Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gila sih
Gavin menatap layar ponsel Tania selama tepat lima detik - durasi yang cukup bagi seorang auditor profesional untuk menemukan tiga kesalahan fatal.
"Mbak Tania," suara bariton Gavin terdengar dingin dan presisi. "Skema warna feeds anda memang konsisten, namun penggunaan filter yang berlebihan ini mendistorsi realitas visual hingga empat puluh persen. Secara teknis ini adalah penipuan publik dalam skala mikro.
Tania berkedip berkali-kali, mulutnya sedikit menganga. "Hah? Penipuan? Mas, ini namanya branding! Biar kelihatan deamy!"
"Mimpi tidak bisa diaudit, Mbak. Yang bisa diaudit adalah fakta," pungkas Gavin.
Ia kemudian beralih menatap Aruna yang sedang berusaha keras menahan tawa di balik gelas es tehnya. Tatapan Gavin seolah berkata: Tolong evakuasi saya dari anomali ini secepatnya.
Acara makan malam "Syukuran" itu berubah menjadi medan pertempuran ideologi. Tania sibuk menata piring-piring hanya untuk di foto, sementara Gavin mulai gelisah karena bercak sambal yang tidak sengaja mengenai alas meja putih.
"Mas Gavin, foto bareng yuk buat story! Pasti banyak yang tanya siapa cowok ganteng di sebelah aku," ajak Tania sambil sudah menyiapkan posisi duck face.
"Maaf," jawab Gavin sambil mengangkat tangannya secara defensif. "Saya tidak memberikan hak izin penggunaan citra wajah saya untuk platform pihak ketiga tanpa kontrak kerahasiaan.
Dan posisi kamera Anda terlalu rendah, itu akan mengekspos lipatan leher yang tidak perlu.
Tania mendengus, mulai merasa bahwa merasa "spek dewa" di depannya ini lebih mirip "spek mesin kasir" yang rusak.
"Ih, Mas Gavin kaku banget sih! Pantesan Runa bilang Mas itu "Tetangga Garis Keras".
"Hidup itu buat dinikmati, Mas, bukan buat dihitung!"
Gavin meletakkan sendoknya dengan bunyi ting yang pelan namun tegas. "Menikmati hidup tanpa perhitungan adalah resep menuju kebangkrutan emosional, Mbak Tania."
Melihat Tania yang terus menerus mencoba bergelayut di lengan Gavin, Aruna tiba-tiba merasakan sesuatu yang panas di dadanya. Bukan karena sambel terasi, tapi karena rasa tak rela.
Ternyata, melihat si "Kulkas dua pintu" digoda orang lain rasanya jauh lebih menjengkelkan daripada disindir soal daun mangga.
"Tania, sudah. Mas Gavin mau makan, " tegur Aruna sedikit ketus.
Tania justru tertawa menggoda. "Ciee, ada yang cemburu nih? Tenang aja, Na. Kalau Mas Gavin lebih milih yang 'estetik' daripada yang 'berantakan', kamu jangan nangis ya?"
Gavin berhenti mengunyah. Ia menatap Tania, lalu beralih menatap Aruna yang wajahnya sudah menekuk. Tanpa diduga, Gavin mengulurkan tangannya di bawah meja, mencari tangan Aruna dan menggenggamnya erat. Di atas meja, wajahnya tetap datar, namun tindakan di bawah meja itu adalah sebuah "pernyataan protokol" yang sangat jelas.
"Mbak Tania," ujar Gavin tenang. "Dalam sistem akuntansi saya, Aruna bukan sekedar 'berantakan'. Dia adalah goodwill - aset tidak berwujud yang nilainya justru meningkat karena keunikannya. Dan bagi saya, feeds Instagram yang rapi tidak akan pernah bisa menandingi laporan keberadaan Aruna di samping saya."
Aruna tersedak air putihnya sendiri. Tania melongo. Untuk pertama kalinya, sang Auditor Garis Keras melakukan serangan gombalan berbasis istilah ekonomi.
Keesokan paginya adalah hari Minggu. Aruna sendirian lagi di rumah karena Tania sedang pergi ke rumah temannya. Hari ini hari dimana "Pakta Kesepakatan" mereka dimulai:
Pukul 09.00 pagi, Gavin keluar ke teras rumahnya. Ia tampak gelisah. Tangannya bergetar melihat selembar daun mangga jatuh di carport-nya. Ia mengambil penggaris laser dari saku, lalu teringat janji pada Aruna. Dengan susah payah, ia memasukkan kembali alat itu ke sakunya.
Aruna keluar dengan piyama wortel yang sudah di perbaiki (jahitan bahunya kini rapi, berkat bantuan mesin jahit portable yang dipinjamkan Gavin).
"Selamat pagi, Jenderal kaku," sapa Aruna ceria. "Siap untuk jadi malas?" Gavin menghela napas panjang. "Ini adalah pelanggaran efisiensi waktu terbesar dalam hidup saya, Runa.
"Selamat pagi, Jenderal Kaku," sapa Aruna ceria. "Siap untuk jadi malas?" Saya merasa ada bakteri yang sedang berpesta di atas keramik saya karena saya tidak mengepel pagi ini.
" Ssst! Hari ini kita ke pasar kaget di ujung jalan. Kita makan bubur ayam yang di aduk!" tantang Aruna.
Gavin membelalakan mata. "Bubur... di aduk? Itu secara visual merupakan bencana! Entropi makanan yang tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula!"
"Ayo, Gavin Adnan. Belajar menerima kekacauan," Aruna menarik tangan Gavin. Di ujung jalan, Bu Tejo yang sedang belanja sayur melihat pemandangan langka itu: Gavin, sang pria paling rapi se-perumahan, sedang duduk di kursi plastik pendek, memegang mangkuk bubur dengan wajah yang sangat berkonsentrasi - seolah-olah dedang menghitung jumlah kalori dan kemungkinan bakteri E. coli di dalamnya.
"Gimana, Mas Gavin? Enak buburnya?" teriak Bu Tejo. Gavin menelan duapan pertamanya. Ia diam sejenak, lalu menoleh pada Aruna yang menatapnya penuh harap.
"Secara tekstur, ini sangat kacau," gumam Gavin. "Tapi secara rasa... ini memiliki tingkat kepuasan yang melampaui ekspektasi dalam draf rencana saya."
Gavin tersenyum. Bukan tersenyum tipis, tapi senyum lebar yang membuat matanya ikut bercahaya. Aruna terpaku. Ternyata, saat si kaku ini meruntuhkan temboknya, yang tertinggal hanyalah seorang pria yang tulus.
"Runa," panggil.Gavin sambil mengambil selembar tisu untuk menyeka noda di ujung bibir Aruna. "Mungkin kita benar-benar harus membongkar pagar pembatas itu. Bukan cuma buat sirkulasi udara... tapi supaya kalau kamu mau pinjam timbangan digital malam-malam, kamu nggak perlu lari lewat depan.
Aruna tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Di tengah pasar kaget yang berisik dan berdebu, sang auditor akhirnya menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh laporan keuangan yang seimbang - ia hanya butuh tetangga yang tepat untuk diajak berbagi kekacauan.
*********
Keesokan harinya pukul 08.00 pagi, Gavin sudah berdiri di depan pagar dengan helm proyek warna putih, rompi reflektif, dan sebuah papan jalan (clipboard) berisi cetak biru teknis pembongkaran. Di tangannya ia memegang palu besar, namun ia menggunakannya untuk menunjuk, bukan memukul.
"Runa, sesuai dengan simulasi gaya beban, kita akan mulai dari engsel sisi kiri. Jika kita menghancurkan pondasi tengah terlebih dahulu, ada resiko retakan rambut pada semen carport saya sebesar 0,5 milimeter," lapor Gavin serius.
Aruna yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, memegang linggis dengan gaya layaknya gitaris band rock. "Mas, ini cuma pagar setinggi dada, bukan tembok besar cina. Tinggal hantam, roboh. Selesai!"
"Presisi adalah kunci, Runa. Saya tidak mau ada puing yang melintasi koordinat taman saya," balas Gavin.
Tepat saat palu pertama menghantam besi pagar -DANG- kepala Bu Tejo muncul dari balik tanaman hiasnya di seberang jalan, lengkap dengan ponsel yang sudah Dalam posisi merekam video.
Hanya dalam hitungan detik, video Gavin yang sedang mengukur debu bangunan menggunakan pembersih udara portable masuk ke grup WA.
Bu Tejo: BREAKING NEWS! Tembok berlin perumahan Harmoni akhirnya runtuh! Mas Gavin dan Mbak Runa sedang melakukan eksekusi penyatuan wilayah [video_01.mp4].
Pak RT: Waduh, itu izin mendirikan bangunan (IMB), gimana ya? Tapi ya sudahlah, kalau sudah urusan hati, aturan administratif bisa kita bicarakan secara kekeluargaan. Selamat ya Mas Gavin, akhirnya ada yang bisa "mengaudit" rumah jenengan.
Pak Bambang: Itu Mas Gavin bongkar pagar pakai rumus fisika, ya? Rapi benar cara maku puingnya.
Tania yang ada di dalam rumah berteriak, "Gila sih, aku yang di dalam rumah aja kaget dengar suara cintanya - eh, suara palunya. Fix, ini namanya The power of love mengalahkan the power of hygiene.
Tania keluar ke teras dengan wajah yang memakai master wajah, membawa segelas smoothie hijau. Ia menatap nanar ke arah Gavin yang kini sedang membantu Aruna mengangkat potongan besi pagar.
"Mas Gavin!" panggil Tania. "Mas beneran mau nyatuin halaman sama Runa? Nanti kalau sendal Runa yang berantakan masuk ke area Mas, apa nggak kena serangan jantung?"
Bersambung.....