Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Pesta di Atas Puing-Puing
Waktu bergerak dengan cara yang menyiksa di dalam kamar berukuran 2x3 meter itu. Kadang ia merayap lambat seperti siput yang sekarat, kadang melompat cepat tanpa permisi, meninggalkan Alina yang masih terpaku di sudut ruangan dengan tatapan kosong.
Sudah seminggu lebih Alina mendekam di kawasan industri Rungkut ini.
Setiap pagi, ia tidak lagi dibangunkan oleh pesan manis “Selamat pagi, Sayang” dari Rendy. Kini, alarm alaminya adalah suara bising sirine pergantian shift pabrik dari kejauhan, teriakan pedagang sayur keliling, dan deru motor knalpot brong di gang sempit.
Alina membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang cat hijaunya mengelupas membentuk pola abstrak yang suram.
"Aku masih bangun," bisiknya, lebih terdengar sebagai keluhan daripada rasa syukur.
Hari ini berbeda. Udara terasa lebih berat dari biasanya. Alina tahu alasannya. Berdasarkan tanggal di kalender ponselnya, kemarin adalah hari Minggu. Hari yang tercetak tebal di ingatan Alina sebagai tanggal pernikahan Rendy Angkasa dan Sisca Angela.
Selama dua hari terakhir, Alina sengaja mematikan ponselnya. Ia takut. Ia tidak ingin melihat bukti visual dari kehancurannya. Namun, rasa penasaran yang bersifat masokis—keinginan untuk menyakiti diri sendiri—akhirnya menang pagi ini.
Dengan tangan gemetar, Alina menyalakan ponselnya. Ia membuka Instagram melalui akun palsu tanpa nama yang baru ia buat semalam. Jari-jemarinya mengetik nama akun Sisca yang tidak dikunci.
Dan di sanalah neraka itu terpampang nyata.
Deretan Instastory dan feed terbaru Sisca Angela penuh dengan kemewahan.
Foto resepsi pernikahan yang megah di sebuah ballroom hotel bintang lima. Bunga-bunga impor berwarna putih menghiasi pelaminan. Sisca tampak bersinar dalam balutan gaun pengantin rancangan desainer ternama, tertawa lebar sambil memamerkan cincin di jari manisnya. Dan di sebelahnya... Rendy.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam, terlihat gagah dan rapi. Ia tersenyum—meski mata Alina yang jeli bisa melihat guratan lelah di sana—namun tetap saja, Rendy tersenyum. Tangan pria itu melingkar di pinggang Sisca.
“Officially Mrs. Angkasa. Happiest day of my life!” tulis caption Sisca.
Alina merasa dadanya dihantam palu godam.
Sementara Alina meringkuk di kasur busa tipis, menahan nyeri pasca kuretase, makan mi instan kuah hambar, dan menghitung uang receh untuk bertahan hidup... mereka berpesta.
Mereka berdansa. Mereka memotong kue bertingkat tujuh. Mereka bersulang dengan gelas kristal, merayakan penyatuan dua keluarga kaya raya, di atas mayat janin Alina yang belum kering tanahnya.
"Jahat..." desis Alina, air matanya menetes jatuh ke layar ponsel. "Kalian berpesta di atas kuburan anakku."
Alina melempar ponselnya ke kasur. Ia menarik lututnya ke dada, memeluknya erat-erat. Rasa sakit di hatinya bukan lagi tentang cinta yang hilang. Ini tentang ketidakadilan.
Kenapa dunia begitu memihak pada mereka yang beruang? Kenapa karma seolah tertidur pulas?
Alina menatap sekeliling kamarnya yang suram. Kipas angin berdebu berputar lemah, menyebarkan udara panas Surabaya yang menyengat. Di sudut kamar, tumpukan baju kotor mulai meninggi. Di meja kecil, bungkus roti tawar sisa kemarin menjadi sarapannya.
Masa depannya hancur. Peta hidup yang dulu ia susun rapi bersama Rendy kini hangus terbakar. Tidak ada rumah impian. Tidak ada keluarga kecil.
Alina takut. Ketakutan itu nyata dan mencekik lehernya. Ia takut ia tidak akan pernah bisa bangkit. Siapa yang mau mempekerjakan wanita dengan mental yang retak seperti ini? Siapa yang mau mencintai wanita yang rahimnya pernah terluka dan "dibuang" oleh mantannya?
Ia merasa seperti barang reject pabrik yang dibuang ke tempat sampah. Cacat. Tidak berharga.
"Apa aku mati saja?" bisik pikiran gelap itu.
Namun, bayangan wajah Sisca yang tertawa di foto tadi kembali muncul. Tawa kemenangan itu membakar darah Alina.
Tidak. Kalau aku mati, mereka menang. Kalau aku mati, mereka akan hidup bahagia selamanya tanpa rasa bersalah.
Alina menghapus air matanya dengan kasar. Ia bangkit dari kasur, berjalan menuju cermin kusam di dinding. Ia menatap wajahnya yang tirus dan matanya yang bengkak.
"Jangan menangis untuk mereka, Alina," ucapnya pada pantulan dirinya sendiri. "Mereka tidak pantas dapat air matamu. Simpan tenagamu untuk menghancurkan mereka."
Ting!
Bunyi notifikasi email masuk menyentak keheningan kamar.
Alina meraih ponselnya lagi, mengabaikan aplikasi Instagram yang masih terbuka, dan beralih ke kotak masuk surat elektronik. Jantungnya berdegup kencang saat melihat nama pengirimnya.
HRD PT. Abraham Textile Group - Divisi Logistik.
Mata Alina membelalak membaca baris demi baris pesan itu.
Yth. Sdri. Alina Oktavia,
Sehubungan dengan lamaran pekerjaan yang Anda kirimkan untuk posisi Staf Admin Gudang, kami mengundang Anda untuk mengikuti sesi wawancara kerja besok pagi pukul 08.00 WIB di Gudang Pusat Rungkut...
Wawancara.
Ada panggilan wawancara.
Secercah harapan muncul di tengah kegelapan pikirannya. Abraham Textile Group. Ia tahu itu perusahaan besar. Salah satu raksasa tekstil di Jawa Timur. Meski ia hanya melamar posisi admin gudang posisi yang jauh di bawah kualifikasinya saat di bank Alina tidak peduli.
Ia butuh uang. Ia butuh makan. Ia butuh modal untuk menyusun rencana pembalasannya.
Alina segera bergerak. Ia membongkar tas pakaiannya, mencari kemeja kerja lamanya. Kemeja putih yang dulu sering ia pakai di bank kini tampak kusut karena dilipat paksa.
Ia menyetrika kemeja itu dengan setrika pinjaman dari ibu kos, menekan kain itu kuat-kuat seolah sedang meluruskan keruwetan hidupnya. Uap panas mengepul, tapi Alina tidak merasakannya. Pikirannya sudah melayang jauh.
"Selamat menikmati bulan madu kalian, Rendy, Sisca," gumam Alina dingin. "Nikmati selagi bisa. Karena aku akan bertahan hidup. Dan saat aku siap nanti... pesta kalian akan berubah jadi takziah."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia pindah, Alina tidur tanpa mimpi buruk. Bukan karena damai, tapi karena ia memiliki tujuan baru. Ia akan bekerja. Ia akan mengumpulkan uang. Dan ia akan menunggu waktu yang tepat untuk menagih utang rasa sakit itu.