Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Kelam Di Desa Kanoman
Sebelum fajar benar-benar menyingsing, Nina sudah sibuk mengisi tasnya dengan beberapa potong pakaian. Tangannya bergerak cepat, jemarinya sesekali berhenti untuk membuka ponsel dan mengirim pesan pada Dimas.
Nina: Dim, jemput kita di gerbang Desa Haruman ya. Please... gue nggak mau lo sama Tasya ribut lagi. Lo nggak tau apa yang lagi dia hadapin.
Begitu pesan terkirim, Nina beranjak ke kamar mandi. Rambutnya masih basah saat dia kembali dan melihat Tasya masih bergulung di balik selimut.
"Sya... bangun!" Nina menggoyang tubuh Tasya, suaranya mulai meninggi.
Tak ada respon.
"SYA! ADA PAK SASONGKO DI BAWAH!" pekiknya, sengaja menaikkan volume suara.
Tasya sontak membuka mata lebar-lebar. "HAH? Ngapain dia pagi-pagi ke sini?" sorot matanya langsung mengeras, menatap Nina dengan alis berkerut.
"Mana gue tau. Katanya nyariin lo," jawab Nina sambil melempar handuk ke arah Tasya. "Buruan mandi. Jangan sampe lo ketemu dia dengan tampang kayak zombie."
Tasya bangkit setengah malas, matanya masih berat. Tapi langkahnya perlahan menuju pintu, niatnya ingin mengintip dulu.
"SYA! Mau ngintip pake baju kayak gitu?" Nina bersedekap, menatap dari atas ke bawah. "Lo lupa lo cuma pake tanktop sama celana pendek? Udah kek walking scandal tuh."
Tasya refleks menatap pakaiannya sendiri. Celana pendek ketat yang memperlihatkan lekuk bokong, tanktop tipis yang masih kusut. Ia mendecak, bergidik saat terbayang kelakuan centil Pak Sasongko yang sering cari alasan buat mendekat.
Tanpa banyak bicara, Tasya langsung menarik handuk dengan wajah kesal, lalu menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Nina hanya terkekeh. Padahal tadi dia cuma nge-prank-Pak Sasongko itu cuma alasan supaya Tasya bangun pagi.
Beberapa menit kemudian, Tasya keluar dengan tubuh dibalut handuk putih, rambutnya masih basah menetes-netes.
"Dia masih nungguin ya di bawah?" tanya Tasya sambil mengusap pipinya dengan handuk kecil.
"Udah buruan, jangan sampe penelitian lo gagal lagi," sahut Nina, menyodorkan kemeja putih dan rok hitam ke arahnya.
Tasya mengernyit, lalu mendelik. "Buset...lo pikir gue mau magang di kantor ya? Baju apaan sih ini, Na?"
"Udah pake aja, daripada baju lo yang tadi? Masa ke ketemu dia mau pake hotpants," Nina terkekeh sambil tetap memaksa.
Dengan malas, Tasya mengambil pakaian itu sambil berdecak kesal. "Ngatur mulu lo," gumamnya.
Begitu selesai berganti, Nina langsung menarik tangan Tasya keluar kamar, lalu membuka ponselnya dan tanpa ba-bi-bu langsung melakukan video call ke tante Ivone.
"Pagi tante! Maaf ganggu...aku sama Tasya mau jalan ke Desa Haruman buat lanjut penelitian," ucap Nina ceria, tapi matanya mengarah tajam ke Tasya agar ikut menyapa.
Tasya mendelik ke Nina, bibirnya membentuk bisikan pelan, "Penelitian?"
Ivone muncul di layar dengan wajah yang tak kalah serius dari biasanya.
"Bagus, Na...pastikan dia nggak main-main lagi ya. Tante udah cukup malu sama keluarga besar. Kalau kali ini nggak kelar juga, Tante nggak tau lagi harus bilang apa," kata Ivone sambil memicingkan mata, seolah bisa mengintimidasi lewat layar.
Tasya menahan napas, wajahnya kaku.
"Oh iya, Sya... minggu depan Papi sama Mami ke Jakarta. Pastikan semua data udah lengkap ya. Tahun ini kamu HARUS lulus!" suara Ivone makin menekan, seperti ultimatum yang dibungkus kalimat manis.
Panggilan berakhir, tapi hawa dinginnya masih tersisa di ruangan.
Tasya menunduk, jari-jarinya meremas ujung kemeja yang baru saja dia pakai.
"Sekarang lo temuin Dimas, pastiin semua data kelar besok. Gue nggak mau denger alasan lagi-pokoknya minggu depan laporan harus masuk ke tante Ivone. Paham?" suara Nina terdengar tegas sambil menenteng tas berisi pakaian.
"Pake alasan Pak Sasongko lagi..." gumam Tasya ketus, tapi tetap mengekor di belakang Nina menuju Desa Haruman.
Sepanjang jalan, Tasya hanya diam, wajahnya kaku menahan emosi. Pagi yang harusnya cerah malah terasa kelabu. Kepalanya dipenuhi beban-tekanan dari Ivone, penelitian yang belum kelar, dan harus berhadapan lagi dengan Dimas.
Perjalanan mereka memakan waktu tiga jam. Mobil harus melewati jalan berbatu dan sempit, penuh tikungan dan tanjakan. Beruntung, Nina memang hobi off-road. Buat dia, jalur seperti ini bukan masalah.
"Lo yakin ini tempatnya?" tanya Tasya saat mobil berhenti di depan gapura kecil dengan atap daun kelapa, tanpa nama desa.
"Udah sesuai titik GPS-nya," jawab Nina sambil memperbesar peta di layar ponsel.
Tok tok tok.
Ketukan jari terdengar di kaca. Seorang pria berhoodie berdiri di samping Tasya. Tasya refleks memegang pergelangan tangannya sendiri, matanya menyipit berusaha memastikan siapa yang berdiri di luar.
"Cepetan turun!" suara Dimas terdengar dari balik hoodie-nya, lalu dia menurunkan tudung kepalanya.
"Brengsek lo!" pekik Tasya dari dalam mobil, nada suaranya meninggi.
"Cukup, Sya!" potong Nina, langsung menurunkan kaca jendela. "Dim...mobil parkir di mana?"
"Mobil cuma bisa sampe lapangan, parkirin di sana. Nanti gue titipin sama Kang Jae," Dimas menunjuk lapangan luas di pinggir desa, rumputnya tinggi hampir sepinggang.
Nina mengangguk, lalu mengarahkan mobil ke tempat yang Dimas tunjuk. Setelah mobil berhenti, Nina menyerahkan kunci mobil ke Dimas tanpa banyak tanya.
Dimas langsung mengambil tas dari jok belakang. "Rumahnya agak jauh. Di sini nggak bisa bawa kendaraan, jadi lo berdua harus jalan kaki," ucapnya tanpa basa-basi.
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak. Tanahnya masih basah, di kiri-kanan tumbuh tanaman liar. Jembatan bambu melintang di atas sungai jernih, membuat langkah mereka sesekali melambat untuk menikmati pemandangan.
"Sebagian data udah gue beresin, Sya. Hari ini gue tinggal ke desa sebelah. Katanya di sana banyak warga yang mulai terpengaruh budaya asing," lapor Dimas tanpa menoleh.
"Baguslah. Biar gue nggak cape," celetuk Tasya, matanya menatap ke depan, tapi bibirnya sinis.
Nina reflek menarik ujung kemeja Tasya, memberi kode agar mulutnya dikunci. Dia khawatir Dimas beneran males ngurus mereka berdua kalau Tasya terus-terusan nyolot di tempat beginian
Sesampainya di rumah Pak Kades, Dimas langsung bersiap untuk menuju Desa Kanoman Resik, lokasi lanjutan penelitiannya.
"Gue ikut, Dim," ujar Nina sambil berdiri, kemudian menarik tangan Tasya.
"Aduh, Na...badan gue pegel. Lagi pula ini kan tugasnya dia," keluh Tasya, berusaha menahan tubuhnya agar tetap duduk di kursi kayu yang dingin.
"Lo yakin mau sendirian di sini?" bisik Nina sambil menunjuk ruangan kosong yang atapnya hanya genteng tanpa plafon, dindingnya papan kayu dengan celah angin masuk dari mana-mana.
Tasya menghela napas, tak berkutik. Akhirnya, dengan langkah berat ia mengekor di belakang Dimas dan Nina menuju Desa Kanoman.
Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Sebenarnya jaraknya dekat, hanya terhalang oleh sungai yang membentang di belakang rumah Pak Kades. Jalanan setapak dan suara serangga menemani mereka sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Kanoman, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah anak-anak kecil duduk berjejer di pinggir jalan. Semua sibuk menatap layar ponsel. Bahkan saat ada orang asing datang, tak satu pun dari mereka yang menoleh.
"Kang Dimas!" seru seorang pria yang berdiri di depan rumah panggung, tepat di pinggir sawah.
"Maaf telat, Kang. Tadi saya jemput teman-teman dulu," jawab Dimas, lalu menunjuk Tasya dan Nina.
"Oh...mari masuk dulu, teh," sambut Rahmat, pria itu, sambil mempersilakan mereka masuk ke rumahnya.
Begitu melangkah ke dalam, bau khas desa langsung menyergap. Aroma tanah basah bercampur kotoran kambing yang terselip dari belakang rumah membuat Tasya refleks menahan napas. Matanya menyipit, menahan rasa tak nyaman.
"Kang Dimas, saya dapat pesan dari bapak..." Rahmat membuka ponselnya, menunjukkan pesan singkat. "Katanya kalau ada waktu, tolong temui dia. Ada yang harus disampaikan."
Dimas melirik sekilas, lalu menoleh ke arah Nina dan Tasya. "Bilang sama bapak, gue lagi sibuk. Lagi penelitian," ucapnya ketus.
"Tapi Kang, ini penting..." Rahmat memberanikan diri menunjukkan pesan lain yang berisi foto sebuah kotak kecil.
Wajah Dimas langsung berubah. Matanya menajam, rahangnya mengeras.
"GUE BILANG GAK BISA, RAHMAT!" teriak Dimas, suaranya meninggi. Tangannya mengepal, menahan emosi yang jelas-jelas memuncak.