Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 KESALAHAN DALAM SUNYI.
Malam kembali menyelimuti rumah megah itu.
Lampu-lampu di lantai bawah mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di dinding. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sembilan. Rumah terlihat tenang, namun bagi Sari Ayunda, ketenangan itu justru terasa menekan.
Ia masih teringat kejadian semalam. Setiap detailnya.
Tatapan dingin Tuan Ammar. Suara pintu yang tertutup. Dan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang dari dadanya. Meski pagi dan siang telah berlalu tanpa kejadian apa pun, malam selalu punya caranya sendiri untuk membuka kembali ingatan yang ingin dikubur.
Namun Sari tidak bisa memilih. Ia tetap harus bekerja.
Di dapur kecil, Sari membantu membereskan peralatan makan malam. Queen sudah tertidur sejak tadi, setelah seharian bermain dan tertawa. Wajah kecil itu tampak damai, dan Sari bersyukur—setidaknya anak itu tidak merasakan kekacauan batin orang-orang dewasa di sekitarnya.
“Sari…” panggil seorang pelayan wanita dari lorong.
Sari menoleh. “Iya, Mbak?”
Wajah pelayan itu tampak pucat. Ia memegangi perutnya. “Tolong gantikan aku sebentar buat menyiapkan keperluan Tuan Ammar. Sebentar lagi beliau pulang. Aku sakit perut sekali.”
Sari terdiam. Dadanya mengencang. “T-ta… tapi…” suaranya nyaris tak keluar.
Pelayan itu tampak benar-benar kesakitan. “Tolong ya, Sar. Cuma sebentar. Biasanya cuma siapkan air mandi hangat dan baju.”
Sari menggigit bibirnya. Ia ingin menolak. Ingin berkata tidak. Namun rasa tanggung jawab dan posisinya sebagai pelayan baru membuatnya tak punya banyak pilihan.
“Iya… Mbak,” jawabnya akhirnya pelan.
Pelayan itu menghela napas lega. “Terima kasih, Sari.”
Langkah Sari menuju lantai atas terasa berat. Setiap anak tangga seperti menarik kembali ingatan yang ingin ia lupakan. Namun ia terus melangkah, memaksa dirinya tetap tenang.
Di kamar Ammar, suasana redup. Lampu utama belum dinyalakan. Sari berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan lampu kecil di dalamnya. Cahaya kuning lembut menyinari ruangan berlapis marmer itu. Ia membuka keran, membiarkan air panas mengalir ke dalam bak mandi. Uap tipis mulai naik, menghangatkan udara.
Cepat selesai… lalu pergi, batinnya. Ia menunduk, mengatur suhu air, mencoba fokus pada tugasnya.
Suara air yang mengalir sedikit menenangkan hingga tiba-tiba… Pintu kamar mandi terbuka.
Sari menegang.
Belum sempat ia menoleh, sepasang lengan melingkar di tubuhnya dari belakang.
Tubuh Sari membeku. “Tu—Tuan…!” serunya kaget, suaranya bergetar hebat.
Pelukan itu tidak erat, namun cukup untuk membuat jantung Sari hampir berhenti berdetak.
“Ammar…” suara itu terdengar lirih, penuh kelelahan. “Sabrina… aku sangat merindukanmu…”
Bisikan itu membuat waktu seolah berhenti.
Sari terkejut bukan hanya karena sentuhan itu melainkan karena nama yang disebut.
Sabrina.
Kesadaran menghantam Ammar di detik berikutnya.
Tubuh di hadapannya terlalu kecil. Terlalu kaku. Terlalu gemetar.
Dan suara itu bukan suara istrinya.
Ammar tersentak. Ia segera melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, wajahnya berubah pucat ketika ia akhirnya benar-benar melihat siapa yang ada di depannya.
“Sari…?” suaranya tercekat.
Sari berbalik perlahan. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, napasnya tak beraturan. Ia menahan tangis, tubuhnya gemetar dari ujung kepala hingga kaki.
“S-saya… saya hanya menjalankan tugas,” ucapnya lirih, nyaris berbisik.
Ammar terpaku. Seolah seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir. “Aku…,” Ammar menelan ludah. “Aku pikir...” Ia tak sanggup melanjutkan kalimat itu.
Rasa bersalah menghantamnya jauh lebih keras daripada sebelumnya.
“Aku minta maaf,” ucap Ammar cepat, suaranya rendah dan penuh penyesalan. “Aku salah. Aku tidak tahu itu kamu. Aku... aku tidak seharusnya masuk.”
Sari menunduk, air mata akhirnya jatuh satu per satu ke lantai marmer. Ia menggeleng pelan.
“Saya… saya mau pergi,” katanya lirih.
Ammar segera menyingkir, memberi jalan. “Pergilah. Sekarang.”
Nada suaranya tegas, namun bukan dingin melainkan penuh kendali diri yang dipaksakan.
Sari tak menunggu lebih lama. Ia melangkah cepat keluar dari kamar mandi, lalu dari kamar itu, dadanya sesak, kakinya terasa lemas.
Begitu pintu tertutup, Ammar menjatuhkan dirinya ke tepi bak mandi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apa yang aku lakukan…” gumamnya parau.
Kesalahan demi kesalahan.
Kesepian yang tak tertangani. Rindu pada istri yang terlalu jauh. Dan kini, ia hampir kembali melukai seseorang yang sama sekali tak bersalah.
Ammar menatap pantulan dirinya di cermin seorang pria dewasa, beristri, ayah dari seorang anak kecil.
Dan malam ini, ia gagal menjaga batas.
Di lorong, Sari bersandar pada dinding, menahan isak agar tak terdengar. Tangannya gemetar, hatinya berantakan. Ia merasa kecil. Tak berdaya. Terjebak dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan ketika meninggalkan desa.
Namun satu hal ia tahu pasti, a harus lebih berhati-hati. Karena di rumah megah ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berubah menjadi luka yang dalam.
Dan di kamar mandi yang kini kembali sunyi, Ammar Abraham akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia sangkal.
Ia tidak hanya merindukan istrinya.
Ia sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dan jika ia tidak segera berhenti, semua yang ia bangun keluarga, harga diri, dan kehidupan seorang gadis desa bernama Sari akan hancur bersamaan.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...