Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08
“Tadi siang, kau pergi ke mana?” tanya Arga saat Samira sedang duduk bersantai di tepi jendela kamarnya.
Ia tidak menoleh, tapi bisa merasakan langka Arga mendekat. Dari ujung matanya, Samira bisa melihat pria itu berdiri tepat di sampingnya.
“Kau pergi ke mana tadi siang? Larissa bilang kau pergi ke perusahaan, apakah itu benar?” tanya Arga lagi.
Samira mengangguk pelan, “Aku cukup bosan di rumah jadi aku memutuskan untuk pergi ke perusahaan,” jawabnya pelan.
Arga mengernyit, ia mulai merasa curiga pada Samira, “Kenapa kau tidak menemuiku jika pergi ke perusahaan?” tanyanya, duduk tepat di depan Samira.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Resepsionis bilang kau begitu sibuk, jadi … aku tidak mau mengganggumu. Lagipula, aku juga tidak lama berada di sana. Kenapa? Apakah kau merindukanku sampai-sampai ingin aku menemuimu?”
Arga terbatuk pelan, “Tidak, bukan begitu maksudku. Jika kau mengatakan akan ke kantor, aku pasti akan meluangkan waktuku untukmu, Sayang.” Tangan Arga meraih pipi Samira pelan, tetapi tatapannya tertuju pada mata Samira.
Perempuan itu tidak menunjukkan tanda-tanda di mana ia bisa melihat seperti yang dikatakan Larissa. Arga tidak mempercayainya, tapi tetap saja ia tidak boleh menganggapnya hal remeh.
Pelan tapi pasti, Arga meraih pulpen di saku kemejanya. Hanya perlu sepersekian detik baginya untuk menguji penglihatan Samira dengan mengayunkan pulpen itu tepat ke depan matanya.
Samira terkesiap, jantungnya berdebar kencang, tapi ia tetap menahan diri untuk tidak mengedipkan mata. Ia bahkan tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan, seperti yang yang diharapkan Arga.
“Arga? Kenapa kau diam?” tanya Samira, sengaja mengalihkan perhatian pria itu.
Arga berdeham, “Aku … hanya sedang berpikir sesuatu,” sahutnya sambil memasukkan kembali pulpennya ke dalam saku kemeja.
Kemudian, ia berdiri. “Sudah malam, kau istirahatlah dan jangan lupa minum obatmu,” katanya lalu berjalan pergi.
Samira sedikit menoleh dan melihat pria itu menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya.
“Syukurlah, hampir saja,” gumam Samira bernapas lega. “Dia benar-benar sudah gila!”
Samira kembali menikmati pemandangan malam hari yang sudah lama sekali tidak ia lihat. Samira tersenyum saat melihat bulan yang bersinar dengan taburan bintang-bintang di langit.
“Sudah berapa lama tepatnya aku tidak menatap bintang-bintang seperti ini, ya?” gumamnya lirih, lalu tangannya bergerak menyentuh matanya sendiri. Ia bersyukur karena kejadian jatuh itu justru membuat penglihatannya kembali.
Ia teringat pada percakapannya dengan Dr. Rayhan tempo lalu. Kejadian yang menimpanya bukanlah suatu keajaiban. Tetapi bisa jadi, benturan yang dialaminya adalah bentuk trauma kedua yang memicu respon esktrem terhadap otak.
Pada kecelakaan yang menimpanya waktu itu, tidak membuatnya buta secara permanen. Samira hanya mengalami kebutaan fungsional. Trauma yang dialaminya saat itu memblokir sinyal penglihatannya, dan tragedi jatuh dari tangga adalah penyebab di mana penglihatannya justru kembali.
Tepat saat Samira memikirkan Rayhan, pria itu meneleponnya. Sebelum mengangkatnya, Samira memastikan Arga ataupun Larissa tidak sedang mengintipnya.
Ia berjalan pelan ke kamar mandi untuk menjawab panggilan itu. “Halo?” jawabnya dengan suara berbisik pelan.
“Samira, sepertinya dugaanmu benar. Arga sudah mengganti vitaminmu dengan obat yang lain, obat ini tidak berbahaya tetapi jika dikonsumsi dalam dosis yang besar bisa membuat beberapa syarafmu lumpuh,” jelas Rayhan dari seberang telepon. Ada helaan napas panjang yang mengikuti penjelasannya.
Samira mengangguk mengerti. “Aku mengerti, Dok. Terima kasih atas bantuannya,” katanya pelan.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku akan datang besok untuk memberimu vitamin yang baru, untuk sekarang, pastikan saja kau tidak mengonsumsi obat yang diberikan Arga lagi,” pesan Rayhan, suaranya terdengar cemas dari seberang.
“Sekali lagi, terima kasih, Dok. Aku akan membuat alasan agar besok kau bisa datang ke rumah,” bisiknya.
Di ujung telepon, Rayhan menggenggam hasil pemeriksaan obat itu dengan erat. “Ya, jaga dirimu baik-baik.”
Samira semakin mengepalkan tangan. “Jadi seperti itu caramu untuk menghancurkanku, ya? Lihat saja, Arga, kau akan mendapatkan kehancuranmu sendiri!”
***
Pagi harinya, Samira tidak langsung bangun meski Larissa sudah berulang kali memanggilnya. Ia sengaja ingin membuat perempuan itu kesal untuk memancingnya.
Ia berpura-pura tetap tidur. Saat Larissa menggoyang-goyangkan tubuhnya, Samira hanya menggumam pelan.
“Tubuhku terasa sangat lemah hari ini, entah kenapa aku merasa tak bisa bergerak,” lirihnya, namun masih tetap bisa didengar oleh Larissa.
Diam-diam, perempuan itu tersenyum senang. “Bagus! Efek obat itu pasti sudah mulai bekerja,” gumamnya lalu langsung keluar untuk memberitahu Arga.
Tak lama kemudian, Arga datang memeriksa kondisinya. “Samira, kau baik-baik saja?” tanyanya berpura-pura cemas.
Samira mengangguk pelan, “Aku merasa lemah sekali, Arga. To-tolong panggilkan dokter Rayhan,” pintanya dengan nada suara yang dibuat lemah agar mereka percaya.
“Untuk apa memanggil dokter? Kau mungkin hanya kelelahan karena kemarin habis bepergian. Kau sudah minum vitaminmu belum?” tanyanya lalu melihat botol obat di atas nakas.
Ia mengambilnya dan menyodorkannya pada Samira. “Ini, minumlah dulu vitamin ini, kau pasti akan lekas membaik setelah meminumnya dan beristirahat yang cukup,” kata Arga tegas.
Samira menerimanya dan berpura-pura meminumnya. Namun di dalam hati, ia mengutuk Arga untuk semua hal yang sudah pria itu lakukan padanya.
Larissa yang melihat Samira terbaring lemah di tempat tidur, diam-diam tersenyum senang dan puas. “Rencana kita pasti akan berhasil,” katanya dengan isyarat pada Arga.
Setelah itu, Arga menggandeng Larissa untuk segera keluar dari kamar. “Kau harus terus mengawasinya, jangan lengah! Aku sudah mengetesnya kemarin, dia masih buta. Tapi kita juga tidak boleh menganggapnya remeh.”
Larissa mengangguk paham, “Ya, aku pasti akan terus mengawasinya, Sayang,” katanya dengan manja. Ia menggelayut genit pada dada bidang Arga.
“Sayang, kapan kau akan mengajakku makan malam romantis lagi? Aku juga ingin berbelanja,” rengeknya manja.
Arga mengusap lembut rambut perempuan itu, “Bersabarlah sebentar lagi. Jika rencana kita berhasil, aku akan mengajakmu jalan-jalan dan makan malam mewah,” katanya lalu mengecup kening Larissa lembut.
“Aku harus ke kantor sekarang juga,” katanya melepas pelukan Larissa.
“Jangan lupa untuk menjemput anak kita juga, Sayang. Hari ini dia pulang cepat,” titah Larissa seraya melambaikan tangannya.
Samira yang menguping pembicaraan mereka terkejut bukan main. “A-anak? Mereka sudah memiliki seorang anak?!”