Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*10
Kakinya berat melangkah menuju sofa. Saat itu, hatinya masih berharap kalau Paris ada di rumah. Bagaimanapun, saat ini, saat dia pulang, hari sudah sangat sore. Biasanya, di waktu seperti ini, Paris sudah tidak lagi bekerja di kantor. Paris sudah pulang ke rumah.
"Bibi. Paris?"
"Den Paris .... Tidak ada di rumah, non Naya."
"Tidak di rumah? Ke mana dia?"
"Den Paris, dia ... hanya pulang satu kali selama non Naya pergi. Selebihnya, den Paris mungkin tinggal di apartemennya, Non."
Deg. Jantung Naya mendadak terasa tidak nyaman. Hatinya juga ikut merasakan perasaan perih. Sejak dia pergi selama lebih dari satu minggu, suaminya hanya sekali pulang ke rumah. Sejak itu pula, tidak ada satu panggilan pun yang masuk ke ponsel Naya dari Paris. Sungguh, Paris benar-benar sangat marah padanya. Naya tahu akan hal itu.
Naya ingin sekali menjatuhkan air mata. Tapi, jika dia menangis sekarang, maka si bibi yang sedang memperhatikannya saat ini akan melontarkan banyak pertanyaan. Naya belum siap untuk bercerita. Setidaknya, untuk saat ini, dia masih belum sanggup untuk berbagi.
"Aku ke atas dulu, Bi. Tolong bawakan koperku ke kamar ganti."
"Baik, non."
Naya berjalan gontai menuju kamar tidur mereka di lantai dua. Kamar yang dulunya penuh dengan kebahagiaan, kini terasa sangat kosong dan sepi. Meski tidak ada yang berubah dari kamar ini, tapi masalah yang sedang menghampiri membuat perasaan jadi berbeda.
Mata Naya menatap lekat ke arah bingkai foto yang ada di tembok kamar. Bingkai foto dengan ukuran besar itu Naya sentuh dengan hati-hati.
"Paris. Maafkan aku yang sudah mengecewakan dirimu. Aku tahu aku salah, Paris. Andai saja aku bisa mengembalikan waktu, aku tidak akan pernah mengugurkan anak itu jika pada akhirnya, semua akan jadi seburuk saat ini. Aku menyesal, Paris. Sangat menyesal."
Ingatan Naya melayang kembali ke masa lalu. Masa di mana dirinya sangat bahagia bersama Paris. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi manisnya, masih terasa hingga saat ini.
Buliran bening jatuh melintasi pipi Naya. Dia sangat sedih saat mengingat wajah kecewa yang Paris tunjukkan terakhir kali mereka bertemu. Paris benar-benar memperlihatkan wajah yang sebelumnya tidak pernah Naya lihat sejak dirinya mengenal si pria.
"Aku pantas di benci, Paris. Sangat pantas."
Malam harinya, Naya tidak bisa tidur sedikitpun. Pikirannya terus di penuhi rasa bersalah. Dia juga sangat merindukan Paris. Dirinya memberanikan mengirimkan pesan singkat. Namun balasannya, hanya satu kata.
*Iya.
Paris yang tidak pernah cuek sebelumnya, kini sangat jauh berubah. Dua pesan yang Naya kirimkan, hanya satu yang di balas. Sungguh, hal itu semakin menambah kesedihan yang Naya rasakan.
Namun, di sisi lain, pesan singkat yang Paris balas itu bukan karena Paris tidak mengingat Naya sejak kejadian waktu itu. Sebaliknya, selama mereka berpisah, Paris selalu terpikirkan wanita yang dia cintai. Setiap malam sepi yang dia lewati di apartemen yang dia huni, tidak sekalipun terlewatkan ingatan tentang istrinya itu.
Paris kembali melihat ke layar ponsel miliknya, di mana pesan singkat Naya masih terpajang dengan jelas di layar ponsel tersebut. Pesan singkat Naya yang mengatakan kalau, dirinya sudah kembali ke tanah air. Dan saat ini, dirinya sudah ada di rumah.
Paris memejamkan matanya rapat-rapat. Wajah Naya tergambar dengan sangat jelas. "Nay, kenapa hubungan kita bisa jadi serumit ini? Apa salahku sebenarnya padamu, Naya?" Buliran bening jatuh melintasi pipi Paris. Pria itu menangis.
Memikirkan Naya, menambah luka hati Paris semakin dalam. Karena setiap ingat Naya, teringat pula kekejaman Naya yang rela mengorbankan anak mereka hanya demi karier yang sedang ia kejar.
"Kenapa kamu berubah jadi sangat kejam, Nay? Kenapa kamu tega melenyapkan anak kita? Padahal, anak itu tidak berdosa sedikitpun. Dan kamu juga tahu, Naya. Aku selalu mendambakan hadirnya seorang buah hati dalam keluarga kita. Tapi kenapa? Kenapa kamu .... " Paris menggantungkan kalimatnya. Dia menahan isak tangis.
Paris terus sibuk dengan racauannya. Padahal dia sadar, orang yang sedang ingin dia ajak bicara, tidaklah berada di dekatnya. Orang itu jauh dari tempat dirinya berada. Dan sekarang, dia hanya seorang diri di ruangan tersebut.
"Aku kecewa. Aku sungguh sangat kecewa padamu, Nay. Tapi, aku juga rindu sama kamu. Sangat-sangat rindu." Nada bicara Paris melemah.
"Sayangnya, aku masih tidak bisa bertatap muka denganmu walau rindu yang ada dalam hatiku sudah sangat membara. Aku takut, aku takut aku tidak bisa menahan rasa kesal dan kecewaku ketika kita bertemu. Aku takut aku semakin memperburuk keadaan diantara kita."
Ya. Karena saat Paris membayangkan Naya, hal yang menyakitkan itu juga akan ikut terbawa. Paris tidak berani bertemu dengan istrinya karena dia takut, amarahnya akan lepas. Dia tidak bisa menahan diri jika bertemu karena hatinya masih tidak bisa untuk memaafkan Naya.
Malam panjang itu akhirnya berlalu juga. Keduanya tidur hanya dalam hitungan menit. Karena mereka berdua sama-sama tidak bisa menyingkirkan masalah yang sedang mereka hadapi. Bangun pagi-pagi sekali, Paris langsung menerima satu pesan singkat dari Naya.
*Ayo bicara, Paris. Aku tunggu kamu di rumah nanti malam. Tolong kembali." Begitulah bunyi pesan singkat yang Naya kirimkan.
Namun, pesan itu hanya Paris baca. Tidak sedikitpun pria itu berniat untuk membalas. Walau begitu, dia tidak berniat untuk menolak. Melainkan, sebaliknya. Dia akan mendengarkan apa yang Naya katakan. Dia akan pulang nanti malam walau dengan hati yang masih tidak siap.
Paris terdiam di samping ranjang. Setelah mengancak-acak kasar rambut lurus miliknya yang masih tidak tertata, pria itu langsung menuju kamar mandi.
Ritual pagi tanpa sarapan dia selesaikan. Pria itu hanya minum seteguk air, lalu beranjak menuju mobil yang sedang terparkir. Tentu saja tidak akan membuang waktu lagi, Paris segera menjalankan mobil menuju kantor.
Paris tiba di kantor lebih cepat dari biasanya. Dengan membawa wajah dingin khas miliknya, pria itu berjalan dengan langkah tegap seperti biasa. Sapaan dari pada karyawan hanya dia sambut dengan anggukan kecil. Tentu saja tanpa ada senyum yang mengikuti.
Beberapa saat kemudian, Paris yang duduk di ruang kerjanya langsung memanggil Rama untuk datang ke ruangan. Namun, sambutan Rama membuat hati Paris terasa sedikit dongkol.
"Iya, pak. Ada apa? Saya masih ada di luar kantor sekarang. Belum turun dari mobil, Pak."