Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arjuna mengepalkan tangannya kecil, sementara Riven semakin merapat ke sisi Aurora. Aurora merasakan itu, dan tanpa menoleh, tangannya terulur, menggenggam jemari Riven dengan lembut.
"Aku tidak meminta kursi CEO hari ini," ujar Aurora pelan namun tegas. "Aku menuntut pengakuan sebagai pewaris sah."
Jeremi tertawa pendek. "Dan setelah itu? Kau pikir dewan direksi akan menerima keputusan emosional seperti itu? Aurora, kau masih sama seperti anak kecil. Kau belum bisa mengatur perusahaan, kau baru saja bercerai apa kau tidak takut jika namamu dalam dunia bisnis langsung jelek?"
Aurora membuka map cokelat di atas meja. Di dalamnya, berkas-berkas tertata rapi. Salinan akta, surat wasiat, dan dokumen kepemilikan saham.
"Surat wasiat ayahku," kata Aurora sambil mendorong salah satu dokumen ke arah Jeremi. "Beliau sudah mengantisipasi semua ini. Asal Paman tahu, aku sama sekali tidak pernah takut bahkan pada kematian sekalipun."
Jeremi membeku. Tangannya terulur ragu, lalu mengambil dokumen itu. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris. Wajahnya menegang, semua ucapan Aurora memang benar dan dia merasa aneh karena aura wanita itu mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Merinding.
"Tidak mungkin," gumamnya.
"Di dalamnya tertulis sangat jelas," lanjut Aurora. "Jika sesuatu terjadi pada beliau dan Ibu, hak kepemilikan keluarga inti kembali padaku selalu anak semata wayang mereka. Dan Paman hanya bertindak sebagai pengelola sementara, saat aku meninggalkan posisi pewaris."
Selena berdiri mendadak. "Ini tidak adil! Kau tidak bisa berbuat seenaknya sendiri seperti ini Aurora!"
Aurora mengangkat pandangannya, sorot matanya dingin. "Yang tidak adil adalah mengambil alih perusahaan keluarga saat anak pemilik sahnya masih hidup. Aku belum mati, apa kalian begitu takut dengan kedatanganku ke sini?"
Jeremi menutup map itu perlahan. Senyum tipisnya lenyap, digantikan ekspresi penuh perhitungan.
"Bukan seperti itu, kau masih belum pantas menjadi pemimpin perusahaan besar seperti Alverez Group," katanya akhirnya. "Tanpa pendidikan bisnis yang layak, kau hanya akan menjadi boneka di dalam perusahaan."
Aurora tersenyum kecil. Bukan senyum rapuh melainkan senyum seseorang yang tahu persis apa yang sedang dia hadapi. Meski hidupnya di habiskan di dalam organisasi Blade, namun Clara sudah menguasai ilmu bisnis untuk jaga-jaga di masa depan. Dan ternyata ilmu itu berguna di kehidupannya sekarang.
"Kalau begitu," ujarnya pelan, "anggap ini awal belajarku."
Dia berdiri, menggenggam tangan Arjuna dan Riven. "Dan Paman akan menjadi saksi langsung, bagaimana seorang Aurora Alverez belajar merebut kembali apa yang menjadi miliknya."
Ruangan itu kembali sunyi. Kali ini, Jeremi tahu keponakan yang dulu dia anggap lemah telah berubah menjadi ancaman yang nyata.
Selena melirik suaminya yang hanya diam, lalu dia menatap Aurora kembali. "Jadi kau mau tinggal di rumah ini?"
"Tentu saja, kenapa itu masih di pertanyakan?"
"Aku dan Pamanmu juga akan ting–"
"Kalian punya rumah, kan?" Potong Aurora cepat. "Atau rumah kalian sudah hangus terbakar?"
Pertanyaan itu membuat Selena mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, dia menyenggol lengan suaminya meminta bantuan agar bisa menjawab pertanyaan Aurora.
"Ha... Aurora, rumah ini terlalu besar buat di tinggali olehmu seorang diri." Kata Jeremi.
Senyum sinis terbit di bibir Selena, dia merasa menang ketika melihat perubahan di wajah keponakannya. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama ketika Aurora kembali melontarkan jawabannya.
"Aku tidak sendiri, aku bersama dua anakku dan para pelayan di rumah ini masih ada." Aurora menarik dagunya sedikit, sorot matanya menyapu Selena dan Jeremi tanpa emosi, seolah sedang menilai dua benda yang tak lagi punya nilai guna.
"Dan jangan lupa," lanjut Aurora datar, "rumah ini dibangun oleh ayah dan ibuku. Bukan oleh Paman. Bukan juga oleh istri Paman."
Selena mendengus. "Kau bicara seolah kami ini orang asing."
Aurora terkekeh pelan. Tawa pendek, dingin, tanpa kehangatan. "Bukankah memang begitu? Orang asing yang kebetulan duduk terlalu lama di kursi yang bukan miliknya. Aku hanya berkata apa adanya, dan fakta itu kalian tahu lebih jelas dari siapa pun."
Jeremi mengeraskan rahangnya. "Aurora, jaga ucapanmu."
"Oh, aku sangat menjaganya," sahut Aurora tenang. "Aku hanya sedang mengingatkan Paman dan Bibi, sebelum aku resmi mengambil alih segalanya, bahwa toleransiku masih ada batasnya."
Dia melangkah maju satu langkah. Tidak mengancam, namun cukup dekat untuk membuat Selena refleks mundur membentur sandaran sofa.
"Jadi mari kita perjelas," ujar Aurora dingin. "Ini rumah keluargaku. Aku pewarisnya. Dan kalian..." dia berhenti sejenak, lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya, "...adalah tamu yang masa tinggalnya sudah berakhir."
Selena terbelalak. "Kau mengusir kami?"
Aurora tersenyum tipis. "Aku menyebutnya… mempersilakan kalian pulang ke rumah kalian sebenarnya. Oh, dan aku berterima kasih karena sudah merawat rumah ini selama aku tidak ada."
Jeremi berdiri. Wajahnya kaku, matanya gelap. "Kau bertindak terlalu jauh, Aurora."
Aurora menoleh ke arahnya. "Tidak. Kalianlah yang terlalu menyepelekan aku."
Dia menepuk lembut bahu Arjuna dan Riven. "Anak-anakku butuh ketenangan. Dan aku tidak ingin mereka tumbuh dengan melihat orang dewasa yang gemar merebut hak orang lain sambil mengatasnamakan keluarga. Jadi bereskan barang kalian dan tinggalkan rumah ini hari ini juga."
Arjuna menatap Jeremi dengan mata dingin, sementara Riven mencengkeram baju Aurora lebih erat. Pemandangan itu membuat Selena semakin tersulut emosi.
"Kau pikir semua akan semudah ini?" desis Selena. "Dewan direksi tidak akan diam."
Aurora mengangguk pelan. "Bagus. Aku memang ingin bertemu mereka. Atur saja pertemuanku dengan mereka, aku juga penasaran apa yang akan mereka katakan padaku."
"Kau benar-benar keterlaluan, Aurora. Bagaimana bisa kau mengusir Paman dan Bibimu sendiri?!" Hardik Jeremi.
"Anggap saja begitu, aku tidak ingin ada perdebatan lagi." Dia menoleh ke arah pintu. "Pelayan."
Seorang kepala pelayan muncul dengan sigap. "Nyonya Aurora."
"Tolong antar Tante Selena dan Paman Jeremi keluar dari sini," ucap Aurora sopan. "Pastikan mereka tidak lupa membawa barang-barang pribadi mereka. Aku tidak ingin ada yang tertinggal… termasuk ambisi."
Selena tertawa tajam. "Kau akan menyesal sudah melakukan ini, Aurora."
Aurora menatapnya tanpa berkedip. "Aku sudah hidup dengan penyesalan. Yang belum pernah kucoba adalah mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Jeremi tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap Aurora lama, lalu berbalik pergi. Selena mengikutinya dengan wajah menegang, sepatu hak tingginya beradu keras dengan lantai marmer.
Saat pintu utama tertutup, ruang tengah kembali sunyi.
Aurora menghembuskan napas perlahan. Dia menunduk menatap Arjuna dan Riven, lalu berjongkok di hadapan mereka.
"Mulai hari ini," katanya pelan namun pasti, "tidak ada lagi yang bisa mengusir kita dari mana pun."