Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Bencana di Ngarai
Ngarai Silverleaf adalah mahakarya alam. Dua tebing batu kapur putih menjulang tinggi mengapit jalan setapak sempit di bawahnya. Sinar matahari memantul di dinding tebing, menciptakan suasana yang terang dan suci.
Namun hari ini, kesucian itu akan dinodai.
Rombongan Uskup Lucius bergerak lambat di dasar ngarai. Formasi mereka sempurna. Dua puluh Ksatria Suci berkuda di depan, kereta kencana emas di tengah, dan dua puluh lagi menutup barisan. Bendera bergambar matahari emas berkibar gagah.
Kapten Paladin, Agatha, berkuda tepat di samping kereta Uskup. Wajah cantiknya tegang. Tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang sucinya.
Sejak memasuki ngarai ini, insting Agatha menjerit. Udaranya terlalu sunyi. Burung-burung tidak berkicau. Angin pun seolah menahan napas.
"Kapten," panggil seorang letnan muda. "Kita hampir sampai di ujung ngarai. Sebentar lagi kita akan keluar dari zona bahaya."
Agatha mengangguk kaku. "Jangan lengah. Iblis suka menyerang saat kita merasa aman."
Tiba-tiba, bayangan besar melintas cepat di atas mereka, menutupi sinar matahari sesaat.
Agatha mendongak. Matanya membelalak horor.
"DI ATAS! FORMASI PERTAHANAN!" teriak Agatha, suaranya memecah keheningan.
ROAAARRR!
Dua ekor Wyvern menukik turun dari puncak tebing. Tapi mereka tidak menyemburkan api. Mulut mereka yang membusuk terbuka lebar, memuntahkan cairan hitam kental yang mendesis.
Void Acid (Asam Kehampaan).
"Perisai! Naikkan perisai!"
Para ksatria mengangkat perisai baja mereka. Namun, asam itu bukan zat alami.
Sreeet... Blarr!
Cairan hitam itu menghantam barisan depan. Perisai baja meleleh seperti lilin. Baju zirah suci yang diberkati pendeta hancur dalam hitungan detik.
"AAAAARGH! PANAS! TULANGKU!"
Jeritan kesakitan memenuhi ngarai. Ksatria-ksatria yang bangga akan kekuatan mereka kini berguling-guling di tanah, tubuh mereka melepuh dimakan asam hitam. Kuda-kuda meringkik panik, menginjak tuan mereka sendiri.
"Tenang! Jangan panik!" teriak Agatha, mencoba mengendalikan kudanya yang ketakutan.
Belum sempat mereka membalas serangan udara, tanah berguncang hebat.
BOOM! BOOM! BOOM!
Dari depan dan belakang jalan ngarai, debu mengepul tebal. Lima ekor Minotaur Undead melompat turun dari tebing rendah, mendarat di tengah-tengah formasi ksatria seperti meteor.
Mereka mengayunkan kapak raksasa berkarat dan batang pohon.
BRAK!
Seorang ksatria beserta kudanya terlempar sepuluh meter, tubuhnya hancur berkeping-keping oleh hantaman gada Minotaur.
Kekacauan total. Darah dan potongan tubuh berterbangan. Pasukan elit Gereja yang terbiasa berbaris rapi kini tercerai-berai menghadapi monster yang tidak merasakan sakit.
Di tengah jeritan dan darah, Uskup Lucius di dalam kereta kencananya gemetar ketakutan. Wajahnya yang biasa sombong kini pucat pasi. Dia memeluk tongkat emasnya erat-erat.
"Agatha! Lakukan sesuatu! Mereka iblis! Lindungi aku!" jerit Lucius seperti anak kecil.
Agatha menggertakkan gigi. Dia melompat turun dari kudanya. Pedang sucinya bersinar terang dengan cahaya putih menyilaukan.
"Demi Cahaya! Musnahlah kalian, makhluk kotor!"
Agatha menerjang ke arah Minotaur terdekat. Gerakannya cepat dan anggun.
SLASH!
Sekali tebas, kepala salah satu Minotaur putus. Cahaya suci membakar leher monster itu.
Tapi Agatha terkejut. Tubuh tanpa kepala itu tidak jatuh. Tangan monster itu masih bergerak, mengayunkan kapak ke arah Agatha.
"Apa?!" Agatha menangkis dengan pedangnya. TANG!
Dia terpental mundur karena kekuatan fisik monster itu. "Mayat hidup?! Siapa Necromancer gila yang berani menyerang Uskup Agung di siang bolong?!"
"Di sini."
Suara itu tenang, namun terdengar jelas di tengah kebisingan pertempuran. Suara itu datang dari atas.
Agatha dan para ksatria yang tersisa menoleh ke arah kereta kencana Uskup.
Berdiri di atap kereta emas itu, seorang anak laki-laki dengan armor hitam. Jubahnya berkibar diterpa angin berbau darah. Mata kanannya menyala ungu dengan pupil vertikal, mata kirinya dingin seperti es. Di tangannya, bola energi hitam pekat berputar—persiapan sihir skala besar.
Varian menatap Agatha dari atas ke bawah. Tatapan merendahkan.
"Kau..." Agatha merasakan tekanan energi yang luar biasa dari bocah itu. Aura kematian yang begitu pekat hingga membuatnya mual. "Kau... si Hantu Mata Ungu?"
Varian tidak menjawab. Dia mengangkat tangannya ke langit. Awan hitam tiba-tiba berkumpul di atas ngarai, menutupi matahari.
"Urus sampah-sampah itu," perintah Varian pada mayat-mayat hidupnya untuk menahan sisa ksatria.
Lalu dia melompat turun dari atap kereta, mendarat dengan ringan tepat di hadapan Agatha. Kaki Varian menginjak tanah berdarah tanpa ragu.
"Kau kaptennya," kata Varian sambil mencabut pedang hitamnya. "Kepalamu akan jadi koleksi yang bagus."
Agatha mengeratkan cengkeramannya pada pedang. "Bocah Iblis! Atas nama Cahaya, aku akan memusnahkanmu dan menyucikan jiwamu!"
Duel Dimulai: The Void Assassin vs The Holy Captain
Agatha bergerak lebih dulu. Dia menggunakan Holy Speed. Tubuhnya menjadi seberkas cahaya putih.
Clang! Clang! Clang!
Pedang cahaya Agatha beradu dengan pedang hitam Varian. Percikan api dan energi hitam bertebaran di udara. Tanah di sekitar mereka retak karena dampak benturan energi.
Secara teknik berpedang, Agatha jauh lebih unggul. Dia telah berlatih pedang selama dua puluh tahun. Varian hanya berlatih membunuh selama tiga tahun.
Varian terdesak. Goresan luka mulai muncul di armornya.
"Kau lambat!" seru Agatha. Dia melihat celah di pertahanan Varian.
JLEB.
Pedang suci Agatha berhasil menembus perut Varian. Bilah pedang itu tembus hingga ke punggung.
"Kena kau!" seru Agatha, matanya bersinar kemenangan. "Cahaya akan membakarmu dari dalam! Matilah, Iblis!"
Dia mengalirkan sihir suci ke dalam luka tusukan itu, berniat menghancurkan organ dalam Varian menjadi abu.
Namun, Varian tidak berteriak.
Dia tidak mundur.
Dia tidak jatuh.
Bocah itu justru maju selangkah, membiarkan pedang itu menembus perutnya lebih dalam sampai gagangnya menempel di tubuhnya.
Agatha terbelalak. "Apa?!"
Varian menyeringai. Darah hitam keluar dari mulutnya, membasahi gigi putihnya, menciptakan senyum iblis yang mengerikan.
"Sihir Keabadian Iblis Kuno: Flesh Bind (Pengikat Daging)."
Otot-otot perut Varian berkontraksi secara tidak wajar. Dagingnya mencengkeram bilah pedang Agatha sekuat catok baja. Agatha mencoba menarik pedangnya, tapi tidak bisa. Senjatanya terjebak di dalam tubuh musuhnya.
"Kau kehilangan senjatamu," bisik Varian.
Ini adalah gaya bertarung Varian yang baru: Bertukar nyawa. Dia tidak peduli dilukai, karena dia bisa sembuh. Tapi musuhnya? Satu kesalahan berarti mati.
Varian melepaskan pedangnya sendiri, membiarkannya jatuh. Dengan tangan kosong yang dilapisi aura Void tebal, dia menghantam wajah Agatha.
BUAGH!
Helm Agatha tidak ada. Pukulan itu telak. Hidung sang Kapten Paladin patah dengan bunyi krak yang mengerikan.
Agatha terhuyung mundur, terpaksa melepaskan gagang pedangnya yang masih menancap di perut Varian. Pandangannya kabur.
Varian menarik pedang suci itu dari perutnya sendiri dengan gerakan santai, seolah mencabut duri kecil.
Sreeet.
Darah muncrat, tapi lubang di perutnya langsung mendesis. Uap ungu keluar. Daging merajut kembali dalam hitungan detik, menutup luka fatal itu seolah tidak pernah terjadi.
"Mustahil..." Wajah Agatha pucat pasi, darah mengalir dari hidungnya. "Kau... kau bukan manusia. Kau monster abadi."
Varian melempar pedang suci Agatha ke tanah, lalu memungut kembali pedang hitamnya.
"Aku adalah mimpi buruk yang kalian ciptakan," jawab Varian.
Di sekeliling mereka, para ksatria sudah habis dibantai oleh Minotaur. Mayat-mayat bergelimpangan. Wyvern masih berputar di langit.
Varian mengangkat tangannya ke langit. Awan hitam yang tadi berkumpul kini bergemuruh.
"Grand Magic: Rain of Calamity (Hujan Bencana)."
Dia tidak menargetkan Agatha. Dia menargetkan semuanya.
Tombak-tombak energi hitam mulai jatuh dari langit seperti hujan meteor, menusuk bumi, menghancurkan sisa-sisa kereta dan mayat. Varian tidak peduli pasukannya sendiri hancur, asalkan musuh juga hancur.
"Sekarang," Varian berjalan mendekati Agatha yang terluka, tanpa senjata, dan dikepung keputusasaan. "Ayo kita lihat seberapa suci darahmu."
Agatha mundur, kakinya tersandung batu. Dia melihat kematian mendekat. Tapi matanya beralih ke kereta Uskup yang terguling. Tugasnya belum selesai.
"LINDUNGI USKUP!" Agatha berteriak putus asa.
Zrrrt!
Varian menggunakan Shadow Step. Dia muncul tepat di depan Agatha. Tangan kiri Varian mencengkeram leher Agatha, mengangkat tubuh wanita berbaju zirah itu ke udara.
Agatha meronta, kakinya menendang-nendang.
Varian menoleh ke arah kereta kencana emas. Dia melihat wajah Uskup Lucius yang pucat pasi mengintip dari balik jendela yang pecah.
"Lihat ini, Lucius," ucap Varian dingin. Suaranya diperkeras dengan mana. "Lihat anjing penjagamu."
SLASH.
Satu ayunan pedang hitam yang bersih.
Kepala Agatha, Kapten Paladin yang agung, terlepas dari lehernya. Darah menyembur deras, membasahi wajah Varian yang tanpa ekspresi. Kepala cantik itu menggelinding di tanah, berhenti tepat di depan pecahan kaca jendela kereta Lucius.
"Hiiiieeee!!" Lucius menjerit histeris, mundur merangkak ke sudut keretanya.
Varian melempar tubuh tanpa kepala Agatha ke samping seperti membuang sampah. Dia melangkah menuju kereta itu.
"Giliranmu, Pendeta."
Saat Varian hendak melepaskan serangan terakhir...
"JANGAN SENTUH USKUP AGUNG!"
Seorang Ksatria Suci muda yang kehilangan satu lengan dan berlumuran darah berlari dari balik bangkai kuda. Tubuhnya bersinar terang—terlalu terang.
Mata iblis Varian mendeteksi lonjakan mana yang tidak stabil.
Self-Destruct (Peledakan Diri).
"Demi Cahaya! Musnahlah bersamaku, Iblis!" teriak ksatria itu sambil melompat memeluk kaki Varian.
Varian mendecih. "Lepas—"
KABOOOOM!
Ledakan sihir cahaya masif terjadi. Itu adalah Holy Sacrifice, teknik terlarang di mana seorang Paladin membakar jiwa dan tubuhnya menjadi bom nuklir mini.
Cahaya putih menyilaukan menelan segalanya—Varian, ksatria itu, dan sebagian ngarai. Gelombang kejutnya melemparkan sisa kereta Lucius hingga terguling jauh ke dalam hutan.
Debu dan asap mengepul tebal.
Hening.
Beberapa menit kemudian, di pusat kawah ledakan, sesosok makhluk mengerikan sedang berusaha berdiri.
Itu Varian. Kondisinya mengerikan. Separuh tubuhnya hancur. Lengan kirinya hilang. Daging di wajahnya meleleh hingga terlihat tulang tengkorak putih dan gigi yang menyeringai. Jantungnya berdenyut telanjang di rongga dada yang terbuka.
Manusia biasa pasti sudah mati. Tapi Varian menolak mati.
Sreeet... Blub...
Suara daging yang tumbuh terdengar menjijikkan. Uap ungu menyelimuti kerangka Varian. Serat-serat otot mulai merajut kembali. Tulang baru tumbuh. Kulit menutup.
Dalam satu menit, Varian kembali utuh. Telanjang dada karena armor atasnya hancur lebur, tapi tubuhnya sempurna kembali.
Varian menatap sekeliling dengan mata menyala-nyala karena amarah.
Kereta kencana Lucius sudah hancur total. Tapi Lucius tidak ada di sana. Jejak sihir teleportasi darurat (Scroll Teleportasi) tertinggal samar di tanah.
"Dia kabur..." geram Varian. Tangannya mencengkeram sisa logam kereta hingga remuk menjadi bola besi. "DIA KABUR!"
Varian meraung ke langit. Teriakannya mengguncang hutan. Ksatria muda itu berhasil membeli waktu bagi tuannya dengan nyawanya.
Napas Varian memburu. Dia menenangkan diri. Marah tidak akan membunuhnya. Aku butuh kekuatan lebih.
Mata Varian tertuju pada mayat tanpa kepala Agatha yang tergeletak tak jauh dari sana. Anehnya, tubuh Agatha tidak hancur total terkena ledakan karena terlindungi oleh posisi batu besar.
Ide gila muncul di benak Varian.
Dia berjalan mendekati mayat itu, lalu memungut kepala Agatha yang terpenggal. Dia menyatukan kepala itu kembali ke lehernya yang putus.
"Kau kuat," bisik Varian pada mayat itu. "Sayang jika bakatmu membusuk di tanah. Kau gagal melindungi tuanmu saat hidup... sekarang, kau akan melindungiku dalam kematian."
Varian mengaktifkan sihir terlarang: Abyssal Necromancy: Soul Corruption.
Varian mengiris nadinya sendiri, meneteskan darah hitamnya yang mengandung esensi iblis ke mulut mayat Agatha dan ke jahitan di lehernya.
"Bangun."
"Lupakan Cahaya."
"Jadilah pedangku."
Wuuung.
Tanah bergetar. Mana ungu pekat meresap ke dalam tubuh Agatha. Armor perak miliknya yang penyok mulai berubah warna. Perak suci itu menghitam, berkarat, lalu menjadi hitam legam mengkilap.
Jari-jari Agatha bergerak. Matanya terbuka.
Tidak ada lagi warna biru cerah di sana. Yang ada hanya api ungu yang menyala redup di dalam rongga mata yang gelap.
Agatha—atau sesuatu yang dulu adalah Agatha—bangkit berdiri. Dia berlutut di hadapan Varian, satu lutut menyentuh tanah, kepalanya menunduk dalam.
Dia tidak berbicara. Lidahnya sudah dipotong oleh kematian. Tapi loyalitasnya kini mutlak.
Varian menatap ciptaan pertamanya. Seorang Death Knight.
"Mulai sekarang namamu adalah Agna," titah Varian. "Kau bukan lagi pelindung cahaya. Kau adalah pembawa kematian."
Agna mengangguk pelan. Dia memungut pedang sucinya yang tergeletak di tanah. Saat tangan pucatnya menyentuh gagang pedang itu, bilah pedang yang bersinar putih seketika berubah menjadi hitam bergerigi, dikelilingi aura korupsi.
Varian tersenyum puas. Lucius boleh lari hari ini. Tapi Varian baru saja mendapatkan jenderal pertamanya.
"Ayo pergi, Agna," kata Varian sambil berjalan menjauh dari pembantaian itu, diiringi oleh ksatria kematiannya. "Kita harus bersiap untuk perang yang sebenarnya."