NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertahan di Sangkar Emas

Kevin melangkah menyusuri koridor mansion yang sunyi menuju kamar tempat Shasha disekap. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup hangat, nasi putih, dan segelas air. Ia merogoh saku celananya, mengambil salah satu dari dua kunci akses kamar itu. Di mana satu kunci dipegangnya, dan satu lagi selalu berada di tangan Jake.

Di dalam kamar, Shasha yang sedang duduk termenung di tepi ranjang langsung menegang. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu saat mendengar suara kunci yang diputar. Ia segera berdiri, memasang posisi waspada. Jantungnya berdegup kencang, takut jika pria menyeramkan dengan tatapan iblis itu muncul kembali untuk mengintimidasi dirinya.

Ceklek.

Pintu terbuka. Namun sosok yang muncul bukanlah pria tadi, melainkan pria yang menculiknya semalam, tepat setelah Tomi pergi dari kafe.

Kevin terhenti sejenak di ambang pintu. Matanya meneliti penampilan Shasha dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan datar.

Merasa tidak nyaman diteliti seperti itu, Shasha bergerak gelisah dan secara refleks menyilangkan tangan untuk menutupi tubuhnya.

Kevin yang menyadari ketidaknyamanan itu segera mengalihkan pandangan. Ia melangkah masuk dan meletakkan nampan makanan di atas meja kecil di depan ranjang.

Shasha terus memerhatikan setiap gerakan Kevin, atau lebih tepatnya, matanya terus melirik ke arah makanan itu. Bohong jika ia tidak merasa lapar. Perutnya terasa perih karena sejak semalam ia sama sekali belum menelan apa pun.

Kevin kembali menatap Shasha yang masih berdiri waspada, “Makanlah,” ucapnya singkat, lalu berbalik untuk pergi.

“T-tunggu,” cicit Shasha pelan.

Kevin membalikkan badan, menatap gadis itu dengan wajah penuh tanya.

“Kau siapa? D-dan... pria bajingan tadi... kalian sebenarnya siapa?”

“Pria bajingan?” ulang Kevin. Begitu menyadari bahwa Tuannya disebut dengan julukan sekasar itu, Kevin melangkah mendekat.

Shasha refleks mundur setelah melihat aura tidak terima dari Kevin.

“Berani sekali kau menyebut Tuan Jake sebagai pria bajingan.”

‘Jake?’ Shasha membatin, mencatat nama itu di kepalanya.

“Namanya Jake?” tanya Shasha untuk memastikan.

“Kau tidak perlu tahu lebih banyak,” tegas Kevin dingin, lalu benar-benar melangkah keluar.

“Tunggu dulu! Ini sebenarnya di mana?!” Shasha mengejar hingga ke depan pintu, namun pintu itu sudah tertutup rapat dan terkunci kembali, “Keluarkan aku dari sini! Kau dengar aku, kan?! Hei!”

Tidak ada sahutan. Hanya suara langkah kaki Kevin yang terdengar semakin menjauh hingga hilang sepenuhnya.

“Hah...” Shasha membuang napas pasrah, menyandarkan punggungnya pada pintu yang terkunci, “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?”

Tatapannya kembali mengelilingi kamar. Jika dilihat lebih teliti, kamar ini jauh lebih mewah dari apa pun yang pernah ia tempati. Kamar ini bahkan dilengkapi kamar mandi dalam yang luas dan walk-in closet, meskipun tidak ada satu pun pakaian di dalamnya. Tempat ini tidak terasa seperti penjara, melainkan hunian kelas atas milik seseorang yang tidak biasa.

“Apa pria bernama Jake tadi pemilik rumah ini?” tebak Shasha, “Tapi apa alasannya menculikku? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku harus bagaimana, Ya Tuhan?” Shasha meremas rambutnya frustrasi.

Kruuk... Kruuuk...

Tiba-tiba, suara nyaring terdengar dari perutnya.

Shasha mengusap perutnya yang keroncongan, “Sekarang yang terpenting adalah bertahan hidup,” gumamnya. Ia menyerah pada rasa laparnya dan duduk bersila di atas karpet tebal di depan meja. Aroma sup itu tercium sangat lezat, dan dari tampilannya saja, Shasha bisa menebak makanan itu dipesan khusus dari restoran bintang lima.

Ia mengaduk sup itu sebentar, hendak menyuapkan potongan daging ke mulutnya, namun gerakannya terhenti di udara, “Apa mereka menaruh racun di sini?” tanyanya curiga sambil mengendus aroma makanan itu.

“Tapi sepertinya tidak,” ucapnya mencoba berpikiran logis, “Jika mereka berniat membunuhku, mereka bisa melakukannya sejak di kafe. Tidak mungkin mereka menyekapku di tempat semewah ini hanya untuk meracuniku.”

Ia menarik napas panjang, “Sudahlah, Shasha. Kau harus makan agar punya tenaga untuk mencari jalan keluar.”

Akhirnya, ia menyuapkan sup itu ke mulutnya. Benar saja, rasanya sangat nikmat, jauh dari rasa makanan murahan yang biasa ia santap. Dengan cepat, Shasha menghabiskan seluruh makanan di nampan itu, bersiap untuk kemungkinan apa pun yang akan terjadi selanjutnya di tempat misterius ini.

Sementara itu, langkah Kevin bergema di sepanjang koridor lantai bawah yang sunyi menuju ruang kerja Jake. Ia melewati deretan pintu yang tertutup rapat, hingga sampai di sebuah pintu besar di ujung koridor. Setelah mengetuk pelan dan mendengar sahutan dingin dari dalam, Kevin pun membuka pintu itu.

Di dalam, Jake sedang berkutat di depan laptopnya, duduk dengan angkuh di atas kursi kebesaran berbahan dasar kulit. Suasana di ruang kerja Jake terasa sangat kontras dengan arsitektur bagian luar mansion yang terang benderang. Ruangan itu didominasi oleh warna gelap, memberikan kesan misterius sekaligus mengintimidasi.

Ruangan itu juga dilengkapi dengan sofa kulit, sebuah meja kaca berisi minuman mahal, serta rak buku di bagian belakang yang tidak hanya berisi berkas-berkas penting, tetapi juga koleksi berbagai jenis senjata yang dipajang dengan rapi.

Jake menghentikan kegiatannya dan menatap Kevin yang baru saja masuk dan berdiri dengan sikap tegak di samping sofa.

"Sudah memberinya makan?" tanya Jake sembari berdiri dari kursinya. Ia melangkah menuju sofa, menjatuhkan tubuhnya di sana, dan mulai menuangkan minuman ke dalam gelas kaca.

"Sudah, Tuan," jawab Kevin patuh.

Jake tidak menanggapi, ia memilih meneguk minumannya, membiarkan cairan hangat itu mengalir di tenggorokannya.

"Gadis itu bahkan menyebut Anda sebagai pria bajingan," lapor Kevin.

Jake justru menyeringai tipis sambil meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, "Bukankah dia sangat menarik?"

"Saya tidak mengerti apa yang menarik dari gadis seperti dia," keluh Kevin, "Dia hanya gadis biasa yang bahkan jauh dari standar wanita-wanita kelas atas yang selalu berusaha mendekati Tuan."

Jake mendongak, menatap tajam tangan kanannya itu, "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?"

Kevin sedikit gelagapan karena tatapan intimidasi Jake, "Saya hanya takut Tuan terkena tipu daya gadis itu. Lihat saja putra keluarga Elbar, dia bahkan tega menolak adik Tuan hanya karena lebih memilih gadis biasa itu."

"Aku berbeda dengan anak itu. Kau yang terlalu berlebihan," tegas Jake dengan nada yang tidak ingin dibantah, "Aku hanya berpikir bahwa menyiksa gadis biasa yang terlihat polos itu pasti akan sangat menyenangkan sebagai sebuah hiburan. Jangan pernah menyebutkan hal-hal seperti itu lagi di depanku. Aku tidak menyukainya."

"Saya mengerti, Tuan," jawab Kevin sembari menunduk hormat.

Jake kembali menuangkan minuman berwarna keemasan itu ke dalam gelasnya. Matanya menatap kosong ke arah deretan senjata di dinding, membayangkan apa yang akan ia lakukan untuk menghancurkan mental gadis yang sedang terkurung di lantai atas itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!