NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan Satu Bulan

Matahari pagi baru saja menyusup malu-malu di balik rimbunnya pohon nangka di halaman belakang, namun ketenangan gubuk reyot itu sudah terkoyak paksa.

Bukan oleh kokok ayam, melainkan oleh suara gedoran tongkat kayu yang menghantam pintu anyaman bambu dengan brutal.

"Keluar! Keluar kalian, perempuan-perempuan pembawa sial!"

Suara itu serak, berat, dan penuh wibawa yang mengerikan. Itu suara Eyang Marsinah.

Jarak antara rumah utama yang megah dengan gubuk reyot ini hanya dua puluh langkah, namun pagi ini jarak itu terasa seperti jurang pengadilan.

Di atas amben, Ibu Rahayu langsung terbangun dengan napas memburu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat seperti tikus yang terpojok.

"Nduk... Eyang... Eyang datang..." bisik Rahayu, suaranya tercekat ketakutan.

Sekar Wening membuka matanya. Dia sudah bangun sejak subuh, membersihkan sisa kabel dan menutupi jejak jebakan listriknya dengan tanah basah.

Dia bangkit, merapikan rambutnya sekilas. Tidak ada rasa takut di matanya.

Hanya ketenangan dingin seorang ilmuwan yang siap menghadapi sidang terbuka.

"Tenang, Bu," ucap Sekar datar. "Biar Sekar yang hadapi." Sekar membuka pintu gubuk.

Pemandangan di halaman tanah becek belakang rumah utama itu tampak seperti panggung drama yang kejam.

Eyang Marsinah berdiri tegak dengan kebaya hitam, wajahnya merah padam menahan murka. Di sampingnya, Paman Rudi duduk di lincak tua yang ada di teras gubuk, kaki kanannya diperban tebal dengan kain sarung.

Bibi Mirna berdiri di sisi lain, berkacak pinggang dengan wajah jijik, seolah udara di sekitar gubuk ini beracun.

Pak Man, yang sedang menyapu halaman belakang, berdiri mematung di dekat sumur dengan wajah menunduk sedih.

"Lihat!" jerit Paman Rudi begitu melihat Sekar muncul. Dia menunjuk kakinya yang diperban. "Lihat ulah anak ini, Bu! Kakiku gosong!"

"Setan! Kamu pasti melihara demit di gubuk ini, kan?!" tuduh Rudi berapi-api, matanya melotot menutupi kebohongannya.

"Semalam aku cuma mau nengok keadaan kalian, tapi begitu injak halaman gubuk, aku langsung terpental!

Rasanya panas, kayak disambar petir!"

"Itu pasti pagar gaib! Santet!" timpal Bibi Mirna, suaranya melengking memecah pagi.

"Pantas saja hawa di belakang rumah ini makin berat. Ternyata kamu main ilmu hitam, Sekar!

Kamu mau mencelakai keluarga Adhiwijaya satu per satu, hah?!"

Rahayu yang menyusul keluar langsung bersimpuh di tanah becek, menyembah kaki mertuanya.

"Ampun, Bu... Mboten... Demi Allah, Sekar anak baik, tidak mungkin main dukun..." isak Rahayu pilu.

Eyang Marsinah menepis tangan Rahayu dengan ujung tongkatnya. "Diam kamu!" bentak Marsinah.

Wanita tua itu menatap Sekar dengan tatapan tajam menusuk. Kebencian yang sudah dipupuk bertahun-tahun kini mendapatkan "bukti"-nya.

"Aku sudah curiga sejak dulu. Tanda lahir di jarimu itu memang tanda terkutuk. Sekarang terbukti. Kamu mencelakai pamanmu sendiri pakai bantuan lelembut!"

Analisis Profesor Sekar bekerja cepat di balik wajah datarnya.

Observasi: Narasi mistis ini sengaja dibangun.

Paman Rudi menutupi kegagalan pencuriannya dengan cerita hantu. Eyang Marsinah menggunakan isu ini sebagai legitimasi moral untuk pengusiran.

"Tanah belakang ini sudah kotor!" Eyang Marsinah meludah ke tanah. "Gubuk ini sarang demit. Harus dibersihkan! Harus dijual ke orang luar supaya sialnya hilang dari rumah utamaku!"

Sekar melangkah turun. Dia tidak bersimpuh. Dia berdiri tegak, menatap neneknya lurus-lurus. "Paman Rudi," suara Sekar tenang namun mematikan.

"Paman datang jam dua pagi. Mengendap-endap dari pintu belakang rumah utama.

Saat hujan badai. Mau menengok Ibu, atau mau mengambil sesuatu di lemari?"

Wajah Rudi memucat. "J-jangan mengalihkan pembicaraan! Pokoknya kakiku kesetrum! Mana ada listrik di tanah becek kalau bukan ulah setan?!"

"Kabel lampu teras itu terkelupas, Paman," potong Sekar logis, menunjuk sisa kabel tua yang menggantung.

"Paman menginjak genangan air yang dialiri listrik. Itu Fisika. Hukum alam. Bukan demit, bukan santet."

Sekar tersenyum tipis.

"Kecuali Paman merasa... Gusti Allah sedang menegur Paman karena berniat jahat pada perempuan-perempuan malang?"

"Kurang ajar!" teriak Mirna. "Berani kamu ceramahi orang tua?! Sudah jelas kamu yang bikin sial!"

Eyang Marsinah menghentakkan tongkatnya keras-keras ke tanah.

Dug!

"Cukup debat kusirnya!" putus Marsinah otoriter. "Aku tidak peduli itu listrik atau demit. Faktanya, pamanmu celaka di sini! Rudi butuh biaya berobat dan ritual buang sial!"

Marsinah menatap gubuk reyot itu dengan pandangan final. "Tanah belakang ini akan kulepas hari ini juga. Uangnya untuk bayar utang Rudi dan biaya berobatnya.

Kalian... angkat kaki dari sini! Aku tidak mau ada praktik klenik di halaman belakang rumahku!"

Rahayu menjerit histeris. "Jangan, Bu! Tolong... ini satu-satunya tempat kami berteduh... kami tidak punya apa-apa lagi..."

"Salahkan anakmu yang main dukun!" sahut Mirna kejam.

"Lagipula utang Mas Rudi ke rentenir itu sudah gawat. Lima puluh juta harus ada bulan ini. Kalau tidak, nyawa taruhannya! Lebih baik jual tanah sisa ini daripada kami yang diteror preman!"

Sekar menangkap poin kuncinya. Kesimpulan Data: Isu santet hanya katalisator.

Masalah utamanya adalah defisit ekonomi 50 juta.

"Lima puluh juta?" tanya Sekar tiba-tiba.

Semua orang terdiam.

"Harga gubuk dan tanah sisa di belakang rumah ini... dan total utang Paman Rudi... lima puluh juta?" ulang Sekar, nadanya datar seperti sedang menawar harga di pasar.

Mirna mendengus. "Iya! Kenapa? Kamu punya uang?

Makan saja nasi aking sok-sokan tanya harga!"

Sekar mengabaikan Mirna. Dia menatap langsung ke manik mata Eyang Marsinah.

"Beri saya waktu satu bulan," ucap Sekar lantang.

Eyang Marsinah mengernyit. "Apa?"

"Saya yang akan melunasi utang Paman Rudi. Lima puluh juta. Tunai," tantang Sekar.

Tawa meledak dari mulut Rudi dan Mirna. Tawa yang merendahkan, seolah mendengar lelucon paling konyol sedunia.

"Kamu gila ya? Kesurupan demit beneran ini anak!" cibir Rudi sambil memegangi kakinya. "Mau cari uang di mana? Ngepet?"

Namun Sekar tidak goyah. Tatapannya mengunci Eyang Marsinah, menantang otoritas wanita tua itu.

"Tapi ada syaratnya, Eyang," lanjut Sekar, suaranya memberat, penuh penekanan.

"Jika dalam satu bulan saya menyerahkan uang lima puluh juta di hadapan Eyang... Maka sertifikat tanah gubuk ini harus dibalik nama menjadi milik Ibu Rahayu.

Dan kalian semua, berhenti mengganggu hidup kami, berhenti masuk ke sini, dan berhenti menuduh kami dengan takhayul konyol."

Marsinah terdiam. Dia menatap cucunya itu. Ada sesuatu yang berbeda.

Sekar yang dulu hanya bisa menangis di pojokan.

Sekar yang ini... memiliki sorot mata yang berbahaya. Sorot mata yang mengingatkannya pada suaminya dulu, tegas dan tak terbantahkan.

Tapi logika Marsinah berkata lain. Gadis desa, pengangguran, mau dapat 50 juta sebulan? Mustahil.

Ini kemenangan mutlak. Dia bisa mengusir mereka sebulan lagi dengan alasan yang sah karena Sekar ingkar janji. "Kowe nantang aku, Cah cilik?" desis Marsinah meremehkan.

"Saya menawarkan solusi bisnis, Eyang," balas Sekar dingin. "Atau Eyang takut saya berhasil?"

Ego Marsinah tersentil hebat.

"Baik!" seru Marsinah. "Satu bulan! Tiga puluh hari dari sekarang! Kalau kau gagal... aku sendiri yang akan menyeret ibumu keluar lewat gerbang belakang dan membakar gubuk 'berhantu' ini!"

"Saya butuh hitam di atas putih," potong Sekar cepat.

Dia menoleh ke arah sumur.

"Pak Man!" panggil Sekar tegas.

Sopir tua itu tersentak kaget. "D-dalem, Non..."

"Tolong lari ke ruang tengah rumah induk. Ambilkan kertas dan pena dari meja telepon. Sekarang.

Dan tolong Bapak jadi saksi netral."

Perintah itu begitu natural dan penuh otoritas, layaknya seorang majikan kepada bawahan, hingga Pak Man reflek berlari kencang menuju pintu belakang rumah utama tanpa menunggu izin Eyang Marsinah.

Suasana hening mencekam saat Pak Man kembali dengan napas terengah, membawa buku catatan dan pulpen.

Sekar meletakkan buku itu di atas lincak bambu tempat Rudi duduk tadi.

Dia menulis isi perjanjian dengan cepat. Tulisan tangannya rapi, tajam, dan berstruktur legal sederhana. Bukan tulisan gadis desa biasa.

"Tanda tangan di sini, Eyang," Sekar menyodorkan buku itu.

"Ingat, Eyang. Pak Man saksinya. Tetangga juga pasti dengar teriakan Bibi Mirna tadi. Jika Eyang ingkar janji, nama besar keluarga Adhiwijaya akan tercoreng karena menipu perempuan malang di halaman belakang rumahnya sendiri."

Ancaman halus itu mengenai sasaran. Marsinah mendengus kasar, merebut pena itu, dan membubuhkan tanda tangan dengan garang.

"Kamu menggali kuburanmu sendiri, Sekar," gumam Marsinah sambil melempar pena itu ke lincak.

"Jangan harap aku akan kasihan padamu nanti."

"Saya tidak butuh kasihan, Eyang. Saya butuh kepastian," jawab Sekar datar.

Marsinah berbalik, memberi isyarat pada Mirna untuk memapah Rudi kembali ke rumah utama. "Ayo masuk! Jangan lama-lama di tempat kotor ini! Nanti ketularan sial!" seru Mirna sengaja mengeraskan suara.

Mereka berjalan meninggalkan halaman gubuk, kembali masuk ke kemewahan rumah utama yang hanya berjarak beberapa meter namun terasa beda dunia.

Sepeninggal mereka, Ibu Rahayu langsung memeluk kaki Sekar, menangis tersedu-sedu sampai tubuhnya terguncang di atas tanah becek.

"Nduk... Gusti Allah... kenapa kamu janji begitu? Lima puluh juta itu banyak sekali... kita harus merampok di mana? Ibu takut..."

Sekar berjongkok. Dia tidak menangis. Dia justru tersenyum tipis.

Dia memegang bahu ibunya, menyalurkan keyakinan yang kokoh. "Ibu percaya sama Sekar?" tanya Sekar lembut.

Rahayu menatap mata anaknya. Mata itu bersinar, bukan karena sihir, tapi karena kecerdasan yang melampaui zaman ini.

"Ibu percaya, Nduk... tapi..."

"Tidak perlu merampok, Bu," potong Sekar sambil menggenggam kertas perjanjian itu erat-erat. "Kita punya sesuatu yang lebih berharga dari emas keluarga Adhiwijaya."

Di dalam benak Profesor Sekar Ayu, sebuah roadmap bisnis sudah terbentuk sempurna.

Variabel Masalah: Utang dan Tuduhan Mistik.

Solusi: Kapitalisasi Aset Ruang Spasial. Target: 50 Juta dalam 30 Hari.

Sekar menatap punggung Eyang Marsinah yang menghilang di balik pintu belakang rumah utama.

Tuduhan "ilmu hitam" tadi justru memberinya ide.

Jika mereka percaya pada keajaiban, dia akan memberikan keajaiban.

Bukan sihir, tapi hasil panen yang kualitasnya melampaui nalar mereka.

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!