NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 "Pria tampan dan dingin"

Mobil hitam itu melambat saat melewati gerbang besi raksasa bermotif ukiran klasik. Gerbang tersebut terbuka perlahan, mengeluarkan suara berdecit pelan yang selalu berhasil membuat Zivaniel merasa seolah sedang memasuki liang kubur, bukan rumah.

Mansion keluarga de Luca berdiri angkuh di baliknya—megah, luas, dan terlalu sempurna. Lampu-lampu taman menyala terang, memantulkan cahaya ke patung-patung marmer yang berjajar rapi. Air mancur di tengah halaman depan memercikkan air jernih dengan suara menenangkan, ironisnya justru menambah rasa sesak di dada Zivaniel.

Baginya, tempat itu bukan simbol kekayaan.

Bukan pula kebanggaan.

Itu neraka.

Tempat di mana hati manusia diperas hingga kering, digantikan oleh ambisi dan keserakahan. Tempat di mana senyum adalah topeng, dan keluarga hanyalah struktur kekuasaan.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang pelayan segera membukakan pintu, membungkuk hormat.

“Selamat malam, Tuan Muda.”

Zivaniel turun tanpa menoleh. Sepatu hitamnya menginjak lantai marmer putih yang berkilau, dingin hingga menembus telapak kakinya. Dari dalam mansion, suara tawa, denting gelas kristal, dan alunan musik klasik mengalir keluar—menyambutnya dengan cara yang selalu ia benci.

Malam itu sedang ada pesta kecil.

Kecil menurut standar keluarga de Luca, tentu saja. Beberapa rekan bisnis ayahnya hadir bersama keluarga mereka. Pria-pria berdasi mahal dan perempuan-perempuan dengan gaun berkilau memenuhi ruang utama, saling bertukar senyum dan kepentingan.

Zivaniel melangkah masuk.

Beberapa kepala langsung menoleh. Dan tentu saja, Zivaniel menjadi pusat dari segalanya.

“Ah, itu putra Maxtin,” bisik seseorang.

“Tampan sekali,” sahut yang lain.

“Calon pewaris yang berbahaya” gumam seorang pria tua dengan senyum licik.

Sapaan demi sapaan terlontar, namun Zivaniel tidak menanggapi satu pun. Wajahnya datar, sorot matanya kosong. Ia berjalan lurus menembus kerumunan, seolah mereka semua hanyalah bayangan tak bernyawa.

Ia tidak berhenti.

Tidak tersenyum.

Tidak peduli.

Dari kejauhan, Varla de Luca memperhatikannya dengan alis sedikit terangkat. Wanita itu berdiri anggun dengan gaun merah anggur yang memeluk tubuhnya sempurna. Rambut cokelat gelapnya ditata rapi, wajahnya cantik—dingin dan terkontrol, seperti biasa.

Di sampingnya berdiri Maxtin de Luca, ayah Zivaniel. Seorang pria berwibawa dengan sorot mata tajam dan senyum tipis penuh perhitungan. Tangannya memegang gelas anggur, sikapnya santai, seolah dunia berada tepat di bawah telapak tangannya.

Varla menepuk lengan suaminya pelan. “Itu Niel.”

Maxtin melirik sekilas, lalu kembali tersenyum pada tamu di depannya. “Biarkan saja. Anak itu memang selalu begitu.”

Namun Varla tidak.

Ia melangkah maju.

“Niel,” panggilnya, suaranya tetap lembut meski ada nada perintah yang tak tersembunyi. “Kemari dulu, nak.”

Zivaniel berhenti. Perlahan, ia menoleh.

Di hadapan ibunya, berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian elegan. Di samping mereka, seorang gadis seusianya berdiri dengan senyum yang dipoles rapi. Rambutnya hitam lurus, gaunnya sederhana namun mahal. Namanya Jira—putri dari salah satu rekan bisnis penting ayahnya.

“Ini orang tuanya dan Jira,” lanjut Varla. “Kamu harus berkenalan dengan mereka.”

Zivaniel menatap mereka sekilas. Hanya sekilas.

Tak ada ketertarikan.

Tak ada rasa ingin tahu.

Yang ada hanya lelah yang menumpuk di tulang-tulangnya.

“Aku capek,” ucapnya singkat. “Dan mau istirahat.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi.

Varla terdiam sesaat, lalu mendengus pelan. Raut wajahnya mengeras, namun segera kembali tersenyum saat menoleh ke arah Jira.

“Maaf ya, sayang,” katanya dengan suara manis yang terlatih. “Niel-nya kayaknya capek.”

Jira tersenyum tipis. Senyum yang terkesan dipaksakan, namun tetap sopan. “Iya, nggak apa-apa, Tante.”

“Kamu nikmati saja pestanya, ya.”

“Oke, Tante.”

Di ujung tangga, Zivaniel sudah menghilang.

Ia menaiki anak tangga marmer satu per satu, langkahnya tenang. Musik dan tawa dari bawah semakin samar seiring ia naik ke lantai dua—wilayah yang jauh lebih sunyi, jauh lebih jujur.

Lorong panjang menyambutnya dengan cahaya lampu temaram. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding, menampilkan wajah-wajah leluhur de Luca yang menatapnya dengan mata kosong.

Ia melewati kamar orang tuanya.

Melewati ruang kerja ayahnya.

Dan berhenti di depan satu pintu.

Pintu itu sederhana.

Tak ada ukiran mewah.

Tak ada hiasan berlebihan.

Kamar Cherrin.

Tanpa mengetuk, Zivaniel memutar kenop. Pintu tidak terkunci.

Ia masuk.

Cahaya lampu tidur yang redup menyinari ruangan bernuansa hangat. Aroma lavender samar tercium, menenangkan—kontras dengan bau alkohol dan parfum mahal di lantai bawah.

Di atas ranjang, Cherrin tertidur lelap.

Rambutnya tergerai di atas bantal, wajahnya polos tanpa riasan. Nafasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Ia tampak damai—sesuatu yang jarang Zivaniel lihat di mansion itu.

Ia melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Setelah itu, tanpa ragu, ia menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu, menatap wajahnya dari jarak dekat.

Untuk pertama kalinya malam itu, sorot mata Zivaniel berubah.

Lunak.

Rapuh.

Manusiawi.

“Cantik,” gumamnya pelan.

Cherrin bergerak sedikit dalam tidurnya, alisnya berkerut halus, lalu kembali rileks. Tangannya bergeser, hampir menyentuh lengan Zivaniel.

Ia tidak menarik diri.

Zivaniel menatap langit-langit kamar, pikirannya perlahan melambat. Semua suara bising di kepalanya mereda. Topeng dingin black wolf yang ia kenakan sepanjang hari runtuh—meski hanya di sini, di kamar kecil gadis yatim piatu yang diadopsi neneknya.

Di mansion ini, hanya ada dua orang yang tidak membuatnya muak.

Nenek Serra.

Dan Cherrin.

Serra, dengan rambut putih dan tangan keriputnya, adalah satu-satunya yang memeluknya tanpa agenda. Yang memanggil namanya tanpa harapan balasan. Yang melihatnya sebagai cucu, bukan aset.

Dan Cherrin…

Cherrin adalah kesalahan terbesar dunia ini yang hadir di antara mereka..

Karena gadis itu membuatnya ingin berhenti.

Zivaniel memejamkan mata, membiarkan kelelahan akhirnya merambat masuk. Di luar kamar, pesta masih berlangsung. Tawa palsu, gelas yang terangkat, kesepakatan yang dibisikan—semuanya terus berjalan.

Namun di dalam kamar itu, waktu seakan berhenti.

Untuk sementara.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!