NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. DARAH DI HUTAN

..."Di tengah darah dan kesakitan, keputusan tersulit adalah memilih antara rasa sakit sekarang atau kehilangan selamanya."...

...---•---...

Dua kilometer terasa seperti keabadian.

Doni berlari sekuat tenaga, napas memburu, kaki telanjang menghantam tanah keras dan batu tajam. Tubuhnya protes keras, otot betis menegang seperti tali sisal, paru-paru terbakar dari dalam.

Lebih cepat. Harus lebih cepat.

Setiap detik adalah darah yang terbuang.

Jiman berlari di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Doni masih mengikuti. Wajah pucat, mata lebar membulat. Karyo di sampingnya, wajah merah menyala karena panas, napas berdesis pendek. Pak Karso tertinggal di belakang, usia tidak muda lagi membuat ia tak bisa menyamai kecepatan mereka.

"Masih jauh?" Doni bertanya di sela napas yang membakar tenggorokan.

"Sudah dekat! Lewat tikungan ini!" Jiman menunjuk jalan setapak yang menanjak.

Mereka menerobos kebun singkong, tanah kering retak di bawah kaki, lalu masuk hutan lebat. Pohon jati dan mahoni menjulang tinggi, cabang menyaring sinar sore, menciptakan pola cahaya dan bayangan bergoyang di tanah.

Berapa banyak darah yang sudah hilang? Apakah dia masih sadar?

Ya Tuhan, biarkan aku tidak terlambat.

Akhirnya mereka tiba di lapangan terbuka. Tumpukan kayu gelondongan berserakan seperti mainan raksasa yang dibuang. Di tengahnya, seorang perempuan paruh baya terbaring di atas tanah penuh dedaunan kering dan serpihan kayu. Paha kanannya tertimpa batang kayu besar. Seorang pria bertubuh besar berlutut di sampingnya, kedua tangan menekan luka yang berlumuran darah segar.

"Ini dia! Tolong ibuku!" Jiman berlari mendekat, suara pecah.

Doni bergegas berlutut.

Pemandangan itu membuat dadanya sesak.

Oh tidak.

Paha itu remuk. Tulang pahanya patah, menyembul keluar dari kulit yang terkoyak sepanjang lima belas sentimeter. Darah segar masih mengucur meski sudah ditekan, menggenang di tanah dan membasahi kain usang yang sudah lekat dan merah padam.

Tulang patah terbuka. Patahan tulang paha. Pembuluh darah besar mungkin robek.

Ini sangat buruk.

"Sudah berapa lama?" Jari-jarinya sudah bergerak memeriksa luka, otomatis seperti dikendalikan ingatan yang bukan miliknya.

"Hampir satu jam!" Pria itu, Pak Warjo, suaminya. "Dia bantu gulingkan kayu, tiba-tiba kayu jatuh menimpanya!"

Satu jam. Ya Tuhan, satu jam.

Doni meraba nadi pergelangan tangan perempuan itu. Lemah. Cepat. Seperti sayap burung pipit. Kulitnya seperti lilin, dingin, basah keringat. Bibir mulai membiru.

Syok karena kehilangan banyak darah. Tekanan darahnya pasti sangat rendah.

Dia sudah kehilangan terlalu banyak darah.

"Siapa namanya?"

"Mbok Supi," Pak Warjo menjawab, suara bergetar seperti daun ditiup angin kencang. "Dia... dia masih bernapas kan? Dia tak akan mati kan?"

Aku tidak tahu. Walau aku dokter, aku tidak bisa menjanjikan mukjizat.

Doni tidak menjawab. Ia tak bisa berjanji. Bahkan di rumah sakit modern, kasus ini kritis. Apalagi di tengah hutan, tanpa apa-apa.

Tapi aku harus coba.

"Karyo." Suaranya tegas, masuk ke mode komando. Tidak boleh panik. Mereka mengandalkanku. Aku harus terlihat yakin. "Air bersih sebanyak mungkin. Kalau ada sungai atau mata air di dekat sini, ambil. Cepat."

"Ada sungai kecil, tidak jauh dari sini!" Jiman langsung berlari.

"Pak Warjo." Doni menoleh pada suami perempuan itu. "Jangan lepas tekanan di paha ini. Terus tekan kuat. Ini yang menghentikan darah keluar."

"B-baik." Pak Warjo mengangguk, tangan gemetar tapi tekanan tetap kuat.

Doni memeriksa lebih detail dengan jari yang sudah berlumuran darah. Patah tulang paha. Luka terbuka. Pembuluh darah utama kemungkinan robek.

Kalau arteri utama putus total, dia sudah mati. Tapi dia masih bernapas.

Masih ada kesempatan.

Matanya mencari-cari. Tali. Ia butuh sesuatu untuk mengikat. Pandangannya tertuju pada sarung batik yang dikenakan Pak Warjo.

"Pak Warjo, lepaskan sarung bapak. Saya butuh."

Tanpa tanya, pria itu dengan tangan bebas melepas sarungnya, menyerahkan pada Doni. Doni merobek kain itu menjadi strip panjang. Tangannya bergerak presisi, muscle memory seperti dipandu oleh hantu dari masa lalu.

Lilitan harus di atas luka. Di pangkal paha. Kencang cukup untuk hentikan aliran darah, tapi tidak sampai merusak jaringan.

Ia melilitkan potongan kain itu di atas luka, tepat di pangkal paha. Lalu, mengambil sebatang ranting kokoh, menyelipkannya di bawah lilitan, dan mulai memutarnya. Sebuah penghenti pendarahan darurat, teknik sederhana namun efektif.

Terlalu kencang, jaringan mati. Terlalu longgar, dia kehabisan darah.

Satu kesempatan.

Dengan setiap putaran, lilitan mengencang. Aliran darah ke bawah terhenti. Perdarahan berkurang drastis.

"Pak Warjo, sekarang bapak bisa lepas tangan. Tapi perlahan."

Pria itu melepaskan tangan dengan hati-hati, jari lengket oleh darah kering. Darah masih merembes dari luka, tapi tidak lagi mengucur deras seperti air terjun kecil.

Ikatan penahan darah itu bekerja.

Bagus. Tapi ini cuma beli waktu. Maksimal dua jam, atau jaringan di bawahnya mati karena kekurangan oksigen.

Aku harus cepat.

Karyo dan Jiman kembali dengan kendil berisi air sungai yang beriak-riak. "Ini airnya!"

"Bagus." Doni mengambil kendil itu, menuangkan air untuk membersihkan luka. Air dingin bercampur darah, mengalir merah muda di atas tanah. Darah dan kotoran tersapu, membuat luka terlihat lebih jelas. Fragmen tulang putih mencuat seperti gigi binatang buas, tepi kulit compang-camping, otot robek menunjukkan lapisan dalam yang seharusnya tak terlihat.

Pemandangan yang membuat perut mual.

Ini lebih buruk dari yang kukira. Tulang hancur di beberapa titik. Otot robek parah.

Tapi tidak ada pilihan.

"Jiman, daun sirih. Banyak. Dan kalau ada madu atau getah pohon lengket, bawa juga."

"Aku tahu di mana!" Jiman berlari lagi, napas tersengal.

Pak Karso akhirnya tiba, napas terengah seperti orang hampir tenggelam. Melihat pemandangan berdarah, wajahnya seputih kain kafan. Tapi ia cepat menguasai diri, menarik napas dalam. "Apa yang bisa kubantu?"

"Kayu lurus dan kuat untuk bidai. Dua batang, sepanjang paha."

Pak Karso mengangguk, mulai mencari di tumpukan kayu dengan gerakan cepat.

Doni kembali fokus pada pasiennya. Mbok Supi masih tak sadarkan diri, tapi masih bernapas. Napas dangkal, cepat, tapi masih ada.

Selama masih bernapas, masih ada harapan. Aku tidak boleh menyerah. Tidak sekarang.

Harus hentikan perdarahan permanen, lalu stabilkan tulang. Tanpa benang jahit. Tanpa steril. Tanpa anestesi.

Aku harus lakukan ini tanpa obat bius. Dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa.

Jiman kembali dengan segenggam daun sirih dan sepotong kayu bergetah lengket seperti madu hitam. "Ini yang bisa kutemukan!"

"Sempurna." Doni mengambil daun sirih, mencucinya dengan air dingin, lalu mengunyahnya di mulut. Rasa pahit dan pedas menyerang lidah, membuat mulut kebas. Setelah jadi pasta, ia meludahkannya ke tangan, mengoleskannya ke seluruh permukaan luka dengan gerakan lembut tapi menyeluruh. Getah pohon ia oleskan di atas pasta daun sirih, menciptakan lapisan pelindung yang lengket.

Primitif. Sangat primitif. Tapi ini semua yang kupunya.

"Pak Warjo, Pak Karso, aku butuh bantuan kalian." Doni menatap kedua pria itu serius. "Aku harus kembalikan tulang ke posisi benar. Ini akan sangat sakit. Ibu ini mungkin terbangun dan berteriak. Kalian harus tahan dia agar tak bergerak. Mengerti?"

Kedua pria itu saling pandang, wajah kehilangan warna, lalu mengangguk kaku.

Aku benci harus melakukan ini. Aku benci harus menyakiti orang untuk menyembuhkan mereka. Tapi tak ada pilihan lain.

"Pak Warjo pegang bahu dan tubuh bagian atas. Pak Karso, pegang kaki yang sehat. Karyo, Jiman, kalian pegang lengannya. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan."

Mereka mengambil posisi dengan gerakan ragu. Doni meletakkan satu tangan di lutut, satu lagi di pergelangan kaki. Ia menarik napas dalam, merasakan udara hutan lembab memenuhi paru-paru.

Sudut tiga puluh derajat. Tarikan stabil. Jangan sampai arteri putus total. Tidak boleh ada kesalahan.

Tangannya gemetar sedikit. Ia mengepalkannya, merasakan otot lengan menegang. Pak Warjo menatapnya dengan mata penuh harapan yang mengerikan. Karyo, Jiman, Pak Karso, semua menatapnya. Menunggu.

Aku harus lakukan ini. Tidak ada pilihan lain. Kalau tidak, tulangnya akan menyambung salah. Dia tak akan pernah jalan lagi. Atau lebih buruk, infeksi akan menyebar dan dia mati.

Keringat membasahi dahinya meski udara hutan cukup sejuk. Jantungnya berdebar keras seperti drum perang di dadanya.

Ini saatnya. Tak ada jalan mundur.

"Siap?" Suaranya terdengar tenang, jauh dari yang ia rasakan.

Semua mengangguk, wajah tegang.

"Tiga..."

Tuhan, beri aku kekuatan.

Jantungnya makin kencang.

"Dua..."

Dia akan terbangun, berteriak kesakitan. Tapi ini satu-satunya cara.

Tangannya mencengkeram erat.

"Satu..."

Maafkan aku.

...---•---...

...Bersambung...

1
Chimpanzini Menolak Nepotisme
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Nepotisme
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!