halus. Namun sayangnya Altair tidak menggubris Alana sama sekali.

"Ini perintah dari tuan Luciano, nyonya!" jawabnya.

"Oh astaga, apa aku harus di kawal sampai aku berhenti bernapas? Aku bukan hewan peliharaan, Altair! Come on!" Alana menoleh kesal pada wajah Altair, yang saat itu sama sekali tidak terlihat ekspresi dari lelaki tersebut.

"Saya tetap harus mengikuti aturan dari tuan Luciano, nyonya!"

"Kalo gitu, aku mau jus apel mangga, gula seperempat sendok, susu UHT lima puluh Mili, susu kental manis tujuh puluh Mili. Es batunya harus bentuk bintang dengan diameter tidak lebih dari satu setengah centi."

Kening Altair berkerut, ia dibuat syok dengan permintaan Alana yang menurutnya sangat tidak logis itu.

Namun karena memikirkan aturan Luciano, ia pun mengiyakan permintaan konyol tersebut.

"Baik nyonya, saya akan minta pembantu untuk membuat kan nya."

"Mereka lagi aku suruh tidur siang. Kamu yang buatin!"

"Saya?" Altair menunjukkan dirinya sendiri, dan Alana langsung mengangguk.

"O-oke," jawab Altair dengan ragu dan setelah itu ia pun segera berlari menuju rumah.

Alana tersenyum, karena rencananya berjalan dengan lancar. Ia langsung berjalan pelan menuju taman, seolah sedang melihat bunga-bunga yang ditanam rapi disana.

Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika—

“Berhenti.”

Suara itu membuat darah Alana seketika membeku.

Luciano berdiri di ujung taman. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya terbuka satu kancing. Tangannya masuk ke saku celana, sikapnya santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengetahui niat kabur.

“Apa? Apa kamu ngikutin aku?” suara Alana nyaris berbisik.

Luciano tersenyum kecil. “Tidak. Aku hanya mengenalmu terlalu baik.”

Alana memutar tubuh, berusaha tetap berdiri tegak. “Minggir, Luciano.”

“Tidak.”

“Satu kali aja,” Alana berteriak, emosinya pecah. “Biarkan aku memilih hidupku sendiri!”

Luciano melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Auranya menekan, membuat rongga napas terasa menyempit.

“Kau hidup karena aku memilih melindungimu,” katanya dingin. “Dan kau ingin pergi begitu saja?”

“Aku ingin bebas!” balas Alana. “Bukan dikurung di rumah mafia psikopat yang menyebut obsesi sebagai cinta!”

Kalimat itu menghantam Luciano.

Senyumnya menghilang dalam sekejap, Luciano sudah berdiri tepat di depan Alana. Tangannya menahan pintu di belakang Alana, mengurungnya tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat napas mereka bertabrakan.

“Kau salah satu-satunya yang berani memanggilku begitu,” ucapnya rendah. “Dan tetap hidup.”

“Itu ancaman?”

“Itu fakta.”

Alana menelan ludah, tapi matanya tetap menantang. “Bunuh saja aku sekalian kalau itu lebih mudah.”

Luciano terdiam. Matanya menggelap, bukan marah, tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Aku tidak akan pernah menyakitimu,” katanya pelan, hampir lembut. “Aku akan menghancurkan dunia sebelum membiarkanmu pergi.”

Alana terkesiap, Luciano meraih pergelangan tangan Alana, kali ini benar-benar menyentuh. Genggamannya kuat, bukan kasar, tapi tidak memberi ruang untuk memberontak.

“Kau milikku, Alana,” ucapnya tegas. “Bukan sebagai benda. Tapi sebagai satu-satunya hal yang membuatku waras.”

“Aku bukan milik siapa pun!” Alana mencoba menarik tangannya, tapi gagal.

Luciano menunduk, menatap wajah Alana dengan intens yang membuat lututnya hampir lemas. “Itu masalahnya. Kau terlalu berharga untuk dunia ini.”

Ia memberi isyarat singkat. Dua bodyguard muncul dari bayangan, mereka menunduk hormat.

“Antarkan Alana kembali ke kamarnya,” perintah Luciano. “Tambahkan pengamanan. Tidak ada jendela yang bisa dibuka.”

Alana menatapnya dengan mata berkaca-kaca, amarah dan putus asa bercampur jadi satu. “Aku akan membencimu, Luciano.”

Luciano tidak menghindar dari tatapan itu.

“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Asal kau tetap hidup. Dan tetap di sisiku.”

Saat Alana dibawa pergi, Luciano tetap berdiri di tempatnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, obsesi yang tak lagi ia sembunyikan.

“Berontak lah sebanyak yang kau mau,” gumamnya. “Akhirnya, kau akan lelah dan aku akan tetap di sini.”

***

Pintu kamar tertutup dengan suara yang terdengar jauh lebih nyaring dari seharusnya.

Bukan dibanting, bukan dikunci dengan kasar.

Justru itu yang membuat Alana gemetar.

Ia berdiri terpaku beberapa detik, menatap gagang pintu seolah masih berharap bisa berputar kembali. Lalu suara langkah para bodyguard menjauh, disusul bunyi kunci dari luar, pelan, tapi pasti.

Alana tersenyum kecil. Senyum frustasi.

“Dikurung .…” gumamnya lirih. “Beneran dikurung.”

Ia berlari ke pintu dan mengetuknya keras.

“Luciano! Buka pintunya! Ini keterlaluan!”

Tak ada jawaban.

Ia memukul pintu itu lagi, kali ini lebih keras, hingga telapak tangannya memerah. Napasnya terengah, dadanya naik turun cepat.

“Dasar gila .…” Alana terjatuh terduduk, punggungnya bersandar pada pintu. “Kau benar-benar gila .…”

Tangannya naik menutup wajah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, air mata jatuh tanpa izin.

Di luar kamar, Luciano berdiri beberapa meter dari pintu. Ia tidak pergi.

“Tambah dua orang di lorong ini,” perintahnya dingin. “Rotasi tiap dua jam. Tidak ada yang tidur.”

“Siap, Tuan.”

Luciano mengangkat tangan, menghentikan langkah seorang bodyguard yang hendak pergi.

“Kalau ia meminta sesuatu, apa pun itu, penuhi. Makanan, buku, pakaian. Tapi—”

“Tidak ada kunci yang dibuka,” lanjut bodyguard itu paham.

Luciano mengangguk. Ia menatap pintu kamar itu lama. Terlalu lama.

“Aku tahu kau marah,” gumamnya pelan, seolah Alana bisa mendengar dari balik kayu tebal itu. “Tapi kemarahanmu lebih bisa kuterima daripada kehilanganmu.”

Ia melangkah pergi—menuju ruang kerjanya—namun tidak benar-benar meninggalkan lantai itu.

Di dalam kamar, Alana bangkit dengan wajah sembab. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan—kamar yang terlalu mewah untuk disebut penjara.

Tempat tidur empuk. Sofa kecil di sudut.

Jendela besar yang kini terkunci rapat dan dilapisi pengaman baja tipis.

“Penjara emas,” bisiknya getir.

Ia menarik bantal dan melemparkannya ke dinding.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

“Aku benci kamu, Luciano!” teriaknya, suaranya pecah.

Tak ada jawaban. Tapi beberapa menit kemudian.

Tok.

Tok.

Ketukan pelan di pintu membuat Alana terdiam.

“Alana,” suara Luciano terdengar rendah dari balik pintu. “Aku masuk?”

“Pergi!” balas Alana. “Aku nggak mau lihat muka kamu!”

Hening.

“Kau tidak perlu melihatku,” jawab Luciano tenang. “Dengarkan saja.”

Alana tertawa pahit. “Apa lagi? Mau menjelaskan kenapa kamu mengurungku?”

“Tidak,” jawab Luciano jujur. “Aku mau mengaku.”

Alana menahan napas.

“Aku terobsesi padamu,” ucap Luciano tanpa ragu. “Bukan karena kau lemah. Tapi karena kau satu-satunya yang berani menentangku dan tetap tinggal di kepalaku.”

Alana memejamkan mata.

“Aku mencintaimu dengan cara yang mungkin salah,” lanjutnya. “Terlalu keras. Terlalu protektif. Tapi semuanya datang dari satu ketakutan yang sama.”

“Apa?” tanya Alana lirih tanpa sadar.

“Kehilanganmu.”

Alana berdiri, mendekati pintu. “Kau tidak bisa menyebut ini cinta.”

“Aku tahu,” Luciano menghela napas. “Cinta seharusnya membebaskan. Tapi aku belum cukup baik untuk itu.”

Nada suaranya membuat dada Alana sesak.

“Aku akan menjagamu,” katanya lagi. “Bahkan dari diriku sendiri, kalau perlu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi ke dunia yang bisa menghancurkanmu.”

“Aku bukan porselen,” bisik Alana.

“Tapi kau segalanya bagiku.”

Sunyi menyelimuti lorong itu.

“Aku akan duduk di depan pintu ini malam ini,” ucap Luciano pelan. “Kalau kau menangis, aku ingin tahu. Kalau kau marah, aku ingin dengar.”

Alana menggigit bibirnya, air mata kembali jatuh. “Kau monster,” katanya lirih.

“Untuk dunia, ya,” jawab Luciano. “Untukmu aku rela menjadi apa pun.”

Langkah kaki terdengar, Luciano benar-benar duduk di depan pintu kamar itu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!