Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Di Mana Gravitasi Tak Lagi Mengenal Luka
Efek dari cairan dalam botol kecil itu tidak datang seperti kantuk yang merayap, melainkan seperti sebuah terjun bebas yang indah. Begitu Alana memejamkan mata, sensasi berat dari kasur tua dan selimut wolnya menguap. Ia tidak lagi merasakan gesekan kain pada kulitnya, atau dinginnya udara malam Navasari yang menggigit.
Dunia menjadi sunyi sebuah kesunyian yang murni, tanpa dengung listrik atau detak jam.
Alana membuka matanya dalam sebuah realitas yang tak bisa disebut mimpi. Ia berdiri di atas hamparan lantai kaca transparan yang luasnya tak bertepi. Di bawah kakinya, galaksi-galaksi kecil berputar seperti pusaran gula kapas berwarna violet dan emas. Tidak ada langit di atasnya; hanya ruang hampa yang dipenuhi oleh ribuan bintik cahaya yang berdenyut selaras dengan napasnya.
"Di mana aku?" bisiknya. Suaranya tidak memantul, melainkan terserap oleh keabadian.
"Kau berada di tempat di mana pikiran memiliki bentuk, Alana," sebuah suara menyahut. Suara itu maskulin, namun terdengar seperti gema yang muncul dari dalam dadanya sendiri dingin seperti gesekan es kutub, namun menenangkan.
Alana berputar. Di kejauhan, sebuah siluet mulai terbentuk dari kumpulan debu bintang. Sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya sebuah bentuk manusia yang terbuat dari bayangan dan cahaya perak.
"Kau... 'Langit'?"
"Nama itu hanya sebutan untuk ketidaktahuanmu," sosok itu melangkah mendekat. "Akulah yang menjagamu saat kau menangis di apartemenmu yang kosong di Jakarta. Saat kau berpikir dunia berakhir hanya karena beberapa manusia picik berpaling darimu."
Alana merasa tenggorokannya tercekat. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau juga melakukan ini pada kakekku? Memberinya harapan lalu meninggalkannya sendirian hingga ia mati?"
Cahaya di tubuh sosok itu meredup menjadi warna biru tua yang melankolis. "Surya tidak pernah sendirian. Bahkan di napas terakhirnya, aku ada di sana, membawakannya cahaya dari Sirius untuk menerangi jalannya pulang. Kehancuran adalah awal dari penciptaan bintang, Alana. Sebuah bintang harus meledak menjadi nebula sebelum ia bisa lahir kembali. Jangan benci lukamu."
Alana mendongak. Untuk sepersekian detik, ia melihat sepasang mata tanpa pupil, melainkan berisi hamparan galaksi yang berputar. Tatapan itu penuh dengan cinta yang begitu purba hingga Alana merasa jiwanya seolah ditarik keluar.
"Waktumu hampir habis," sosok itu mulai terurai menjadi partikel perak. "Besok, Elian akan membawamu ke sebuah tempat di hutan utara. Pergilah bersamanya. Ada sesuatu yang nyata yang kutinggalkan di sana untukmu."
"Tunggu!"
Tapi sosok itu hilang. Alana tersentak bangun.
Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahi. Ia kembali berada di kamarnya yang berbau kayu tua dan debu. Cahaya fajar mulai mengintip, berwarna abu-abu keunguan yang dingin.
Ia segera bangkit dan mencuci wajahnya. Ingatan tentang Elian dalam mimpinya terasa begitu mendesak. Saat ia keluar ke halaman, seekor burung biru kecil yang langka bertengger di atas kotak pos. Burung itu menatap Alana sejenak sebelum terbang ke arah utara.
Alana mengikuti burung itu masuk ke dalam rimbunnya hutan pinus yang berkabut. Di sana, di dekat sebuah batu besar berlumut, Elian sedang berdiri memunggungi dirinya.
"Kau datang lebih cepat dari yang kukira," kata Elian tanpa berbalik.
"Kau... menunggu aku?"
Elian tidak menjawab secara langsung. Ia menyibak semak pakis yang lebat, menyingkap sebuah benda logam berbentuk cakram kecil yang tertanam separuh di dalam tanah. Permukaannya memiliki ukiran bintang jatuh yang sama dengan kotak pos kakeknya.
Benda itu mengeluarkan uap tipis, namun bukan karena panas. Saat jemari Alana menyentuhnya, sebuah getaran frekuensi rendah merambat ke lengannya. Di benaknya, suara "Langit" kembali terdengar:
"Buka kuncinya, Alana. Kebenaran tidak lagi berada di awan. Ia ada di bawah kulitmu."
Alana menekan pusat cakram itu. Logamnya bergeser, menyingkap sebuah kompartemen kecil. Di dalamnya bukan berisi surat atau batu, melainkan sebuah proyektor hologram kuno yang mulai memancarkan cahaya biru.
Hologram itu menampilkan wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan Alana, mengenakan pakaian laboratorium dari era 30-an, berdiri di samping kakeknya yang masih muda. Wanita itu tersenyum sedih ke arah kamera.
"Alana, jika kau melihat ini, berarti kau sudah kembali," suara wanita itu bergetar. "Maafkan nenek, tapi kau bukan satu-satunya yang berasal dari bintang. Dan Elian... dia bukan manusia yang kau pikirkan."
Alana menoleh ke arah Elian dengan mata membelalak. Di bawah cahaya fajar yang menembus celah pohon, Elian tidak lagi tampak seperti pemuda desa. Di balik kulitnya yang terbakar matahari, tampak sirkuit cahaya perak yang mulai berpendar selaras dengan denyut cakram di tanah.
"Siapa... siapa kau sebenarnya?" bisik Alana.
Elian melangkah maju, dan saat ia menyentuh dahi Alana, seluruh hutan pinus di sekeliling mereka mendadak lenyap, berganti menjadi hamparan padang putih yang tidak pernah ada di peta bumi mana pun.
Dunia di sekeliling Alana berderak. Suara angin pinus yang tadinya menderu, kini berganti menjadi senyap yang hampa, seolah-olah seluruh atmosfer Navasari baru saja disedot keluar. Ia menatap tangannya yang masih menyentuh dahi Elian; kulit pemuda itu tidak lagi terasa seperti kulit manusia yang hangat dan kasar, melainkan seperti porselen dingin yang dialiri arus listrik halus.
"Elian... apa yang kau lakukan?" bisik Alana. Suaranya terdengar aneh, memantul di ruang putih yang kini mengepung mereka.
Elian melepaskan tangannya perlahan. Pendar perak di bawah kulitnya perlahan meredup, namun binar di matanya kini sebiru bintang yang Alana lihat semalam. "Aku tidak melakukan apa-apa, Alana. Aku hanya membuka tirainya. Kau terlalu lama melihat bayangan di dinding gua, sampai kau lupa bahwa ada matahari di luar sana."
Alana berputar. Hutan pinus, batu lumut, dan cakram logam itu telah hilang. Mereka berdiri di tengah hamparan padang putih yang permukaannya berkilau seperti jutaan berlian kecil yang dihancurkan. Di cakrawala, tiga buah bulan dengan warna berbeda jingga, pucat, dan indigo menggantung diam.
"Ini bukan bumi," Alana mundur selangkah, napasnya tersengal. "Kau membawaku ke planet lain? Kau menculikku?"
Elian menggeleng pelan. Ia berjalan mendekati Alana, langkahnya tidak meninggalkan jejak di padang putih itu. "Ini masih Navasari, Alana. Hanya saja, ini adalah Navasari yang dilihat oleh kakekmu. Ini adalah frekuensi yang ia coba tangkap selama puluhan tahun. Kau tidak sedang berada di planet lain, kau hanya sedang berada di dalam memori yang tersimpan di bawah tanah rumahmu."
"Memori?" Alana teringat pada hologram neneknya tadi. "Jadi nenekku... dia tahu tentang ini? Dia bilang kau bukan manusia."
Elian berhenti tepat di depan Alana. Untuk pertama kalinya, ia menunjukkan ekspresi yang rapuh. "Aku adalah 'penjaga' yang diciptakan untuk menunggumu. Aku adalah perpanjangan tangan dari dia yang kau panggil 'Langit'. Tugasku adalah memastikan kau tidak hancur saat kebenaran tentang Jakarta mulai terungkap."
"Apa hubungannya Jakarta dengan tempat gila ini?!" Alana berteriak, frustrasinya memuncak.
Elian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengibaskan tangannya ke udara, dan seketika itu juga, hamparan putih di sekitar mereka berubah. Bayangan gedung-gedung tinggi Jakarta muncul, namun dalam bentuk yang mengerikan. Gedung-gedung itu tampak transparan, dan di dalamnya, Alana melihat orang-orang yang mengenali dirinya mantan kekasihnya, rekan kerjanya sedang memegang benda-benda antik dari galeri tempatnya bekerja dulu.
Namun, benda-benda itu bukan sekadar karya seni. Benda-benda itu memancarkan cahaya biru yang sama dengan botol embun yang ia minum.
"Mereka tidak memfitnahmu karena uang, Alana," suara Elian memberat. "Mereka memfitnahmu karena kau adalah satu-satunya kurator yang menyadari bahwa artefak-artefak itu bukan buatan manusia. Kau mulai mengajukan pertanyaan yang salah pada orang-orang yang salah. Dan 'Langit'... dia tidak bisa membiarkanmu mati di tangan mereka."
Alana terhuyung. Ingatannya tentang malam terakhir di galeri kembali berputar. Ia memang sempat menemukan sebuah prasasti kuno yang tidak bisa dideteksi umurnya oleh karbon-14. Prasasti itu memiliki ukiran bintang jatuh yang sama persis dengan kotak pos kakeknya.
"Jadi... 'Langit' mengirimku ke sini untuk menyelamatkanku?"
"Lebih dari itu," Elian menatap ke langit tempat tiga bulan berada. "Dia mengirimmu ke sini untuk mengambil kembali apa yang mereka curi. Karena hanya darah dari garis keturunan Surya yang bisa mengaktifkan kembali apa yang tertidur di bawah bukit Navasari."
Tiba-tiba, padang putih itu berguncang hebat. Suara retakan keras terdengar dari langit, seolah-olah kubah raksasa sedang dipukul dari luar.
"Mereka menemukan kita," ujar Elian, wajahnya mendadak tegang. "Protokol keamanan memori ini telah ditembus. Seseorang di Jakarta menggunakan artefak itu untuk melacak sinyalmu."
Elian menarik tangan Alana menuju sebuah pintu cahaya yang mendadak muncul di tengah padang. "Lari, Alana! Masuk ke menara! Jangan keluar sampai kau menemukan teleskop yang mengarah ke titik nol!"
"Elian, kau ikut denganku!"
"Aku harus menahan mereka di sini," Elian mendorong Alana masuk ke pintu cahaya.
Detik sebelum pintu itu tertutup, Alana melihat langit putih itu retak dan memperlihatkan sepasang mata merah raksasa yang menatap turun dengan penuh kebencian mata yang sangat ia kenali sebagai mata pemilik galeri seninya di Jakarta.
Alana tersentak jatuh ke lantai kayu yang keras. Ia kembali berada di menara observasi. Di luar, suara guntur menggelegar meski langit sedang cerah. Dan yang membuat darahnya membeku adalah suara langkah kaki yang menaiki tangga menara, namun kali ini langkah itu berat, berbau amis bahan kimia, dan disertai bunyi seretan logam yang mengerikan.