Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Wajah Tak Bersahabat
Suara ketukan pintu membuat gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh. Seorang lelaki sudah berdiri di depan pintu ketika pintu. Susu rasa pisang diberikan. Namun, tak lantas Nika ambil.
"Maaf, untuk kejadian di kantor."
Nika tersenyum kecil. Tangannya mulai meraih susu rasa buah yang Ezra beri. Menyandarkan tubuh di daun pintu.
"Singa betina sudah terlatih dan terbiasa akan kejadian murahan kayak gitu," balasnya sambil membuka kaleng susu pisang siap santap.
"Enggak akan berpengaruh apapun" tukasnya lagi.
Nika pikir hal murahan seperti itu hanya terjadi di tanah kelahirannya. Ternyata di negara kaya pun hal tersebut pun banyak dilakukan. Ezra pun merasa lega karena kejadian sore tadi tak mengganggu Nika.
.
Baru saja menginjak pedal rem, mimik wajah Ezra seketika berubah. Ujung matanya peka akan sesuatu. Benar saja, Nika yang baru keluar dari mobil sudah dihampiri oleh Yuhan. Tanpa Ezra sadari setir mobil sudah dicengkeram dengan cukup kencang melihat interaksi Nika dan Yuhan yang begitu akrab.
Mobil yang biasanya segera melaju, kini masih betah berada di depan gerbang kampus. Sang juru mudi masih duduk manis dengan mata yang tertuju pada dua insan yang tengah tertawa lepas. Tampak sangat dekat.
Tak ada satupun yang berani menyapa Ezra ketika memasuki kantor. Raut wajahnya sudah sangat tak bersahabat. Jangankan karyawan biasa, Chandra selaku asisten pribadi Ezra memilih menutup rapat mulutnya.
Meeting hari ini pun terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Memang tak ada kalimat yang keluar dari bibir sang direktur, tapi mimik wajah datar membuat mereka yang duduk di ruang rapat dilanda ketakutan. Ezra bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi banyak bertindak. Tindakannya pun tak main-main, bisa membuat orang itu menderita seumur hidup.
Tengah serius mendengarkan pemaparan proyek, ponsel yang ada di dalam jas bergetar. Segera diraihnya benda pipih tersebut dengan telinga yang masih fokus mendengarkan.
"Jemputnya agak malaman aja. Soalnya mau ngerjain tugas dulu. Nanti dikabarin kalau udah selesai."
Air mukanya semakin berubah. Dihubungi seseorang.
"Ikuti dari kejauhan. Dan terus berikan laporan."
Pandangan Chandra segera beralih pada sang boss. Pada saat itu juga Ezra berkata, "Batalkan semua agenda untuk sore ini."
Hanya bisa patuh tanpa tahu kenapa sang bos seperti ini. Mau sepenting apapun pertemuan dengan klien, tak akan bisa Chandra membantah perintah seorang Ezra Naradipta. Chandra hanya berperan sebagai asisten pribadi di perusahan. Di luar dari itu dia tak tahu menahu. Dan memang Ezra bukanlah orang yang suka bercerita. Bisa dibilang masalah pribadinya sangat ditutup dengan rapat.
.
Dua mahasiswa sedang serius membahas tentang soal di satu meja yang sama. Kedatangan seseorang dengan membawa paper bag membuat kefokusan mereka terhenti.
"Teh susu hangat untuk Nayanika."
Yuhan menatap Nika yang tengah menerima kiriman teh susu hangat.pp Ada kecurigaan dari sorot matanya.
"Kenapa diterima? Apa kamu enggak curiga?"
Nika melihat nama kedai yang tertera di paper bag. Nama yang tak asing. Dia mulai membuka ponsel karena pernah mengambil gambar teh susu hangat pemberian seseorang. Dan benar dari kedai yang sama.
"Nika--"
"Aku tahu siapa yang ngirimnya," jawab Nika dengan wajah yang berseri.
Yuhan tak bisa melarang. Apalagi teh susu hangat itu langsung diminum oleh perempuan yang ada di sampingnya. Yuhan mulai sedikit menggeser posisi duduknya, seiring berputarnya jarum jam kini posisi mereka berdua sudah semakin dekat.
"Permisi!"
Yuhan yang ingin menggeser tubuhnya lagi menoleh ke arah seorang kurir yang membawa sebuah paper bag. Lagi, ditujukan untuk Nika.
"Dari siapa?" Yuhan mulai bertanya dengan rasa penuh penasaran.
"Saya hanya ditugaskan untuk mengantar saja. Permisi."
Nika sudah hendak membuka paper bag tersebut. Namun, dilarang oleh Yuhan.
"Kenapa?"
"Kamu enggak takut?" Yuhan mulai menakuti. Akan tetapi, Nika menggeleng dengan cepat dan membuka papar bag tersebut.
"WAH!"
Yuhan melihat wajah Nika begitu bahagia ketika mengeluarkan isi dari paper bag tersebut. Tangan putih itu segera membuka kotak yang berukuran sedang dan ternyata isinya cokelat.
"Apa kamu tahu siapa pengirimnya?"
"Tentu."
Yuhan tercengang. Apalagi Nika begitu bahagia menikmati cokelat tersebut. Ya, hanya keluarga Nika yang mampu menerbangkan cokelat dari Swiss langsung. Di mana pesannya pun harus melalui pre-order terlebih dahulu.
Yuhan mulai merasa curiga. Pasti ada yang tengah mengawasi mereka. Matanya mulai berkeliling mengitari kafe. Tapi, tak ada yang mencurigakan. Anehnya, setiap kali dia ingin mendekat ke arah Nika, pasti ada saja kurir yang datang dan membuat tubuh Nika bergeser menjauh..
Hembusan napas penuh kelegaan pun keluar. Nika segera menutup semua bukunya. Sedangkan Yuhan terlihat enggan untuk berpisah.
"Enggak sekalian makan malam dulu?"
Nika menggeleng dengan pandangan yang fokus pada layar benda pipih. Jari-jemarinya begitu lihat menari di sana.
"Udah selesai. Bisa jemput sekarang."
Baru saja hendak mengirim lokasi, sebuah balasan pun diterima.
"Keluar sekarang."
Hah?
Nika nampak terkejut. Segera dirapihkan barang bawaan dan berlalu meninggalkan Yuhan.
"Nika--"
"Aku udah dijemput."
Senyum melengkung indah di wajah Nika ketika seorang lelaki sudah bersandar di pintu penumpang.
"Kok tahu Nika di sini? Nika kan belum kirim alamatnya."
"Anggap aja saya jelmaan cenayang."
Senyum Nika pun pudar. Sekarang dia malah kesal kepada lelaki di depannya. Padahal baru saja dia hendak berterimakasih karena Ezra sudah mengirimkan teh susu hangat untuknya. Mata Nika mulai waspada ketika lelaki yang senang sekali memakai jas hitam menatapnya dengan tatapan berbeda. Jantungnya berdegup kencang ketika wajah Ezra perlahan mendekat ke arahnya.
"Jaga jarak! Atau saya yang akan membuat kalian berjarak."
Nika tercengang mendengar ucapan Ezra. Selama lebih dari sebulan bersama lelaki bak manekin hidup, tak pernah dia mendengar Ezra berkata penuh dengan penekanan seperti ini. Apalagi raut marahnya begitu kentara.
"Sejak kapan Papi membatasi pergaulan? Atau ini hanya akal-akalan si Paman?"
...**** BERSAMBUNG ****...
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍