NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Naina menyerah, ia sudah tak lagi datang mencari Ryan. Jika memang takdir berkata jodoh, maka bagaimana pun caranya kita akan bertemu. Namun jika takdir menghendaki kita berpisah, mau bagaimana lagi, antar kita berdua harus usai.

Berbulan-bulan Naina menghidupi Nayla dengan berjualan bakpao setiap pagi. Dengan bantuan Cecilia dan Chandra, Naina bisa aman menitipkan bayinya. Bahkan orang-orang menyangka bahwa Cecilia telah memiliki anak cantik, sebab warna kulit Nayla yang putih bersih seperti warna kulit Cecilia.

Dipikir-pikir lagi, wajah Nayla ada kemiripan dengan Cecilia. Apa mungkin karena sering di asuh oleh wanita cantik berwajah oriental itu, Nayla jadi sedikit mirip dengannya. Bahkan Nayla memiliki pakaian yang mewah pemberian dari Cecilia dan Chandra.

Tak jarang pasangan suami istri itu selalu mengajak Nayla jalan-jalan dan kontrol ke dokter tumbuh kembang. Naina menjadi berhutang budi pada pasangan tersebut. Ia merasa menjadi benalu dan beban mereka. Namun siapa sangka, keduanya malah senang. Mereka merasa seperti memiliki anak kandung sendiri.

"Bulan depan genap, Nayla kita berumur satu tahu. Pah, bagaimana kalo kita buat pesta kecil-kecilan saja." Ungkap Cici alias Cecilia.

"Papa, terserah Mama saja."

"Naina, bagaimana denganmu?" Cici kembali bertanya kali ini pada Naina.

"Saya belum ada tabungan untuk buat pesta, Ci."

"Naina, kita gak meminta uang mu. Aku hanya ingin merayakan ulang tahun anak kita yang pertama. Aku sebagai Ibu angkatnya juga ingin memberikan yang terbaik untuk Nay kita."

"Nay?" Naina merasa asing dengan panggilan lucu itu.

"Iya, aku memanggilnya Nay. Lucu, kan?"

Lucu, terdengar nyaman di panggilnya. Naina tersenyum bahagia melihat putrinya yang sedang belajar berjalan bersama Chandra.

"Ci, Abang, aku berangkat berjualan dulu, titip Nay lagi, ya." Naina mencium pipi Nayla gemas.

"Iya,,, bye bye Ibu." Cici mewakili Nayla berucap dengan nada anak kecil.

Seperti biasa, Naina berjualan bakpao di taman dekat alun-alun. Banyak pedagang kaki lima berjajar rapih. Orang-orang berlalu lalang rata-rata adalah pegawai kantor dan pabrik yang mencari sarapan.

"Hey," seru seorang pria dengan suara yang nyaring.

"Iya, mau pesan rasa apa, Kak?" Jawab Naina ramah pada pembeli pertamanya di pagi hari ini.

"Ah,, anu, saya pesan semua rasa satu-satu." Jawabnya kikuk.

Naina dengan gesit mengambil bakpao hangat dari panci besar. Sekantong plastik berisi 5 bakpao itu Naina berikan pada pemuda di depannya. "Semuanya jadi 25 ribu, Kak."

"Oh, ini uangnya."

Pemuda itu terpesona dengan kecantikan Naina. Tak henti-hentinya ia memandang wajah ayu, gadis di depannya yang sukses membuatnya terpaku.

"Kak, hey. Kakak??" Naina memanggil orang tersebut untuk memberikan kembalian. "Ini kembalinya."

"Oh,, makasih."

Naina tersenyum ramah, tak acuh lagi pada pembeli aneh tadi.

"Anu, boleh aku tahu siapa namamu?" Tiba-tiba pria tadi kembali ke stan dagangan Naina.

"Buat apa, Kak? Mau sensus penduduk, ya?" Goda Naina pada pria di depannya.

"Iya, mau sensus untuk hatiku."

Tiba-tiba Naina tersedak ludahnya sendiri. Baru kali ini ada pria yang menggodanya secara terang-terangan. Naina menjadi salah tingkah di buatnya.

"Siapa namamu?" Kembali pria itu menanyakan nama pada Naina.

"Naina."

"Oh, aku Reyhan."

Naina tersenyum dan menanggapi uluran tangan Reyhan. "Boleh aku minta nomor ponselmu?" Reyhan kembali berkata.

"Aku tak memiliki ponsel."

"Bohong sekali. Mana ada orang di tahun ini yang tidak memiliki ponsel. Bilang saja kalo tidak mau memberinya." Reyhan kesal dan pergi meninggalkan Naina yang terheran-heran dengan tingkah labil Reyhan.

...****************...

Setelah olahraga di sekitar alun-alun kota, Reyhan menyempatkan datang ke perusahaan Kakaknya. Dengan masih menggunakan training, Reyhan masuk perusahaan tanpa gangguan siapapun. Semua orang di sana tahu bahwa Reyhan satu-satunya adik kandung Ryan.

Reyhan langsung masuk ke dalam ruangan kerja Ryan. Ia memberikan bungkusan kresek berisi bakpao pada Ryan.

"Nih, buat Kakak. Dari kemarin Kakak gak pulang ke rumah. Pasti belum sarapan, kan?"

"Berisik. Ada apa lu kemari?"

"Gak ada apa-apa. Cuma mau liat Kakak aja."

Ryan enggak menjawab ocehan adiknya itu. Ia fokus pada deadline pekerjaannya. Namun siapa sangka, Ryan tergiur aroma bakpao yang di bawa oleh Reyhan.

"Lu makan apaan?" Tanya Ryan.

"Bakpao."

Ryan berjalan menghampiri adiknya, ia mengambil satu bakpao itu tanpa permisi. Rasanya enak. Ryan jadi teringat masakan Naina di kampung. Rasanya penuh cita rasa dan kaya akan rempah. Kebetulan bakpao yang Ryan makan adalah bakpao rasa ayam.

Ryan begitu lahap memakan bakpao itu, bahkan Reyhan terpaku melihat kelakuan kakaknya. Biasanya Ryan suka pilih-pilih makanan. Bahkan tak pernah makan makanan sembarangan di kaki lima.

"Lapar?" Tanya Reyhan.

"Ehmm..."

Reyhan berhenti makan, ia berikan semua bakpaonya pada Kakaknya itu. Reyhan melipat kedua tangannya di dada, menatap seorang manusia kelaparan.

"Mau lagi? Aku belikan untukmu."

Ryan terdiam, ia mengeluarkan uang di saku celananya. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat agar Reyhan cepat pergi membelikannya lagi bakpao yang di rasanya enak.

Setibanya Reyhan di stan makanan Naina, ia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia kembali menatap wajah cantik gadis yang membuatnya belakang ini terus membayangi pikirannya. Sebetulnya Reyhan sudah jauh-jauh hari mengamati Naina. Baru kali ini ia memberanikan diri menyapa dan mengajaknya berkenalan.

"Aku beli ----"

"Tinggal tersisa ayam pedas dan kacang ijo." Naina langsung memotong ucapan Reyhan dan tersenyum manis pada pria yang hanya terpaut usia 2 tahun itu.

"Oh, gak apa-apa, aku beli masing-masing tiga." Reyhan menyerahkan uang selembar dengan nominal paling besar.

"Baik."

Reyhan terus memandang kagum pada Naina. Wajahnya yang cantik dengan hidung yang bangir mungil, bibirnya yang merah alami, membuat Reyhan tak dapat memalingkan pandangannya.

Naina tersenyum, ia pun menggoda Reyhan yang terlihat jelas mengaguminya. "Kamu naksir, ya?"

"Hah??" Reyhan terkejut dengan ucapan Naina, ia tertawa dan mendekatkan wajahnya pada wajah Naina. "Terlihat jelas, ya?"

"Apa sih," Naina menjauhkan wajah Reyhan.

Tanpa Reyhan sadari waktu terus berjalan ia malah asik ngobrol dengan Naina. Menemani Naina yang sedang berjualan. Kurang lebih hampir satu jam Reyhan berada di stan dagangan Naina. Ia terus mengobrol dan melupakan sesuatu.

Sampai pada akhirnya, ponsel Reyhan berdering mengganggu suasana pendekatannya pada Naina.

"Ckckck.. ganggu aja." Reyhan menatap layar ponselnya dan mengangkat panggilan itu dengan enggan. "Apa, Kak?"

"Lu beri bakpao di Jerman, hah? Lama banget sih, lelet!" Teriak Ryan membuat Reyhan harus menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Iya sabar dong."

"Cepat! Dalam waktu 5 menit gak datang, uang bulanan lu, gue potong 50%."

"Gila!!! Oke, gue datang."

Reyhan pergi tanpa meminta kembaliannya. Naina yang terus memanggil pun tak ia hiraukan. Reyhan terus berlari. Ia takut uang sakunya berkurang.

Dengan nafas tersengal akhirnya Reyhan sampai juga di ruang kerja Ryan. Kakaknya itu telah berdiri dengan tatapan tajamnya.

"Telat 2 menit. Uang saku lu gue potong." Ryan berjalan dan mengambil bakpao di kantong keresek bening di tangan Reyhan.

"Mana ada telat. Aku udah berlari dan waktunya pun pas."

"Aku mematikan panggilan tadi tepat pada pukul 10.15 dan sekarang waktu menunjukkan 10.22."

Reyhan terdiam, ia merengek dan mengacak-acak rambutnya. "Kak, please jangan potong uang jajanku, ya?"

Ryan terdiam asik memakan bakpao.

"Kakak..."

"Ambilkan minum." Ucap Ryan ketus.

"Baik, tapi uang jajan jangan di potong, ya?"

"Cepat!"

Reyhan berlari kembali mengambil gelas di lemari yang ada di ruangan Ryan. "Bukan air itu, tapi di pantry yang ada di lantai dua."

"Aahhh... Bunuh aja gue, bunuh!!" Teriak Reyhan kesal.

Namun kakaknya itu hanya terdiam tak menghiraukan adiknya yang tantrum karena keisengan sang kakak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!