"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tanpa Pesta, Tanpa Gaun
Tersembunyi di balik kabut hujan yang tebal, sebuah rumah dinas dengan pagar besi yang tinggi dan duri di atasnya menyambut kedatangan mereka dengan kesunyian yang mencekam. Dinding rumah berwarna abu-abu tua terlihat kaku dan tak bersahabat, seolah menolak siapa pun yang ingin memasuki ruang dalamnya. Maya Anindya menatap nanar ke arah pantulan dirinya di kaca mobil yang masih mengenakan seragam putih abu-abu yang lusuh dan terkena noda. Tidak ada gaun putih cantik dengan renda yang melayang, tidak ada bunga mawar yang wangi, bahkan tidak ada pesta meriah yang diimpikan setiap gadis remaja saat hari pernikahan tiba hanya hujan dan kesendirian.
"Turunlah, ini adalah tempat tinggal barumu mulai malam ini," ucap Arga Dirgantara sambil membuka pintu mobil dengan gerakan yang sangat kaku. Suaranya tidak ada emosi, seolah hanya memberitahu hal yang biasa dan tidak penting.
Maya Anindya melangkah keluar sambil memeluk tas sekolahnya dengan sangat erat seolah benda itu adalah sisa terakhir dari kebebasannya yang sudah hilang. Tas itu berisi buku catatan, pulpen, dan foto kecil ayahnya semua yang dia miliki sekarang. Air hujan yang sangat dingin mulai membasahi helai rambutnya, membuatnya merinding dan kedinginan. Sementara itu, matanya terus mengamati lingkungan asrama yang terasa sangat asing: rerumputan yang tidak terawat, pagar besi yang berkarat, dan jendela yang tertutup rapat. Dia merasa sangat terhina saat menyadari bahwa janji suci yang baru saja diucapkan hanya dirayakan oleh suara rintik hujan yang jatuh di atas tanah merah yang liat.
"Apakah pernikahan ini memang tidak memiliki arti sama sekali bagi Anda selain sekadar menjalankan sebuah tugas negara?" tanya Maya Anindya dengan nada yang sangat bergetar. Air mata dia menyatu dengan air hujan di wajahnya, sehingga tidak terlihat bahwa dia sedang menangis.
Arga Dirgantara tidak menghentikan langkah kakinya melainkan hanya meraih kunci rumah dari saku celana lorengnya dengan gerakan yang sangat cepat. Langkahnya tetap tegas dan teratur, seolah dia sedang berjalan di lapangan latihan militer. Dia membuka pintu depan lalu menyalakan lampu ruang tamu yang memberikan cahaya kuning temaram ke seluruh penjuru ruangan yang sangat minimalis: hanya sofa kayu tua, meja kecil, dan lemari buku yang kosong. Pria itu menoleh perlahan dengan rahang yang terlihat sangat mengeras seolah sedang menahan gejolak amarah yang sangat besar di dalam dadanya.
"Bagi saya, tugas adalah kehormatan dan kehormatan jauh lebih berharga daripada sebuah pesta pora yang sia-sia," jawab Arga Dirgantara dengan sangat dingin. Suaranya seperti es yang membekukan, membuat Maya merasa semakin kecil di hadapannya.
Gadis itu merasakan dadanya kembali sesak saat menyadari bahwa dia benar-benar telah menjadi milik seorang lelaki yang menyerupai mesin perang tanpa perasaan kasih sayang. Dia berdiri mematung di tengah ruangan, tubuhnya masih basah dan gemetar. Pakaiannya yang basah mulai menciptakan genangan air kecil di atas lantai keramik yang sangat bersih, membuat dia merasa lebih bersalah dan tidak pantas berada di sana. Keheningan yang menyiksa kembali menyelimuti mereka berdua hingga suara guntur menggelegar di langit-langit asrama militer tersebut, membuat rumah bergoyang sedikit.
"Sekarang segera ganti pakaianmu dan jangan pernah membiarkan dirimu jatuh sakit karena itu hanya akan menyulitkan jadwal kerja saya," perintah Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat otoriter. Tidak ada rasa perhatian, hanya perintah yang harus dituruti.
Maya Anindya hanya mampu menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangis yang nyaris pecah di hadapan suami yang sangat asing baginya tersebut. Dia melihat pria itu berjalan menuju sebuah lemari besi besar yang berdiri di sudut ruangan, membukanya dengan suara denting logam. Lalu dia mengeluarkan selembar handuk berwarna gelap dan melemparkannya ke arahnya dengan cara yang sangat kasar, sehingga handuk itu mendarat di lantai dekat kaki Maya. Kejutan kembali menghantam hatinya saat menyadari bahwa tidak ada satu pun barang miliknya yang berada di rumah dinas yang sangat luas ini — tidak ada baju, tidak ada mainan, tidak ada apa-apa yang menunjukkan dia pernah ada.
"Di mana kamar saya, Tuan Arga?" tanya Maya Anindya dengan suara yang nyaris hilang ditelan oleh kedinginan yang menyiksa. Tubuhnya semakin gemetar, baik karena dingin maupun takut.
Arga Dirgantara hanya menunjuk ke arah sebuah pintu kayu yang berada di ujung lorong gelap dengan tatapan mata yang penuh dengan misteri yang sangat kelam. Dia tidak berkata sepatah kata lagi, hanya memberikan tanda yang cukup. Langkah kaki sang perwira yang sangat berat mulai menjauh menuju ruang kerjanya sendiri di bagian belakang rumah, tanpa memedulikan kondisi istrinya yang masih gemetar hebat. Tiba-tiba, sebuah suara langkah kaki lain yang lembut namun jelas terdengar dari arah dapur suara yang tidak milik Arga, yang sangat mencurigakan serta mengejutkan.