NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sebagai pengelola akun, Dimas tahu sedikit banyak cara kerja dunia periklanan. Mungkin pengetahuannya belum seberapa, tapi setidaknya ia paham dasar-dasarnya dan tidak akan berinvestasi buta.

Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi.

[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000.]

Dimas menatap layar itu, lalu tertawa kecil.

“Belajar aja dikasih duit. Mantap banget sistem ini,” ujarnya. Ia melempar handuknya ke kursi dan langsung membuka buku kuliahnya.

Hari itu ia memang banyak belajar di kelas komunikasi visual, jadi semangatnya sedang tinggi.

[Misi Selesai. Grade: A. Durasi belajar: 3 jam 35 menit. Hadiah: Rp30.000.000.]

“Gila! Kalau tahu gini, tadi aku belajar empat jam sekalian,” seru Dimas sambil tertawa puas.

Setelah beberapa kali menjalankan misi dari sistem itu, Dimas mulai memahami polanya semakin besar usaha dan waktu yang ia keluarkan, semakin besar pula hadiah yang ia terima.

Ia menatap pergelangan tangannya yang kosong.

“Kayaknya aku harus beli jam tangan, biar bisa ngukur waktu belajar dengan akurat. Sistem ini nggak bisa disepelein.”

Mungkin membeli ponsel baru akan menyelesaikan banyak hal untukku, pikir Dimas sambil menghela napas. “Kalau sistem ini nggak terus kasih uang, aku tetap harus kerja keras juga.”

Ia menatap saldo yang kini sudah lumayan besar. Namun di balik rasa senangnya, Dimas tahu ia harus mulai berhati-hati uang cepat datang, bisa cepat hilang juga. Ia menutup layar sistemnya, lalu turun ke bawah untuk makan malam di kantin asrama.

Suasana ramai seperti biasa. Mahasiswa berkumpul, tertawa, dan membahas tugas kuliah. Dimas tidak terlalu peduli. Ia hanya mengambil piring, menumpuk nasi, ayam goreng, tempe, dan sayur, lalu berjalan menuju kamarnya sambil membawa nampan.

Saat di tangga, seseorang memanggilnya.

“Dimas! Bro, keren banget tadi sore!” seru Adit, teman satu jurusannya yang selalu terlihat ceria.

Dimas berhenti dan menoleh. “Keren apanya?”

“Yang waktu main voli di lapangan UI! Semua orang ngomongin smash kamu. Aku aja sampai nyesel nggak sempat videoin,” kata Adit sambil tertawa lebar.

Dimas tersenyum kaku. “Kamu nonton juga?”

“Nggak langsung, tapi semua orang ngomongin. Kamu udah jadi seleb kampus, Dim. Cewek-cewek di jurusan komunikasi aja katanya banyak yang nanya Kamu tinggal di asrama mana,” canda Adit.

Dimas mengerling ke arah meja-meja kantin. Beberapa mahasiswa memang terlihat melirik ke arahnya, sebagian berbisik-bisik sambil tersenyum. Ia mengangkat bahu.

“Heh, seleb apaan. Aku cuma main biasa aja. Udah lah, aku balik ke kamar dulu, mau makan sambil ngerjain tugas. Sampai ketemu besok di kelas.”

Adit hanya melambai sambil tertawa. Dimas melanjutkan langkahnya, masuk ke kamar, makan cepat, lalu rebahan. Badannya lelah, pikirannya pun sudah penuh. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.

**

Keesokan paginya, Dimas bangun lebih awal. Jam di dinding baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Udara pagi di kampus UI masih sejuk, pepohonan di sekitar asrama masih basah oleh embun. Ia memutuskan untuk jogging ringan keliling kompleks.

Selama hampir satu jam setengah, ia berlari menyusuri jalur hijau dan lapangan, Namun hari ini, tidak ada notifikasi dari sistem sama sekali. Sedikit kecewa, tapi Dimas tidak menyerah. Ia tahu sistem kadang muncul tak terduga.

Baru ketika ia berhenti untuk menarik napas di dekat lapangan voli fakultas, suara familiar itu muncul di benaknya.

[Ding!! Misi: Lakukan dua puluh squat. Hadiah minimum: Rp40.000.000.]

Dimas menatap udara kosong di depannya dan terkekeh.

“Empat puluh juta cuma buat squat dua puluh kali? Masa nolak sih?”

Tanpa pikir panjang, ia langsung mulai melakukan squat di tempat. Masih sepi baru jam tujuh pagi, dan kelas pertama dimulai pukul sembilan. Ia menghitung dengan suara pelan, menjaga ritme.

Setelah beberapa menit, sistem kembali berbunyi:

[Misi selesai. Nilai: A. Kamu telah melakukan lima puluh tiga squat. Hadiah: Rp100.000.000.]

Dimas terengah-engah, tapi tersenyum puas.

“Seratus juta cuma dari jongkok?!” katanya setengah tertawa, setengah tidak percaya.

Lalu ia menatap langit pagi Depok yang mulai terang dan menggerutu pelan,

“Aku jelas tadi ngelakuin enam puluh squat, bro! Kenapa cuma dihitung lima puluh tiga?!”

Dimas mendengus kesal dalam hati.

“Sistem ini bener-bener pelit, ya. Enam puluh squat dihitung cuma lima puluh tiga,” gumamnya sambil tertawa kecil. Tapi ia tak terlalu ambil pusing. Ia berjalan santai kembali ke asrama UI.

Begitu sampai di kamarnya, Dimas langsung mengunci pintu. Hal pertama yang ia lakukan adalah menerima hadiah dari sistem. Seketika, angka di layar naik drastis. Setelah menambahkan saldo dari hari sebelumnya, total uang tunainya kini mencapai Rp330.000.000, sementara rekening banknya masih berisi Rp14.000.000.

“Wah, nggak bisa nih uang segini cuma disimpan di kamar. Bisa bikin jantung deg-degan tiap tidur,” gumamnya sambil menatap tumpukan uang di bawah tumpukan bajunya.

“Kayaknya aku bakal telat dikit ke kelas pagi ini.”

Ia segera mandi, mengganti pakaian, menata berkas slip transfer dan potongan “gaji” dari sistem itu, lalu keluar dari asrama. Dimas naik bus kuning kampus yang biasa antar mahasiswa, kemudian lanjut ke arah Margonda. Tujuannya: bank terdekat.

Karena ia berangkat pagi, ia sampai sebelum jam buka. Ia menunggu sambil sarapan di warung tenda depan bank sepiring lontong sayur dan segelas teh manis panas, totalnya cuma Rp15.000. Dimas bahkan sempat bercanda dalam hati, “Lucu ya, makan lima belas ribu, tapi pegang ratusan juta di tas.”

Begitu bank buka pukul sembilan, Dimas menjadi nasabah pertama yang masuk. Ia langsung menuju teller dan dengan hati-hati menyerahkan tumpukan uang tunai. Petugas sempat menatapnya curiga, tapi begitu Dimas menunjukkan slip pembayaran dan bukti sistem digitalnya, semua berjalan lancar.

Dalam waktu singkat, seluruh uangnya masuk ke rekening. Dimas pun menerima kartu debit baru dan buku tabungan. Batas transaksi harian di ATM sebesar Rp5.000.000, tapi kalau lewat teller bisa ambil semua kapan pun.

Selesai di bank, Dimas berdiri di depan gedung itu sambil berpikir. Di seberang jalan, ada gedung besar bertuliskan “Mandiri Sekuritas”. Ia tersenyum tipis.

“Hmm… kalau uangnya nganggur, rugi juga. Kenapa nggak coba invest sedikit?”

Meski tahu ia bakal telat masuk kelas, Dimas menyeberang jalan dan masuk ke dalam gedung sekuritas itu. Petugas menyambutnya ramah dan mempersilakan duduk. Interior kantor itu modern layar besar menampilkan grafik saham bergerak cepat, dan beberapa nasabah duduk serius menatap laptop masing-masing.

Dimas membuka rekening efek atas namanya sendiri. Prosesnya memakan waktu sekitar satu jam, karena harus verifikasi data dan tanda tangan beberapa dokumen. Namun setelah selesai, ia diberi akses untuk mulai bertransaksi.

Petugas wanita muda dengan jas abu-abu tersenyum profesional.

“Baik, Pak Dimas. Rekening investasi Anda sudah aktif. Dana sebesar Rp344.000.000 sudah dikonfirmasi dari bank. Sekarang, saham apa yang ingin Anda beli?”

"Ada perusahaan bernama Tokopedia. Saya ingin seribu lot sahamnya, masing-masing seharga tiga ratus empat puluh ribu rupiah, bukan?” tanya Dimas sambil tersenyum."

Baru hari ini, harga saham Tokopedia turun dari lima ratus ribu menjadi tiga ratus empat puluh ribu rupiah per lot, tanpa alasan yang jelas.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!