Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Dari Orang Tersayang
Hari-hari telah berlalu, kini Safira sudah mengenali banyak orang di kampung suaminya.
Dan hari ini, Safira mendapatkan undangan untuk menghadiri acara turun tanah, anak tetangga samping rumahnya.
Dengan membawa plastik berisikan kado, Safira datang memenuhi undangan bersama Hayati. Sedangkan Bagas, dia sudah datang di pagi hari tadi.
Karena sang empunya rumah, lebih dulu mengundang para lelaki dan ustad, untuk berdoa bersama, sebelum acara di mulai.
"Wah, bayinya cantik sekali ..." puji Safira, melihat bayi dalam pangkuan ibunya.
"Iya makasih, tante ... Semoga nyusul ya, agar aku punya temannya," balas sang ibu, dengan suara yang di buat-buat.
"Doakan ya dik," balas Safira menoel, baju yang di pakai bayi gemas. "Ini untukmu," lanjut Safira, menyerahkan kado yang telah di persiapkannya.
Berhubung Hayati pergi ke dapur, Safira memilih untuk mendekati hidangan. Dia mulai mengisi piringnya dengan laut yang diminatinya.
Setelah merasa cukup. Kini, gilirannya mencari kursi kosong.
Matanya, langsung berbinar, kala melihat sebuah kursi yang tak jauh dari kipas angin uap.
"Maaf, ya ... Izin duduk disini," ujar Safira lembut, pada sosok yang duduk di kursi sebelahnya.
Sosok itu ialah Nadia.
Nadia tercekat, dari banyaknya kursi kosong lainnya kenapa Safira memilih untuk duduk di sebelahnya.
"Maaf ya kak," ulang Safira, karena Nadia menatapnya lama.
"Eh, iya ..." Nadia gelagapan. Nafsu makannya, mendadak hilang.
Nadia memilih menyimpan, piring yang masih isi setengah. Mau pergi, merasa gak enak dengan Safira. Alhasil, dia hanya bisa memainkan ponselnya.
Sedangkan Safira sendiri, dia memilih makan dalam diam. Sesekali, dia membalas senyum orang-orang yang tersenyum padanya.
Tanpa Safira tahu, sebenarnya, orang-orang tersenyum karena melihat kedekatannya dengan Nadia.
"Mantan sama istri sah akur," bisik-bisik orang, yang melihat mereka berdua.
Nadia yang sadar akan tatapan dan senyuman orang-orang. Meremas ponsel di tangannya. Dadanya bergemuh, rasa iri dan cemburu bercampur jadi satu.
"Gini kan, enak ... Akur," gurau seorang wanita, yang umurnya diatas Nadia.
"Kak ..." tegur Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wanita di depannya memang di kenal dengan ceplas-ceplos. Orang-orang mengatakan jika sebenarnya ia bercanda. Tapi, bagi Nadia, orang seperti itu, perusak suasana sebenarnya.
Safira sendiri, masih acuh. Karena fokusnya, hanya ada pada makanan yang ada di piringnya.
"Safira ..." panggil wanita tadi. Sebut saja namanya Nurul.
"Ya kak," sahut Safira, menatap Nurul sejenak.
"Sama siapa kesini?" tanya Nurul lagi.
"Oo, sama ibu ... Tapi— ibu ke dapur, bantu-bantu si empunya acara," terang Safira tersenyum ramah.
"Suami mu? Gak ikut?"
Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan, Safira sedikit terkejut, mendengar pertanyaan Nurul.
"Gak usah di tanggapin kak," balas Nadia, melirik sekilas ke arah Safira.
Akhirnya, Safira mengangguk kikuk.
"Kok gitu sih Nadia, padahal niatku baik loh ... Ingin menyatukan kalian bertiga,"
Deg ... Safira membeku.
Melihat perubahan raut wajah Safira. Nurul terkikik geli.
"Maaf, Safira. Kakak hanya bercanda aja," ujar Nurul lagi.
Nadia yang memang udah gak tahan. Akhirnya memutuskan untuk pergi. Mau marah rasanya percuma. Apalagi, banyak tamu yang berdatangan disana.
Toh, dia gak mungkin, menyebabkan kekacauan di acara orang lain.
Sepeninggalan Nadia, kini malah Nurul yang duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Nadia.
"Dia mantan Bagas, mereka udah pacaran selama delapan tahun," ungkap Nurul.
Safira terkejut. Tangannya langsung gemetar.
Namun, sebisa mungkin dia menjaga raut wajahnya agar tetap terlihat seperti biasa.
"Kamu gimana? Udah ngisi belum?" Nurul yang kepo, kembali bertanya.
Safira hanya menggeleng lemah. Enggan, menyauti pertanyaan Nurul.
"Is is is ... Kasihan sekali. Kamu harus bisa hamil secepat mungkin. Kalo gak, nanti suamimu bisa kembali sama Nadia. Toh, dia bidan. Sudah pasti, rahimnya subur, karena bisa menjaga kesehatan," peringat Nurul.
✨✨✨
Malam kini beranjak. Setelah melakukan rutinitas yang menyebabkan keringat. Kini, Bagas dan Safira terlentang di kasur.
"Perasaan, kamu agak berbeda, malam ini ... Apa ada sesuatu hal, yang kamu pikirkan?" tanya Bagas, menompangkan kepalanya, dan menatap Safira, yang masih betah, menatap langit-langit kamar.
"Abang mencintaiku?" pertanyaan itu keluar begitu saja.
Ya, sekarang Safira sadar. Jika suaminya tak pernah sekali pun mengungkapkan kata cinta untuknya.
Bagas terdiam. Setelah sekian lama, baru kali ini, dia mendengar Safira bertanya, begitu.
"Kenapa abang diam?" Safira menoleh sejenak.
"Kamu meragukan abang?" Bagas bertanya balik.
Safira menyunggingkan senyum sinis. Kemudian bangkit, seraya memungut baju-baju yang sebelumnya berceceran di lantai.
Dan sekarang, dia memilih untuk menghilang di balik kamar mandi.
Bagas menyugar rambutnya. Pertanyaan Safira sedikit mengusik hatinya.
Dan cinta. Apakah, ia benar-benar mencintai Safira? Jika ia, lantas kenapa bayang Nadia, enggan menjauh dari pikirannya.
Merasa mumet. Bagas memilih keluar kamar.
Begitu pintu di tutup. Dari arah dapur, dia mendengar bunyi dentingan sendok.
"Ibu ..." panggil Bagas, melihat sang ibu sedang mengaduk air di gelas.
"Tenggorokan ibu terasa sakit, makanya ibu buatkan minuman jahe. Kamu mau?" tawar Hayati, dengan suara agak serak.
Mengingat dia masih dalam keadaan berjunub. Bagas menggeleng pelan.
"Kenapa gak mengetuk pintu kamar sih bu ... Aku kan, bisa buatkan untuk ibu," Bagas menarik kursi, dan duduk disana.
"Ibu gak mau menganggu mu, nak!"
"Ada apa? Kamu terlihat banyak pikiran," tanya Hayati. Kini, dia juga menarik kursi di seberang Bagas.
Bagas pun, menceritakan tentang Safira yang bertanya tentang perasaannya tiba-tiba. Tak lupa, dia juga menceritakan, tentang bayang-bayang Nadia, yang enggan pergi dari pikirannya.
"Sesungguhnya isi pikiran kita setelah menikah, di hiasi oleh syaitan. Maka dari itu, perbanyak ibadah. Minta sama Allah, agar menjaga ikatan pernikahan mu, nak. Supaya, bayang-bayang akan orang ketiga itu musnah," Hayati menepuk-nepuk punggung tangan Bagas.
"Nadia memang masa lalu mu. Tapi, kamu tidak hidup dimasa lalu. Sekarang, yang menemanimu itu Safira. Dia yang pantas mendapatkan semua yang ada padamu, termasuk cinta, kasih sayang dan juga harta." lanjut Hayati.
"Tapi bu, bukan kah, urusan hati itu hanya kuasa Allah?" tanya Bagas, berdalih.
"Hati dan semua yang ada di tubuh kita memang milik Allah. Tapi, kita punya sebagai hamba Allah, punya hak untuk mengendalikannya," Hayati menjeda ucapannya. Menatap manik sang putra. "Bukan ibu nggak tahu, setiap posyandu tiba, kamu selalu berlama-lama di kandang lembu. Dan ibu tahu maksud dan tujuan mu itu," ujar Hayati telak.
Bagas tercekat. Udara sekitarnya menipis.
"I-ibu ..." lirih Bagas menunduk. Bahkan sekarang dia tak berani menatap mata, wanita yang telah melahirkannya.
"Maka dari itu. Disini, yang salah kamu sendiri. Bukan Tuhan, yang tak mencabut rasa cintamu pada Nadia. Tapi, karena kamu sendiri yang tidak rela,"
Dan untuk sejenak, Bagas menyadari. Jika apa yang ibunya katakan ialah kebenaran. Selama ini, dialah yang salah. Dia lah, sosok lemah, yang memang tak mau berusaha untuk mencintai istrinya.
kebiasaan ih