Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 – Di Antara Langit dan Waktu yang Singkat
POV Haruto
Sore itu langit tidak benar-benar cerah.
Awan menggantung rendah, berwarna kelabu pucat, seolah ragu apakah ingin menurunkan hujan atau hanya lewat begitu saja. Udara terasa lembap, menyisakan bau aspal basah dari hujan pagi yang belum sepenuhnya menguap.
Aku menaiki tangga darurat sekolah dengan langkah pelan.
Jam pelajaran sudah berakhir sejak sepuluh menit lalu. Suara siswa yang pulang berangsur menghilang, berganti dengan sunyi yang hanya bisa ditemukan di sudut-sudut sekolah tertentu. Rooftop adalah salah satunya.
Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini dimulai.
Mungkin sejak aku menyadari bahwa di tempat setinggi ini, dunia terasa sedikit lebih jujur. Tidak ada guru, tidak ada hiruk pikuk kelas, tidak ada tuntutan apa pun selain berdiri dan bernapas.
Aku mendorong pintu besi rooftop.
Angin sore langsung menyambut, membawa aroma langit yang berat. Pandanganku menyapu area rooftop—pagar besi berkarat, lantai semen yang retak di beberapa bagian, dan langit luas yang membentang tanpa batas.
Dan di sana.
Di sudut rooftop, dekat pagar, berdiri seorang gadis.
Rambut hitamnya tergerai, sebagian tertiup angin. Ia berdiri membelakangi pintu, memandang langit, seolah hanya ada ia dan awan mendung itu.
Aku hampir mundur.
Bukan karena takut, tapi karena merasa sedang mengganggu sesuatu yang terlalu sunyi untuk disentuh.
Lalu suara itu terdengar.
Pelan.
Rapuh.
Namun jelas.
Ia sedang bernyanyi.
Bukan nyanyian yang dibuat untuk didengar orang. Tidak ada teknik berlebihan, tidak ada usaha untuk terdengar sempurna. Nada-nadanya mengalir begitu saja, seperti bisikan perasaan yang tidak tahu harus ditaruh di mana.
Aku terpaku.
Langkahku berhenti tepat di ambang pintu.
Ada sesuatu di suaranya yang membuat waktu melambat. Seolah satu lagu pendek itu berisi lebih banyak kejujuran daripada semua percakapan yang pernah kudengar di kelas.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Mungkin terlalu lama.
Karena tiba-tiba nyanyiannya terhenti.
Ia menoleh.
Mata kami bertemu.
Ada keterkejutan di wajahnya—mata yang sedikit membesar, bahu yang menegang. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.
Aku buru-buru mengangkat tangan.
“Maaf,” kataku refleks. “Aku… nggak sengaja.”
Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Nggak apa-apa.”
Suaranya jauh lebih pelan dari nyanyiannya.
Aku melangkah mendekat, menjaga jarak.
“Aku Haruto,” kataku. “Kelas tiga.”
Ia menatapku sebentar, lalu kembali ke langit.
“Airi,” jawabnya. “Kelas dua.”
Kami berdiri berdampingan, dipisahkan jarak satu lengan. Angin kembali berembus, menggerakkan ujung rok seragamnya.
Hening.
Bukan hening yang canggung, tapi hening yang anehnya nyaman.
Aku melirik langit. Awan semakin gelap.
“Kayaknya bakal hujan,” kataku akhirnya.
Ia mengangguk kecil.
“Kamu sebaiknya segera pulang,” lanjutku, setengah bercanda, setengah serius.
“Kalau hujan turun, ribet.”
Ia tersenyum tipis.
“Iya.”
Itu percakapan pertama kami.
Singkat.
Biasa saja.
Tapi entah kenapa, menempel di kepalaku.
Sejak hari itu, aku mulai sering ke rooftop.
Awalnya aku bilang pada diriku sendiri: cuma kebetulan.
Tapi setelah ketiga, keempat, kelima kali—aku berhenti berbohong.
Aku datang karena berharap bertemu Airi.
Tidak setiap hari ia ada di sana. Kadang aku hanya berdiri sendiri, memandangi langit sore, lalu pulang dengan perasaan kosong yang tidak bisa dijelaskan.
Namun ketika ia ada—
Kami berbincang.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang pelajaran yang membosankan.
Tentang guru yang terlalu galak.
Tentang cuaca.
Tentang lagu-lagu yang ia dengar diam-diam.
Ia jarang bercerita tentang dirinya.
Setiap kali pembicaraan mulai menanyakan tentang dirinya, ia selalu mengalihkan arah dengan halus.
“Eh, kamu mau kuliah di mana?”
“Atau… kamu suka genre musik apa?”
Aku tidak memaksa.
Ada sesuatu di matanya—ketika topik itu muncul—yang membuatku tahu: ada pintu yang belum siap dibuka.
Dan aku memilih menghormatinya.
Waktu berjalan terlalu cepat.
Aku kelas tiga.
Ia kelas dua.
Satu tahun terdengar lama, sampai kau sadar betapa singkatnya waktu itu ketika dihitung dengan pertemuan-pertemuan yang hanya terjadi di sela pulang sekolah.
Aku ingin mengenalnya lebih dalam.
Aku ingin tahu apa yang membuatnya bernyanyi sendirian di rooftop.
Aku ingin tahu apa yang ia sembunyikan di balik senyum kecilnya.
Namun aku juga sadar—
Aku tidak punya banyak waktu.
Hari kelulusanku semakin dekat.
Seragamku sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan, sementara ia masih akan mengenakan seragam itu satu tahun lagi.
Sore itu, langit lebih cerah dari biasanya.
Upacara kelulusan baru saja selesai. Aku berdiri di halaman sekolah, dikelilingi tawa, kamera, dan seragam SMA yang sebentar lagi akan berganti.
Tapi pikiranku hanya tertuju pada satu tempat.
Rooftop.
Aku naik dengan langkah lebih cepat dari biasanya.
Aku ingin berfoto dengannya.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan sebagai sesuatu yang memiliki nama.
Aku hanya ingin satu foto—bukti bahwa pertemuan ini pernah ada.
Namun sebelum aku sempat menyapanya, aku melihatnya dari kejauhan.
Airi berdiri di dekat pintu rooftop.
Dan di hadapannya, seorang laki-laki sebaya dengannya.
Tingginya hampir sama. Rambutnya rapi. Wajahnya familiar dengan caranya sendiri—seperti seseorang yang sudah lama ada di hidup Airi.
Mereka berbincang singkat.
Lalu laki-laki itu mengisyaratkan sesuatu, dan Airi mengangguk.
Mereka berjalan pergi bersama.
Aku berdiri terpaku.
Entah kenapa dadaku terasa berat.
Teman masa kecilnya, pikirku.
Atau… sesuatu yang lebih?
Aku tidak mengejar.
Aku tidak memanggil.
Aku hanya berdiri, memandangi punggung mereka yang menjauh.
Hari itu aku lulus.
Dan hari itu juga aku menyadari—ada perasaan yang tidak sempat tumbuh sepenuhnya, tapi sudah cukup dalam untuk meninggalkan bekas.
Di rumah malam itu, aku membuka laptop dan mencari satu hal.
Universitas Seni Aozora.
Aku tidak tahu apakah Airi akan ke sana.
Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi.
Tapi untuk pertama kalinya, aku membuat keputusan bukan berdasarkan rencana—melainkan harapan.
Aku ingin membuat band.
Aku ingin menciptakan tempat di mana suara seperti miliknya tidak perlu dinyanyikan sendirian di rooftop.
Dan jika suatu hari Airi berdiri di panggung yang sama denganku—
aku ingin siap.
Meski waktu kami singkat.
Meski perasaan ini tidak pernah terucap.
Langit sore di rooftop itu masih sering muncul dalam mimpiku.
Dan di setiap mimpi itu, ada satu suara yang selalu sama—
suara yang membuatku bertahan sampai hari ini.
---